Si Trouble Maker?

892 Words
Tak berselang lama, ambulans datang ke tempat kejadian. Kerumunan yang sejak tadi membuat jalanan jadi macet, perlahan-lahan mulai bubar. Revan mendekati anak kecil tadi dan mengusap kepalanya perlahan karena ingin menenangkannya. "Sekarang kamu baik-baik saja. Tapi, kamu masih perlu ke rumah sakit. Jangan cemas, ya. Kamu pasti cepat sembuh," ujarnya. Anak kecil itu tersenyum tipis. Revan langsung membantunya untuk masuk ke dalam ambulans bersama dengan tim paramedis. Tepat di belakangnya, sang ibu mengikuti. Sebelum pintu ambulance ditutup, wanita itu menyempatkan diri untuk berterima kasih. "Terima kasih banyak karena sudah menolong anak saya," ucap wanita itu. Revan yang menggelengkan kepalanya dengan cepat karena dia merasa tidak terlalu banyak membantu. "Oh, saya cuma melakukan yang seharusnya kok, Bu. Justru wanita tadi yang sudah membantu supaya pendarahannya bisa cepat ditangani," ungkap Revan. Tentu saja dia tidak mau menelan sebuah pujian secara cuma-cuma. Masalah kali ini memang berhasil diselesaikan oleh wanita tadi. "Kalo gitu, saya boleh minta tolong sekali lagi?" Wanita itu bertanya sambil menatap Revan. "Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada wanita tadi." Revan mengangguk pelan, dia juga ingin berterima kasih pada wanita tadi. Kini pintu sudah ditutup rapat dan ambulans mulai melaju pergi ke rumah sakit terdekat. Revan menghela napas lega. Di hari pertama dia kembali masuk kerja, dia sudah langsung dihadang oleh sebuah kecelakaan. Revan berbalik, dia menatap kerumunan orang-orang di depannya. Tentu dia ingin mencari sosok wanita misterius yang sempat membantu tadi. Tapi entah mengapa dia tidak berhasil menemukannya. Wanita itu seolah-olah lenyap setelah berhasil menghentikan pendarahan dari korban kecelakaan. Revan mengerutkan keningnya, dia kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap bisa menemukan wanita itu. Tapi sayangnya nihil, dia tetap saja tidak berhasil menemukannya. Helaan napas keluar dari mulut Revan. "Cepat sekali dia menghilang," lirihnya. Sebenarnya Revan ingin mencarinya lagi, tapi ada urusan lain karena dia harus segera sampai ke rumah sakit. Berhubung ada masalah yang sempat terjadi dan menyita waktunya, Revan segera bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, jangan sampai Papa dan Mama membuat keributan karena aku terlambat di hari pertama bekerja kembali,” gumamnya. ** Butuh waktu sekitar lima belas menit lamanya hingga dia sampai tepat di rumah sakit. Revan sudah cukup terlambat karena seharusnya dia sampai sekitar dua puluh menit yang lalu. Usai keluar dari mobil, Revan langsung mengenakan seragamnya. Dia memasuki area rumah sakit dan pergi ke unit VVIP. Setibanya di sana, Revan langsung melihat sosok rekan kerjanya. Dia adalah Jay, rekan sekaligus teman yang hangat bagi Revan. Jay yang melihat kedatangan Revan, langsung menyunggingkan senyum sumringah. Dia menyambutnya dan memeluknya sejenak. "Kenapa terlambat di hari pertama, huh?" tanyanya. Revan tersenyum tipis. "Ada masalah kecil tadi." Jay menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sambil menepuk pundak Revan. "Duh, untung aja kamu datang sebelum Miss Kulkas. Coba kalo Miss Kulkas sudah datang duluan, bisa runyam urusannya!" Kening Revan mengerut. "Miss Kulkas? Siapa sih?" tanyanya bingung. Jay tertawa perlahan, tentu Revan belum tahu soal ini. Sebab temannya itu sudah rehat cukup lama dan pastinya ketinggalan berita. “Dia itu–” Sebelum Jay sempat menjelaskan sosok mengenai Miss Kulkas kepada Revan, seorang wanita mengenakan jas khas dokter tampak memasuki ruang tunggu dokter. Seketika suasana langsung menjadi hening karena wanita itulah yang sedari tadi sedang dibahas oleh Jay. Semua orang yang ada di ruangan Itu tampak canggung karena mereka tentu saja tahu konsekuensi yang akan dihadapi jika berani membuat kegaduhan ketika ada Miss kulkas. Tapi ada satu orang yang tampak sumringah. Revan justru merasa senang karena pada akhirnya dia kembali bertemu dengan wanita misterius yang ditemuinya beberapa saat lalu. “Oh? Kamu?!” Revan menatap lekat sosok wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu dan segera mendekat. “Kita bertemu lagi. Kamu juga dokter di sini?” tanyanya. Pertanyaan Revan telah berhasil mengejutkan semua orang yang ada di ruangan ini. Tapi Jay dengan cepat langsung menahan langkah Revan. Dia menggelengkan kepala perlahan sambil memberikan kode pada Revan. "Dia yang aku maksud tadi, Van!” Kening Revan mengerut hingga kedua alisnya saling menyatu. Dia kembali menatap sosok wanita tadi dan bertanya lirih. "Oh, jadi dia Miss Kulkas?" "Iya, dia Dokter Sophia. Dokter kepala di unit VVIP ini." Jay mengangguk dengan perasaan kalut. Entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa seperti suatu masalah akan terjadi. Ternyata tebakannya itu benar karena Revan yang sudah diberi peringatan justru malah mendekat tanpa ragu sama sekali. Seolah memang sudah menunggu waktu supaya bisa bertemu dengan Miss Kulkas yang terkenal begitu dingin seperti kutub Utara. Jay sampai melongo dibuatnya karena Revan bukannya menjaga jarak, tapi malah sengaja mendekat. Wajah Revan diiringi dengan senyuman sumringah, tidak ada rasa takut yang muncul di dalam hati meskipun dia sudah meninggalkan peringatan dari Jay. Kesan pertama yang sudah dilihatnya tadi ketika bertemu dengan Sophia, membuatnya jadi merasa semakin penasaran. "Oh, jadi kamu yang mereka sebut Miss kulkas?" Pertanyaan Revan tadi sudah berhasil membuat Jay dan para dokter lainnya merutuk dalam hati. Mereka tidak menyangka kalau pertanyaan konyol yang berhasil mengundang kemarahan Sophia akan keluar dari mulut Revan dengan begitu entengnya. Sophia yang mendengar pertanyaan menyebalkan itu, seketika langsung memasang ekspresi dingin yang berhasil membuat suasana menjadi beku. Hanya dengan melihat senyuman sumringah di wajah Revan, berhasil membuatnya merasa terusik. Sophia menatap Revan dari atas hingga ke bawah, dia melipat kedua tangannya tepat di depan d**a dan mengangkat dagunya sambil bertanya balik, "Dan, kamu dokter baru di unit VVIP yang mereka sebut sebagai si Trouble Maker?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD