Vina rasanya tidak bisa membendung rasa malunya saat ini, berdiri di depan kelas dengan satu kaki terangkat satu serta kedua tangannya yang menjewer masing-masing telinganya. Ia yang terkenal cerewet dan seperti tak punya rasa malu saja bisa merasakan rasa malu yang sangat besar saat ini. Apalagi jika ada beberapa siswa dari kelas lain yang kebetulan keluar dari kelas untuk ke toilet atau ke mana pun melihatnya dalam keadaan dihukum seorang diri di luar kelas.
“Apa lihat-lihat?” tanyanya dengan nada kesal pada dua anak laki-laki yang melewatinya sambil tertawa. Beruntung mereka tidak mempunyai ponsel bersama mereka saat ini, jika tidak mungkin Vina sudah bakalan menjadi selebriti mendadak hari ini.
“Yee, galak banget, sih.” Salah satu laki-laki dengan tubuh yang tingginya setara dengan Vina mencebik, ia tidak mungkin tidak mengenali Vina yang terkenal karena sikapnya yang ceria dan mudah berteman dengan siapa saja.
“Biarin.” Vina menjulurkan lidahnya dan tak sengaja salah satu kakinya menyentuh lantai karena posisi tubuhnya yang tidak seimbang. Ia sempat menoleh dan mengintip masuk ke dalam kelas melalui jendela yang tingginya setara dengannya yang memang memiliki tubuh tinggi.
Dilihatnya pak Rudi tidak menyadari apa-apa dan masih sibuk menjelaskan materi di depan kelas, sesekali memberi pertanyaan yang dengan mudah bisa dijawab oleh kakaknya Alvin. Ia cemberut melihat kakaknya bersenang-senang di dalam sana dan selalu mendapatkan pujian dari guru-guru karena kepintarannya, sedangkan dirinya harus menderita menjalani hukuman saat ini gara-gara lupa mengerjakan tugas rumah dan tentu saja ia bukanlah termasuk siswa yang pintar.
“Awas saja kau, Vin. Habis ini kamu bakalan dapat balasan karena tidak mengingatkanku kalau ada PR tadi malam,” gumamnya pada dirinya sendiri sambil merencanakan hal jahat untuk kakak kembarnya. Lagipula yang membuatnya tidak mengerjakan tugas adalah kakaknya itu sendiri. Ia jelas-jelas masuk ke dalam kamar kakaknya itu dan menanyakan apakah ada tugas rumah dari pak Rudi minggu lalu karena ia tertidur selama jam pelajaran guru galak itu sehingga tidak mencatat apa pun apalagi mengetahui bahwa ada tugas yang harus mereka kerjakan di rumah.
Setelah hampir satu jam menjalani hukuman, Vina merasakan kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan beban tubuhnya hanya dengan satu kaki. Berkali-kali ia mengganti kaki kiri dan kanannya untuk menopang tubuhnya namun hal itu tentu tak bisa membantunya sama sekali. Tubuhnya sudah cukup lelah ditambah lagi perutnya yang sudah lapar saat ini. Padahal ia baru saja sarapan dengan porsi yang banyak satu jam yang lalu.
“Aku lapar,” keluhnya mengusap perutnya secara tidak sengaja. Namun saat mendengar bell untuk pergantian mata pelajaran berbunyi ia langsung menjewer telinganya seperti yang seharusnya agar saat pak Rudi keluar dari kelas ia tidak ketahuan tidak menjalankan hukumannya dengan baik.
Suara langkah kaki pak Rudi yang berat membuatnya menoleh ke arah pintu di mana pak Rudi sudah berdiri di sana dan seketika pandangan mereka berdua bertemu. Vina segera mengalihkan pandangannya ke depan dan menegakkan tubuhnya sambil jantungnya berdebar kencang saat pak Rudi berjalan ke depannya.
“Hukuman kamu sudah selesai, sekarang masuk kembali ke dalam kelas dan menunggu pelajaran selanjutnya. Tapi ingat, tugas rumah hari ini harus tetap kamu kerjakan dan kumpulkan di meja bapak saat waktu istirahat nanti dan tentu saja tidak boleh menyontek tugas dari temanmu apalagi kakakmu.” Pak Rudi memperbaiki susunan buku yang ia bawa karena merasa berat. “Bapak harap setelah ini kamu tidak lupa mengerjakan tugas dari bapak lagi, mengerti?”
Vina mengangguk dengan tegas dan wajah serius yang menandakan bahwa ia benar-benar serius dengan ucapannya dan janjinya akan ia tepati. “Iya, pak. Vina janji akan mengerjakan tugas rumah dengan rajin dna tidak akan lupa lagi.”
“Bagus, kalau begitu bapak pergi dulu. Kamu masuk lah ke dalam kelas sebelum pak Darto datang.”
“Iya, hati-hati di jalan, pak.” Vina memberikan senyum termanisnya yang ia punya menatap kepergian pak Rudi yang sudah berjalan menjauh dari kelasnya. Saat sosok guru itu sudah tidak nampak di matanya, senyumnya luntur seketika digantikan dengan wajah marah dan aura iblis yang menguar dari tubuhnya. Ia melirik tajam masuk ke dalam kelas tepat pada Alvin yang segera bergidik menyadari tatapan membunuh yang dilayangkan olehnya.
“Alvin, s****n! Dasar kakak durhaka! Kau harus menerima akibatnya!” teriaknya sambil berlari masuk ke dalam kelas dengan langkah cepat tak menghiraukan teman-teman sekelasnya yang mendadak hening dengan teriakannya dan langsung menerjang tubuh kakaknya yang tak siap dengan kehadirannya.
*****
Vina mengetuk pintu di depannya dengan pelan sebelum memutar kenop pintu dan mendorongnya terbuka, ia melongokkan kepalanya masuk ke dalam dan memperhatikan kantor yang tampak penuh dengan beberapa guru yang sedang sibuk di depan computer mereka. Ia melirik pada pak Rudi yang mejanya jauh di ujung sana dan melihat guru Matematikanya itu sedang sibuk dengan buku di tangannya.
Bu Tuti yang bertanggung jawab untuk mengajarkan Bahasa Indonesia menyadari kehadirannya dan menoleh padanya. Ia tersenyum. “Vina? Sedang apa di sana? Ayo masuk. Mau ketemu siapa?” mendengar pertanyaan dari Bu Tuti yang lumayan keras sehingga membuat beberapa guru menoleh ke arahnya termasuk Pak Rudi, Vina melangkah masuk dengan senyum canggung. Walau bagaimana pun ia sedang berada di ruangan para guru sekarang dan itu membuatnya benar-benar tidak nyaman dan merasa malu secara bersamaan.
“Ini, bu. Mau kumpul tugas sama Pak Rudi.” Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Oh, mau kumpul tugas? Ya sudah, pak Rudi ada di mejanya. Ibu lanjut kerja dulu, ya.” Bu Tuti yang memang terkenal sangat ramah pada para siswa kembali pada kegiatannya semula. Sedangkan Vina berjalan menuju meja Pak Rudi yang sudah menunggunya dengan tatapan tajamnya.
Seketika nyali Vina menciut ditatap seperti itu oleh Pak Rudi. “Ini tugas saya, pak.” Ia menyerahkan buku bergambar Hello Kitty miliknya kepada Pak Rudi yang langsung menerimanya lengkap dengan tatapan penuh curiga miliknya.
“Kamu kerjakan sendiri ‘kan? Tidak menyontek ‘kan? Kakak kamu Alvin juga tidak membantumu ‘kan?”
‘Mulai lagi, deh cerewetnya,’ gumam Vina dalam hati, namun kemudian tersenyum manis di depan Pak Rudi yang tengah memeriksa jawabannya. Beruntung Bayu bersedia membantunya hingga ia bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tentu saja ia berusaha menjawab salah satu soal dengan jawaban yang salah agar Pak Rudi tidak curiga padanya yang memang terkenal sangat tidak bisa Matematika itu.
“Tentu saja tidak, pak.” Vina masih mempertahankan senyumnya yang manis. “Saya mengerjakannya sendiri berbekal ilmu dari bapak.
Pak Rudi mengangguk. “Bagus, itu baru siswa yang baik. Ya sudah, kamu sudah bisa pergi sekarang.”
“Iya, pak. Terima kasih.” Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi Vina segera berjalan keluar dari ruangan yang sejak tadi tidak membuatnya betah ditambah lagi rasa laparnya yang semakin besar dan berharap para guru di sana tidak mendengarkan suara protes perutnya yang meminta untuk segera diisi. Ia ingin segera ke kantin sekarang di mana Alvin dan yang lainnya pasti sudah menikmati makanan mereka dengan nyaman sekarang.
Saat memasuki kantin ia segera memesan makanan, nasi goreng special yang memang paling tepat untuk dinikmati saat ini dengan perut laparnya. Sementara menunggu makanannya disajikan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin demi menemukan wajah menyebalkan kakaknya di antara lautan manusia-manusia lapar yang berada di sana saat ini.
Dari jauh ia bisa melihat Anggi pacar Alvin yang sedang melambaikan tangan padanya, ia balas melambaikan tangannya dan segera mengambil nasi gorengnya yang sudah siap. Ia mengucapkan kata terima kasih sebelum berjalan menjauh dari sana menuju meja Anggi berada.
Saat berjalan semakin mendekat ia bisa lihat gadis cantik dan pintar itu sedang duduk bersama Alvin dan Angga, sedangkan di meja sebelahnya ada Bayu, Adit, Danu dan Bagas yang hanya menyapanya singkat sebelum kembali fokus dengan ponsel mereka masing-masing, padahal makanan mereka masih cukup banyak dan sepertinya belum mereka sentuh sama sekali semenjak kedatangan mereka di sana. Dari jarak dekat Vina bahkan bisa mendengar u*****n-u*****n kecil mereka berempat yang terlalu sibuk dengan game yang memang sangat digandrungi anak-anak cowok saat ini.
“Bagaimana? Pak Rudi tidak menceramahimu lagi ‘kan?” tanya Anggi tepat setelah ia menempelkan bokongnya di atas kursi di samping Angga, pemuda tampan satu itu memang tidak terlalu suka bermain game dan tentunya sangat membenci keributan makanya ia lebih memilih duduk bersama Alvin dan Anggi yang setiap ke kantin memang lebih fokus menikmati makanan mereka dengan tenang dibanding bersama Bayu dan yang lainnya yang tidak bisa lepas dari game. Vina bahkan terkadang heran melihat sahabatnya itu yang memang terkenal sangat kalem dan pendiam di antara mereka semua yang terlalu berisik dan tidak bisa diam barang sedetik pun.
“Jangan ditanya lagi, Nggi. Aku diinterogasi layaknya tersangka. Malu tahu dilihatin para guru yang lain.” Vina menyendokkan nasi gorengnya ke dalam mulutnya dengan wajah kesal, namun setelah nasi yang sudah diberi bumbu dan dimasak dengan bumbu yang enak itu seketika membuat rasa kesalnya menguar entah kemana dan kembali menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya seolah-olah ia belum pernah makan selama beberapa hari ini.
“Makanya kalau ada tugas itu dikerjakan, bukan malah asyik nonton drama dari negeri gingseng itu dan lupa waktu.” Alvin mengutarakan isi pikirannya tanpa melihat sang adik yang sudah memberikan tatapa tajam nan mematikan miliknya. Jika saja tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Alvin sudah terkapar tak bernyawa di lantai kantin yang dingin.
“Yang bohong kalau nggak ada tugas itu siapa?” tanya Vina sarkastik sambil mencebikkan bibirnya dan kembali menyantap nasi gorengnya sebelum dingin dan membuat nafsu makannya menghilang, meskipun rasanya tetap tak akan berubah walau dingin sekali pun karena menurut Vina yang tak bisa menilai cita rasa makanan dan hanya tahu makanan yang enak dan sangat enak.
Anggi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Alvin dan Vina yang memang tidak bisa melewati satu hari pun tanpa bertengkar, seolah-olah keduanya tak bisa hidup tanpa bertengkar sehari pun. “Sudah-sudah, jangan bertengkar apalagi di depan makanan. Pamali,” tegursnya pada sang kekasih dan saudaranya yang pastinya tidak akan mau mengalah satu sama lain.
“Kamu sudah seperti papahku saja, Nggi.” Vina tersenyum geli membayangkan wajah ayahnya yang terlihat sangat menyeramkan saat marah namun saat ia mengingatnya kembali ia hanya bisa tertawa karena walau bagaimanapun bayangan wajah humoris ayahnya tidak akan bisa hilang dari pikirannya.
Sementara Angga yang berada di antara ketiganya hanya bisa menikmati makananannya dalam diam, dalam hati ia menyesali keputusannya untuk duduk semeja dengan mereka bertiga yang mana membuatnya malah seperti patung yang tak dianggap. Ia menghela napas yang membuat Vina di sampingnya segera menyadari keberadaannya dan menoleh padanya dengan kening berkerut.
“Lho, Angga? Sejak kapan kamu di sini? Baru datang?” tanya Vina yang semakin membuat Angga menghela napasnya dengan keras yang malah membuat Bayu yang duduk di meja sebelah tertawa melihat penderitaannya.
*****
“Kalian bakalan mampir ke rumahku dulu ‘kan habis ini?” Bayu sudah siap dengan ranselnya dan menatap Alvin yang masih sibuk dengan buku-bukunya, pemuda itu memang terlalu disiplin sehingga saat jam pelajaran mejanya akan lengkap dengan buku-buku dan peralatan menulis lainnya, mengalahkan siswi perempuan di sana terlebih adiknya yang hanya akan mengeluarkan buku tulis dan pena saat guru berjalan mengelilingi kelas karena memang gadis itu lebih sering tidur ketimbang harus mendengarkan penjelasan materi para guru di depan kelas yang terasa seperti dongeng baginya. Bayu terkadang heran melihat dua saudara kembar itu yang seperti tertukar jiwanya.
Alvin menoleh pada adiknya yang tengah menguap besar sambil duduk menyandarkan tubuh bagian atasnya di atas meja, ransel sudah tersampir rapi di punggungnya. Ia sejak tadi tidak tidur padahal sudah menjadi kebiasaannya untuk tidur di dalam kelas, mungkin karena perutnya yang terlalu kenyang dan malah membuat matanya tidak bisa tidur. Padahal orang yang kekenyangan biasanya malah jadi cepat mengantuk dan gampang tidur. “Kayaknya langsung pulang ke rumah dulu, Bay. Tuh, Vina kayak lagi kehilangan semangat hidupnya sekarang. Kita ke sana ntar malam saja. Vina mau tidur siang dulu.”
Bayu tersenyum, bagaimanapun jailnya Alvin kepada adiknya tapi ia tahu jauh di dalam lubuk hatinya pemuda itu begitu menyayangi adiknya yang hanya terlahir lima menit setelahnya. Ia terlalu peka untuk mengetahui apa yang dibutuhkan adiknya tanpa harus diberitahu terlebih dahulu. Tipikal laki-laki yang sangat disukai para gadis dan jika saja ia belum mempunyai kekasih saat ini, Bayu yakin Alvin pasti akan menjadi incaran para siswi di sekolah itu terlebih dengan otaknya yang pintar dan cemerlang. Sekarang saja sudah banyak yang berusaha mendekatinya namun mereka tentu saja sadar diri menyadari siapa saingan mereka, yaitu Anggi yang selalu juara kelas dan menjadi kebanggaan para guru.
“Ya sudah, lagipula kulihat Vina juga sudah ngantuk banget sejak tadi.” Bayu menoleh pada Adit yang masih setia dengan ponselnya di bangkunya. “Dit, jadi ‘kan nebeng sama aku?”
Adit mengangkat wajahnya menatap Bayu yang berdiri di depan Alvin dan Vina. Ia mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Iya, Bay. Motorku lagi di bengkel sejak tadi pagi soalnya.”
“Oke, gampang. Lagipula kamu jadi ‘kan mampir ke rumahku? Danu sama Bagas juga katanya mau mampir, kalau Angga lagi ada keperluan sama mamahnya.”
“Jadi, dong.” Adit berdiri dari duduknya dan menghampiri Bayu, tak lama setelah itu juga Bagas dan Danu muncul dari kelas mereka di sebelah.
“Kalian masih belum mau pulang?” Bagas mendekat dan menatap keempat temannya yang tampak masih ingin tinggal di sekolah, padahal ia dan Adit sudah menunggu mereka di parkiran motor sejak tadi. Tapi karena malas menunggu lama akhirnya mereka menghampiri keempatnya di kelas mereka.
“Ya mau lah, Gas. Memangnya kami sebodoh itu mau bermalam di sekolah?” Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan sahabatnya yang terdengar konyol di telinganya.
“Kupikir tadi kalian sudah pulang duluan gara-gara ditungguin nggak muncul-muncul juga.” Danu duduk di kursi di depan meja Alvin dan Vina yang masih merebahkan tubuh bagian atasnya dengan mata terpejam namun ia masih bisa mendengarkan dengan jelas apa yang sedang dibicarakan para laki-laki di sana. “Eh, Vina, masih hidup ‘kan?” Tangan Danu menyentuh ujung kepala Vina yang membuat gadis itu segera menegakkan tubuhnya.
“Masih hidup lah, Nu. Memangnya kamu pikir aku sudah mati?” Vina menatap Danu kesal yang hanya dibalas tawa pelan pemuda itu. ia kemudian menoleh pada Alvin di sampingnya. “Ayo cepat pulang, aku ngantuk mau tidur,” serunya manja pada kakak kembarnya itu.
Alvin berdiri dan menyampirkan ranselnya ke punggungnya. “Yok pulang sebelum pak Satpam mengunci kita semua,” ujarnya dan berjalan keluar diikuti Vina dan sahabatnya yang lainnya.
*****