Sebuah cafe yang tidak jauh letaknya di kantor Alya, Kini dia duduk bersama seorang pria yang dulunya adalah kekasihnya.
Evan menyodorkan menu kepada Alya, "kamu mau pesan apa Al, sekalian jam makan siang," tawarnya.
Namun, Alya berdecak kesal. Dia tahu kalau Evan ini hanyalah basa-basi. "Lu mau ngomong apa? Gue nggak banyak waktu! Kerjaan gue banyak!" balas Alya penuh dengan penekanan.
"Kalau gitu gue pesenin kesukaan lo aja ya, kita juga di sini kan harus sambil makan kali Al, masa cuman numpang ngobrol doang!" Balas Evan tersenyum tipis.
Alya memutar bola matanya, sebenarnya dia benar-benar muak. Tetapi jika tidak dia kabulkan permintaan Evan, pria itu akan terus menerornya. Maka dari itu Alya mengabulkan permintaannya untuk bertemu, dan mengetahui apa yang akan dia obrolkan.
"Mba!" Evan memanggil seorang pelayan, dan Dia memesan beberapa menu kesukaan Alya.
"Sudah itu saja mas?"
"Iya sudah itu saja!"
"Baik kalau begitu pesanannya akan kami proses, tunggu sebentar!" Evan hanya menganggukkan kepalanya, pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Kini Evan menatap Alya dengan senyuman yang lebar. "Aku senang banget di tengah kesibukan kamu, tapi kamu menyempatkan untuk ketemu sama aku! Makasih ya sayang!"
Alya membulatkan matanya, saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Evan. Perutnya merasa mual saat mendengar kata-kata sayang yang diperuntukkan padanya.
"Gue kepaksa, karena lo pasti bakalan terus neror gue kan. Cepet lu mau ngomong apa?" tanya Alya dengan tatapan sengit.
Tetapi Evan, bukannya langsung berbicara. Dia justru tersenyum lebar, "santai dong, aku cuman pengen ngobrol sama kamu. Memangnya kamu nggak kangen masa-masa kita dulu?"
Alya langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Gua nggak pernah kangen dengan masa-masa itu. Dan gue juga udah lupa sama masa-masa itu!"
Dengan beraninya Evan menggenggam tangan Alya yang berada di atas meja. Sontak detik itu juga Alya langsung menepis tangan Evan, agar tidak memegang tangannya.
"Jangan berani sentuh gue! Gue jijik disentuh sama tukang selingkuh!" cibir Alya.
Evan menaikan sebelah alisnya, dia tersenyum miring saat mendengar ucapan dari Alya.
"Itu yang mau aku bahas sama kamu, aku tuh nggak selingkuh sayang. Itu cewek emang ngejebak aku, aku ada kok buktinya."
Evan segera mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, untuk memberikan bukti kepada Alya sebuah video dan beberapa pesan.
"Nih Kamu lihat sendiri!" ucapnya, sambil menyodorkan ponsel Evan kepadanya.
Alya tidak menolak untuk melihat barang bukti itu. Dia segera melihat video yang ada di dalam ponsel Evan, di sana terlihat kalau wanita itu ingin menjebak Evan. Tetapi, Alya merasa curiga dengan video tersebut. Seolah kalau video itu adalah buatan.
Alya langsung menoleh ke arah Evan, "lu tetep nggak bisa nipu gue! Ini palsu!" Ucap Alya yang langsung menyerahkan ponsel Evan dengan sedikit mendorongnya.
Evan mengerutkan kedua alisnya, saat Alya tidak percaya dengan barang bukti yang dia berikan.
"Apa maksud kamu itu palsu? Itu nggak palsu Alya, kamu nggak bisa bedain mana yang asli mana yang palsu? Itu video asli bukan rekayasa!" Jelas Evan.
"Gue nggak peduli mau itu video asli atau palsu, yang jelas gue nggak percaya dan gue nggak mau balikan lagi sama lo!" Balas Alya dengan tegas.
"Kamu harus percaya sama aku Alya, itu video asli. Kamu bisa menguji video itu!" bela Evan.
Alya menggerakkan tangannya di depan wajahnya seperti mengibas. "Terserah lo lah gue udah nggak peduli, yang jelas gue nggak mau ada hubungannya lagi sama lo. Jadi stop buat gangguin gue, ini terakhir kita ketemu! Kalau sampai lo neror gua lagi, gue laporin lu ke polisi. Atas tuduhan menjadi penguntit, paham!" Ancam Alya.
Namun mendengar ancaman Alya, tentu saja Evan tidak merasa takut. Dia tahu bagaimana Alya sebenarnya, kalau itu hanya gertakan saja untuknya.
"Kamu pikir aku takut? Aku nggak akan takut Alya, semakin kamu menghindari, justru saya semakin ingin mengejar kamu!" balas Evan dengan tatapan tajam.
Alya mengepalkan tangannya, dan di situ juga Dia seolah membutuhkan Rangga ada di dekatnya. Pasti jika ada sahabatnya, semua masalah akan cepat selesai.
Tapi sekarang Alya memang harus benar-benar menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia tidak mau, melibatkan Rangga, apalagi jika pada akhirnya dia harus berhutang Budi untuk menjadi kekasih kontraknya.
"Terserah lo, gua nggak peduli. Lu udah beres kan ngomongnya? Kalau gitu gue permisi dulu!" pamit Alya.
Namun tangannya langsung digenggam oleh Evan, membuat Alya menoleh ke arahnya tajam. Alya langsung menepis tangannya begitu kuat, hingga beberapa jarinya membentur meja cukup kuat.
"Lu nggak boleh pergi, kalau lu pergi. Lu tahu kan nyokap kesayangan lo?" ucap Evan sambil tersenyum miring.
Alya mengepalkan tangannya, Evan sangat tahu apa yang menjadi kelemahannya. "Lu jangan macam-macam ya!"
"Justru itu, lu yang nggak boleh macem-macem. Makanya lo turutin apa kata gua, atau nyokap lo sekarat?" ancam Evan.
"BAJI-NGAN!!" gerutu Alya dengan tatapan yang mengintimidasi.
Evan tersenyum miring, hari ini tentu saja dia yang menang. Karena Alya tahu ancamannya itu bukan hanya sekedar gertakan.
"Jadi, kamu mau ikutin kata aku kan sayang?" Tanya Evan.
Alya membuang nafasnya kasar, dia kembali duduk di kursinya lagi. Napasnya terasa sesak, saat duduk berlama-lama dengan pria b******k seperti Evan.
"Apa mau lo, sebenernya?" tanya Alya.
"Mau gue kalau lo jadi istri gue, gimana?"
Alya membulatkan matanya sempurna, saat mendengar permintaan Evan yang cukup gila.
"Apa jadi istri? Lu gila apa? Gue nggak mau jadi istri lu ya!" Tolak Alya mentah-mentah.
Evan menaikan sebelah bahunya, seolah tidak peduli dengan penolakan dari Alya. Karena mau tidak mau pasti dia akan menerima permintaan Evan.
"Ya udah, kalau lu nggak mau nggak masalah. Asal tanggung konsekuensinya, gue udah bilang kan konsekuensinya apa?"
Alya mengepalkan tangannya kuat, ingin sekali rasanya Dia membenturkan kepala Evan ke dinding cafe tersebut.
Alya menarik nafasnya dalam-dalam, dia memejamkan matanya sebentar mencoba untuk berpikir.
"Kasih gua waktu!" pinta Alya.
"Oke, gue kasih waktu lo selama 3 hari. Lebih dari itu lu tahu kan akibatnya apa?" kekeh Evan.
"Sialan!" umpat Alya.
"Oh ya, satu lagi. Gue minta lu jangan berhubungan lagi sama Rangga, gue benci melihat kau sama dia, dengan alasan kalian itu sahabatan. Cih, sahabat dari mana!" cibir Evan.
Alya menyipitkan matanya, "selama gua belum jadi istri lo, sorry ya lu nggak bisa ngatur hidup gue! Jangan terlalu berharap lebih!"
Alya pun langsung beranjak dari tempat duduknya, kali ini Evan tidak menahan Alya untuk pergi dari sana. Dia membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya sendiri di cafe tersebut.
"Permisi pesanannya pak!" Ucap sang pelayan.
"Buat kalian aja, ini uangnya. Kembaliannya ambil!" Evan pun langsung pergi meninggalkan cafe tersebut.
---
Alya melangkahkan kakinya sedikit tergesa-gesa, wajahnya penuh dengan kekesalan, tangannya terkepal. Kenapa harinya begitu sial, dua pria yang meminta dirinya untuk menjadi pasangan. Tetapi kedua pria itu juga yang membuat dirinya merasakan sakit yang luar biasa.
Alya berjalan menuju rooftop kantor miliknya. Kini dia butuh ketenangan, dia butuh sendiri untuk berpikir. Langkah apa yang harus dia lakukan sekarang, tidak mungkin Alya menerima permintaan dari Evan.
Bagaimana caranya, dia harus mencari jalan keluar untuk lepas dari mantan kekasihnya itu. Inilah salah satu alasan Alya Kenapa memutuskan Evan, bisa dibilang dia itu pria cukup gila.
Entah berapa kali Evan memintanya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri, dan sesering itu juga Alya menolak dan menghindar dari Evan. Hingga pada akhirnya perselingkuhan itu pun diketahui oleh Alya.
Tanpa pikir panjang, Alya pun memutuskan Evan saat itu juga. Awalnya Evan tidak menghubungi dia saat Alya memutuskan hubungan mereka.
Tapi entah kenapa akhir-akhir ini Evan justru kembali mengusik dirinya, dengan embel-embel kalau dia dijebak. Dan buktinya sekarang Dia mengancam Alya agar menerimanya kembali, dan lebih parahnya lagi, Evan langsung meminta dirinya menjadi istri.
"Sinting emang tuh orang!" Umpat Alya, yang kini sudah berada di rooftop kantornya.
Alya berkacak pinggang, Ia berjalan mondar-mandir sambil menepuk keningnya. "Sialan gua harus apa sih? Ayo Alya otak lu harus berpikir!"
Namun Alya tidak menemui jalan keluarnya. Ini Alya berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di balik lututnya yang dia tekuk.
Air matanya pun mulai berjatuhan, ternyata Alya tidak sekuat itu, untuk menghadapi Evan.
"Gue harus apa ya Tuhan?" Terdengar suara sesegukan dari Alya, di balik wajah yang dia sembunyikan.
Tiba-tiba saja Alya merasakan ada sebuah jari yang mengetuk kepalanya. Alya langsung mengusap air matanya, dan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat Siapa yang datang.
Matanya melebar sempurna, saat melihat sosok yang sejak tadi dia pikirkan. "Rangga?"
"Lu ngapain jongkok di situ, di bawah sinar matahari begini? Lu lagi berjemur?"
Mendengar suara Rangga, dia langsung beranjak dan memeluknya. Rangga yang mendapatkan pelukan Alya tiba-tiba, hampir saja kehilangan keseimbangan. Untung saja Rangga langsung menegakkan tubuhnya dan membalas pelukan Alya.
"Lu kenapa? Lu di sini mikirin gue iya? " Ledek Rangga. Tapi Alya sedang tidak peduli jika dirinya diledek oleh pria itu untuk saat ini.
"Sesenang itu ya Lo ketemu sama gue?" Kekehnya yang masih memeluk Alya.
Alya pun langsung melepaskan pelukannya dari Rangga. Dia mengusap air matanya, Rangga pun menautkan kedua alisnya, melihat Alya yang menangis.
"Al, lo Kenapa nangis? Saking rindu gue lu sampai kayak begini?"
"Jangan kepedean deh lo, Enak aja lo. Gue kangen sama lo!"
Rangga semakin bingung dengan sikap dan pernyataan Alya yang berbeda. "Lah buktinya tadi lo langsung peluk gua pas ketemu? Ya apalagi kalau bukan kangen?"
"Makanya kata gue juga, jangan rindu. Rindu itu berat!" Godanya.
Alya mendelikkan matanya kesal, kali ini dia sudah tidak terlalu galau. Entah kenapa berada di dekat Rangga memang bisa senyaman itu.
"Berisik lu ah, Lu ngapain di kantor gue?"
"Ada rapat sama atasan lo, bokap gua minta untuk menarik saham dari sini!"
Alya mengernyitkan keningnya. "Loh kenapa emangnya? Ada masalah?"
Rangga langsung menganggukkan kepalanya, bos lu ketahuan menggelapkan dana!" Jelas Rangga.
"Jadi gosip perusahaan ini bangkrut itu emang bener?"
Belum juga masalahnya beres, ternyata berita kalau kantor di mana Dia bekerja akan bangkrut itu benar.
"Nggak tahu ya masalah bangkrut atau enggaknya, cuman gue mau narik saham aja dari sini. Untung saham yang bokap gue tanam di sini nggak banyak!" Jelas Rangga.
"Terus bener dong beberapa karyawan makan di PHK?"
Rangga menganggukkan kepalanya, "biasanya sih gitu, beberapa karyawan akan di-phk!"
Ekspresi Alya langsung berubah menjadi sedih. Ternyata benar apa kata orang, kalau menjadi dewasa itu tidak mudah. Rangga menaikkan sebelah alisnya, dia melihat ekspresi Alya yang berubah seketika.
"Wajah Lu kenapa dah? Lu takut dipecat?"
Alya membuang nafasnya kasar, apalagi yang dia takutkan. Kalau dirinya dipecat bagaimana dengan kehidupan dia.
"Tenang aja Kalau lu dipecat, Lu ngelamar aja jadi calon istri gue. Gue jamin bayarannya mahal! Lu nggak perlu kerja dari pagi sampai sore, Lu cukup Gua panggil ketemu sama nyokap gua pura-pura terus lu senyum selesai!"
Kepala Alya benar-benar penuh dengan masalah, yang berdatangan secara bersamaan. Alya menghiraukan ucapan Rangga, dia benar-benar tidak tertarik dengan tawaran Rangga.
Baginya tawaran Rangga sama saja seperti tawaran Evan. Alya seolah terjebak diantara dua laki-laki yang bisa disebut b******k, walaupun Rangga tidak seberengsek itu.
Tapi apa pernah Rangga memikirkan perasaan Alya? Apa pernah Rangga melihat dirinya sebagai wanita dewasa, bukan hanya sekedar sebagai sahabat.
Hati Alya pun semakin tidak karuan, dia membuang nafasnya pelan dan menatap ke langit-langit. Untung saja saat itu langit tidak terlalu panas, angin menerpa wajahnya membuat sedikit sejuk.
Rangga masih penasaran kenapa Alya berada di sini. "Al, Lu kenapa di sini?"
"Gue cari udara segar aja," jawabnya. "Lu kok bisa tahu gua di sini?" Tanya Alya sambil menoleh ke arah Rangga.
"Pas gua keluar dari lift, nggak sengaja mata gua nggak lihat lu lari-lari gitu. Makanya gua nyusul lo, eh ternyata lu di sini malah nangis! Ada masalah?"
Alya langsung menggelengkan kepalanya, "nggak ada!" Alya lebih memilih untuk tidak mengatakannya lebih dulu kepada Rangga.
Mungkin keputusannya ini terlihat bodoh, tapi Alya akan terus mencoba mencari jalan keluarnya, tanpa melibatkan sahabatnya itu. .
Mendengar jawaban Alya tentu saja Rangga tidak yakin, mana mungkin dia tidak memiliki masalah. Terus kenapa dia menangis, jika tidak ada masalah yang sedang menimpanya.
"Lu jangan bohong! Kita udah sahabatan lama ya, lu bener nggak mau cerita sama gue?"
Alya tetap menggelengkan kepalanya, dia tetap dengan pendiriannya untuk tidak bilang kepada Rangga.
"Beneran kok gua nggak ada masalah, udah lu sana pergi. Lo pasti masih banyak kerjaan kan?"
Rangga menarik nafasnya dalam-dalam, tubuhnya menghadap Alya. Kedua tangan Rangga menarik pundak Alya agar menghadap kepadanya.
Kini mereka saling berhadapan, Rangga menatap lekat ke arah Alya. "Dengerin gue, akhir-akhir ini gue bakalan sibuk. Mungkin gue juga jarang kirim chat ke elu. Tapi kalau lo ada apa-apa, bilang ke gue. Ingat apalagi tentang masalah Evan, dia nggak ngusik lo?" tanya dengan tatapan penuh selidik.
Alya memilih untuk menggelengkan kepalanya. Walaupun sebenarnya Rangga tahu kalau Alya telah berbohong.
"Oke kalau lu nggak mau kasih tahu masalah lo untuk saat ini, nggak masalah. Kalau lo mau mencoba untuk menghadapi masalah lo sendiri, boleh! Tapi ingat kalau Lo butuh bantuan gue, lu jangan sungkan ngomong ke gue oke?"
Alya pun menganggukkan kepalanya pelan, hatinya terasa hangat saat mendengar ucapan dari Rangga.
"Anak pintar!" Ucap Rangga sambil mengusap rambut Alya.
"Ih Angga!"
"Gue balik dulu ke kantor ya, lu hati-hati pulangnya. Jangan banyak pikiran oke, bye!"
Rangga pun pergi meninggalkan Alya di sana sendiri. Tatapan Alya terus tertuju kepada punggung pria yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Angga, gue harus gimana?"