Part 14

1501 Words
Vina sedang asyik menikmati ayam lalapan yang ia pesan dengan nikmat bersama Alvin dan Anggi di kantin saat telinganya tidak sengaja mendengar bisikan-bisikan beberapa perempuan yang duduk di meja yang tidak jauh dari mejanya. Ia menoleh pada tiga perempuan yang ia tidak kenali wajahnya satu pun itu yang sibuk memicarakan seseorang dengan suara yang dikecilkan namun masih bisa didengar olehnya yang jarak yang lumayan dekat. Dari yang Vina bisa tangkap, ketiganya sedang membicarakan tentang sosok pemuda yang baru saja memasuki kantin seorang diri. Vina menatap pemuda itu yang ternyata beberapa hari ini sudah bersarang di kepalanya tanpa ia perintahkan. Menurut informasi yang ia dengar dari ketiga siswi itu adalah pemuda itu bernama Keenan, mereka berada di tingkat yang sama dan merupakan siswa nakal yang jarang sekali masuk ke sekolah. Bisa dibilang ia adalah siswa yang sering keluar masuk ruang BK setiap kali menginjakkan kakinya di sekolah dan tentu saja para guru juga tidak begitu menyukainya karena kenakalannya itu. “Ada apa?” Anggi yang menyadari pergerakan Vina yang tiba-tiba berhenti saat makan itu menoleh padanya. Ia mengikuti arah pandangan gadis cantik itu dan hanya menemukan beberapa siswi yang sedang bergosip ria. Vina tersentak dari lamunannya. Ia tidak ingat sejak kapan ia memperhatikan sosok Keenan yang sedang makan sendirian di pojok kantin tanpa menghiraukan tatapan tak suka dan bisikan tidak mengenakkan yang ditujukan untuknya. “Nggak, nggak ada apa-apa, Cuma lagi kepikiran aja apa hari ini ada tugas dari Bu Amelia atau nggak,” jelasnya menyebutkan guru Bahasa Indonesianya itu yang memang jam mengajarnya adalah setelah jam istirahat berakhir. “Memang ada, tapi kamu ‘kan sudah menyelesaikannya tadi malam.” Kening Alvin berkerut saat mengeluarkan kalimatnya itu, merasa heran juga dengan sikap adik kembarnya yang sudah melupakan perjuangan mereka berdua tadi malam dalam mengerjakan tugas dari Bu Amelia bersama-sama. “Oh, sudah, ya?” Vina menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan cengiran di bibirnya. “Maklum otakku lagi kosong.” Kemudian ia kembali mencubit daging ayamnya yang masih sedikit panas itu dan mencocolnya di sambal pedas sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya, namun begitu matanya tidak bisa berpindah dari sosok Keenan yang sudah menyelesaikan makanannya dengan cepat dan keluar dari kantin. ‘Mungkin dia tidak betah,’ gumamnya dalam hati melihat sikap buru-buru pemuda itu yang meskipun terlihat tak acuh dengan sekitarnya namun sebenarnya ia merasa terganggu juga. ***** “Kalian main saja aku lagi tidak bersemangat.” Vina menjauhi lapangan dan berjalan mendekati area yang tidak terkena matahari siang di bawah pohon rindang yang memang tumbuh di pinggir lapangan. Ia duduk sambil bersandar pada batang pohon yang memang saat itu hanya ada dirinya sendirian di sana, sambil sesekali menguap panjang merasakan capek setelah olahraga Voli yang memang menjadi topik pembelajaran mereka hari ini. Beruntung mereka sudah pengambilan nilai sehingga ia bisa beristirahat dengan tenang meskipun hasil kali ini tidak memuaskan seperti kemarin-kemarinnya. Entah kenapa ia begitu malas untuk melakukan sesuatu, bahkan olahraga Voli yang ia sukai dan memang dikuasainya itu pun terasa membosankan baginya saat ini. Sebenarnya kelas olahraga sudah berakhir namun ia rasanya begitu malah hanya untuk sekadar berjalan ke kelas dan mengganti baju olahraga yang ia kenakan saat ini. Ia melabuhkan pandangannya pada Alvin, Bayu dan Adit yang sedang asyik bermain basket tak memperdulikan panasnya matahari yang membakar kulit di siang hari seperti ini. Senyum mereka saat bermain tampak lebih cerah mengalahkan sinar matahari yang memang bersinar terang hari ini. Kemudian matanya kembali ia alihkan pada kelas X-A, kelas sebelah yang memang memiliki jadwal olahraga setelah kelas mereka hari ini. Mereka sedang dituntun oleh Pak Darto yang sedang menjelaskan langkah-langkah permainan hari ini. Ada satu hal yang membuatnya betah memandangi kelas itu, bukan karena sosok Anggi, Angga, Bagas atau Danu melainkan sosok pemuda yang berdiri agak jauh dari barisan. Ia menegakkan tubuhnya menatap pemuda yang kemudian berjalan ke depan atas perintah Pak Darto dengan wajah datarnya, tampak sekali bahwa pemuda itu tidak begitu ingin mengikuti pelajaran olahraga hari itu. ***** “Kenapa, sih, Na?” Angga yang sedang duduk diam sambil memainkan ponselnya mendadak mendapat cubitan sayang dari Vina yang baru saja tiba di rumah Bayu. Pemuda itu tidak tahu alasan dibalik cubitan yang ia dapatkan dari gadis yang memang sangat sulit untuk ditebak itu. “Kemarin bilangnya nggak kenal padahal ternyata kalian satu kelas.” Vina mendudukkan tubuhnya di sofa dengan wajah cemberut yang ia buat-buat, tampak tidak perduli dengan wajah kebingungan pemuda di sampingnya. “Kenal sama siapa? Kalau ngomong itu yang jelas, dong, Na.” Angga berusaha tak perduli dengan gadis di sampingnya dan kembali membalas pesan dari Dinda yang memang akhir-akhir ini hubungan mereka berdua sudah semakin berkembang ke arah yang baik. Alvin yang muncul belakangan hanya melirik singkat pada Vina dan Angga yang sedang mengobrol, ia meletakkan tas yang dibawa adiknya itu pada pemiliknya sebelum berjalan masuk ke dalam dapur mencari toilet ingin menuntaskan panggilan alamnya yang memang sudah memanggil sejak dalam perjalanan ke rumah Bayu tadi. Vina meletakkan tasnya yang baru saja diserahkan Alvin padanya di sampingnya yang memang kosong. “Itu loh, cowok tinggi di kelas kamu yang dipanggil ke depan sama Pak Darto waktu olahraga tadi.” Ia mengeluarkan permen lollipop yang memang ia beli waktu pulang sekolah tadi dan mengemutnya tanpa berniat menawarkan satu pada pemuda di sampingnya padahal ia punya banyak di dalam tasnya, tapi jika berhubungan dengan makanan ia memang terkesan pelit. “Oh, aku tahu, si Keenan ‘kan?” Bagas yang tadinya sedang asyik rebahan di depan sofa sambil menonton acara televisi menimpali, hari ini mereka semua berniat libur untuk bermain game sejenak demi menonton film terbaru yang memang mereka sudah nantikan sejak sebulan yang lalu. Vina mengangkat jari telunjuknya ke udara. “Nah, itu.” Pandangannya tak lepas dari Bagas yang memeluk guling sambil menonton dengan wajah serius, wajah yang jelas jarang ia perlihatkan saat sedang belajar karena lebih sering tidur smaa seperti dirinya. “Kok aku baru lihat dia, ya? Padahal aku lumayan sering ke kelas kalian.” “Wajar, sih.” Angga mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya, sepertinya ia sudah selesai berkirim pesan dengan gadis yang ia sukai dan kini mulai fokus untuk menonton film yang berasal dari negeri Paman Sam itu, film yang memang sangat disukai anak laki-laki seumuran mereka. “Dia memang jarang masuk. Jarang banget sampai-sampai kami sendiri lupa kalau ada murid bernama Keenan di kelas kita.” “Keenan siapa, sih?” Adit memberikan tatapan penasarannya. Ia baru kali ini mendengar nama tersebut dan tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya karena nama itu menjadi pembicaraan sahabatnya yang baginya pastilah sosok yang penting. Ia menyenggol lengan Bagas yang masih asyik memeluk guling dengan lututnya. Ia yang sejak tadi memang duduk bersandar pada kaki sofa senantiasa mendengarkan pembicaraan ketiganya yang jelas saja tidak bisa ia abaikan begitu saja. Sedangkan Danu dan Bayu sejak tadi sudah menyelami mimpi saat menunggu film dimulai padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Alvin yang baru keluar dari toilet dengan perasaan lega menatap adiknya dan sahabatnya dengan alis bertaut. “Ngomongin apa, sih? Kayaknya seru banget.” Ia mengambil posisi duduk bersandar di kaki sofa tepat di samping Vina dan kemudian fokus menonton film dengan wajah antusias, film yang ia tungg-tunggu sudah dimulai dan beruntung ia tidak ketinggalan jauh. “Tau, tuh mereka lagi ngomongin si Keenan.” Adit menjawab tanpa melihat ke arah Alvin yang kini menatapnya dengan kening berkerut. “Keenan siapa?” Adit hanya mengangkat bahu karena ia sendiri belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi yang sama persisi dengan pertanyaan Alvin padanya. Tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Adit, Alvin kemudian menoleh pada Angga yang duduk di samping Vina. Ia sengaja tidak bertanya pada Bagas yang tampak begitu serius dan tidak bisa diganggu saat ini. “Siapa, Ngga?” Angga menggeleng dengan wajah sedikit pucat seperti menahan sesuatu. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun dan tampak menghindari tatapannya sementara Vina di sampingnya terlihat santai menatap layar televisi di depannya. Sebenarnya Alvin ingin bertanya lebih lanjut namun ia terhalang oleh kehebohan Danu yang terbangun dari tidurnya sambil protes pada mereka semua karena tidak membangunkannya yang tertidur padahal film yang mereka tunggu-tunggu sudah dimulai sejak tadi. “Kalian benar-benar tega, ya, nggak bangunin aku sama Bayu. Kalau saja nggak ada nyamuk yang gigitin mukaku, aku nggak akan bisa nonton malam ini.” Danu mencak-mencak sambil menguap lebar akibat kantuk yang masih menderanya, sementara Bayu di sampingnya masih tampak mengumpulkan nyawanya yang masih separuh. “Salahmu sendiri kenapa tidur.” Bagas tampak tidak perduli dengan protes Danu yang kini mulai mengambil posisi di sampingnya berusaha merebut gulingnya yang akhirnya membuat pertengkaran kecil terjadi di antara keduanya. Lebih parahnya lagi Adit yang melihat mereka tidak ingin ketinggalan dan malah ikut memperebutkan guling kesayangan yang memang dibawa sendiri oleh Bagas dari rumahnya. Alvin yang menyaksikan hal itu hanya geleng-geleng kepala, ia sudah melupakan pertanyaan yang tadinya ia lontarkan dan belum mendapatkan jawaban sama sekali. Tidak menyadari bahwa Angga sejak tadi menahan sakit akibat cubitan Vina di pinggangnya karena melarang pemuda itu untuk menjelaskan siapa sosok Keenan kepada Alvin yang pastinya hanya akan membuat pemuda itu merasa kesal. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD