“Kamu beneran nggak apa-apa pulang sendiri?” Raut wajah Alvin tampak tak tenang saat menanyakan pertanyaan itu pada adiknya yang saat ini sedang membereskan alat sekolahnya ke dalam tas. Pandangan matanya tak pernah lepas dari gadis cantik dan tinggi itu memperhatikan setiap pergerakan yang ia buat seolah-olah ia akan menghilang jika ia mengalihkan pandangannya sedetik saja.
Vina tersenyum dengan tangan yang sibuk memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas dan menyisahkan sebuah buku di atas mejanya. “Pasti, dong. Kan ada abang ojek yang bisa anterin aku pulang.” Ia menyerahkan buku yang ia sengaja tidak masukkan ke dalam tas pada Alvin yang segera menerimanya. “Tolong kumpulin sama Pak Rudi, ya.” Ia tersenyum tanpa beban, untung saja ia masih sempat mengerjakan tugas dari guru itu sebelum jam masuk dimulai.
“Tapi beneran, nih kamu nggak apa-apa?” Alvin kembali mengulangi pertanyaan yang sudah ia lontarkan tadi dengan pancaran mata yang masih ada sedikit kekhawatiran di sana. Adiknya itu tidak pernah bepergian sendirian apalagi dengan jarak yang jauh seperti ini, ke rumah Anggi yang jaraknya hanya tiga ratus meter saja mereka selalu pergi bersama.
“Ya ampun, Vin. Aku baik-baik saja. Kamu kenapa khawatir begitu, sih?” Lama-lama Vina mulai jengkel juga dengan sikap over protective kakaknya itu yang sudah melewati batas baginya. Ia sudah besar dan bukan anak kecil lagi yang perlu ia jaga sampai seperti itu.
Memang ia akui ia tipe yang ceroboh dan sering terlibat masalah jika sendirian seperti halnya saat di kantin tadi, tapi ia yakin ia tidak akan mengulangi kecerobohannya ini terlebih lagi ojek yang ia pesan ini sudah menjadi langganannya Anggi yang memang jika berangkat sekolah tanpa diantar ayahnya ia akan menggunakan jasa ojek online yang tentu saja sudah sangat terpercaya. Padahal Anggi yang pacarnya saja Alvin tidak pernah melarangnya untuk bepergian sendiri meski jaraknya jauh sekali pun.
“Iya, Vin, nggak usah khawatir gitu lah. Vina ‘kan juga sudah besar aku yakin dia pasti bisa jaga diri kok. Lagipula abang ojeknya juga sudah dikenal baik sama Anggi, ‘kan jadi aman lah.” Bayu tak bisa diam saja melihat drama kakak adik di depannya yang lama-lama membuatnya bosan dan mengantuk ingin tidur, padahal sisa sepuluh menit lagi jam pelajaran Pak Rudi dimulai. Jadi daripada ia merasa bosan lebih baik ia mengakhiri drama di depannya sebelum semakin berlanjut yang akhirnya membuat Vina juga akan gagal untuk pulang.
Vina mengangguk setuju dengan ucapan Bayu yang benar-benar mendukungnya dengan kalimat yang tepat dan benar, dengan ini ia yakin bahwa Alvin pun tidak akan bisa mengelak lagi. “Betul apa kata Bayu.” Matanya memandang Alvin yang seperti pasrah dengan keadaan. “Nah, sudah cukup ‘kan? Aku berangkat dulu sebelum Pak Rudi keburu datang. Abang ojeknya juga sudah menunggu di luar sejak tadi, aku nggak mau bikin abang ojeknya nunggu lebih lama lagi. Udah ah aku pergi dulu, bye.” Tanpa berbalik atau menunggu respon dari kakaknya Vina segera berlari-lari kecil keluar dari kelas untuk menemui abang ojek yang sudah menunggu di luar pintu gerbang dengan perasaan bahagia yang teramat sangat.
“Maaf, bang. Udah nunggu lama, ya?” Vina bertanya saat sudah berada di samping abang ojek dengan seragam khasnya yang menunggu di atas motornya.
“Nggak, neng. Jadi alamat yang tadi, ya?” Abang ojeknya memberikan senyum lebarnya di tengah teriknya matahari sambil mulai menyalakan mesin motornya, setelah motornya menyala ia menyerahkan sebuah helm hitam pada Vina yang segera mengambilnya dengan wajah ceria.
Vina segera menaiki motor dan duduk di belakang dengan sambil memperbaiki helmnya. Saat matanya menyapu daerah luar gerbang yang tampak sepi, ia tidak sengaja menangkap sosok pemuda yang sedang berdiri sendirian di samping tembok pagar sekolah dengan seragam yang dikeluarkan dari celananya, dengan ransel hitam yang sudah digendongnya, serta Vina bisa mencium aroma tembakau yang menguar dari tubuh pemuda itu yang tak lain adalah pemuda yang sudah menjadi malaikat penyelamatnya di kantin tadi. Vina yakin bahkan tanpa bertanya sekali pun bahwa pemuda itu pasti sedang membolos saat ini. Pandangan mereka sempat bertemu namun hanya beberapa detik karena ojek yang ditumpanginya sudah berjalan menjauhi sekolah.
*****
“Ngga, kamu kenal cowok yang berpenampilan berantakan di sekolah, nggak?” Vina bertanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu lebar Angga yang sibuk bermain game di ponselnya. Ia awalnya tak percaya dengan tubuh kecil dan kurus seperti Angga ternyata ia memiliki bahu lebar yang selalu disukai para gadis di sekolahnya, hanya saja sikapnya yang pendiam itu menutupi ketampanan wajahnya yang sebenarnya cukup sayang untuk dilewatkan.
Angga mengangkat wajahnya sejenak dan menatap lekat pada layar LCD di depannya yang menampilkan sebuah game yang memang menjadi kesukaan anak-anak zaman sekarang ini, di mana Bagas dan Alvin sedang memainkannya dengan wajah serius seolah-olah mereka sedang berada dalam pertandingan yang sesungguhnya dengan hadiah uang dengan jumlah yang besar. Sebelum kembali menatap layar ponselnya agar ia tidak mengalami kekalahan dalam game yang sedang ia mainkan sendiri. “Bisa kasih penjelasan yang lebih spesifik lagi, nggak?”
Vina mengangkat kepalanya dari bahu Angga dan menatap pemuda di sampingnya dengan pandangan yang meremehkan. “Bilang aja kalau kamu nggak tahu.” Ia kembali fokus berselancar di media sosialnya mencari setiap informasi yang berkaitan dengan aktor idolanya yang berasal dari negeri Gingseng itu.
“Bukan nggak tahu, tapi siapa pun pasti akan bingung kalau pertanyaanmu nggak jelas kayak gitu.” Angga mengalihkan pandangannya pada Danu dan Adit yang tampak menunggu giliran bermain sambil menyemangati Bagas dan Alvin, menunggu hingga salah satu dari mereka berdua ada yang kalah agar mereka juga bisa mendapat giliran untuk bermain. “Kalian kenal sama cowok yang berpenampilan berantakan di sekolah, nggak?” Ia mengulangi pertanyaan dari Vina yang sama persis dengan kalimat gadis itu untuk melihat apakah hanya ia yang tidak bisa menjawabnya atau memang pertanyaan itu kurang jelas untuk diberikan jawaban oleh semua orang.
Danu menoleh dengan kening berkerut, ia tampak berpikir sambil mengelus jenggotnya yang tak kasat mata persis seperti om-om tetangga Vina yang selalu melakukannya jika sedang berpikir. “Siapa? Lagipula perasaan semua cowok di sekolah penampilannya berantakan, deh. Tuh si Adit juga penampilannya berantakan.” Danu mengangkat bahu sambil kembali memperhatikan jalannya permainan yang sedang dilakukan oleh Bagas dan Alvin, ia tampak tidak perduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Angga yang menurutnya sangat tidak penting.
Adit segera memberikan pukulan maut di lengan Danu tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Enak aja, aku tuh kalau ke sekolah selalu berpenampilan rapi tau. Si bagas kali tuh.”
“Eh, jangan sembarangan, ya kalau ngomong. Aku itu termasuk sisa teladan di sekolah, mana pernah berpenampilan berantakan.” Bagas yang sedang asyik beradu dengan Alvin ternyata diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka dan tentu saja ia tidak terima saat penampilan rapinya di sekolah diejek oleh Adit yang selalu ditegur di depan gerbang gara-gara tidak memasukkan bajunya ke dalam celana.
Angga menoleh pada Vina dengan tatapan puas pada jawaban ketiga sahabatnya. “Tuh ‘kan, Na, nggak ada yang tahu. Memang dasar pertanyaan kamu yang ambigu.”
Vina menghela napas dengan kecewa, ia pikir setidaknya akan ada yang menjawab pertanyannya dan mengenali pemuda yang baru ia temui dua kali itu. Entah kenapa ia merasa sangat penasaran dengan sosok itu yang terlihat nakal di luar namun memberikan kesan hangat di dalam padahal mereka tidak saling kenal.
“Memangnya kenapa sama cowok itu?” Bayu yang sejak tadi duduk di samping Vina dan menonton dalam diam pertandingan yang dilakukan Bagas dan Alvin bertanya dengan sedikit rasa penasaran di hatinya. Karena tidak biasanya gadis cantik itu bertanya perihal laki-laki kepada mereka semua.
Vina menggeleng. “Nggak ada apa-apa.” Ia menolak untuk mengatakan dengan lebih jelas tentang sosok pemuda yang menarik perhatiannya itu, terlebih lagi sejak tadi ia bisa merasakan lirikan tajam kakaknya yang berulang kali diarahkan padanya dan tentunya hanya ia yang bisa merasakannya. Pemuda itu sejak tadi memang hanya diam saja, namun ia diam-diam mendengarkan semuanya tanpa mengeluarkan suaranya yang membuat orang-orang di sana berpikir bahwa ia terlalu fokus dengan game-nya.
*****