Jurang Hutan Utara 8

1177 Words
Beberapa orang tersenyum dan mengangguk kecil saat mereka berdua membiarkan Kartu Tanda Anggota jatuh menggantung di leher setelah memasuki kantor. Liu Xikuan menyahut gestur sapaan itu dengan hangat. Di dekatnya ada Luo Xi yang juga ikut membalas sapaan meski tidak begitu kenal. Dia hanya bekerja bersama tim-tim tertentu, jadi tidak semua orang pernah bekerja dengannya. Selain itu, dia tidak selalu di kantor polisi. Liu Xikuan menekan tombol call button dan menunggu dalam diam. Sedangkan Luo Xi di sebelahnya, menatap telepon seluler dan memainkannya sebentar sebelum kembali memasukkan benda itu ke dalam saku. Kepala mereka berkecamuk, jadi topik pembicaraan tidak dapat ditemukan. Saat pintu lift terbuka, tidak ada seorang pun di dalamnya. Lalu mereka juga hanya masuk berdua. Ini masih waktu makan siang dan orang-orang lebih banyak makan di kantin atau keluar sebentar untuk makan di luar kantor. “Tidak ke universitas?” tanya Liu Xikuan memecahkan kesunyian. Terlalu lama diam juga terasa tidak nyaman. Dia merasa seperti tenggelam dalam pikiran karena beban berat yang datang bertubi-tubi. Mendenyutkan kepala sampai terasa hampir sakit. “Tidak. Aku tidak memiliki banyak pekerjaan di sana hari ini. Tidak ada yang mendesak, tugas mahasiswa sudah dikirimkan dengan email.” Itu mungkin alasan Luo Xi cukup sibuk dengan telepon selulernya sebelum ini. Mengangkat bahu dan menghela napasnya sebentar, Liu Xikuan terlihat seperti meremehkan. Perkataan Luo Xi sungguh berbeda dengan kesehariannya. Jadi itu kenapa dia mencibir, “biasanya kamu lebih suka berada di kantor dosen. Jangan berkata seolah-olah kamu betah di sini. Tidak ada pekerjaan biasanya kamu habiskan sampai berlumut di sana.” Liu Xikuan tidak salah. Luo Xi dapat dikatakan berlumut duduk di meja kerjanya di universitas. Dia jarang pergi ke kantor polisi jika itu bukan karena hal penting. “Bukan seperti itu. Di sana memang tidak seramai di sini. Terkadang, untuk menulis buku, suasana itu lebih baik. Kamu tahu, seorang dosen psikologi kriminal sepertiku memang menulis buku. Ruang dosen memiliki banyak sekat dan lebih pribadi, makanya akan lebih nyaman menulis di sana. Tapi sekarang aku lebih memilih ke sini karena sedang bertanggungjawab untuk kasus. Lagipula, aku memang tidak memiliki banyak pekerjaan yang tersisa di sana.” Kalimat-kalimat panjang Luo Xi adalah penutup pembicaraan mereka di dalam lift setelah pintu terbuka di lantai tujuh. Beberapa dari rekan mereka belum kembali hingga kantor tampak sepi. Hanya beberapa kepala yang dapat dihitung jari. Beberapa lagi meninggalkan meja dengan rapi. “Selamat siang, Sir!” Jeffrey menyapa dan membuang sampah makanan ke tempat sampah besar. Sepertinya dia memakai jasa kurir pengantar makanan. “Jeffrey, hubungi semua rekan. Katakan kalau kita akan mengadakan pertemuan siang ini setelah jam makan siang. Minta mereka untuk membawa apa yang aku perintahkan sebelumnya. Jika sudah terkumpul semua, segera ke ruang rapat,” kata Liu Xikuan saat melihat laki-laki itu akan berjalan menjauh. “Yes, Sir! Siap laksanakan!” Jeffrey berujar tegas namun tetap santai. Ia berjalan menjauh sambil bersenandung dan tubuh sedikit melompat-lompat kecil. “Apa dia tidak akan sakit perut?” Luo Xi berkomentar yang disahut angkatan bahu acuh oleh Liu Xikuan. Jeffrey memang kelewat ceria hingga mudah untuk menjadi dekat. Sekarang bahkan senandungannya berubah menjadi gumaman bernada tentang di mana keberadaan telepon selulernya. . . . “Siapa saja yang sudah datang?” Liu Xikuan bertanya pada Chloe yang masuk membawa beberapa botol air mineral. Dia menatanya di meja sebentar, dibantu oleh Luo Xi yang cepat-cepat berdiri. “Hampir semua, Sir. Kecuali Hana dan dokter Zhan Jin.” Chloe, asisten Zhan Jin itu masih cukup kaku berbicara dengannya. Liu Xikuan mengangguk kecil dan bergumam, “Zhan Jin pulang untuk beristirahat. Aku yang menyuruhnya. Setelah Hana tiba, segera berkumpul.” Perkataannya disahut persetujuan dengan suara yang cukup tegas. Tapi ketika Chloe hampir keluar, dia malah menghentikan pergerakan perempuan itu dengan seruannya, “Ah! Chloe!” “Ya, Sir?” “Aku melupakan sesuatu, maaf. Joshua pasti ada di luar. Minta dia pergi untuk mencari foto dan video investigasi korban sebelum Thomas Hittman, selengkap mungkin termasuk foto tempat kejadian. Aku dan Luo Xi punya beberapa hal yang ingin kami sampaikan. Sekarang, kamu boleh pergi, maaf.” Sedikit tidak nyaman menghentikan pergerakan perempuan itu, tapi Liu Xikuan memang hampir melupakan hal penting mengenai alasan kenapa rapat dilakukan siang ini. “Yes, Sir!” Lagi, jawaban yang tidak setegas anggota lain, tapi pergerakannya tidak kalah tanggap. Dia berjalan dengan setengah berlari. Sepertinya mencegah Joshua terlambat untuk menghadiri rapat karena perintah mendadak. Liu Xikuan lupa kalau dia memperbolehkan Joshua terlambat lima belas menit. . . . “Permisi, Sir. Maaf, saya terlambat.” Joshua masuk dan memegang sebuah amplop cokelat besar di tangannya. “Ya, masuk. Kami belum mulai. Maaf, harusnya aku mengatakan kalau kamu tidak perlu terburu-buru.” Napas laki-laki itu tidak beraturan. Terlihat sekali kalau dia tengah berusaha keras untuk mengendalikan diri, Liu Xikuan semakin merasa tidak nyaman. “Tidak masalah, Sir.” “Kemari. Berikan datanya.” Luo Xi meminta Joshua mendekat dan meraih amplop itu. Dia menyodorkan kotak tisu dan Joshua menyambut seraya melontarkan kata-kata terima kasih. Luo Xi hanya mengangguk sebentar dan memasukkan tangan ke dalam amplop, meraih sebuah flashdisk yang kemudian dia serahkan kepada Hana. Lalu Luo Xi kembali ke tempat duduknya, menunggu Liu Xikuan untuk memulai. “Baiklah, kita bicarakan tentang kasus paling baru yang terjadi. Apa yang kalian temukan mengenai Thomas Hittman?” Arah tatapan mata tajam milik Liu Xikuan mengarah pada David, Jeffrey dan Hana. “Siap, Sir! Berdasarkan yang ditemukan di media sosial, Thomas Hittman adalah seorang pembisnis muda yang sukses. Tidak banyak berita buruk yang ditemukan, kecuali skandal perselingkuhannya dengan seorang aktris pendatang baru awal tahun ini. Tapi berita itu hilang setelah pengumuman pernikahannya. Thomas Hittman dikenal sebagai seseorang yang berdedikasi kerja tinggi, cerdas dan berhati dermawan. Sering melakukan dan terlibat dalam banyak kegiatan sosial.” Hana menyampaikan temuannya dan itu sama sekali tidak membantu. Liu Xikuan mengerutkan kening. Orang seperti ini tanpa cela, bagaimana bisa sampai mati terbunuh? Luo Xi juga menunjukkan wajah yang tidak jauh berbeda. “David, Jeffrey, bagaimana dengan kalian? Apa yang berhasil kalian temukan?” “Seperti yang kita ketahui, Thomas Hittman adalah pemilik sebuah perusahaan teknologi paling besar di kota ini. Seorang pembisnis muda yang paling sukses. Tapi hari ini kami bertemu dengan sekretarisnya. Kami berhasil menemukan kalau dia memiliki perselisihan mengenai perebutan saham dengan Jackson Chen.” David yang berbicara karena Jeffrey yang menyikutnya. Tidak ada yang tidak kenal Jackson Chen. Dia laki-laki paruh baya yang dicanangkan akan mencalonkan diri menjadi kepala negara tahun depan. Seseorang yang sangat mapan secara ekonomi. “Lalu, kapan kalian akan menemuinya?” “Besok, Sir. Dia berada di luar negeri saat ini. Nanti malam dia akan kembali,” sahut Jeffrey. “Baiklah, besok aku akan ikut. Informasikan kapan kira-kira dia berada di perusahaannya.” Kalau masalah seperti itu, Liu Xikuan akan ikut. Dia yang akan menanyai langsung. “Baiklah, sekarang mengenai foto dan video yang tadi dibawakan Joshua. Sini, berikan padaku!” Tangan dikibaskan dan menunggu Luo Xi menyerahkan amplop cokelat tadi. Dengan sedikit tanpa kesabaran, dia menumpahkan keluar semua foto yang ada di dalam. Foto yang kemudian membuat dia dan Luo Xi saling pandang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD