Beberapa saat yang lalu ...
Suara dering ponsel membuat Sophia yang baru saja selesai melakukan visit, segera merogoh saku bajunya.
Dia mengerutkan kening karena layar ponselnya itu memperlihatkan sebuah nama 'Parasit' yang meneleponnya.
Tanpa berpikir dua kali, dia langsung mereject panggilan itu karena sudah tahu jelas maksud dan tujuannya.
Sophia menghela napas berat, bahkan saat dia kini sudah kembali ke ruangan kerjanya dan sedang sibuk memeriksa rekam medis pasien, ada rentetan pesan yang dikirim oleh kontak bernama 'Parasit'.
Sophia membaca pesan-pesan itu sekilas, isinya hanya sebuah ancaman.
[Kalau kamu nggak kirim uang sekarang, jangan salahkan aku jika mempermalukanmu di rumah sakit!].
Walau Sophia mendapatkan ancaman seperti itu, dia tetap tidak mempedulikannya. Dia sudah merasa terlalu lelah karena selama ini selalu saja dimanfaatkan dan diancam.
Sophia tidak mau menjadi sapi perah lagi.
Bukanya merasa takut karena mendapatkan pesan ancaman seperti itu, Sophia malah balik mengancam.
Tentunya dia bukanlah gadis yang bodoh dan bisa saja bertindak nekat dengan melaporkan orang yang jauh lebih mirip seperti parasit ini ke polisi.
Setelah membalas ancaman itu, Sophia langsung mematikan ponselnya Karena itu adalah cara yang paling aman supaya dia tidak terus-menerus di teror.
Tidak berselang lama ada suara ketukan pintu di ruangan Sophia.
Sophia mengerutkan keningnya dan mempersilahkan orang di depan pintu sana untuk masuk.
Ketika pintu terbuka, Dewi; sahabat Sophia itu masuk. Dewi juga bekerja di rumah sakit ini sebagai seorang perawat di unit VVIP.
Dewi yang menyadari ada ekspresi frustasi menghiasi wajah Sophia, dengan cepat langsung mendekat dan bertanya, "Apa ada masalah?"
Wajah Sophia yang murung tentu saja membuat Dewi merasa penasaran dan juga khawatir.
Namun Sophia menggelengkan kepalanya, dia mencoba untuk tersenyum supaya bisa menyembunyikan masalahnya.
"Aku nggak apa-apa, kok." Dia menggelengkan kepalanya perlahan dan balik bertanya, "Kenapa kamu kemari? Apa perlu bantuan tentang pasien?"
Dewi tahu kalau sahabatnya itu sedang berbohong. Sophia selalu saja seperti itu ketika ada masalah, memilih untuk memendamnya sendirian tanpa mau merepotkan orang lain. Walau Dewi ingin tahu, tapi dia juga tak mau memaksa. Semua adalah keputusan Sophia, Dewi menghargainya.
"Ah, nggak kok." Dewe menggeleng pelan. "Aku cuma mau ngajak kamu makan siang bareng di kantin. Tapi, itu juga kalau kamu nggak lagi sibuk."
Sophia tersenyum tipis. "Nggak sibuk, kok." Dia melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan dan segera menutup catatan rekam medis pasien dan berkata, "Ayo kita ke kantin sekarang, Wi!"
Dewi mengangguk pelan. Walau Sophia terkenal judes dan dingin, dia tetap sahabat yang baik. Orang-orang hanya belum terlalu mengenalnya saja.
***
"Katanya menu hari ini itu ayam mentega, loh. Aku paling suka itu!"
Dewi tak bisa menyembunyikan raut wajahnya itu yang tampak girang karena membayangkan nampan makannya penuh dengan ayam mentega.
Sophia yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Tetapi, suara ponsel Dewi membuat mereka berdua berhenti melangkah.
Dewi mengerutkan keningnya karena mendapat pesan dari sang kekasih.
"Hah? Pacarku ada di depan rumah sakit?"
Sophia yang mendengar itu ikut heran. "Pacar kamu? Apa ada masalah?"
"Nggak ada, sih. Dia datang cuma mau ngasih makanan. Padahal aku bilang nggak usah, tapi kayaknya dia nggak baca pesanku tadi."
Sophia tersenyum tipis, dia tahu sahabatnya itu tengah bimbang.
"Sudah, temui saja pacarmu. Aku akan menunggu kamu di kantin seperti biasanya."
Dewi terdiam, dia bertanya sekali lagi. "Beneran nggak apa-apa?"
"Iya," balas Sophia, dia bukan orang yang kaku dan kejam jika menyangkut sahabatnya ini.
Setelah mendengar itu, Dewi langsung berlalu pergi. Sedangkan Sophia segera ke kantin.
Namun saat baru saja ingin memasukkan ayam mentega ke dalam mulutnya, Sophia sudah dibuat mual. Kehadiran Revan membuatnya kesal bukan main.
Tanpa basa-basi, Revan mendekat seolah tidak pernah membuat masalah. Bahkan bertingkah sok kenal. Itu membuat Sophia merasa tak nyaman.
Meski merasa lapar, Sophia memilih untuk menyudahi acara makan siangnya itu.
Dia menatap nampan makannya yang masih penuh dengan pandangan sedih. Tapi detik berikutnya, Sophia langsung berbalik pergi.
"Huh! Kenapa dia bersikap sesuka hatinya saja?! Seharusnya dia bisa lebih memikirkan perasaan orang lain!” gerutunya.
Sophia berjalan dengan langkah berat, dia mengeluarkan ponselnya dari saku karena mendengar dering yang menandakan adanya pesan masuk.
Benar saja, 'Parasit' kembali mengirimkan pesan yang menyebalkan.
[Aku ada di depan rumah sakit. Cepat kemari, atau aku yang akan datang ke ruanganmu! Jangan menantangku karena aku bisa membuat keributan yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan!].
Sophia menghela napas berat, setelah membaca pesan itu mau tak mau dia harus menemuinya sebelum ada masalah yang terjadi.
Sophia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ketika dia sudah berhasil keluar dari rumah sakit dan langsung berhasil menemukannya.
Dia segera mendekatinya. Tapi alih-alih bicara baik-baik, Sophia justru langsung mendapatkan sebuah tamparan yang.
Sophia terkejut. Rasa sakit itu tak seberapa, tapi hatinya sudah terlanjur terluka.
"Dasar anak sialan!" Napas pria paruh baya itu memburu naik turun bersamaan dengan emosinya yang semakin menggebu-gebu.
"Anak durhaka kamu, ya! Mau jadi apa kamu, hah?! Seharusnya kamu berikan apa yang ayahmu ini mau!"
Jantung Sophia berdetak kencang. Selama ini dia hidup dalam bayang-bayang yang dipenuhi dengan penderitaan.
Tapi malah diperlakukan semakin semena-mena oleh sosok pria yang mengaku sebagai ayahnya.
Dipermalukan seperti ini membuatnya sadar kalau dia tidak perlu lagi merasa takut. Sophia langsung mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk membalas, "Ayah? Memang Anda pernah sekali saja memperlakukan saya sebagai putri Anda?"
Suara Sophia bergetar, tapi tetap terdengar tegas.
Sophia mengepalkan tangannya dengan erat. Selama hidupnya dia hanya dibesarkan oleh sang ibu yang kini justru sakit keras. Kehadiran sosok sang ayah tidak pernah memenuhi tanggung jawab itu hanya membubuhkan lara.
Dia menjadi seorang dokter juga hanya karena ingin menjadi seseorang yang bisa mengobati sang ibunda tercinta.
Ayah Sophia merupakan pecandu judi, pemakai narkoba dan alkoholik.
Pria b******k itu tidak pernah menghidupi keluarganya dan malah justru menyusahkan Sophia serta ibunya.
Kehidupan Sophia selama ini sudah penuh dengan penderitaan akibat ulah dari sosok pria yang mengaku sebagai ayahnya itu.
Walaupun memang darah tidak bisa dihapuskan, tapi tanggung jawab yang tidak pernah dilakukan telah membuat setia membulatkan tekad untuk tidak menganggapnya lagi sebagai ayahnya.
Setelah mendengarkan semua ungkapan hati Sophia, ayahnya itu merasa sangat marah dan juga terhina. Bukannya mendapatkan uang, tapi dia malah dipermalukan.
"Kurang ajar kamu, Sophia!"
Pria itu mengangkat tangannya, berniat untuk memukul Sophia.
Namun sebelum tangan pria itu berhasil mencapai Sophia, seseorang langsung menghalanginya.
Sophia yang sempat memejamkan mata sedikit karena sudah bersiap untuk mendapatkan pukulan, seketika langsung terbelalak ketika menoleh karena dia terkejut setelah melihat sosok seseorang yang ada di hadapannya. Sosok itulah yang mencoba untuk melindunginya.
"Revan?”