Seorang wanita yang telah berumur lima puluhan, tetapi masih tampak muda di usianya tersebut tengah menikmati waktunya dengan melakukan gerakan-gerakan yoga di dekat kolam renang. Alunan musik mengiringi setiap gerakannya tersebut. Ketenangan wanita itu terus berlanjut sampai akhirnya salah satu dari pelayan perempuannya menghampirinya. “Nyonya.”
Wanita yang di panggil nyonya itu tetap memejamkan mata, sembari berkata, “Apa kah kau melupakan peraturannya? Tidak ada yang boleh menganggu ku ketika aku sedang beryoga.”
Pelayan perempuan yang tadi menundukkan kepala, lalu menyahut. “Maaf Nyonya, tentu saya tidak lupa. Tapi saya harus menyampaikan berita buruk mengenai Tuan Muda Edgar.”
Begitu mendengar kata buruk dan nama putranya di sandingkan, wanita yang notabenenya adalah ibu kandung Edgar itu, kontan membuka mata dan menghentikan kegiatannya. “Apa maksud mu? Apa yang terjadi pada anak ku?”
“Sebenarnya bukan Tuan Muda Edgar, Nyonya. Tetapi tunangannya, ia mengalami kecelakaan pesawat. Nyonya bisa menonton beritanya sekarang.”
Ekspresi wajah wanita bernama Ningsih itu seketika menggelap. Dengan langkah lebar ia segera menuju ruang menonton televisi. Sesampainya di sana ia telah di suguhkan tayangan yang mengabarkan mengenai kecelakaan pesawat oleh salah satu stasiun televisi nasional. Di sana dapat ia lihat deretan nama-nama yang menjadi korban dari kecelakaan tersebut. Dan dari sekian banyaknya nama, Ningsih pun menemukan nama gadis itu tercantum di sana.
“Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan? Bagaimana bisa dia berada di sana sementara pernikahannya sudah dekat?!” Ningsih meracau marah. Wanita paruh baya itu menoleh pada pelayannya. “Apa ada kabar dari Edgar.”
Pelayan yang ditanyai menggeleng. “Tidak, Nyona.”
Tidak berselang lama, ponsel pintar milik Ningsih berdering pertandang ada panggilan masuk. Ningsih meminta salah satu pelayannya untuk mengambilkan ponselnya yang segera di turuti. Pada layar ponselnya tertera nama ayah mertuanya yang melakukan panggilan. Tanpa membuang waktu lagi, Ningsih menggeser ikon hijau di layar, dan menempelkan benda elektronik itu ke telingannya. “Ningsih,” suara serak basah dari mertuanya menyapa pendengaran Ningsih. Tanpa memberikan wanita paruh baya itu menjawab, laki-laki berusia hampir tujuh puluh tahun itu kembali berujar, “Kau sudah melihat beritanya?”
Ningsih kembali menatap televisi yang masih setia memberitakan mengenai kecelakaan pesawat tersebut. “Sudah, Ayah,” jawab Ningsih.
“Bagus lah, itu berarti aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi,” balas mertua Ningsih. “Ke mari lah, Ningsih. Sindrom putra mu kambuh lagi di perusahaan. Entah lah aku harus bersyukur atau tidak, karena dengan kambuhnya sindrom Edgar, setidaknya untuk saat ini ia tidak mengetahui mengenai kecelakaan yang melibatan tunangannya itu.”
Napas Ningsih terembus pelan, sebelum ia kembali menyahut. “Baik, Ayah. Ningsih segera ke sana.” Sejurus kemudian, panggilan terputus. Ningsih meremat ponselnya. Lalu segera beranjak untuk bersiap-siap pergi ke perusahaan tempat anaknya bekerja.
*
Suara hak sepatu Ningsih menggema di lorong-lorong yang ia lewati. Beberapa karyawan yang sempat berpapasan dengannya, menyematkan diri untu berhenti sejenak untuk menyapa singkat Ningsih. Sementara wanita paruh baya itu tak menggubris, langkahnya lurush menuju satu ruangan di perusahaan yang cuma di ketahui oleh beberapa orang terpecaya.
Ruangan tersebut berada di dalam ruang kerja Edgar. Pintu masuk ruangan tersebut berada di balik lemari kayu di pojok ruang.kerja Edgar. Ningsi Cuma perlu menggeser lemari kayu tersebut, lalu sebuah pintu lain pun terlihat. Memasukan beberapa digit angka yang berfungsi sebagai pin, pintu tersebut pun otomatis terbuka. Ningsih kembali menggeser lemari kayu yang tadi, untuk tetap membiarkan pintu ruangan khusus ini tersembunyi.
Memasukinya lebih dalam, Ningsih dapat mendengar tawa Edgar memenuhi seluruh ruangan itu. Edgar tak akan pernah tertawa selepas itu kecuali di saat sindrom peterpannya kambuh. Tak perlu khawatir, seseorang di luar sana akan curiga, sebab rangan khusus ini memang di desain kedap suara. Sesuai dugaan Ningsih, di sana sudah ada Ayah mertuanya—Gaon Mahesa—yang tengah duduk di sofa sembari memerhatikan Edgar yang tengah bermain dengan seorang pengasuh perempuan yang memang bertugas menangani Edgar ketika pemuda itu kambuh.
“Ayah,” panggil Ningsih pada pria tua yang sedang duduk itu. Gaon menoleh, memerintahkan dengan matanya agar menantunya itu duduk. Ningsih pun menurut. Belum genap sedetik Ningsih mendaratkan bokongnya di sofa, Gaon sudah memulai perbincangan.
“Perempuan liar itu mati,” ujar Gaon. Ningsi jelas paham siapa perempuan liar yang di maksud Gaon. Siapa lagi kalau bukan tunangan Edgar. Sejujurnya, tak ada satu pun dari keluarga Edgar yang menyetujui hubungan pemuda itu dengan kekasihnya, sebab perempuan itu berada dari golongan yang jauh berbeda dengan keluarga mereka. Golongan bawah. Akan tetapi kekeras kepalaan Edgar tak ada satu pun yang bisa menandingi. Sehingga pada akhirnya keluarga mereka suka tidak suka menyetujui pertunangan keduanya, sekaligus pernikahan mereka. Akan tetapi, dengan nama mempelai perempuan yang tetap dibuat misterius di dalam surat undangan. Pernikahan Edgar menjadi hal yang dinanti-nanti sebagian besar orang karena hal tersebut. Siapa kiranya perempuan beruntung yang mampu mendapatkan penerus Enhygene Group? Secantik apa kah perempuan itu? Sehebat apa permpuan itu? Dari golongan mana kah perempuan itu berasal? Semua pertanyaan-pertanyaan itu dan sejenisnya sudah mewarnai banyak artikel berita.
“Itu jelas berita bagus, bukan Ningsih.” Ningsih mengangguk, setuju. “Lihat, bahkan semesta menolak keturunan keluaarg kita berhubungan dengan golongan bawah sepertinya.” Gaon sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Edgar. “Meski pun begitu, undangan telah tersebar, kita tidak mungkin membatalkan pernikahan itu begitu saja. Pembatalan pernikahan yang mendadak pasti akan menimbulkan banyak asumsi-asumsi di kepala rekan atau pun rival bisnis kita. Mengumumkan mengenai alasan sebenarnya pernikahan dibatalkan pun bukan tindakan yang tepat. Kita tidak butuh berita duka dari golongan bawah menodai sejarah keluarga Mahesa.” Pria tua itu menurunkan kakinya, yang tadinya menyilang. Walaupun samar Ningsih dapat menangkap gurat-gurat kepuasan dari wajah keripuat pria tua itu. “Bagaimana pun caranya pernikahan itu harus tetap berlangsung.”
Ningsih paham betul bagaimana cara kerja otak pria tua itu. Jika membiarkan pernikahan Edgar batal, dengan kondisi undangan yang telah tersebar serta identitas mempelai wanita yang dirahasiakan, pasti akan ada banyak oknum yang memunculkan isu-isu aneh di balik kejanggalan itu. Isu itu bukan tidak mungkin merusak citra baik nama keluarga yang sedari dulu sudah di bangun dengan apik.
“Pernikahan itu akan tetap berlangsung,” ulang Ningsih, “Dan Ningsih yakin kalau Ayah pasti sudah memiliki calon pengganti untuk Edgar bukan?”
Gaon bangkit. “Tentu saja, Ningsih. Orang tua ini selalu mempunyao rencana atas segala kemungkinan yang dapat terjadi.”
Entah Ayah memang selalu memiliki rencana atas segala kemungkinan atau Ayah yang mencipatakan kemungkinan itu agar terjadi
Bisik dewi batin Ningsih. Tepat setelah itu, pintu ruangan khusus terdengar terbuka, diikuti dengan bunyi ketukan hak. Kemudian suara perempuan yang tak lagi asing di telinga Ningsih menyapanya.
“Selamat siang, Tante, Kakek. Lama tidak berjumpa,” uajr sosok itu dengan senyum lebar.