Di ruang istirahat dokter yang tenang, suasana senyap hanya terganggu oleh dengung halus pendingin ruangan dan bunyi kertas-kertas yang berbisik satu sama lain. Dewi, dengan mata yang bersinar seperti bintang pagi, memandang Sophia yang tengah sibuk membereskan barang-barangnya. Antusiasme terlihat jelas di wajahnya, seolah-olah dia tidak sabar untuk berbagi kabar menarik yang baru saja dia dapatkan. "Kamu tahu," kata Dewi dengan penuh semangat, suaranya nyaris bergetar karena kegembiraan yang tak terbendung, "Revan semalaman begadang di perpustakaan untuk mengumpulkan dan mempelajari kasus ILD." Sophia, yang sedang memasukkan dokumen terakhir ke dalam tasnya, menghentikan gerakannya. Dia mengerutkan alis, tampak terkejut dan skeptis sekaligus. "Masa?" tanyanya, nada suaranya penuh ker

