Nana menghela napasnya pelan, rasanya sedikit sesak karena ia tergesa berlari tadi. Tapi, ia harus menghindari bosnya itu mulai sekarang. Jantungnya selalu berulah dan ia selalu merasa gemetar juga keringat dingin keluar. Melihat keadaan sekitar yang mulai senja, Nana segera mencari angkot. Namun, sudah hampir sepuluh menit dan belum ada angkot yang lewat. Tanpa di sadari Nana, Jaka melihat dirinya dari kejauhan. Tak lama mobil Rio datang dan berhenti di dekat Nana berdiri. Sontak Jaka langsung memperhatikan hal tersebut. Nana semakin gelisah, sebentar lagi gelap dan ia masih di depan kantornya. Melihat ponselnya, sudah hampir pukul lima sore. "Na, nungguin apa?" Kaget. Nana menoleh dan melihat Rio berhenti di depannya menenghunak mobil. "Nunggu angkot pak" jawab Nana Rio melihat j

