Part 7

1664 Words
Alvin tidak bisa menahan rasa jengkelnya melihat wajah sumringah adik kembarnya yang saat ini sedang menikmati sepotong pizza yang baru saja ia beli beberapa saat yang lalu bersama Adit. Beruntung hari ini mereka berangkat lebih cepat ke sekolah sehingga mereka masih sempat untuk ke kota membeli pizza ukuran sedang dengan harga yang lumayan mahal sehingga ia harus merogoh kocek ketika ingin membelinya yang tentu saja juga ikut dibantu oleh Adit yang memang patut disalahkan dalam hal ini. Tak tahan melihat wajah bahagia Vina yang menikmati setiap potongan pizza yang membuat perutnya keroncongan ditambah lagi ia sudah tidak memiliki uang untuk jajan lagi siang nanti. ia mengambil sepotong pizza yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari gadis di depannya. “Bagi, dong, Na. Aku juga pengin. Ini aku beli pakai uang tabunganku, lho dan ntar siang nggak bisa jajan lagi karenanya.” Mendengar penuturan Alvin yang lumayan terdengar menyedihkan di telinganya, Vina mengangguk dengan mulut yang penuh. “Ya udah, nggak apa-apa. Makan aja.” Ia kemudian menoleh pada Bayu dan Adit yang sejak tadi ternyata sudah menelan ludah beberapa kali melihatnya makan dengan nikmat. “Kalian juga ikut makan mumpung aku lagi baik hati, dan tentu saja ini sebagai ucapan terima kasihku juga karena kalian sudah bela-belain keluar untuk beli pizza ini buat aku.” Dengan berakhirnya kalimat Vina, Adit langsung segera mengambil satu potong pizza dan memakannya layaknya orang yang sudah kelaparan sejak beberapa hari yang lalu. Vina yang melihat itu hanya bisa tertawa tanpa berkomentar apa pun dan kembali mengambil sepotong pizza sebelum ia kehabisan. ***** Vina membuka lembar per lembar dari halaman buku di hadapannya dengan rasa malas. Ia menutup bukunya dan meletakkannya ke atas meja seraya memperhatikan seisi perpuastakaan yang ramai dikunjungi oleh para sisww-siswi yang serius ingin belajar. Tidak seperti dirinya yang datang ke tempat terkutuk ini karena terpaksa dan tentu saja pelakunya adalah kakaknya sendiri dan sang kekasih yang memang lumayan sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan seperti ini. Vina menghela napas dengan kesal, tempat yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis buku pelajaran ini jelas bukanlah tempat yang akan ia kunjungi dengan sesuka hatinya. Ia menatap Alvin yang duduk tepat di depannya dengan tatapan jengkel sambil menggumamkan kalimat-kalimat penuh kekesalan yang hanya dirinya yang bisa mengetahuinya. Kemudian karena lelah sendiri ia lebih memilih untuk mengambil ponselnya yang untungnya ia bawa dan berseluncur di dunia maya yang lumayan bisa membuang rasa bosannya. “Jangan main ponsel, Na. Ini tempat untuk belajar bukan main ponsel.” Anggi yang tidak sengaja melihatnya sedang bermain ponsel menegurnya sambil berusaha untuk merebut ponsel gadis itt, namun ternyata tangan Vina lebih gesit sehingga ia bisa menjauhkannya dari jangkauan tangan Anggi yang memang sedikit lebih pendek darinya. “Habisnya aku bosan, Nggi. Kamu tahu sendiri ‘kan kalau aku benci belajar.” Vina mengeluh sambil meniup poninya yang menghalangi pandangannya. Ia baru ingat sudah lama tidak memotong poninya itu yang memang akhir-akhir ini sudah mengganggu dan menggelitik wajahnya dengan tidak nyaman. “Cobalah baca salah satu buku yang membuatmu tertarik, nanti juga bakalan terbiasa, kok. Karena belajar itu jauh lebih menyenangkan jika kamu sudah tahu manfaatnya.” Anggi menyerahkan salah satu buku yang ia ambil bersama buku lainnya untuk dibaca nanti di hadapan Vina yang tampak begitu anti dengan benda itu. hanya dengan melihat wajahnya saat ini saja semua orang bisa langsung tahu betapa gadis itu benci dengan buku. “Nggak.” Vina menggelengkan kepalanya dengan keras. “Aku benci belajar dan sampai kapan pun akan selalu membencinya.” Ia menatap jijik pada buku yang diserahkan Anggi serta tumpukan buku yang berjejer rapi di setiap rak yang ada di ruangan itu, bahkan dengan melihatnya saja ia sudah merasakan sesak di dadanya. Ia tidak suka dengan buku bahkan jika itu novel atau komik sekali pun, apalagi harus membaca buku pelajaran yang membuat kepalanya pusing seketika. Sangat berbeda dengan kakaknya yang sejak kecil memang gemar membaca berbeda dengan dirinya yang lebih suka bermain perang-perangan bersama anak laki-laki tetangga. Hal itu juga lah yang sempat membuat kedua orangtuanya khawatir jika ternyata mereka berdua bertukar jiwa. “Tapi, Na.” Anggi masih berusaha membujuk gadis di sampingnya karena ia tahu ini juga demi kebaikan gadis itu, namun suara Alvin membuatnya menyerah. “Sudahlah, Nggi.” Alvin yang sejak tadi tampak sibuk memecahkan soal fisika di depannya sebagai latihan dan diam-diam menyimak pembicaraan dua gadis di depannya angkat bicara. Ia tak tahan juga tetap berdiam diri dan melihat sikap keras kepala adiknya yang memang sudah di luar batas. “Batu tetaplah batu, Nggi, mau sekeras apa pun kamu memecahkannya.” Sekonyong-konyong sebuah buku yang tadinya berada di depan Vina kini melayang hampir mengenai wajah Alvin, beruntung pemuda itu menyadarinya dan menangkap buku tebal dan berat itu sebelum mengenai wajah tampannya. “Siapa yang kau bilang batu?” tanya Vina dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah, tak ingin menunggu jawaban dari kakaknya ia segera berdiri. “Sudah lah, aku mau kembali ke kelas saja,” ujarnya dan segera pergi dari sana. Anggi yang melihat pertengkaran dua saudara kembar di depannya untuk yang kesekian kalinya hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalanya pasrah. Ia menatap Alvin yang tampak tidak merasa bersalah dan kembali sibuk dengan buku fisika di depannya yang membuatnya mau tidak mau kembali fokus di depannya juga mengikuti sang kekasih. ***** “Wah, Tuan Putri sudah kembali dari acara belajarnya.” Danu berseru pelan melihat kedatangan Vina yang muncul dengan wajah masamnya. Ia tertawa tanpa merasa takut jikalau gadis cantik itu mengamuk dan melempar sesuatu ke wajahnya, mereka semua sudah sangat paham dengan watak gadis itu yang memang kepala namun juga manja di waktu yang bersamaan. Ia, Bagas dan Angga saat ini memang sedang berkumpul di kelas Alvin dan Vina untuk bermain game bersama. “Bagaimana, Na? apa seru?” Kini Adit yang bertanya dengan tawa tertahan berusaha menggoda Vina yang memang ia sadari sedang dalam keadaan kesal. Ia bahkan tidak perduli jika sejak tadi Bayu sudah menyenggol lengannya untuk memperingatinya agar tidak memancing amarah sang gadis yang seperti sudah siap menelan semua yang ada di sana. Tak disangka-sangka Vina hanya melirik mereka sekilas kemudian duduk di bangkunya yang sudah ada Angga juga di sana. Ia menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang yang membuat Angga di sampingnya mau tidak mau menoleh padanya meski tak mengatakan apa pun. “Sangat membosankan. Belajar jelas bukan gayaku.” Bagas tertawa namun pandangannya tak lepas dari layar ponselnya. “Makanya tadi sudah kubilang  ‘kan nggak usah ikut. Ngeyel, sih.” “Sudah, nggak usah dibahas lagi. Lagipula kalian seharusnya bersyukur Vina mau belajar, ‘kan kalian tahu sendiri bagaimana nilainya si Vina.” Bayu yang sejak tadi diam akhirnya mengeluakan suaranya berusaha menghentikan ketiga sahabatnya agar tidak membuat Vina semakin marah dengan ejekan-ejekan mereka. Namun bukannya senang karena pembelaannya, Vina malah memberikan tatapan melototnya. “Heh.” Vina melempar selembar tisu yang baru saja ia pakai untuk membersihkan hidungnya yang basah kepada Bayu yang segera menghindar dengan wajah jijik yang dibuat berlebihan. “Kamu itu berniat membela atau malah menghina, sih?” “Ihh, Vina jorok banget, sih.” Bayu mengambil tisu yang tergeletak menggenaskan di samping kakinya kemudian melempar tisu bekas milik Vina itu ke dalam tempat sampah di sudut kelas mereka dengan jijik. Sebenarnya itu ia lakukan hanya untuk membuat suasana lebih dramatis saja. Vina tertawa melihatnya, wajah lucu yang dibuat Bayu saat ini membuat perasaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Rasain, makan tuh tisu bekas,” ujarnya sambil menjulurkan lidahnya kepada Bayu kemudian mengintip ke layar ponsel milik Angga di sampingnya yang sejak tadi tidak kedengaran suaranya. “Ciee, siapa tuh Dinda?” Angga yang baru sadar chat-nya diintip oleh Vina segera menjauhkan ponselnya. “Bukan siapa-siapa, Na,” ujarnya dengan wajahnya memerah yang mana hal itu malah membuat Vina semakin ingin menggodanya. Ditambah lagi saat Bayu, Adit, Bagas dan Danu mulai mendekat ke arah mereka berdua karena penasaran. Mereka tentu ingin tahu tipe perempuan bagaiman yang bisa menarik perhatian Angga si pemalu dengan wajah yang manis. “Sini coba kita lihat.” Bagas yang ternyata sudah berdiri di samping Angga merebut ponsel pemuda itu dan segera membaca pesan-pesan yang ada di sana dengan senyum aneh. Sementara di sampingnya sudah ada Adit yang ikut membaca pesan milik Angga. “Kembalikan ponselku, Gas.” Angga berusaha merebut kembali ponsel miliknya namun pemuda jangkung di depannya tak mau mengembalikan barang miliknya yang sudah ia rebut tanpa izin. Wajahnya semakin panik saat mendengar Danu meminta kepada Adit dan Bagas agar membaca pesan Angga dengan gadis bernama Dinda itu dengan suara keras. “Baca keras-keras, Dit. Kami juga pengin tahu.” Danu berujar dengan santai sambil duduk kembali di kursi yang sejak tadi ia duduki. Ia hanya tersenyum melihat penderitaan Angga yang masih berusaha merebut ponselnya meskipun dengan usaha yang sia-sia. “Sudah lah, Ngga. Jangan pelit gitu sama kita-kita. Karena kebahagiaan kamu itu adalah kebahagiaan kami juga. Bener nggak?” Vina yang sudah capek menertawakan penderitaan Angga yang tentu saja dimulai olehnya menoleh pada Bayu dan Danu, meminta persetujuan dari kedua sahabatnya atas ucapannya.” Bayu mengangguk setuju dengan senyum penuh kepuasan. “Tepat sekali. Makanya, Ngga. Saat kamu lagi bahagia begini jangan disimpan untuk diri sendiri tapi dibagi-bagi juga sama kita.” Ia kemudian menatap Danu dan Adit yang sejak tadi masih sibuk membaca pesan Angga yang ternyata sudah lumayan panjang. “Kalian berdua cepat baca sebelum guru masuk. Kami juga penasaran tahu.” “Sebentar. Aku akan mulai dari pesan pertama dulu.” Danu sudah ancang-ancang ingin membaca pesan Angga yang pertama kali ia kirimkan kepada gadis bernama Dinda yang memang sudah lama ia kagumi itu tanpa sepengetahuan sahabatnya yang lain, namun belum sempat ia membaca satu kata pun ponsel di tangannya sudah raib dan dibawa lari oleh sang pemilik ponsel sendiri yang sudah menghilang dari dalam kelas. Danu yang tidak siap dengan hal itu segera mengejar langkah Angga yang pastinya berlari menuju kelas mereka di sebelah. “Woi, tunggu!” teriaknya sambil berlari dengan kaki panjangnya diikuti Adit dan Bagas, sementara Bayu dan Vina hanya tertawa melihat mereka semua. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD