Pertanyaan Sophia tadi sudah berhasil membuat Revan membisu. Begitu juga dengan para dokter lainnya karena mereka semua tentu saja tidak mau ikut campur dengan masalah yang terjadi.
Jay menatap Revan dengan perasaan bersalah. Walaupun memang dia merasa sedikit kesal karena Revan tidak peka dan justru malah membuat keadaan menjadi canggung.
Sophia mengabaikan Revan, dia dengan cepat langsung berjalan melewatinya dan mendaratkan pantatnya di kursi karena harus segera memulai pertemuan pagi seperti biasanya.
Semua dokter yang ada pun segera duduk di tempatnya masing-masing, begitu juga dengan Revan.
"Oke, seperti biasanya kita akan mulai kegiatan pagi ini sesuai jadwal. Sebelumnya, Saya ingin membahas tentang beberapa keadaan pasien sebelum kita melakukan visit."
Para dokter mendengarkan semua briefing pagi yang diutarakan oleh Sophia.
Begitu juga dengan Revan. Dia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari gadis dingin yang mengusik perasaannya.
Walaupun Sophia bersikap sangat dingin, Tapi entah mengapa ada sesuatu di dalam gadis itu yang membuatnya merasa terpikat. Seolah-olah dia terbius oleh hipnotis yang memabukkan.
Jay yang duduk tepat di samping Revan, dengan cepat langsung menyenggolnya.
Revan seketika langsung menoleh, dia merasa bingung karena Jay mengganggunya.
Tapi Jay dengan cepat langsung memperingatkan, "Fokus, Van! Jangan sampai kamu kena lagi, Miss Kulkas nggak bakalan mentolerir orang yang nggak kompeten, loh. Apalagi, kamu kayaknya udah ngasih kesan yang cukup buruk di mata Miss Kulkas."
Mendengar itu, Revan hanya tersenyum. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Sophia yang terlihat menawan dan juga berwibawa.
Jelas kalau Sophia masih muda, tapi dia telah berhasil membuktikan kemampuannya menjadi dokter kepala di unit VVIP.
Revan tahu dengan jelas bagaimana perjuangan untuk mendapatkan gelar tersebut. Ada banyak rintangan yang harus dilewati dan hanya orang konsisten saja yang bisa melakukannya.
Usai menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui oleh dokter-dokter di bawah naungannya, Sophia segera menghentikan briefing.
"Mari kita langsung visit saja, jangan sampai ada waktu yang terbuang cuma-cuma."
Sophia segera berdiri, dia melangkah terlebih dahulu, diiringi oleh dokter-dokter lain di belakangnya.
Tidak seperti para dokter lain yang mencoba untuk mencegah jarak dari Sophia, Revan justru sekarang tanpa basa-basi langsung mencoba untuk mendekat.
Dengan lancangnya, preman berjalan tepat di samping Sophia. Dia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman ramah, mencoba untuk berbasa-basi supaya bisa mencairkan suasana meskipun tetap saja diabaikan oleh Sophia.
"Hai," sapanya.
Sophia melirik sekilas, dia benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Revan. Saat ini pertama kalinya ada seorang pria yang mencoba untuk mendekatinya secara terang-terangan, walau sudah mendapatkan penolakan dan juga sindiran.
Meski Revan diperlakukan dengan dingin dan acuh, dia tetap tersenyum. Apalagi sekarang apalagi itu diisi oleh ingatan bagi tadi.
"Aku merasa senang karena bisa ketemu lagi sama kamu," ungkap Revan.
Perkataan Revan tadi bukan hanya omong kosong belaka karena memang dia sempat mencari keberadaan Sophia. Tapi sayangnya gadis ini tiba-tiba saja lenyap seperti ditelan bumi.
Secara kebetulan mereka kembali bertemu walaupun memang keadaan saat ini tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Revan.
"Uhm, tadi ada titipan. Ibu anak kecil yang kamu tolong berterima kasih, beliau bilang merasa bersyukur karena kamu membantu putranya itu supaya nggak kehilangan banyak darah."
Mendengar itu, Sophia masih diam. Dia hanya merasa itu merupakan kewajibannya karena memang mengetahui tata cara pertolongan pertama dan Sophia pikir dia memang harus membantu.
"Terus, aku juga nggak nyangka kalau kamu dokter kepala di unit VVIP, loh. Padahal aku pikir kamu itu dokter bedah yang waktunya lebih banyak di ruang operasi.”
Sophia masih dia meskipun dia mendengarkan semua ocehan Revan. Walaupun dia merasa terganggu, dia tetap membiarkan pria ini bicara sesuka hati karena memang enggan untuk membalasnya.
Revan yang melihat itu juga tidak merasa terlalu keberatan karena paling tidak dia bisa mengutarakan pikirannya. Walau memang agak sedikit mengganggu karena dia ingin sekali berkomunikasi secara lancar dengan Sophia. Tapi Reva tahu, sepertinya sulit untuk mendekati Sophia.
Revan kembali menatap gadis di sampingnya itu dan bertanya, "Keahlian dan bakat kamu itu sangat disayangkan kalau cuma untuk pasien kaya raya. Hm, Apa mungkin kamu termasuk dalam dokter yang cuma mengutamakan uang daripada pengabdian?"
Pertanyaan Revan tadi telah berhasil membuat langkah Sophia langsung terhenti. Dia segera menoleh dan melayangkan tatapan tajam karena Revan telah melakukan hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Ditatapnya lekat sosok pria yang sedari tadi mengoceh dan membuat telinganya itu terasa gatal. d**a Sophia naik turun karena emosinya semakin menggebu-gebu.
Dokter-dokter main yang ada di belakang mereka berdua ikut merasa tegang. Apalagi Jay, dia dari tadi ingin sekali membuka mulut Revan supaya tidak banyak bicara.
Tapi sayangnya itu hanyalah sebuah keinginan semata Karena sekarang masalah yang jauh lebih besar sudah terjadi dan Revan telah mengusik singa yang tertidur.
Sophia dari tadi mencoba untuk mengabaikan semua ocehan Revan. Tapi Revan terlalu berani karena menilai Sophia dengan sesuka hati.
Itu membuat hati Sophia menjadi tergores. Tentunya dia tidak akan diam saja, setelah diperlakukan dengan lancang seperti tadi.
Namun Revan yang mendapatkan tatapan tajam itu justru merasa senang karena dia memang sengaja memberikan pertanyaan yang menolong supaya bisa memancing Sophia. Revan tahu dengan jelas kalau dia harus memberikan umpan supaya ikan mau memakannya.
‘Kena, deh!’ batin Revan.