Hampir Terlambat

978 Words

Di balik tirai pagi yang masih mengantuk, semburat langit yang perlahan berwarna keemasan membangunkan gedung-gedung beton yang tampak seperti raksasa yang baru saja terbangun dari tidurnya. Revan melangkah pelan di koridor rumah sakit yang sunyi, suara langkah kakinya seolah menjadi simfoni kecil yang mengiringi keheningan pagi itu. Matahari yang malu-malu menyorotkan cahayanya melalui jendela, menciptakan bayangan yang menari-nari di lantai putih. Dia menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu, menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu itu. Saat pintu terbuka, aroma harum sarapan yang dibawa Sophia tadi menyambut Revan dengan hangat. Namun, kehangatan itu segera berubah menjadi kejutan ketika pandangannya tertumbuk pada sosok Jay yang duduk santai di sudut ruangan, terse

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD