Jurang Hutan Utara 2

1112 Words
“Hampir mencapai angka tiga sembilan, suhu tubuhmu sangat tinggi.” Luo Xi menatap termometer di tangannya. Dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan diletakkan serapi mungkin ke dalam tas kerja Zhan Jin. “Minum obat dan pergilah beristirahat.” Liu Xikuan mendekati mereka yang berada di kantor tim SIK, menyerahkan sebuah tablet obat dan segelas air minum. Di tempat itu terdapat banyak meja kerja dari anggota SIK yang masih cukup berantakan. Mereka baru berpindah dan sekarang tidak berani banyak membuat keributan saat melihat Zhan Jin yang pucat dan lemas. “Di ruanganku?” Tangan kurus Zhan Jin menyerahkan kembali gelas yang baru saja disesapnya kepada Liu Xikuan. Suaranya terdengar serak dan napasnya terlihat lelah. Mata besar itu sedikit memerah dan bulir-bulir keringat kecil muncul di antara kerah kemeja putihnya. “Tidak di ruanganmu. Tempatmu berbau alkohol, tidak tahu apa yang kamu lakukan sampai berbau seperti itu. Jika kamu di sana, kepalamu akan semakin sakit. Sofa di tempat Xikuan mungkin nyaman untuk kamu gunakan.” Luo Xi menarik tisu dengan cukup beringas dari meja salah satu pekerja di sana dan memberikannya padan Zhan Jin yang segera mengusap keringat. Mata psikolog itu berisi dengan rasa khawatir yang tidak berusaha dia sembunyikan. “Tidak di ruanganku. Kita mungkin akan memiliki tamu dan ruang kantor ketua pasti akan digunakan. Sofa malas di ruanganmu akan cukup nyaman untuknya,” sahut Liu Xikuan, matanya hanya melirik beberapa kali ke arah Luo Xi, lebih sibuk menatap Zhan Jin yang mengusap keringat yang muncul tanpa henti. “Ah …, kamu benar. Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke ruanganku.” Hampir saja Luo Xi lupa kalau di ruangannya terdapat sofa malas yang dulu pernah ia gunakan saat melakukan hipnosis. Sekarang itu hanya barang pribadinya yang dia angkut ke kantor untuk sekedar bersantai. Luo Xi akan mengangkat Zhan Jin, tapi Liu Xikuan menekan bahunya dan membuatnya tetap duduk di tempat. Luo Xi hanya diam saat melihat Liu Xikuan mengangkat Zhan Jin dengan sedikit kesulitan. Pantas saja dia dilarang, dia dan Zhan Jin sama kurusnya. Mereka hanya akan jatuh dan mempermalukan diri sendiri jika dia tetap bersikeras. Luo Xi berdiri dari duduknya dan memutuskan untuk melihat-lihat pekerjaan berberes rekan-rekan di sana. Dia cukup mengenal mereka karena beberapa kali bekerja sama, jadi kegiatan melihat-lihat itu tidak terasa kaku untuknya. Setidaknya cukup lama dia berdiri sampai seseorang menepuk bahunya. “Sarapan?” tanya Liu Xikuan seraya merapikan kerah jaket kulitnya. “Tidak, aku tidak lapar.” Luo Xi menyahut cepat. Dia hampir akan pergi jika saja Liu Xikuan tidak menahan lengan atasnya. “Zhan Jin mendapatkan sarapannya di rumah sakit dan tetap saja jatuh sakit. Kamu memiliki penyakit pencernaan. Pekerjaan akan sangat banyak dan merepotkan. Jangan membuat dirimu menjadi lebih kurus untuk kemudian jatuh sakit.” Di antara mereka bertiga bisa dikatakan kalau Zhan Jin adalah seseorang yang paling disiplin. Terkadang bertingkah seperti seorang ibu yang merepotkan diri sendiri. Tapi seseorang yang seperti itu bahkan sekarang jatuh sakit Helaan napas kasar keluar dari mulut Luo Xi. Liu Xikuan benar, sekarang mereka sedang berlomba melawan kasus. Bagaimanapun mereka harus menang. Dia yang berperan dengan otak harus terus sehat untuk mencegah pikiran yang tidak jernih. Jika dia salah mengambil keputusan, maka tim akan berada dalam masalah. Kepala kurus itu kemudian mengangguk menyetujui. “Baiklah. Apa yang harus kita makan? Ah! Kebab di restoran depan sepertinya tidak buruk.” . . . Berpacu dengan waktu, dua orang setengah berlari menuju lift untuk membawa mereka ke ruangan mereka di lantai tujuh. Luo Xi melihat jam tangannya beberapa kali kemudian mengedarkan pandangan ke arah Liu Xikuan yang terlihat lebih tenang. Tapi dia tahu dibalik ketenangan itu sebenarnya dia juga sama gelisahnya. Laki-laki tinggi itu meneguk ludah beberapa kali, jari-jarinya mengetuk sisi saku celana bagian depannya dengan ritme cepat dan matanya menatap nomor-nomor lantai dengan sangat lekat, itu sudah cukup untuk membuktikan kalau dia hanya menahan rasa tegang itu di perutnya. Bunyi dentingan terdengar dan pintu lift mulai terbuka. Kedua tubuh dengan ukuran yang cukup jauh berbeda itu keluar sebelum pintu terbuka sepenuhnya. Rekan-rekan tim terlihat telah duduk siap di meja kerja mereka masing-masing, terlihat jelas kalau mereka juga tengah tegang. “Dimana mereka? Apakah Perdana Menteri Hittman sudah tiba?” Liu Xikuan segera bertanya, membuat Luo Xi menegadah reflek untuk melihat raut wajahnya. Liu Xikuan adalah laki-laki dengan tinggi 188 cm. Sedangkan Luo Xi dan Zhan Jin jauh lebih pendek, hanya 177 cm hingga harus menengadah hanya untuk dapat melihat wajahnya. “Belum, Sir. Tapi sepertinya tidak lama lagi,” sahut seseorang. Jeffrey, seorang snipper berbakat yang sebenarnya memasuki akademi satu tingkat di bawah Liu Xikuan. Semua kepala menatap ke arah lift yang berdenting. Di sana terlihat dua orang yang mereka tunggu kedatangannya, Direktur Jordan dan Perdana Menteri Hittman. Diam-diam Liu Xikuan menghela napas lega karena dia dan Luo Xi tiba tepat waktu. “Selamat pagi, Perdana Menteri Hittman.” Liu Xikuan melangkah maju, diikuti Luo Xi dan menawarkan jabat tangan. “Selamat pagi, Perwira Polisi Liu Xikuan dan Dr. Luo Xi.” Perdana Menteri Hittman menjabat tangan Liu Xikuan dan Luo Xi yang hanya mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. Pria paruh baya dan tambun itu menunjukkan wajah ramah yang terselip sedikit rasa lelah. “Mari. Akan lebih nyaman untuk duduk di ruangan saya.” Liu Xikuan menyarankan. Untuk seorang ayah yang kehilangan putranya, basa-basi bukan pilihan yang baik. . . . Diam dan memperhatikan pergerakan Luo Xi yang menuangkan air minum ke gelas. Luo Xi memang pintar memperhatikan tamu dan diam-diam Liu Xikuan merasa lega karenanya. Luo Xi dapat diandalkan jika itu tentang menangani manusia hidup. “Jadi, apa yang bisa kami bantu, Perdana Menteri Hittman? Saya yakin ini mengenai putra Anda, Thomas Hittman.” Liu Xikuan segera bertanya setelah Luo Xi duduk dengan tenang di sebelahnya. “Ya, aku ingin kasus ini di selidiki. Putraku akan segera menikah dan dia sungguh sangat berbahagia dengan pernikahannya, jadi dia tidak mungkin bunuh diri. Ini mungkin dapat menjadi bukti kalau putraku tidak melakukannya.” Perdana Menteri Hittman menyodorkan sebuah flashdisk ke arah kedua petugas itu. “Itu berisi video rekaman CCTV di kediaman putraku dan restoran dimana merupakan tempat tujuannya malam saat dia menghilang. Malam saat ia menghilang adalah malam dimana ia akan melakukan pemesanan meja di sebuah restoran Italia kegemaran calon istrinya. Kami berencana untuk makan malam di malam selanjutnya dan membicarakan tentang perkembangan kesiapan pernikahannya. Ia memilih untuk pergi ke sana dibandingkan membuat panggilan untuk memastikan kami mendapatkan meja yang bagus. Tapi di dalam rekaman CCTV itu terdapat keganjilan.” Perdana Menteri Hittman menjelaskan dengan lebih rinci mengenai apa yang terjadi malam itu. Liu Xikuan mengerutkan kening dan Luo Xi menyipitkan mata. Pelan-pelan mereka menoleh dan saling tatap. Bukti ini bisa menjadi awal acuan mereka untuk melakukan penyelidikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD