“Kamu mau pesan apa, Na?”
Vina yang sejak tadi sibuk menonton drama Korea di layar ponselnya segera mengangkat wajahnya dan menatap pada Alvin yang sudah berdiri di depannya lengkap denga jaket denim yang biasanya ia pakai jika akan keluar rumah. “Aku mau sate dua puluh tusuk. Habisnya warung makan yang sering kita lewatin itu bau satenya begitu enak dan menggugah selera.” Ia mengusap perut datarnya dengan ekspresi damatis. “Mendadak aku jadi lapar banget.”
“Ya udah, itu aja ‘kan? Nggak mau yang lainnya?” Bayu yang sudah siap dengan helm di tangannya bertanya karena ia tahu betul kebiasaan makan gadis itu yang mengalahkan kuli. Tidak akan puas hanya dengan beberapa tusuk sate yang baginya hanya makanan pembuka saja, dan tentu saja ia tidak ingin keluar rumah untuk yang kedua kalinya hanya untuk membelikan makanan tambahan untuk usus Vina yang besar. Namun anehnya meskipun selera makan gadis itu begitu besar, tapi tubuhnya tetap kurus dan malah terlihat seperti kekurangan makanan.
Vina menyentuh dagunya, berpikir sambil matanya menerawang menatap langit-langit rumah Bayu yang berwarna putih polos. “Sekalian sama gado-gado satu bungkus dan rujak buah. Dan jangan lupa es jeruk peras dua bungkus.” Vina memberikan cengiran di akhir kalimatnya terlebih saat beberapa pemuda di sana menatapnya dengan tatapan takjub.
Alvin menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis melihat pesanan adiknya yang tampak lebih cocok untuk dimakan bersama daripada dimakan sendirian. Ia yang seorang laki-laki saja perutnya sudah cukup penuh hanya dengan satu bungkus gado-gado ditambah segelas air putih.
“Kamu itu mau makan sendiri atau makan sama orang sekampung, Na?” Pertanyaan yang dilontarkan Danu yang sedang asyik bermain catur bersama Angga mewakili setiap pertanyaan yang ada di kepala orang-orang yang ada di sana. Meskipun sudah mengenal cukup lama gadis itu namun Danu masih belum terbiasa dengan selera makannya yang begitu besar. Ia yang tinggi besar saja makannya tidak sebanyak itu.
Vina memberikan wajah cemberutnya apalagi mendengar suara tawa Adit yang tak tanggung-tanggung. Pemuda dengan gigi kelinci itu memang yang paling senang dan paling pertama menertawakannya jika sedang s**l atau dalam keadaan memalukan. “Aku ‘kan masih dalam proses pertumbuhan, jadi wajar dong kalau makan banyak.”
“Proses pertumbuhan dari Hongkong? Sadar umur, mbak, udah tua juga.” Adit kembali tertawa sambil berusaha mengelak dari bantal sofa yang dilempar Vina ke arahnya. Ia memberikan wajah mengejeknya melihat wajah kesal gadis itu yang gagal melampiaskan kekesalannya padanya.
Vina kembali ingin melempar bantal sofa di sampingnya saat Alvin merebutnya dan berusaha membujuknya sebelum terjadi perang dunia ketiga di rumah itu dan membuat mereka semua harus membersihkan rumah sebelum pulang. “Sudah, sudah, nggak usah bertengkar lagi.” Mata Alvin beralih pada Adit yang masih menertawakan Vina yang sudah mendumel dalam hati melihat ke arahnya. “Kamu juga, Dit, jangan tertawa lagi.” Kemudian ia memandangi Danu, Angga dan Bagas secara bergantian. “Kalian tidak ada yang mau pesan lagi? Kalau tidak ada aku sama Bayu udah mau berangkat, nih.”
Bagas menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. “Aku cukup nasi goreng satu, minumnya terserah.”
“Aku sama Angga masing-masing satu porsi mie ayam.” Danu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur di depannya, ia begitu fokus ingin mengalahkan Angga yang memang terkenal pintar bermain catur di antara mereka semua.
“Kalau kamu, Dit?” Bayu menatap Adit yang kini fokus menatap layar televisi di depannya dengan stik game di tangannya melawan Bagas, kegiatan yang memang akan selalu keduanya lakukan jika berkumpul di rumahnya.
“Aku terserah, yang penting bisa dimakan.”
Jawaban terakhir dari Adit membuat Alvin dan Bayu segera keluar dari sana mencari makan untuk manusia-manusia lapar di dalam rumah. Biasanya di malam Minggu begini mereka akan memasak mie instan yang memang selalu tersedia di rumah Bayu mengingat kedua orang tua Bayu yang begitu sibuk dengan pekerjaan keduanya yang selalu ke luar kota meninggalkan anaknya sendirian. Namun malam ini mereka ingin makan sesuatu yang berbeda agar tidak bosan, ditambah lagi persediaan mie instan di rumah Bayu juga sudah tidak cukup untuk mereka bertujuh.
*****
Vina masih setia bergelung di balik selimutnya sambil menonton drama Korea yang belum sempat ia selesaikan tadi malam di rumah Bayu gara-gara kekenyangan dan akhirnya tidur lebih cepat. Suara rintik hujan yang jatuh membasahi tanah di luar jendela kamarnya membuat rasa malasnya untuk meninggalkan ranjang kesayangannya semakin besar.
“Ya ampun, anak gadis jam segini masih belum bangun juga.” Suara ibunya yang menggema di kamarnya yang minimalis tak membuatnya goyah dan malah semakin merapatkan selimut Hello Kitty-nya untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin di pagi hari ini akibat hujan yang sejak beberapa jam yang lalu tidak berhenti juga.
“Ayo, bangun sekarang, tidak baik masih di ranjang pagi-pagi begini.” Shafira berusaha menarik selimut anak gadisnya yang masih keras kepala dan tidak mau melepaskannya.
“Aku lagi malas, mah.” Vina dengan keras berusaha menahan selimutnya agar tetap menutupi tubuhnya. Udara dingin yang disebabkan oleh hujan membuat rasa malasnya semakin besar untuk sekadar memulai aktivitas di hari libur itu yang memang tujuannya untuk bermalas-malasan setelah selama enam hari belajar di sekolah, dan tentu saja itu teori yang dibikin olehnya sendiri.
“Malu, dong sama kakak kamu yang sudah rapih dan berangkat pagi-pagi.”
“Ah, paling juga lagi keluar sama Anggi. Mamah kayak nggak tahu kebiasaan Alvin saja.” Vina memutar matanya malas, masih sambil memandangi layar ponselnya yang menampilkan aktor tampan yang selalu ia kagumi dan berharap bisa bertemu di dunia nyata, sayangnya ia hanya bisa berharap dalam hati.
Shafira menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuannya itu. “Makanya cari pacar sana supaya nggak kesepian di hari Minggu.”
“Ihh, siapa yang kesepian, sih?” Vina protes dengan suara keras namun ibunya malah pergi meninggalkan kamarnya lebih dulu tanpa mendengarkannya. Ia cemberut namun melihat wajah tampan aktor tampan di layar ponselnya membuat mood-nya kembali membaik. Ia tertawa saat aktor tampan itu membuat gurauan yang tentu saja ditujukan untuk aktris pemeran utamanya namun tanpa diduga malah ia yang bawa perasaan.
Seketika ia menjelma menjadi gadis kasmaran yang sedang jatuh cinta namun kepada sosok fiksi yang tentunya tidak ada di dunia nyata. Hujan di luar sana seolah-olah menertawakannya dengen terus mengguyur tanah dan menyadarkannya bahwa ia harus bangun dari mimpi indahnya dan melihat kenyataan yang ada.
Dalam hati ia berpikir, ‘apakah seindah itu memiliki pacar atau orang yang disukai?’
*****