LIMA-C

1594 Words
Jaka mengawasi dari tangkapan kamera pengawas. Ia mendengus melihat sahabatnya yang menunjukkan taringnya Di layarnya ia melihat Nana yang tangannya sedikit bergetar. Jaka berdecak "Mereka ada masalah apa hah!?" dengus Jaka kesal Lihat saja bagaimana ia membereskan mereka semua. Perusahaan mereka apa terlihat santai?! Yah mulai dari desai luar hingga suasana kantor ia buat senyaman mungkin, karena ia tidak ingin karyawannya merasa tertekan. Memunculkan kesan santai namun tetap dengan bertanggungjawab. Jam masuk dan pulang kantor juga sudah ia tetapkan. Di kantin sudah ia sediakan makanan yang sehat dan terjaga. Interior sekitar juga ia buat menyenangkan dengan beberapa permainan untuk merilekskan karyawannya Sepertinya ia perlu menyeleksi kembali kesehatan psikologis karyawannya. Memikirkan beberapa opsi yang bisa ia terapkan, suara ketukan terdengar "Masuk" ucap Jaka Bahkan Jaka bisa mendengar teguran Rio terhadap seseorang. Tak lama pintu tersebut di buka pelan, masuklah lima orang karyawannya Jaka menatap mereka dan melihatnya menundukkan kepalanya "Silakan duduk" ucap Jaka sambil beranjak berdiri dan berniat duduk di spfa depan mejanya Mereka berlima duduk bersebelahan di sofa hitam tersebut. Sedangkan Jaka di sofa ujung menatap mereka satu persatu "Ada apa kalian kemari?" tanya Jaka pelan namun terdengar nada seorang pemimpin di sana membuat mereka berlima merinding "Kalian mau mengundurkan diri?" tanya Jaka lagi dengan nada santai namun terdengar seperti tawaran dari iblis "Tidak Pak" jawab salah satu dari mereka Jaka tersenyum miring, "Lalu?" "Tadi Pak Rio menyuruh kami kesini" jawab salah satu dari mereka "Kenapa?" Hening Diam Jaka melihat jam dipergelangan tangannya. Sepertinya akan sedikit lama. Baiklah kita lihat saja "Kalian kalau tidak ada yang mau dibicarakan dengan saya silakan keluar" ucap Jaka dengan santai dan beranjak dari duduknya "Pak Jaka tunggu" Jaka menoleh dan berdiri menatap mereka. Mengangkat satu alisnya seperti bertanya "Kami tadi tidak sengaja merundung junior kami" ucapnya Jaka mengkerutkan keningnya, tersenyum remeh dan berjalan mendekat "Sejak kapan di perusahaan ini ada istilah senior dan junior?" tanya Jaka pelan tidak percaya dengan jawaban mereka Hening Diam Jaka menghela napasnya. Berjalan menuju mejaya dan memencet interkom "Yo, masuk" Tak lama pintu terbuka dan terlihat Rio masuk keruangan. "Ada apa?" tanya Rio langsung melirik sekilas mereka berlima "Bawa mereka keluar, dan berikan surat peringatan" putus Jaka final Rio menganggukkan kepalanya mengerti, sedangkan mereka berlima menatap Jaka tidak percaya "Tapi, Pak Jaka karena dia juga Pak Rudi di pecat" protes salah satu dari mereka yang sedari tadi bersuara dan menjawab Jaka tersenyum kecil dan memandang mereka satu persatu "Jika kalian tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik diam dan bekerja saja" jawab Jaka singkat dan memberikan kode pada Rio untuk membawa mereka berlima Jaka kembali duduk di kursinya. Mengurut keningnya sedikit pening . . . . Nana memilah beberapa sketsa yang akan di ajukan ke kepala divisi. Sesekali ia bergumam sambil mulutnya menyesap peemen rasa anggur yang ia dapat dari pantry Baru saja ia akan beranjak berdiri untuk mengambil hasil cetakan desain, seniornya kembali dengan wajah suntuk. Melirik Nana sengit namun hanya diam dan melewati Nana begitu saja. Anggota divis pengembangan yang lain juga diam saja melihat menere yang mengemasi barangnya dan memasukkan di tas mereka masing-masing Nana tidak berani melihatnya. Ia masih duduk dan menyibukkan diri di depan layar komputernya. Salah satu lima perempuan tadi menghampiri Nana. Namun di cegah seseorang "Udah lah Sis, pulang aja sana. Mau nambah masalah lu?!" ujar Rita memegang lengan Siska Dihempaskan tangan Rita dan pergi tak lama mereka berlima satu persatu keluar dari ruangan divisi pengembangan "Balik kerja, Pak Jaka bentar lagi turun kita rapat bentar sebelum lulang nanti" ujar Rita membuat mereka menganggukkan kepala Sedangkan Nana kaget bagaimana ia harus bersikap nanti. Ia tidak pandai bersikap dengan bosnya itu. Memikirkan beberapa kali interaksi mereka Nana semakin gugup. Saat ia menunggu mesin cetak desain, ia memikirkan bagaimana nanti sikapnya saat bertemu Bosnya itu "Na" "Nana!!" Karena tidak kunjung ada respon, bahu Nana di tepuk pelan "Eh!? Pak Rio?" ucap Nana kaget "Ngelamun apa?" Nana diam, ia bingung harus menjawabnya "Kenapa hm?" tanya Rio lagi Nana mundur perlahan namun Rio dapat mengetahuinya "Ya sudah lah. Kamu nyetak desain kan itu?" tanya Rio lagi dan lagi Nana mengangguk pelan. Melihat hasil cetakan dan memgumpulkannya menjadi satu "Permisi Pak Rio. Maaf" Nana segera pergi dari sana. Ia merasakan tangannya kembali bergetar dan keringat dingin muncul. Sepertinya ia harus coba bicara dengan Fatma untuk mulai mengatasi ini. Rio yang ditinggalkan hanya menatap aneh Nana. Ia melihat dirinya dari pantulan lewat layar ponselnya dan terlihat biasa. "Apa gue bau?" gumam Rio membaui kemejanya "Enggak deh" Rio hanya nengendikkan bahunya dan menunggu hasil cetak dari mesin di depannya. Nana terburu duduk di kursinya. Rita yang melihatnya menghampiri Nana. "Kenapa Na?" tanya Rita pelan Nana terkesip dan menoleh. Melihat Rita berdiri di sampingnya "Oh apa Mbak? Gak apa" ucap Nana tergagap Rita melihat bilir keringat dingin di sekitar pelipis dan dahi Nana. "Habis ketemu siapa sih?" tanya Rita penasaran Nana hanya menggelengkan kepalanya, namun Rita menatap Nana dengan dahi berkerut "Cerita aja Na sini. Kayak sama siapa aja" ujar Rita dengan senyum ramah Nana menatap Rita sekilas "Rit, telpon di meja lu bunyi buruan angkat!!" teriak Niko Rita segera beranjak berdiri dan meraih ganggang teleponnya "Iya dengan Rita dari divisi pengembangan. Ada yang bisa di bantu?" "Ini saya Jaka, segera atur rapatnya. Limabelas menit lagi saya turun" Rita langsung terkesip dan melihat jam di dinding. Gak kerasa sudah jam setengah empat "Baik Pak Jaka" Sambungan terputus. Rita langsung menoleh pada rekannya di divisi pengembangan. "Temen-temen segera ke ruang rapat, limabelas menit lagi Pak Jaka turun" ucap Rita lantang Seketika suasana gaduh . . . . "Selamat sore semua" "Sore Pak" "Disini saya ingin mengumumkan sesuatu, lebih tepatnya meluruskan gosip yang beredar di gedung ini" Semua diam. Nana menundukkan kepalanya tidak berani mengangkat kepalanya Jaka melirik Nana sekilas hal tersebut tidak luput dari mata Rio yang melihat sekitar "Mungkin kalian hanya tau Pak Rudi di pecat karena insiden telat pengumpulan hasil revisi terakhir?" ucap Jaka mencoba memancing mereka Beberapa menganggukkan kepalanya. Jaka hanya tersenyum miring di sudut bibirnya "Sebenarnya saya tidak perlu mennjelaskan kepada kalian tentang ini tapi, saya melihat akibatnya seperti tadi siang membuat saya harus menjelaskannya" "Rudi saya pecat karena dia sudah mennjua hasil kerja kalian ke perusahaan lawan. Oh mungkin di sini masih ada kaki tangannya. Sebaiknya Anda segera mengaku kepada saya" Jaka melirik Rio untuk menggantikannya bicara Rio menganggukkan kepalanya dan berdiri dari kursinya "Jadi, untuk sementara divisi pengembangan ada di bawah pengawasan Pak Jaka. Untuk hal apapun bisa langsung ke beliau" tambah Rio Jaka sudah duduk dan mengamati wajah-wajah karyawannya Jaka bisa menelih beberapa ada yang berwajah tyenan, ada juga yang biasa saja. Namun, yang menarik Jaka ada yang terlihat ketakutan di ujung meja sana. Tapi wajah Nana yang sesekali meliriknya membuat atensi Jaka sedikit teralihkan "Ada yang ditanyakan?" ucap Rio setelah berbicara panjang lebar Rio melihat tidak ada yang merespon "Jika tidak ada, kalian bisa pulang" ujar Jaka yang kembali berdiri dan merapihkan jasnya Keluar dari ruangan diikuti Rio "Selamat sore" ujar Jaka sambil lalu Mereka yang ada di sana langsung heboh dengan ucapan Jaka barusan. Nana hanya diam dan segera beranjak berdiri. Ia harus seger apulang sebelum gelap "Eh Na? Tunggu bentar" panggil Dina Nana menoeh dan berhenti "Ada apa Mbak Dina?" tanya Nana pelan "Maaf ya kemarin ikut nuduh juga" ucap Dina tulus sambil memegang tangan Nana "Ayo gue anterin balik sekalian aja" ajak Dina menarik halus tangan Nana "Eh mbak Din, makasih tawarnnya tapi gak apa, saya pulang sendiri saja" tolak Nana pelan "Eh Na, gue minta maaf ya ikutan nuduh juga" ucap Niko sambil berjalan keluar, sebelumny amenepuk bahu Nana pelan Langsung membuat Nana merinding dan bergetar tangannya. Dina melihat hal itu "Kenapa Na?" Tanya Dina merasa khawatir "Gak apa Mbak, saya duluan ya" ucap Nana sambil berlari keluar Dina melihat Nana yang terburu keluar menatap aneh. Bahunya diketuk pelan oeh Rita "Udah ayo keluar Din, biarin Nana tenang" ujar Rita sambil tersenyum kecil "Loh he Mbak Rit!!?" Rita menyeret Dina untuk keluar dari ruang rapat dan pulang kantor. Nana segera membereskan mejanya dan segera berjalan cepat menuju tangga. Namun, sebuah tangan mencegatnya dan menraiknya masuk ke dalam lift "Astaga!!" Nana menoleh dan melihat bosnya yang berdiri di belakangnya, tangan bosnya masih berada di lengan kanannya "Kamu mau turun ke lantai satu dengan tangga?" tanya Jaka dengan minim ekspresi Nana hanya diam. dia melihat pantulan dirinya juga bosnya "Tenang aja, liftnya aman juga ada aku di sini" ujar Jaka seolah bisa membaca pikiran Nana Sedangkan itu di basement, Rio yang kebingungan mencari Jaka yang sepertinya tadi berjalan di belakangnya sekarang sudah pergi. "Mobilnya masih ada, kemana tuh bocah?" ucap Rio pelan Melihat sekitar yang lumayan sepi, hanya satu dua karyawan yang memakai mobil selebihnya motor itu pun parkirnya berada di bagian lain basement Baru saja Rio akan merogoh sakunya dan menelpon Jaka, orang yang di cari muncul dengan menggeret lengan Nana. "Lah Jak elu naik lagi tadi?" tanya Rio heran "Pak tolong lepaskan lengan saya" protes Nana yang merasa lengannya sakit Jaka yang baru sadar melepaskan lengan Nana. Rio menatap keduanya heran "Gak apa Na? Coba lihat merah gak?" tanya Rio mendekati Nana dan berniat untuk memeriksa lengan Nana yang di pegang Jaka tadi Nana langsung mundur dan menghindari mereka "Enggak Pak Rio, maaf saya permisi" ucap Nana yang langsung berbalik pergi Rio menatap kepergian Nana lalu beralih menatap Jaka. "Elu apain sih anak gadis orang?" tanya Rio heran melihat tingkah Jaka sejak bertemu Nana "Gak ada, gue balik" ucap Jaka langsung pergi menuju mobilnya Rio menatap aneh sahabatnya itu. "Gak usah ngebut" teriak Rio saat mobil Jaka melesat melewatinya Menggelengkan kepalanya pelan, Rio masuk ke dalam mobilnya dan keluar area parkir basement
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD