Dentang jam terdengar di seluruh rumah. Detiknya terdengar menggema. Malam mulai larut dan gelap gulita di luar sana, hanya lampu jalanan yang menerangi.Suara jangkrik bersahutan dengan kodok jantan yangs edang menarik betina di sana. Dengkuran burung hantu yang lewat menambah suasana malam ini.
Beberapa kendaraan hanya lewat satu dua. Jalanan sekitar juga terlihat sepi hanya terlihat pedagang yang dikunjungi beberapa orang saja. Lampu penerangan juga meredup
Hampir tengah malam dan Jaka masih di jalanan. Oh bukan ia sedang berhenti di salah satu rumah. KEcil namun terlihat nyaman dan asri
"Cahaya tadi sudah hilang" gumamnya
Setelah makan malam dengan Alex tadi, Jaka hendak pulang keplanya sedikit berat dan ia ingin menemui bantal di rumahnya segera. Namun, begitu melihat langit ia melihat cahaya terpancanr dari kejauhan. Jaka langsung menelusuri sumbernya dan berhenti di salah satu rumah
Saat sampai di depan rumah tersebut, Jaka baru sadar ternyata dari rumah yang tadi pagi ia sempatkan ke sana.
Baru saja Jaka akan beranjak pergi, seseorang keluar dengan baju tidurnya dan berjalan pelan. Jaka menaikkan satu alisnya
"Mau kemana dia?" gumam Jaka
Melihat keadaan sekitar yang sepi, ia mulai berjalan pelan keluar gerbang kecil rumahnya
"Oh dia hanya buang sampah, tapi apa dia belum tidur?"
Jaka melihat jam di pergelangan tangannya. Hampir tengah malam. Meriah ponselnya yang ada di kursi penumpang Jaka menggeser layarnya dan tak lama menempelkannya di telinga kiri
Menunggu
"Ya halo?"
"Kamu belum tidur?"
"Belum Pak"
"Kenapa?"
"Belum ngantuk aja, Pak"
"Istirahat, sebok kamu kerja"
"Iya Pak"
Jaka mematikan sambungannya dan tak lama lampu yang ia lihat sudah mati. Jaka memutuskan untuk segera pulang. Ia juga capek seharian kemarin dan hari ini tidurnya terganggu
Baru saja ia akan melajukan mesin mobilnya, Jaka mendengar teriakan dari dalam. Beberapa lampu dari rumah tetangga langsung menyala. Tak lama beberapa orang keluar. Jaka yang masih di sana ikut keluar untuk melihat situasi
Jaka melihat rumah kecil Nana sudah di datangi beberapa orang. Jaka segera ke sana
"Ada apa Mbak Nana?" tanya salah satu warga
Nana yang sepertinya masih ketakutan hnaya diam dan melihat sekitarnya yang sudah penuh dengan beberapa orang di sana. Bahkan ada yang masih memegang gulingnya
Jaka berinisiatif, ia segera menerobos kerumunan warga dan masuk ke dapur urmah Nana. Mengambilkan minum dam memberikan pada Nana
"Minum" ucap Jaka sambil menyerahkan segelas air minum
Nana mendongak dan mendapati Bosnya berdiri di sampingnya dengan memberikan segelas air minum. Jaka berdecak dan segera membantu Nana minum. Mengarahkan bibir gelas ke dekat bibir Nana
Nana merasakan aliran air melewati kerongkongannya. Seketika Nana bisa merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya lagi. Jaka melihat Nana yang mulai menguasai dirinya
"Ada apa sama kamu?" tanya Jaka pelan
Beberapa orang yang sudah kembali namun, ada juga yang masih di sana
Nana melihat Jaka kemudian melihat Pak RT juga pemilik kontrakannya ada beberpa ornag tetangganya di sana
"Mereka hanya ingin tahu kamu kenapa tengah malem teriak? Apa tadi ada pencuri?" tanya Jaka lagi bahkan sekarang Jaka berjongkok dan berkat apelan pada Nana
Nana hanya menggelengkan kepalanya
"Lalu?"
Nana masih diam. Jaka melihat aura hitam menyelimuti aura putih dar tubuhnya. Jaka menghela napas pelan.
"Bapak-bapak sepertinya Nana butuh ketenangan, Bapak-bapak bisa kembali pulang" ucap Jaka yang sudah berdiri
"Sebentar Anda siapanya mbak Nana ya?" tanya salah satu bapak di sana
Jaka tersenyum kecil, "Saya temannya Pak"
"Lalu, ada apa kemari malam-malam? Gak mungkin kebetulan?"
"Saya tadi akan pulang dan melewati rumah Nana, lalu medengarnya teriak saya buru-buru kemari" jelas Jaka
"Ya sudah, biar istri saya yang menjaga mbak Nana. Laki-laki kuran pantas bermalam di rumah seroang perempuan" ucap Pak RT
"Baik Pak, saya mengerti" ucap Jaka mengangguk paham
Ia melihat Nana yang mengawasi sekitar. Ada aura ketaktan yang terlihat. "Tolong temani Nana Bu, dia sepertinya ketakutan" ujar Jaka pada seornag ibu-ibu bertubuh sedikit berisi yang sudah membantu Nana kembali ke kamarnya
"Tenang saja Mas, saya sering kok bantu Mbak Nana. Gak apa"
"Kalau begitu saya pamit bu"
Jaka berjalan keluar, Menghela napas pelan. Menoleh sebentar dan melihat pintu rumah tersebut tertutup
"Mau pulang Mas?"
Jaka menoleh "Oh iya Pak, sudah hampir larut malam" jawab Jaka tersenyum kecil
"Kalau boleh tau, Anda sebenarnya siapa? Mbak Nana ajrang punya teman laki-laki"
Jaka mengkerutkan keningnya mendengar pertanyaan tersebut, "Oh saya Pak RT sini, cuman jaga-jaga saja karena mbak Nana pernah hampir di tikam orang tidak dikenal beberapa hari yang lalu" cerita ornag yang mengaku dirinya Pak RT di sana
Jaka menatap Pak RT di depannya "Kapan Pak kejadiannya, tepatnya" tanya Jaka
"Minggu lalu sepertinya, waktu pulang kerja sepertinya" jawabnya mencoba mengingat
"Lalu pelakunya Pak?"
"Wah kabur Mas, Mbak Nana langsung teriak heboh terus saya sama warga lain langsung dateng eh orangnya udah jauh"
"Oh itu ada gores sedikit di lehernya Mbak Nana" tambahnya
Jaka mengangguk pelan, "Ya sudah kalau begitu Pak saya permisi" pamit Jaka
. . . .
Suara ayam jago milik Pak RT berteriak nyaring membangunkan orang-orang yang masih bergelut dengan bantal dan selimut. Bersamaan dengan suara adzan subuh yang berkumandang dari speaker masjid di ujung jalan.
denting perlatan masak juga terdengar memenuhi dapur kecil itu. Nana yang mendengar ada orang di dapurnya segera bangun untuk mengecek di sana
"Bu Asih?!"
"Oh Mbak Nana sudah bangun? Maaf ya saya berisik ya?!" ucap Bu Asih smabil tersenyum namun tetap melanjutkan aksi memasaknya
"Ada apa Mbak Nana? Pelru minum? Duduk dulu" tmabh Bu Asih sambil menuntun Nana yang masih melihatnya dengan wajah bertanya
"Kemarin saya nginep sini nemenin Mbak Nana" ucap Bu Asih lagi kali ini dnegan menyodorkan segelas air putih pada Nana
Yang di terima Nana dan langsung meminumnya pelan
"Tadi saya pulang sebentar bangunin anak sama suami saya, lalu kesini masakin Mbak Nana. Habis subuh saya pulang dulu ya Mbak Na. Masakin orang rumah" ujar Bu Asih yang sudah kembali melihat hasil masakannya
"Mbak Nana mandi terus subuhan dulu nanti masakan saya sudah siap"
Nana hanya mengangguk kecil dan bernajak berdiri. Bu Asih yang melihatnya semakin tidak tega
Jam bergerak terus hingga pukul tujuh. Nana melihatnya dan segera bersipa untuk bekerja. Ia melihat keluar, di meja makannya sudah penuh masakan. Terihat asap putih mengepul di atasnya. Tadia ia sempat mendengar Bu Asih berpamitan pulang untuk memasakkan keluarganya. Istri dari Pak RT itu sering membantunya sejak ia datang tinggal di sini
"Ibu Bapak, Nana ketemu orang baik. Meski aku gak tau wajah kalian tapi aku yakin kalian selalu melihatku dari atas sana" bisik hatinya
Nana duduk di salah satu kursi dan mulai menyendokkan nasi ke piringnya. Mengambil lauk yang ada, Nana jadi kangen dengan ibu pantinya yang akan memasakkan sarpan seperti pagi ini
Pintu yang di buka membuat Nana menoleh dan melihat Fatma yang baru pulang. Wajahnya terlihat capek namun, ada raut khawatir di sana
"Na, kamu gak apa?" tanya Fatma langsung
Nana mengkerutkan keningnya dan tersenyum "Aku gak apa kok"
Fatma masih menatap Nana bedanya sekarang dengan sedikit kelegaan namun masih terlihat masih khawatir
"Mau sarapan dulu atau mandi? Ini yang masak Bu Asih loh, rasanya kayak masakan Ibu Rina" ucap Nana sambil tersenyum manis
Fatma tersenyum miris. " Aku mandi dulu aja, kamu makan aja" ujar Fatma sambil beranjak pergi masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan handuk di pundaknya
Nana kembali melanjutkan makannya. Ia sebenarnya ingin cerita pada Fatma tapi, ia tidak mau semakin menambah beban sahabatnya yang sudah ia anggap keluarganya itu
"Loh Na kamu mau berangkat kerja?" tanya Fatma yang sudah selesai mandi dan beragnti pakaian santai
Gadis berkerudung itu melihat Nana yang sudah rapi dengan tass punggungnya
"Iya Fat, kemarin kan udah gak masuk. Jadi hari ini aku harus masuk"
"Ya udah, hati-hati ya. Eh mau ku anterin aja gimana?"
"Kamu capek kali Fat habis shift malem harus anterin aku. Gak usah aku sama angkot aja" jawab Nana tersenyum kecil
"Ya udah, aku berangkat ya Fatma. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati-hati Na. Telpon aku kalau ada apa-apa" ucap Fatma sambil melihat Nana keluar dari pekarangan rumah kontrakan mereka
Fatma masih berdiri di sana, melihat Nana yang berjalan sampai depan untuk dapat menemukan angkot untuk ia tumpangi.
Sebenarnya tadi sebelum sampai rumah, ia di cegat Bu Asih yang sedang belanja di depan rumahnya. Bu Asih menceritak semua kejadian semalam. Ia juga yang memberitahukan tentang Nana yang ia temani semalaman dan memasakkannya
"Terimakasih ya Bu Asih, maaf ngrepotin" ucap Fatma tadi pagi
"Gak apa, Mbak Fatma. Nana sama kamu udah Ibu anggap anak sendiri. Kan tau ibu anaknya laki semua" ucap Bu Asih penuh pengertian
Fatma tersenyum tulus sambil menggenggam tangan wanita paruh baya di depannya. Ia juga Nana sejak pindah kemari banyak mendapatkan kasih sayang dari orang di sekitar yang begitu perhatian pada mereka.
"Semoga kamu ketemu orang yang bis amenjaga kamu ya Na" doa Fatma dalam hati
Setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Menghela napas pelan kemudian ia berbalik masuk ke rumah