Part 6

1181 Words
“Lho tumben, kamu nggak ikut Alvin, Na?” Anggi yang sudah lengkap dengan piyama putihnya dan sedang bersantai-santai sambil membaca buku di kamarnya dikejutkan oleh kedatangan Vina yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan gadis cantik itu datang terlebih lagi di malam hari dan tidak ada Alvin yang menemaninya. Padahal semua orang tahu bahwa dua saudara kembar itu seperti tak terpisahkan dan selalu bersama. Vina menutup kembali pintu kamar Anggi dan langsung merebahkan tubuh tingginya di atas ranjang empuk milik Anggi yang tampak tidak keberatan dengan tingkahnya yang semena-mena padahal ia hanya tamu di sana. “Aku lagi malas keluar, Nggi. Jadi aku biarkan saja Alvin berangkat ke rumah Bayu sendirian. Tapi lama-lama di kamar malah bosan sendiri.” Anggi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan gadis yang terbaring di sampingnya. Jarak antara rumahnya dengan rumah gadis itu memang lumayan dekat dan cukup ditempuh dengan berjalan kaki tidak sampai lima menit saja maka sudah sampai. Hanya saja baru kali ini Vina datang ke rumahnya di malam hari tanpa didampingi sama sekali oleh Alvin, Anggi bisa menebak wajah khawatir kekasihnya itu jika mengetahui adik perempuannya keluar tanpa dirinya di malam hari. Meskipun jaraknya dekat, namun tetap saja berbahaya bagi seorang perempuan untuk keluar sendiri malam-malam. “Kenapa kamu nggak pernah mau ikut ke rumah Bayu, sih, Nggi? Padahal seru, lho.” Tangan Vina yang panjang merebut buku yang sedang dibaca oleh Anggi, namun setelah melihat isinya yang ternyata adalah buku Ensiklopedia Antariksa yang pastinya akan membuat otaknya yang lemah tidak akan bisa memahaminya, ia mengembalikannya dengan segera. Ia paling anti sama yang namanya buku pelajaran, ia tadinya berpikir gadis itu membaca novel atau sejenisnya namun ia lupa bahwa ia sedang berhadapan denga siswi pintar yang tentu saja tidak bisa jauh-jauh dari buku pelajaran yang memusingkan. “Aku nggak bisa, Na. Aku takut kebablasan dan akhirnya nggak bisa belajar dengan baik.” Anggi hanya memberikan senyumannya sambil kembali membaca bukunya yang tebalnya hampir setengah dari kamus. Namun di balik senyumnya itu Vina dengan jelas bisa mengerti makna yang tersembunyi di dalamnya. Ia dan kakaknya tidak mungkin lupa bagaimana sikap tegas dan disiplin ayah Anggi yang terlalu menuntut kesempurnaan untuk anak perempuan satu-satunya itu. Beruntung ia dan Alvin masih dibebaskan untuk berteman dengan Anggi dan tentu saja ayah gadis itu mengetahui hubungan asmara antara anaknya dan Alvin dan tetap merestuinya. Alasannya sudah jelas karena Alvin juga termasuk siswa yang pintar di sekolah. Sebenarnya ayah Anggi termasuk sosok laki-laki yang baik dan bijaksana, ia juga ramah kepada semua orang, bahkan ia suka bercanda gurau jika mengobrol bersama. Hanya saja jika menyangkut nilai anaknya di sekolah ia langsung berubah menjadi sosok yang tegas. Vina tersenyum tipis, tak ingin membuat mood di antara mereka memburuk dan segera mengalihkan pembicaraan agar suasana di sekitar mereka kembali seperti semula. Ia bangun dari posisi tidurannya dan meregangkan kedua tangannya ke atas. “Ahh, mendadak perutku jadi lapar.” Ia menoleh pada Anggi yang ternyata juga sedang menatapnya. “Ada makanan, nggak?” tanyanya dengan cengiran di akhir kalimatnya yang membuat sang pemilik kamar hanya geleng-geleng kepala melihatnya. ***** “Rugi kamu nggak datang tadi malam, Na.” Adit yang baru tiba di sekolah melemparkan ransel hitamnya di atas mejanya dan duduk di kursinya, di samping kursinya sudah ada Bayu yang duduk dengan ponsel di tangannya. Bukan sedang bermain game, tapi Adit hanya bisa melihatnya sekilas bahwa sahabatnya itu sedang berkirim pesan dengan seseorang, tapi ia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu privasi pemuda itu. “Tadi malam papahnya Bayu traktir kita makan pizza.” “Ih serius?” Vina yang awalnya sedang merebahkan tubuh bagian atasnya ke atas meja karena rasa kantuk di pagi hari segera menoleh pada Adit yang melihatnya dengan wajah sombongnya. Melihat anggukan pasti dari pemuda itu matanya segera melotot kepada Alvin yang sedang duduk di sampingnya. Tak tanggung-tanggung satu pukulan keras ia layangkan pada kakak kembarnya itu yang tidak menyadari apa-apa karena sibuk berkirim pesan dengan sang kekasih yang memang selalu rutin ia lakukan di pagi hari seperti ini meskipun hanya sekadar basa basi menanyakan kabar di pagi hari yang membuat Vina terkadang illfeel melihat kakaknya sedang kasmaran layaknya orang yang kehilangan kewarasannya. “Aw, apaan nih?” Alvin menyentuh lengannya yang habis dipukul sayang oleh adiknya dengan mata yang melotot menatap Vina dan Adit yang hanya mengangkat bahu menandakan ia tidak tahu apa-apa soal pemukulan yang dilakukan adik perempuanya barusan. “Kamu kenapa lagi, sih, Na?” tanyanya melihat wajah cemberut adiknya yang ia tidak tahu apa penyebabnya, ia hanya tahu bahwa salah satu penyebabnya pasti adalah dirinya namun ia tidak tahu apa kesalahannya hingga harus menadapatkan pukulan sayang yang benar-benar tidak ia inginkan itu. “Kamu makan enak tapi nggak bagi-bagi. Jahat banget, sih jadi kakak.” Seruan protes Vina menggema di dalam kelas yang untungnya masih sepi saat ini. Ia menyilangkan kedua tangannya di d**a dan memajukan bibirnya yang terlihat seperti seekor bebek bagi Alvin yang biasanya akan mengejeknya jika sedang merajuk seperti itu, namun saat ini ia lebih sayang nyawanya yang bisa melayang kapan saja jika mengganggu singa betina yang hatinya sedang dalam suasana buruk. Alvin menoleh pada Bayu meminta penjelasan. Bayu menggeleng dan menunjuk Adit dengan dagunya. “Adit, Vin. Dia yang baru saja membangunkan singa yang sedang tidur.” Adit yang dituduh seperti itu segera memberikan pembelaannya. Ia menggoyang-goyangkan tangannya berusaha mengelak tuduhan yang diberikan Bayu padanya meskipun sebenarnya ia lah pemicu kemarahan Vina saat ini. “Bukan, Vin. Aku nggak membangunkan singa yang sedang tidur. Aku cuma bilang kalau Vina nggak kebagian makan pizza tadi malam karena nggak datang ke rumah Bayu.” “Siapa yang kamu panggil singa yang sedang tidur?” Vina serta merta menoleh pada Bayu dan Adit yang langsung terdiam melihat tatapan membunuhnya. Ia jelas tahu bahwa yang disebut singa betina adalah dirinya sendiri namun ia hanya ingin mendengarkan dengan jelas jawaban dari kedua pemuda di depannya yang tampak melirik ke samping kanannya untuk meminta tolong pada Alvin untuk menjinakkannya. Vina menoleh pada kakaknya. “Jangan macam-macam kamu,” ancamnya saat ia tahu kakaknya itu sedang berusaha untuk membujuknya. “Pokoknya aku mau kalian bertiga belikan aku pizza sekarang juga.” Mata Alvin melotot mendengarnya, telinganya jelas-jelas tidak salah menangkap apa yang dikatakan adik kembarnya itu.  “Na, kamu tahu sendiri tempatnya jauh. Kalau pergi sekarang nggak bakalan keburu, apalagi sebentar lagi pelajaran pertama dimulai. Nanti saja, ya pas jam istirahat.” “Iya, Na. Nanti saja, ya. Kita bertiga janji bakal langsung berangkat tepat saat bell berbunyi.” Bayu mencoba peruntungannya untuk ikut membujuk Vina yang memang terkenal dengan sikap keras kepalanya yang tidak bisa ditaklukkan dengan mudah. Ia menyenggol lengan Adit yang sejak tadi diam untuk ikut berbicara demi membuat gadis keras kepala di depannya luluh dengan bujukan mereka. “Benar, kami janji akan secepatnya membawa pizza dengan ukuran besar untuk kamu pas jam istirahat nanti. Jadi please, Na. Tolong kasih kami keringanan saat ini.” Kedua telapak tangan Adit bersatu di depan wajahnya dengan ekspresi wajah memelas kasih pada Vina yang bukannya luluh malah semakin menampakkan wajah garangnya. “Aku maunya sekarang, titik!” ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD