Jangan Ikut Campur

1544 Words
Saat Rangga dan Alya, saling berhadapan. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Pria dengan kemeja hitam, kini sedang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka. Tangan pria itu terkepal dengan kuat, rahangnya mengeras. Melihat Alya dan Rangga begitu dekat, matanya memerah seolah menahan amarah. Ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Alya. "Alya..." Rangga dan Alya pun segera menoleh, saat mendengar suara yang memanggil nama Alya. Mata Alya, melebar sempurna, saat dia melihat mantan kekasihnya sedang berdiri di hadapannya. Sedangkan Rangga langsung melepaskan tangannya dari wajah Alya. Dia sedikit memutar tubuhnya agar menghadap Evan. "Mau ngapain lu ke sini?" Tanya Rangga yang langsung maju satu langkah dari Alya. "Alya aku mau ngomong sama kamu!" ucap Evan tanpa menggubris pertanyaan dari Rangga. Rangga menekan pipi dalamnya dengan lidah, sebelah sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman miring. "Mau ngapain lo nemuin Alya? Dia udah bukan siapa-siapa lo lagi!" balas Rangga. Kini mata Evan tertuju kepada Rangga, tatapannya begitu tajam, seolah Evan ingin segera menghantam wajah Rangga detik itu juga. "Gua nggak ngomong sama lo, gua cuman punya urusan sama Alya!" respon Evan yang terkesan sangat tidak ramah. Rangga mengusap batang hidungnya, Kini dia membuat Alya berdiri tepat di belakangnya. "Lu nggak bisa seenaknya! Kalian udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Lu udah nggak ada urusan lagi sama Alya," balas Rangga tidak kalah dari Evan. "Bukan urusan lo, Alya kita perlu bicara sebentar!" pinta Evan, yang melangkahkan kakinya mendekati mereka. Melihat Evan yang langsung mendekat ke arahnya. Sontak Alya langsung menggenggam ujung baju Rangga. Rangga yang menyadari itu, langsung melindungi Alya. "Lu nggak lihat apa ini jam berapa? Emang Alyanya mau ngomong sama lo?" Evan mengepalkan kedua tangannya keras, "Al, kamu mau kan ngomong sama aku? Kita perlu bicara Al!" Alya langsung menggelengkan kepalanya, "Gak ada lagi yang harus kita bicarakan!" timpal Alya. Terdengar Evan mendengus kasar, Rangga yang mendengar jawaban Alya, tersenyum mengejek ke arah Evan. "Gua rasa lu belum tuli ya, untuk mendengar jawaban Alya!" paparnya. Evan menarik nafasnya dalam-dalam, dia mencoba untuk tetap tenang. "Al, ada yang mau aku jelasin. Please!" Wajah Evan berubah benar-benar memohon. Namun, Alya tetap tidak mau berbicara dengan Evan. Bagi Alya, hubungannya dengan Evan sudah benar-benar berakhir, tidak ada lagi yang harus dijelaskan. "Sorry gue nggak mau ngomong sama lo. Udah malam, mending lo pulang aja!" usir Alya. "Ngga, ayo masuk dulu ke dalam!" ajak Alya yang langsung menarik tangan Rangga. Tetapi belum sempat mereka masuk ke dalam halaman rumah Alya. Evan sudah berjalan mendekati Rangga, dan langsung menghajarnya. Rangga yang tidak tahu pergerakan Evan, akhirnya tersungkur ke tanah. Refleks Alya berteriak saat melihat Rangga dipukul oleh Evan. "Rangga..." Alya terkejut, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, melihat Rangga tersungkur ke tanah. Alya langsung menghampiri Rangga, " Ngga, lu gak apa-apa kan?" Mata Alya melihat sedikit robekan di sudut bibir Rangga. "Ngga berdarah!" ucap Alya panik. Namun Rangga tidak menggubris ucapan Alya, Dia segera bangkit dan membalas pukulan Evan dua kali lipat lebih keras. Rangga langsung menendang tubuh Evan, dan menghajarnya hingga tersungkur. Alya langsung panik saat melihatnya, Dia segera menahan Rangga agar tidak memukul Evan kembali. "Angga, udah Angga!" Alya terus menahan Rangga, hingga ada salah satu warga yang membantu Alya memisahkan mereka. Evan dan juga Rangga pun berhasil dipisahkan. "Ada apa ini? Kalau mau ribut jangan di tempat kami!" Ucap salah satu warga dengan nada tinggi. Rangga dan Evan pun mengatur nafas mereka berdua. Pada akhirnya, Evan memilih untuk pergi meninggalkan Rangga dengan wajah yang sedikit lebam. Alya yang merasa tidak enak dengan warga sekitarpun, pada akhirnya meminta maaf. "Maaf pak maaf!" ucap Alya. Karena mereka berdua warga sana, maka bapak itu melihat kondisi Rangga. "Dia siapa sih?" Rangga hanya menggelengkan kepalanya, "jangan-jangan kalian berantem ngerebutin Alya ya?" tanya salah satu warga. Rangga tidak menggubris ucapan bapak-bapak itu. Dia langsung masuk ke rumah Alya. Alya yang melihat sikap Rangga pun, menjadi tidak enak kepada warga yang ada di sana. "Maaf ya pak, Rangga lagi PMS kayanya. Sekali lagi terima kasih ya pak, udah bantu misahin!" ucap Alya. Tiga orang warga yang di sana pun mengangguk. "Ya udah lain kali hati-hati ya Al, jangan sampai jadi rebutan cowok lagi! Pilih salah satu diantara mereka!" canda salah satu dari mereka. Alya hanya menganggukkan kepalanya, dan segera masuk mengikuti Rangga yang sudah ada di teras rumahnya. Kini Alya menarik nafasnya dalam-dalam. Menatap lekat ke arah Rangga, "ayo masuk, gue Obatin dulu luka lu!" Alya menarik tangan Rangga, masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan menuju ruang tengah, "Duduk di situ lo, gua ambil dulu kotak obat!" ucapnya. Rangga hanya bisa diam, sambil menahan rasa perih yang ada di sudut bibirnya. Tidak lama Alya kembali sambil membawa kotak obat. Kini dia duduk di samping Rangga, "Sini lihat ke gue! Lu ngapain sih ngeladenin si Evan?" tanya Alya kesal. "Dia duluan yang mulai bukan gue!" Alya mendengus pelan, memang benar apa yang dikatakan oleh Rangga. Bukan Rangga yang mulai duluan, tetapi Evan yang langsung menghajar Rangga. "Ya tapi kan nggak usah lo bales juga!" timpal Alya. Sebelah alis Rangga terangkat, "jadi maksud lo, gua diem aja gitu dipukul sama dia?" tanya Rangga sambil menatap sinis. Alya membuang nafasnya pelan, dia memberikan obat merah ke kapas, untuk ditempelkan ke luka yang ada di sudut bibir Rangga. "Tahan bakal agak sakit!" peringat Alya, yang sedikit menekan kapas itu pada luka Rangga. "Awh, lu ikhlas nggak sih?" tanya Rangga, yang meringis kesakitan. "Ya ikhlas lah, Lain kali nggak usah ikut campur kehidupan gue. Gua bisa kok ngatasinnya!" Rangga tersenyum miring, "lu bisa ngatasinnya? Saat Evan mendekat aja, lu langsung sembunyi di balik gue. Terus gimana lu ngeberesin masalah lo?" Alya menggigit bibir bawahnya, ucapan Rangga memang ada benarnya. Dia melengkungkan bibir bawahnya. "Ya, gue reflek aja sembunyi di belakang lo!" "Ya berarti itu udah jelas, kalau lo takut sama dia kan. Lu nggak bisa ngehadapin dia!" ucapnya. Rangga membuang nafasnya kasar, "dia emang masih suka ngehubungin lo?" Alya menganggukkan kepalanya pelan. "Akhir-akhir ini nggak tahu kenapa dia sering ngehubungi gue. Sampai beberapa kali sama gua udah pernah di blok, tapi dia ganti pakai nomor yang lain. Gue capek!" Rangga mengusap wajahnya kasar, "terus kenapa lu nggak bilang ke gue?" Alya mengerutkan keningnya, "buat apa gua bilang sama lo? Toh nggak akan menyelesaikan masalah gue! Evan bakalan terus neror gue!" "Kata siapa? Gue yang bikin dia berhenti buat Neror lo paham?" ungkapnya dengan nada tinggi. Tidak lama Maya keluar dari kamarnya, melihat Rangga dan Alya sedang duduk di ruang tengah. "Eh ada Rangga, loh wajahnya kenapa?" tanya Maya yang langsung mendekat menghampirinya. Rangga pun hanya tersenyum, "biasa tante, namanya juga cowok. Rangga pamit dulu pulang ya Tante, permisi!" Tanpa banyak bicara lagi, Rangga langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan rumah Alya. Maya terlihat bingung melihat Rangga yang tiba-tiba pergi begitu saja. "Al, Rangga kenapa?" Alya hanya menggelengkan kepalanya, ia beranjak dari tempat duduknya sambil membawa kotak obat, dan pergi meninggalkan ibunya sendirian. "Lah mereka kenapa sih?" --- Rangga pulang ke rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Ia segera keluar dari mobilnya dengan sedikit tergesa-gesa. Namun, saat dirinya akan masuk ke dalam rumah. Ia melihat ibunya sedang duduk di sofa, Rangga membuang napasnya kasar. Dia terus berjalan, tanpa melihat ke arah ibunya. "Rangga, Kamu ninggalin Istia?" tanya Amina langsung pada pokok permasalahan. "Aku nggak suka dia mah!" jawabnya santai, dengan tidak menghentikan langkahnya. "Rangga, tunggu mama belum beres ngomong!" Akhirnya Rangga pun menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah ibunya yang sedang menatapnya. "Apalagi sih mah? Rangga capek, apa sih harus terus ngebahas tentang jodoh? Nggak bisa gitu Mama kasih Rangga kebebasan untuk memilih istri Rangga sendiri? Rangga bukan anak kecil mah, Rangga capek!" ucapnya, yang langsung melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Amina. Amina, mengedip-ngedipkan matanya. Baru kali ini Rangga berbicara seperti itu kepadanya. Dan dia baru menyadari kalau wajah Rangga terluka. "Bentar, itu anak abis berantem apa?" Amina pun langsung melangkahkan kakinya menuju lantai atas, di mana kamar Rangga berada. Amina mengetuk kamar Rangga, tentu saja pria itu tidak membukakan pintu kamarnya untuk Amina. "Rangga buka dulu pintunya nak? Mamah mau lihat luka kamu! Bukan mau ngomongin jodoh kok!" ucap Amina dari balik pintu. Namun, tetap saja Rangga tidak membukakan pintu itu untuk Amina. Rangga yang ada di dalam kamarnya pun hanya berdecak kesal, kini dia memilih untuk membersihkan tubuhnya, dan membiarkan ibunya di luar. Rangga menyalakan shower yang akan membasahi tubuhnya. Air hangat yang keluar dari shower itu mulai membasahi tubuh atletis Rangga. Rangga menyugarkan rambutnya ke belakang, air membasahi seluruh tubuh Rangga. Sebelah tangannya disandarkan ke dinding, kepalanya sedikit menunduk, dia mengatur nafasnya menahan amarah yang selama ini dia pendam. "Kenapa sama gue?" ucapnya. Rangga langsung menyelesaikan membersihkan tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, kini Rangga sudah memakai kaos polos dan celana boxer. Rangga membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya, yang tidak terlalu besar. Rangga menatap langit-langit, entah kenapa dia terus kepikiran tentang Alya. "Kenapa Gua mikirin dia sih!" Rangga menepuk-nepuk kepalanya, agar bayangan Alya hilang dari pikirannya. Namun, bukannya hilang. Bayangan Alya seolah semakin mendekati Rangga. Hingga Rangga pun beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju balkon rumahnya, dan mengambil sebatang rokok. Rangga pun mulai mengepulkan asap putih ke udara. Tidak lama ponselnya pun berbunyi, ia segera melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Rangga langsung mengangkat telepon dari orang yang dia percaya. "Oke, lu kirim info tentang Evan ke gua sekarang!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD