Jaka terjaga dari tidurnya saat ponselnya berdering nyaring di meja samping tempat tidurnya. Meraba meja dengan mata tertutup. Melirik sedikit untuk tau siapa yang menelponnya
Menggeser layarnya dan menekan speker.
"Jak dimana lu?'
"Hn"
"Masih molor lu? Halo tuan muda buruan ke kantor" sindir Rio yang terdengar aneh di telinga Jaka
"Hn"
"Setengah jam elu belum sampai kantor, gue paranin ya lu!!" ancam Rio sedikit kesal
"Bentar gue mau tidur Yo, kantor lu tangani bentar. Agak siangan gue berangkat" ucap Jaka dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Awas ya kagak ke kantor, banyak berkas nih!!" ucap Rio dengan nada penekanan di sana
Sambungan di putus sepihak. Jaka meletakkan ponselnya begtu saja. Kelopak matanya masih terasa berat. Setelah membersihkan tubuh, menunaikan ibadah malam lalu menunggu kumandang adzan. Setelahnya Jaka tertidur
Namun, tak lama Jaka bergerak asal di atas ranjangnya. Sekali tidurnya terganggu maka ia ka sulit tidur kembali
Dengan malas Jaka membuka kelopak matany pelan, Melihat sinar matahari yang menembus gorden kamarnya
Sedikit silau hingga ia harus menyipitkan kelopak matanya.
Beranjak duduk di pinggiran ranjangnya. Mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya beberapa teguk. Meletakkan kembali ke meja gelas yang masih sisa sedikit air di dalamnya
Mengusak tamtambut pelan. Sedikit menggerakkan tubuhnya. Perlahan membuka kelopak matanya. Sedikit berkedip berdip beberapa kali.
Menguap dan menggerakkan tubuhnya sebentar. Sedikit sakit gltubuhnya dan terasa lemas.
"Mandi aja lah" gumamnya mulai beranjak berdiri dan menyeret kakinya menuju kamar mandi
Limabelas menit kemudian, Jaka sudah keluar dari kamarnya dengan kemeja abu-abu. Wajahnya juga sudah ia cukur dan rambutnya ia tata rapi. Wangi cologne menguar dari tubuhnya
Berniat memanggang roti dan minum s**u hangat. Ia melihat persediaan rotinya ttinggl wadahnya saja.
Ia ingat kemarin susah ia habiskan. Dan rencananya ia harus pergi ke pasar atau supermarket hari ini
Akhirnya Jaka hanya mengambil s**u dingin dan menuangkannya di gelas. Meminumnya di meja pantry sambil membaca laporan yang masuk ke alamat emailnya
Sesekali ia menganggukkan kepalanya. Beralih ke berkas lainnya. Ada tawaran kerjasama. Ia harus meninjau lagi dan membiarkannya saja untuk nanti ia rundingkan dengan Rio di kantor
Beralih ke berkas lainnya, dari Zaki. Segera Jaka membuka file yang terlampir di sana.
Jaka membacanya seksama. Dugaannya benar. Di tambah laporan kesehatan Nana kemarin yang ia dapatkan.
"Dia mempunyai trauma" gumam Jaka
Menghabiskan sisa s**u dan meletakkan bekasnya di bak cuci piring, Jaka mengelap sekitar bibirnya dan bersiap ke kantor
Begitu keluar dari pintu rumahnya, ia melihat beberapa orang lewat dan ada juga yang menyapanya
Jaka membalas dengan mengangguk kecil. Segera ia masuk ke mobilnya sebelumnya ia membuka gerbangnya.
Menutup grrbangnya kembali dan ia segera melesat menuju kkantesat. Seharusnya Nana sudah masuk kerja hari ini.
Jaka melajukan mesin mobilnya dengan cepat meski ia juga berhati-hati.
Tak sampai lima belas menit, mobil hitam Jaka susah terparkir di basement kantornya.
Dengan cepat Jaka segera keluar dari mobilnya dan masuk menuju kantornya.
Begitu lift yang ia masuki mulai naiik menuju lantai sepuluh.
Dalam lift bahkan Jaka terlihat tergesa. Begitu denting lift terbuka Jaka hendak keluar namun, melihat angka lanntai di dinding begitu ia keluar masih di lantai delapan.
Jaka masuk kembali. Tanpa ia sadari yang baru masuk tadi adalah Nana. Ia berdiri agak jauh dari bosnya itu. Sebenarnya ia tadi mau menaiki tangga saja namun, jika harus turun sampai lantai sua ia tidak sanggup dengan mengumpulkan keberanian dan berharap ada yang menemaninya di lift.
Sedangkan Jaka meras gusar karena salaah keluar. Begitu matanya mihat labtulan tubuh mungil di belakangnya, Jaka langsung menoleh
"Nana!!?"
. . . .
Semilir angin menerbangkan rambut hitam pendekt yang dikucir kuda di belakang.
Jaka hanya tersenyum kecil melihatnya. "Pak ini mau bicara apa ya? Saya harus nyerahin hasul akhir ini ke bagian pemasaran" ucap Nana membuat Jaka mengalihkan pandangannya ke gedung-gedung tinggi di depannya
Mereka saat ini ada di taman atap gedung. Jaka yang membawa Nana ke sana. Sebenarnya ia hanya ingin melihat Nana yang apakah sudah sehat.
Sehat jiwanya?!
"Nanti saya yang urusnya. Kamu gimana?" tanya Jaka
Nana melihat bosnya sekilas. Mengingat Bosnya yang membantu dirinya kemarin saat di lift
"Oh saya baik pak. Terimakasih"
Jaka hanya diam. "Ya sudah" Jaka pergi sambil mengusap rambut Nana pelan dan membawa berkas yang tadi akan di serahkan ke bagian poemasara
"Ayo turun saya temani naik lift" ucap Jaka tanpa menoleh
Segera Nana berbalik dan sedikit bberlar menyusul Jaka.
Di dalam lift baik Jaka maupun Nana hanya diam. Nana yang canggung juga merasa tidak enak hanya diam menatap ke bawah.
Jaka melirik Nana yang terlihat menghindarinya. Bahkan ia melihat Nana yang berdiri agak kebelakang darinya
Dentang lift membuat Nana mendongakkan kepalanya. Lantai sepuluh
"Kembali bekerja" ucap Jaka singkat
Nana menganggukkan kepalanya dan segera keluar.
Jaka masih di dalam lift dan menekan tombol menuju lantai dua. Lift kembali bergerak.
Nana hanya menatap pintu yang sudah tertutup dan mendongak melihat angkanya terus naik
Ia menghela napas pelan dan kemudian tersenyum. Berbalik dan berjalan menuju mejanya
Sedangkan Jaka menatap file di tangannya. Dia baru ia harusnya ia menekan angka dua malah menekan lantai kantornya berada.
Segera ia kembali memencet tombol di dinding lift.
Memikirkan Nana yang sepertinya risih berdekatan dengannya. Jaka hanya bisa menghela napas pelan.
Dia hanya ingin membantu. Tadinya ia mengajak Nana ke atap untuk membicarakan sesuatu tapi, ia tidak tega bertanya.
Denting lift membuat Jaka tersadar dan segera keluar dan berjalan menuju ruangan divisi pemasaran.
"Loh Pak Jaka? Ada yang bisa saya bantu?!" tanya salah satu karyawan yang melihat Jaka masuk
"Ini dari divisi pengembangan" ucap Jaka menyerahkan map di tangannya
"Oh iya Pak, ?!"
"Ya sudah"
Jaka berbalik dan pergi dari sana. Ia kembali masuk ke dalam lift dan memencet lantai ruangannya berada
. . . .
"Jak"
"Jaka"
Jaka sebenarnya sudah mendengar Rio memanggilnya namun, ia masih berkonsentrasi membuat sketsa baru
"Hn"
"Lu kenapa dah?" tanya Rio yang sekarang sudah duduk di kursi sebrang meja
"Gak ada, ada perlu apa lu?" tanya Jaka tanpa melihat Rio
"Ada, elu ntar ada undangan makan malem sama salah satu model kita" ucap Rio
Jaka menghentikan tangannya menggambar. Mengangkat kepalanya dan menatap Rio
"Gak"
Rio sudah bisa menebak jawaban Jaka. Pasti menolak.
"Udah gue duga sih. Tenang udah gue jawab kalau elu sibuk jadi gak bisa" ucap Rio santai
Jaka acuh tak acuh dan kembali menggambar sketsanya kembali
"Ya udah, gitu aja gue balik ke meja" ujar Rio sambil beranjak berdiri dan pergi
Jaka asyik dengan gambarnya. Ia berencana mengeluarkan game ringan untuk di mainkan
Jaka melihat jam di dekat komputernya, sudah jam lewat makan siang. Interkom di ujung mejanya berbunyi
"Jak, elu mau makan ke resto atau gue beliin aja. Gue males turun soalnya" terdengar suara Rio di sana
"Terserah, apa aja"
"Oke bro"
Jaka kembali menekuri sketsa kasarnya. Pikirannya kembali mengingat Nana. Entah kenapa ia selalu terkait dengan dia.
"Jak, makanan lu nih" Rio datang dengan membawa sekotak makanan yang baru datang
"Gue pesenin nasi ayam sama sayur daun pepaya" tambah Rio sambil meletakkan kotak makan itu di meja Jaka
"Oke ntar gue makan" ujar Jaka melirik sekilas
Rio melihat apa yang dikerjakan temannya itu.
"Lu mau buat game lagi Jak?" tanya Rio saat melihat sketsa kasar bertebaran di meja
Jaka mengangguk kecil.
"Kalau butuh gue bilang aja" ucap Rio menepuk bahu Jaka pelan
"Eh Jak mumpung gue inget. Tadi gue lihat Nana di bully sama beberapa karyawan elu dari divisi pemasaran sama pengembangan" Jaka mendongak menatap Rio
"Katanya di sengaja deketin elu biar bisa mecat ketua divisi pengembangan. Si bangke Rudi tuh" tambah Rio dengan berapi-api
Jaka langsung membuka komputernya dan mengecek rekaman kamera pengawas
"Noh di lobi, selesai jam makan siang. Gue kan tadi ngambil pesenan makan di lobi" ujar Rio yang sudah berdiri di belakang Jaka
Jaka yang melihatnya mengepalkan jarinya yang memegang tetikus
"Gue gak paham sih sama mereka. Eh waktu elu mecat si Rudi gak elu jelasin salahnya dia apa??" tanya Rio
"Gak perlu. Seterusnya divisi pengembangan ada di bawah pengawasan gue" ujar Jaka final
Rio menatap Jaka. "Udah elu umumin belum?"
"Rencananya besok pagi. Elu bantuin gue masuk di grup divisi mereka"
"Oke gue paham. Ntar gue bantu aturin"
Ketika tidak sengaja Jaka melihat tangkapan kamera pengawas yang lain, ia melihat Nana yang kembali di rundung.
"Yo, elu ke divisi pengembangan sana. Ambilin berkas buat gue" ucap Jaka saat melihat Rio akan keluar ruangan
"Kenapa gak elu aja?! Sekalian lihat Nana, sama umumin soal elu yang ambil alih divisi pengembangan" sangkal Rio
"Udah elu aja sana. Buruan" ucap Jaka penuh penekanan
Rio mendengus dan segera keluar ruangan Jaka. Berjalan menuju lift dan berniat menuju lantai divisi pengembangan
Denting lift tak lama terdengar. Rio keluar dan melihat keramaian di sana.
"Ini maksud lu Jak" gumam Rio yang mempercepat langkahnya
"Nglerai ginian lagi. Perlu peringatan ini" ujar Rio pelan yang sudah di dekat kerumunan
"Kalian gak ada kerjaan?" ucap Rio pelan namun cukup membuat mereka menoleh bersamaan
Terdiam
"Ngapain kalian? Tadi di lobi juga gini? Perlu saya kirim surat peringatan ke email kalian?" ucap Rio dengan nada mengejek
Diam
"BUBAR!!? Gak usah sok ngancem. Kalian berlima ikut saya ke kantor atas" ucap Rio sambil berbalik pergi
"Ta..tapi Pak.."
"Yang lain mau ikut juga? Kembali ke meja kalian" ujar Rio lagi
Semua bergidik melihat Rio yang biasanya konyol menjadi tegas dan galak.
Mereka semua langsung membubarkan diri dan kembali ke meja masing-masing. Sedangkan Nana melirik sekilas Rio yang membantunya. Bersyukur bukan Jaka. Jika iya entah bagaimana nanti dia bisa bekerja
"Balik kerja!! Jika saya masih melihat kalian bergosip atau merundung lagi. Lihat saja nanti"
Rio pergi dari saya diikuti kelima wanita yang tadi merundung Nana.
"Kalian naik ke atas dulu. Ke ruangannya Pak Jaka"
Rio berbalik dan kembali ke divisi pengembangan
"Rita, berkas untuk di lihat Pak Jaka mana?!" tanya Rio langsung
Beberapa orang di sana melihat Rio sekilas dan kembali bekerja
"Oh ini Pak, tadi mau saya antar ke atas tapi Bapak keburu ke sini"
"Mulai hari ini divisi pengembangan di bawah langsung Pak Jaka. Kalau kalian perlu diskusi atau apapun soal desain dan lainnya langsung ke Pak Jaka" tambah Rio sebelum berbalik pergi
Mereka yang mendengarnya tercengang. Menatap satu sama lain
"Wah gila ini mah!?"
"Apa bener gosip yang gue denger kalau Pak Rudi ngejual proposal perusahaan ke perusahaan lawan" celetuk salah satu dari mereka
"Duh gimana nih!?"
"Balik kerja sono. Urusan kita cuman desain sana pengembangan urusan lainnya gak perlu di urus" ucap salah satu dari mereka
Rio sebenarnya malas jika harus berdebat atau bersikap seperti tadi. Perusahaan ini memang terkesan santai namun bertanggungjawab.
Tapi jika melihat ada perundungan atau senioritas, Rio paling benci itu. Dan ia tau kenapa Jaka menyuruh Rio turun tadi.
"Kenapa gak dia sendiri aja sih!?"
Rio keluar dari lift dan melihat kelima perempuan tadi masih berdiri di depan pintu memenuhi mejanya
"Ngapain gak masuk?!" tanya Rio langsung
Mereka terkesip dan melihat Rio datang
Rio menghela napasnya dan langsung mengetuk pintu ruangan Jaka
"Masuk"
Terdengar suara Jaka dari dalam. "Masuk sana"
Rio mengendikkan bahunya dan kembali duduk di kursinya
. . . .