Evan Kembali Lagi

1635 Words
"Mah Rangga mana? Kok dia belum keluar kamar?" tanya Damar yang sudah melihat jam di tangannya menujukkan pukul 07.00 pagi. Amina terdiam sejenak, ia menoleh ke arah kamar Rangga yang berada di atas. "Apa dia masih tidur ya pah? Bentar mama cek dulu di kamar!" Amina langsung melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Dia mengetuk pintu kamar Rangga namun tidak ada jawaban sama sekali. Amina membuang nafasnya pelan, sejak semalam Rangga memang terlihat sedikit berbeda. Dia pun merasa bersalah kepada Rangga, karena terus menjodohkannya dengan anak temannya. Tapi maksud Amina itu baik, agar Rangga segera menikah dan melupakan mantan kekasihnya. "Rangga, udah jam 07.00 loh, kamu mau berangkat ke kantor nggak?" tanya Amina dari balik pintu kamar Rangga. Namun tidak ada jawaban sama sekali, suara pun tidak ada dari balik pintu kamar Rangga. Amina menautkan kedua alisnya, sebelah tangannya memegang handle pintu dan membuka pintu kamar Rangga, ternyata tidak terkunci. Amina segera membuka pintu kamar anaknya, dan ternyata Rangga sudah tidak ada di dalam kamar. Tampak kamar itu sudah rapi tidak ada jejak Rangga sama sekali. "Rangga?" Amina, sedikit panik Dia berjalan menuju kamar mandi. Berharap kalau Rangga ada di dalam sana, tetapi nihil. Rangga ternyata sudah tidak ada di dalam kamarnya. Amina segera keluar dari kamar Rangga, tidak sengaja dia bertemu dengan Reza. "Za, kamu lihat Abang kamu nggak?" "Abang udah pergi dari tadi pagi, pagi banget malahan mah!" ucap Reza. Amina sedikit ternganga mendengar ucapan Reza. "Dia bilang sesuatu nggak sama kamu? Mau ke mana gitu?" Reza menggelengkan kepalanya, "enggak ma, aku tanya Abang aja, dia nggak jawab, langsung main pergi aja!" Amina membuang nafasnya kasar, dia pun segera meraih ponselnya, untuk menghubungi Rangga. Tapi nomor Rangga tidak aktif, Amina segera turun ke lantai dasar untuk memberitahu suaminya. "Pah, papah..." "Kenapa mah?" "Rangga nggak ada di kamarnya pah, kata Reza Dia udah pergi pagi-pagi banget!" ucapnya. Damar hanya menganggukkan kepalanya, "Oh ya udah!" Amina mengerutkan keningnya, mendengar jawaban dari suaminya. "Lah, kok papa nggak panik gitu sih?" Damar membuang nafasnya kasar, "dia udah gede mah, tahu harus melakukan apa. Sudah biarkan saja, nanti juga itu anak pulang. Ini bukan yang pertama kalinya kan mah?" Amina membuang nafasnya pelan, emang benar ini bukan pertama kalinya Rangga pergi dari rumah. Seolah saat nanti dia datang tidak terjadi apa-apa, Amina kini duduk di dekat suaminya. "Udah jangan dipikirin mah, karena dia itu udah besar. Jangan terus ditekan, dia itu pewaris, papa sangat butuh bantuan dia. Kalau dia merasa tertekan bagaimana dia mau meneruskan Perusahaan kita?" "Tapi pah—" "Sudah cepat sarapan!" Pada akhirnya Amina pun menuruti ucapan suaminya. --- Ternyata pagi sekali, Rangga sudah berada di kantornya. Tatapannya terfokus pada gambar yang ada di layar laptopnya. Memperlihatkan grafik perusahaan ayahnya. Terdengar sebuah suara ketukan dari balik pintu ruang kerja Rangga. Rangga pun langsung menyuruh orang yang di balik pintu itu masuk. Tampak Dani masuk sambil membawa dokumen yang ada di tangannya. Mata Rangga langsung menoleh, saat Dani berjalan menghampirinya. "Gimana lu udah dapat info tentang orang itu?" "Udah, ini identitas dia. Sesuai yang lu minta!" Dani memberikan dokumen tersebut kepada Rangga. Rangga segera meraih dokumen tersebut dan membuka, tiap perlembar dokumen tersebut. "Oh, dia karyawan biasa?" gumam Rangga. Dani yang kini sudah duduk di hadapannya, hanya menganggukkan kepalanya. "Hmm, emang dia siapa sih? Kenapa lu pengen cari tahu tentang dia?" "Nggak apa-apa, dia udah ngusik hidup gua aja. Makanya gue pengen cari tahu tentang dia!" Dani menautkan kedua alisnya, "emang urusannya sama lo apa? Kok dia bisa ngusik kehidupan lo?" "Nggak usah banyak tanya lo, Thanks ya infonya. Terus gimana, sekretaris buat gua, udah ada?" tanya Rangga. "Ada beberapa kandidat buat sekretaris lo, tapi gua nggak yakin sih kalau lo suka." Kini Rangga menatap ke arah Dani, "emangnya kenapa dengan mereka?" "Iya nanti siang lu bisa lihat aja, kayak gimana Mereka. Rata-rata yang melamar jadi sekretaris ya seperti itu!" Jelas Dani. Mendengar penjelasan dari Dani, Rangga membuang nafasnya pelan. Dia sudah tahu maksud arah Dani seperti apa. Rangga sudah tidak berkomentar lagi, Dia hanya bisa melihat hasilnya nanti siang. "Ada lagi nggak yang lo perluin? Kalau nggak ada gua mau balik lagi kerja!" Rangga segera menggelengkan kepalanya. "Oke kalau gitu gua balik ke ruangan ya!" "Iya, Thanks Dan!" "Sip!" Setelah pintu tertutup kembali, Rangga kembali melihat identitas dari Evan. Dia tahu perusahaan di mana Evan bekerja, kebetulan sekali Rangga akan bekerja sama dengan perusahaan tersebut minggu depan. Sebelah sudut bibir Rangga pun tertarik membentuk senyuman miring. "Tunggu aja kedatangan gue, kalau lu masih ngusik Alya. Tidak lama pintu ruang kerja Rangga terbuka begitu saja. Tampak ayahnya masuk dengan santai, dan duduk di hadapan Rangga. Rangga berdecak kesal, saat melihat ayahnya di pagi hari. "Tumben kamu pagi sekali udah di kantor?" "Bukannya kata papa aku harus rajin?" Damar tertawa pelan, "emang iya sih, kamu harus lagi lebih giat lagi bekerja. Sebentar lagi kamu akan menjadi pewaris. Dan papa juga ingin segera pensiun menikmati hidup." Rangga langsung menautkan kedua alisnya, "terus cabang baru kita yang ada di Bogor gimana kalau papa pensiun?" Damar sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Justru itu papa ke sini, untuk memberitahu kamu. Persiapkan diri kamu untuk meneruskan proyek tersebut, papa sudah tidak kuat jika harus bolak-balik Jakarta Bogor!" Sontak Rangga terkejut mendengarnya, karena sesungguhnya dia belum siap untuk memegang perusahaan ayahnya. "Tapi Pah ini terlalu mendadak!" "Mendadak dari mana? Semua sudah papa rencanakan. Dan secepatnya papa akan serahkan proyek itu sama kamu, tidak lama dari sana setelah proyek itu selesai, kamu yang akan menggantikan papa menjadi CEO. Belum juga masalahnya selesai, sudah ada masalah lain lagi. Terlihat sekali wajah Rangga yang begitu tertekan, Damar hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Rangga kamu itu sudah dewasa, sudah sepantasnya kamu memegang perusahaan papa. Papa ini ingin kamu disibukkan dengan pekerjaan, daripada kamu disibukkan dengan perasaan kamu yang belum move on sama mantan kekasih kamu itu!" singgung Damar, membuat Rangga kesal. "Apaan sih pah?! Aku belum seperti papa, aku masih harus banyak belajar!" "Justru itu saatnya kamu belajar dilepas oleh papa, dan sebentar lagi kamu akan memegang tanggung jawab yang lebih besar. Dan papa percaya sama kamu bisa memegang itu semua. Hanya satu pesan papa, ke sampingkan perasaan kamu dulu!" Rangga membuang nafasnya pelan, Damar pun segera pergi meninggalkan Rangga. Kini Rangga hanya seorang diri di ruang kerjanya, dia menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Jujur saja Rangga belum siap untuk memegang tanggung jawab yang lebih besar, tetapi saat ayahnya sudah berbicara seperti itu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. --- Kini Alya sedang sibuk membereskan pekerjaannya, tetapi sesekali matanya menoleh ke ponsel yang dia letakan tidak jauh darinya. Dia merasa ada yang aneh dari ponselnya, tidak ada pesan dari Rangga sama sekali. Biasanya pria itu akan mengirimi pesan kepada Alya, entah itu hanya sekedar mengganggu, atau memberikan semangat untuk bekerja. Tetapi kali ini tidak ada pesan sama sekali, lebih tepatnya sejak kejadian semalam. Rangga tidak menghubungi Alya sama sekali, pagi tadi pun Rangga tidak ada ke rumahnya untuk menjemput. Padahal katanya dia sudah berjanji akan menjemput Alya, untuk berangkat ke kantor bersama. Bodohnya Kenapa Alya selalu percaya dengan ucapan Rangga. Alya berdecih, bibirnya tersenyum miring. Menertawakan kebodohannya, sudah berapa kali anak Rangga melakukan seperti ini padanya. Tapi tetap saja dia selalu percaya omongan pria tersebut. Dadanya kembali terasa sesak, bertahun-tahun lamanya Alya sebenarnya memiliki rasa kepada Rangga. Tetapi pria itu hanya menganggapnya sebatas sebagai teman, tidak lebih. Ingat pada akhirnya Alya pun merasa lelah karena perasaannya sendiri, di saat Alya sudah mulai menerima kalau dia dan Rangga memang tidak bisa bersama. Justru Rangga datang untuk menjadikan dia sebagai kekasih. Walaupun sebagai kekasih bohongan, tetapi di dalam lubuk hati Alya, dia ingin sekali mencoba hal itu. Tapi Alya benar-benar bertahan, cukup baginya untuk menyakiti dirinya sendiri. "Al, woy!" Fares melambaikan tangannya, di depan wajah Alya yang sedang melamun. "Lu Kenapa ngelamun kayak gitu? Mikirin cowok ya? Atau mikirin tagihan?" Goda Fares. Alya mendelikkan matanya kesal, ia memilih untuk fokus kembali ke layar laptopnya. "Al lu tahu gak?" tanya Fares. Alya menggelengkan kepalanya, "Gak apaan?" "Katanya bakalan ada beberapa orang yang di PHK, dari divisi kita juga ada katanya!" Alya langsung membulatkan matanya tidak percaya. "Lu jangan bohong Res?" "Ngapain juga gua bohong, makanya lu jangan ngelamun aja kerjaannya!" ucap Fares. "Emangnya lu lagi mikirin apa sih? Kayaknya berat banget!" Sambung Fares. "Gak usah kepo deh lo, udah sana kerja. Jangan ganggu gue!" titahnya. Fares berdecak kesal, "lu nggak mau ke kantin beli kopi nih?" Alya langsung menggelengkan kepalanya, "nggak gua banyak kerjaan!" Fares pun pada akhirnya meninggalkan Alya. Ucapan Fares tentang PHK itu berputar-putar di kepalanya. Bagaimana kalau dia yang di PHK, sedangkan dia adalah tulang punggung keluarga, karena Alya sudah ditinggal oleh ayahnya. Alya pun langsung melihat lowongan kerja, bagaimanapun juga dia harus antisipasi tentang masalah ini. Karena statusnya kerjanya bersifat kontrak, tidak jauh kemungkinan dialah yang akan diberhentikan. Alya melihat beberapa lowongan kerja, dan itu berada di kota Bogor. "Bogor?" Alya melihat website yang ada di layar laptopnya. Melihat artikelnya, dan matanya tertuju pada gaji yang di tawarkan. Alya cukup tertarik karena melihat gajinya, lebih tinggi daripada tempat dia bekerja sekarang. Tanpa sengaja Alya pun iseng, untuk menyiapkan lamaran kerja untuk melamar di perusahaan tersebut. Setelah Alya menyiapkan surat lamaran kerja, dan siap dikirimkan pada waktu yang telah ditentukan. Alya pun kembali mencari lowongan pekerjaan lain. "Pokoknya Gimana caranya gue harus antisipasi!" Tidak lama ponsel Alya berdering, dia melihat nomor yang tidak dikenal. Alya sudah bisa menduganya itu telepon dari siapa. Akhirnya Alya memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut. "Halo!" (Al, aku ada di dekat kantor kamu. Aku perlu ngobrol sama kamu Al, aku tunggu kamu di dekat cafe kantor kamu ya). Alya membuang nafasnya pelan, "Iya gue ke sana." Alya langsung menutup teleponnya, dan beranjak dari tempat duduknya. Kini dia berjalan, menuju cafe yang ada di dekat kantor. Tampak seorang pria yang dia kenal sudah menunggunya sambil tersenyum lebar. Alya segera berjalan menghampirinya. "Ada apa? Waktu gue gak banyak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD