Senyuman seketika langsung hilang di wajah Sophia, pertanyaan Revan tadi sudah berhasil membuatnya merasa tersinggung.
Dia menatap lekat pria yang telah berhasil membuat perasaannya membara itu dan berkata dengan tegas. "Jadi menurutmu para dokter di unit VVIP ini bekerja di sini hanya untuk uang? Apa begitu caramu menilai para pasien di sini?"
Revan menghela napas perlahan. Dia mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh dan menjawab, "Sedikit banyak iya."
Jawaban Revan tadi bagaikan sebuah bensin yang sengaja disiramkan ke kobaran api.
Tatapan Sophia yang tadinya acuh, kini sudah berubah menjadi tajam. Ada kekecewaan dan kemarahan yang campur aduk jadi satu di dalam hatinya itu.
Tanpa basa-basi, Sophia sudah memutuskan sebuah jawaban yang akan menampar Revan. Paling tidak pria menyebalkan nan sembrono ini harus diberi pelajaran setimpal.
Supaya tidak seenaknya meluapkan isi pikiran tanpa berpikir lebih dulu akan konsekuensinya.
"Kalau begitu, tempatmu bukan disini, Dokter Revan. Karena bagi seorang dokter, terlepas pasien itu kayak atau tidak, mereka hanyalah seorang pasien yang membutuhkan perawatan. Tidak lebih dari itu."
Pernyataan Sophia membuat Revan kaget. Tentunya dia tidak menginginkan hal ini terjadi. Ini tidak sesuai dengan harapannya.
Alih-alih mendapatkan hasil, Revan malah terjebak akan akal busuknya sendiri. "Sebaiknya, kamu juga tidak perlu lagi ikut visit. Apalagi selama pemikiran kamu itu masih salah seperti ini."
Setelah Sophia mengatakan itu, dia langsung berlalu pergi. Enggan rasanya membuang waktu hanya demi perdebatan tanpa arti.
Pernyataan tegas Sophia itu ternyata tidak berhasil membuat Revan terintimidasi. Walaupun sempat merasa terkejut, Revan masih mencoba untuk menenangkan dirinya dan dia malah tersenyum sendiri di tempatnya.
Sophia yang pemarah ternyata manis juga, pikirnya.
Ketika Revan tengah dimabuk kepayang, Jay memukul punggung belakangnya dengan keras.
Revan langsung mengaduh, dia mengusap punggungnya yang terasa nyut-nyutan itu sambil menatap kesal ke arah Jay.
"Apaan sih, Jay?!"
Jay tidak merasa bersalah sama sekali karena sejak tadi dia merasa heran dengan tingkah Revan.
"Kamu itu terlalu berani buat mengkonfrontasi Miss Kulkas, Van!" Jay geleng-geleng kepala, Revan memang sudah gila!
"Ini hari pertama kamu di rumah sakit, seharusnya kamu itu kasih kesan yang baik di depan Dokter Sophia. Tapi ini?" Jay mengangkat bahunya dan menambahkan, "Kamu malah ngasih kesan yang buruk. Jelas, Miss Kulkas pasti akan mempersulit pekerjaan kamu ke depannya.”
Revan menghela napas berat. "Ah, aku nggak butuh ceramah, Jay."
Setelah mengatakan itu, Revan langsung terlalu pergi begitu saja. Jay yang melihatnya hanya bisa geleng kepala, dia pusing melihat tingkah Revan.
***
Revan menikmati secangkir kopi di lantai bawah setelah dia kabur dari Jay. Rasanya terlalu pusing jika dia harus mendengarkan ocehan Jay.
Jadi dia memilih untuk menghabiskan waktu sejenak sambil menikmati kopi dan alunan musik.
Sikap Revan saat ini mungkin terkesan tidak bertanggung jawab. Tapi tentunya dia memiliki alasan atas perilakunya yang terlihat membangkang.
Sebenarnya Revan masih merasa enggan untuk masuk ke unit VVIP. Ada banyak hal yang membuatnya merasa terbebani, walaupun sekarang sepertinya dia sudah menemukan satu alasan yang kemungkinan besar bisa membuatnya berubah pikiran.
Revan kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Sophia dan perdebatan kecil yang terjadi tadi.
Dia tersenyum tipis. "Baru kali ini aku ketemu wanita se-karismatik dia," gumamnya.
Sophia sangat berbeda dengan gadis lainnya yang pernah ditemui oleh Revan. Itu membuatnya jadi merasa semakin tertarik dan juga tertantang karena Sophia merupakan gadis yang sangat sulit untuk didekati.
Namun lamunannya itu tiba-tiba saja berhenti karena suara diri yang berhasil membuat musik di ponselnya mati.
Ternyata itu adalah panggilan masuk dari Inna.
"Halo, Ma?"
"Revan, gimana hari pertama kamu di rumah sakit?" Inna merasa sangat khawatir karena ini adalah hari pertama putranya itu bekerja di unit VVIP.
Inna tahu dengan jelas kalau putranya masih memiliki masalah mengenai trauma di masa lalu dan dia takut kalau putranya itu terbebani sebab dipaksa bekerja di tempat yang tidak diinginkannya.
Revan sedari kecil tumbuh sebagai anak yang manja karena dia merupakan satu-satunya keturunan Inna dan Yonas. Sebagai putra tunggal, semua yang diinginkan Revan pasti akan langsung dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
Baru kali ini, Revan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak disukainya.
Tentu Inna merasa khawatir.
"Mama nggak usah khawatir," ucap Revan, dia menunjukkan ketertarikan di tempat kerjanya ini sambil mencoba untuk menenangkan ibunya itu dan menambahkan, "Sepertinya aku menemukan satu alasan untuk bertahan di sini, Ma."
Kening Inna mengerut, dia merasa curiga dengan perkataan putranya itu dan kembali memastikan. "Apa maksud kamu, Van?"
"Nggak apa-apa, Ma." Revan menggeleng pelan, "Ini sudah waktunya makan siang. Jadi aku harus ke kantin supaya nggak terlambat makan. Aku pergi dulu ya, Ma."
Inna buru-buru menahan Revan, dia ingin mendengar penjelasan putranya itu. "Eh, tapi Mama--"
Tapi sebelum Inna bisa bicara, Revan kembali memotongnya. "Mama nggak mau aku sakit, kan? Aku harus makan tepat waktu, Ma."
Inna yang mendengar itu tak memiliki pilihan lain. Akhirnya, dia yang mengalah.
"Ya udah, Van. Nanti Mama obrolin lagi sama kamu saat sudah di rumah ya?"
Sambungan telepon berhasil diputus. Revan menghela napas berat, dia belum siap untuk menjalankannya pada Inna.
***
Revan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin setelah dia mengambil makanan.
Pandangannya itu tertuju pada sosok Sophia yang duduk sendirian. Senyuman kembali mengembang di wajah Revan, dia memiliki sebuah ide ketika melihat gadis itu.
Jay yang melihat Revan, langsung memanggilnya.
"Van! Ayo makan disini!"
Jay mengerutkan kening, Dia sangat yakin kalau Revan sudah melihatnya. Tapi Revan justru berjalan ke arah yang berbeda.
Revan tidak menyahut sama sekali, dia bertingkah seolah-olah tidak melihat Jay dan malah mendekati Sophia.
Tanpa basa-basi sedikitpun, Revan langsung mendaratkan diri di meja yang sama dengan Sophia.
Sophia seketika langsung mengangkat wajahnya dan memasang tatapan tajam karena dia masih ingat dengan jelas perdebatan tadi. Tentunya dia menjadi tidak suka dengan Revan. Sikap Revan tadi membuatnya memutuskan untuk tidak dekat dengannya.
Tanpa banyak bicara, Sophia langsung bangkit dan meletakkan nampannya di tempat kotor, padahal dia belum memakannya sama sekali.
Revan yang melihat itu, mengerutkan keningnya. "Apa ada yang salah?" tanyanya bingung.
Revan tentu saja tahu kalau sikap gadis itu berubah menjadi semakin dingin pasti karena masalah tadi.
"Apa dia marah karena pertanyaanku sebelumnya?”
Revan menghela napas berat. Dia langsung bangkit, berpikir untuk mengejar Sophia.
Gadis itu berjalan keluar dari rumah sakit. Di belakangnya sana, Revan mengikuti langkahnya dengan sedikit tergesa-gesa.
Tapi, Revan yang juga sudah berada diluar rumah sakit itu langsung melihat pemandangan mengejutkan.
Plak!
Sophia terhuyung ke belakang. Sebab, ada seseorang yang baru saja menamparnya.