“Yura, kamu gila?”
Edgar spontan berseru demikian kala kekasihnya atau lebih tepatnya tunangannya itu mengatakan akan pergi ke Korea minggu depan. Edgar tak akan bereaksi berlebihan seperti itu andai kata waktu keberangkatan Yura bukan minggu depan. Titik permasalahannya adalah, pernikahan mereka akan berlangsung dua minggu setelah keberangkatan Yura. Edgar tak ingin berjauhan dengan tunangannya sampai hari pernikahannya datang.
Yura memandangi berkas yang tadi dilempar Edgar. Berkas yang berisikan undangan baginya untuk datang ke Korea sebagai perwakilan kedutaan besar Indonesia. Sesuai ekspetasi Yura, Edgar sama sekali tak menyukai kabar ini. Namun Yura sendiri juga tak mungkin menolak kesempatan emas yang telah lama ia nanti-nantikan ini. Mengunjungi Korea adalah salah satu impiannya.
“Edgar, aku akan kembali sebelum pernikahan kita. Dan kamu juga nggak perlu khawatir, aku nggak akan lepas tanggung jawab dalam mengurus persiapan pernikahan kita.”
Edgar terdiam dengan beragam pertimbangan yang kini menghampiri. Laki-laki itu tahu betul kalau ini adalah salah satu mimpi kekasihnya. Mengunjungi negeri ginseng tersebut sebagai salah satu bentuk prestasinya. Edgar jelas mampu menerbangkan kekasihnya ke sana dengan segala kekayaan yang ia miliki. Akan tetapi hal tersebut jelas berbeda. Edgar kembali menatap Yura. Menyelami manik penuh harap dari gadisnya tersebut. Napas laki-laki itu lantas terhela, sebelum sebuah anggukan lalu menjadi jawabannya. Yura spontan terpekik senang, tanpa aba-aba memeluk erat Edgar serta membubuhkan kecupan-kecupan lembut pada dagu laki-laki itu.
“Sayang, aku sakit hati.”
Bola mata si perempuan agak membesar sewaktu mendengar pernyataan Edgar. “Apa? Kenapa? Aku ada ngelakuin kesalahan apa?”
Edgar melepaskan lengan Yura yang melingkar di perutnya. “Kamu biasanya nggak pernah nyium aku duluan. Ini pertama kalinya setelah sekian tahun hubungan kita, dan itu pun karena aku izinin kamu pergi.”
Yura tersenyum manis. Jemari lentiknya bergerak menoel-noel dagu Edgar. “Ulu-ulu. Bayi besarku ini ngambek, eoh?” Tangan Yura beralih menangkup pipi Edgar. “Setelah pernikahan kita nanti. Aku janji, akan kasih apa pun itu ke kamu, bahkan tanpa kamu minta.”
Edgar melirik Yura melalui sudut matanya. “Janji?”
Yura mengangguk mantap seraya mengacungkan jari kelingkingnya pada Edgar. “Janji,” ujar Yura.
Senyum Edgar kembali terulas. Laki-laki itu pun lantas mengaitkan jari kelingkingnya pada milik Yura yang lebih mungil darinya. Kedua anak adam dan hawa itu lantas mendekatkan wajah mereka, serta menempelkan kening.
“Kamu janji perginya jangan lama-lama, ya?”
Yura tersenyum teduh menenangkan. “Janji, Sayang.”
“Awas kalau ingkar. Aku sendiri yang akan seret kamu pulang dari sana.”
Yura spontan terbahak. “Coba aja kalau bisa,” godanya seraya bangkit.
Edgar tersenyum miring. “Oh, jadi kamu nantangin nih ceritanya?”
Yura melangkah mundur, kedua lengannya terlipat di belakang punggung. Senyum gadis itu terulas jahil. Melihat hal tersebut, Edgar pun turut bangkit mengejar Yura yang berlari sangat gesit menghindarinya di ruang minimalis tersebut.
*
Melalui jendela besar di ruangannya, Edgar berdiri memandang pemandangan di luar sana. Gedung-gedung kaca bertingkat yang nyaris mencapai langit, dan bentangan cakrawala yang bersih adalah apa yang menjadi makanannya sehari-hari di sana. Cuaca hari itu sedang sangat indah, tetapi sayanganya sangat berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.
Bagaimana tidak? Hari ini Yura, kekasihnya akan berangkat. Akan tetapi dirinya tidak bisa mengantar kepergian gadis itu, dan justru terjebak di salah satu gedung dengan tumpukan berkas-berkas. Ini semua karena Edgar harus menghadiri rapat dengan kolega bisnisnya dari Singapura. Edgar tak bisa melepaskan hal itu begitu saja, atau membiarkan perwakilannya yang menghadiri rapat tersebut sebab kolega yang kali ini memegang peran penting dalam kemajuan perusahaannya.
“Sayang, maaf,” ucap laki-laki itu pada sosok gadis kesayanganya di seberang sana.
Kemudian terdengar balasan, “Berhenti bilang maaf, Ed. Ini bukan salah mu. Dan sungguh, aku beneran nggak apa-apa harus berangkat sendiri tanpa ada yang nganter. Kamu kan tahu kalau aku ini perempuan independen yang bisa melakukan segalanya sendirian,” jelas Yura panjang lebar. Namun sepertinya Edgar salah mengerti.
Edgar meremat ponsel yang melekat di telinganya. “Kamu ngomong gitu bikin aku ngerasa semakin bersalah dan buruk. Kamu juga manggil aku pakai nama.”
Di seberang sana Yura tampak memejamkan matanya. Sungguh gemas dengan tingkah kekanakan direktur perusahaan besar yang satu ini. “Astaga, sayang… bukan begitu maksudku—“ Perkataan Yura terpaksa terpotong, sebab terdengar panggilan untuk penerbangannya. “Sayang, udah dulu oke? Aku harus berangkat sekarang. Nanti kita sambung lagi kalau aku udah sampai sana. Dah, I love you, Ed.”
Edgar mengembuskan napas panjang, merasa sangat tidak rela. Namun mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membalas ungkapan kekasihnya itu, “I love you more, By.” Edgar memberi jeda sejenak. “Safe flight.” Akan tetapi agaknya Yura tidak mendengar perkataan Edgar yang terakhir itu sebab Yura terlebih dahulu memutus sambungan. Edgar cuma mampu memandangi ponselnya, berharap Yura kembali menghubunginya, tetapi ia jelas sadar hal tersebut sangat tidak mungkin untuk saat ini. Lamuman laki-laki itu lantas terinterupsi oleh ketukan di pintu.
“Maaf mengganggu, Pak. Tapi Anda sudah ditunggu oleh Mr. Shone,” ujar sekretaris Edgar. Berbanding terbalik dengan tingkah Edgar yang terkesan manja dan kekanakan pada Yura beberapa menit yang lalu. Kini Edgar mengeluarkan aura serta wibawanya sebagai seorang pemimpin di depan salah satu karyawannya. Edgar memasukan ponselnya ke saku celana, seraya berkata, “Saya segera ke sana.”
Sekretaris perempuannya menganggukan kepala, lantas kembali menghilang di balik pintu.
Sementara belasan kilo meter dari tempat Edgar. Yura tengah duduk di perut pesawat dengan perasaan campur aduk. Yura kembali membuka ponsel pintarnya, mencari kontak Edgar, dan mengetikan beberapa patah kalimat untuk ia kirimkan sebelum nanti ia harus mematikan ponselnya.
From : Yura
To : Ed
Jangan coba macam-macam di belakang ku selama aku pergi, Ed. Karena aku akan langsung tahu itu. Aku sayang kamu….
Terakhir Yura menekan tombol kirim.
*
Pada sebuah kediaman mewah seorang perempuan bertubuh tinggi semampai tengah duduk di sofa sembari menikmati salad buatan pelayannya. Manik mata yang di selimuti lensa kontak itu memerhatikan layar kaca di depannya yang menayangkan siaran berita. Hal tersebut merupakan salah satu hal langka yang terjadi, sebab perempuan itu sesungguhnya tak memiliki sedikit pun minat pada berita-berita tak penting yang stasiun-stasiun televisi tayangkan. Akan tetapi entah ada angin apa, pagi-pagi ia sudah duduk di depan televisi menyaksikan tayangan yang tidak ia minati itu.
Jemari lentik dengan kuku yang di cat merah derah meraih segelas alkohol yang terdapat di meja kaca didekatnya. Tepat setelah bibir gelas tersebut bersentuhan dengan bibir tebalnya, sebuah berita baru muncul di sana. Membaca deretan huruf di sana, sebelah bibirnya terangkat. Setelah menyesap beberapa teguk minuman, perempuan itu pun bangkit dan melangkah pergi dengan kaki jenjang bak model itu. Membiarkan televisi tetap menyala menayangkan berita menggemparkan.
Pesawat EJ20 Dikabarkan Mengalami Kecelakaan Setelah Sebelumnya Hilang Kontak