Anggi menoleh pada meja Keenan yang sedang kosong yang berada tepat di samping jendela dan barus paling belakang, posisi yang sangat tepat bagi siswa malas yang hanya datang, duduk, diam dan tidur di kelas selama jam pelajaran belangsung. Kemudian ia kembali menoleh pada Vina yang muncul di ambang pintu kelasnya dengan senyum anehnya. Keningnya berkerut menandakan kebingungan akan kehadiran gadis cantik itu di kelasnya yang merupakan tempat yang sangat jarang untuk ia kunjungi jika tidak benar-benar butuh sesuatu.
“Keenan lagi nggak masuk hari ini, Na,” serunya dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari wajah Vina yang kini duduk di kursi yang berada di sampingnya, kursi milik Nita teman sebangkunya yang sudah ke kantin sejak jam istirahat dimulai.
“Iya, aku tahu kok.” Vina mengambil salah satu buku Kimia milik Anggi yang berada di atas meja gadis manis itu, hanya sekadar membukanya tanpa benar-benar membaca isinya yang masih belum sanggup dicerna oleh otaknya. “Dia lagi sakit ‘kan?” tebaknya masih sambil memusatkan perhatiannya pada buku Kimia Anggi yang penuh dengan rumus-rumus memusingkan kepalanya. Beruntung hatinya sedang baik saat ini jadi ia tidak akan memaki-maki buku tidak bersalah itu hanya karena penuh dengan angka-angka yang tidak bisa ia pahami.
“Benar. Tapi kamu kok bisa tahu? Aku nggak pernah sadar ternyata hubungan kalian sudah sedekat itu.” Anggi mengangguk dengan tangan kanan yang masih memegang sebuah pena, ia memang sedang mengerjakan tugas Kimia yang baru saja diberikan oleh Bu Ratna beberapa saat yang lalu. Tipikal anak pintar yang rajin, ia memang tidak bisa jika tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mana pun. Tangannya akan gatal jika mengingat ada tugas yang harus ia kerjakan namun ia malah bersantai. Namun terkadang juga ia akan mengerjakannya nanti jika rasa malasnya muncul tiba-tiba, bagaimanapun ia tetaplah manusia.
Vina meletakkan kembali buku Kimia Anggi di hadapan gadis manis itu agar ia bisa lanjut mengerjakan tugasnya. “Nggak sedekat itu juga, sih. Cuma kemarin memang aku lihat dia sudah ada gelaja pilek gitu. Dia juga makin banyak diam meskipun biasanya juga selalu diam, sih tapi kalau bicara suaranya serak khas orang yang lagi nggak enak badan.” Ia menoleh ke sekitar kelas dan tidak menemukan Angga, Bagas dan Danu di sana. “Yang lainnya kemana?” tanyanya dengan mata yang kini memandangi Anggi yang sudah kembali berkutat dengan soal di depannya.
Anggi mengangkat wajahnya, menoleh ke meja di belakangnya di mana tempat itu memang tempat duduk Bagas dan Danu, sementara di belakang meja keduanya adalah meja Angga dan Reza ketua kelas di kelas mereka. “Mereka udah ke kantin mungkin, biasalah kayak nggak tahu mereka aja yang nggak bisa nahan lapar sebentar saja.” Ia tertawa dan kembali dengan soal d hadapannya.
Vina ikut tertawa, matanya memperhatikan wajah Anggi yang begitu serius mengerjakan soal di depannya yang baginya mempelajarinya bertahun-tahun sekali pun tidak akan pernah bisa ia pahami. “Kok kamu bisa, sih ngerjain tugas serumit itu?” Tatapan Vina yang mengarah di buku pelajaran Kimia Anggi selayaknya sedang menatap sosok makhluk tak kasat mata saat ini.
Anggi tertawa lepas mendengar pertanyaan polos gadis cantik di sampingnya, ia jelas tahu bagaimana gadis itu membenci pelajaran yang berhubungan dengan angka, namun melihat tatapan Vina terhadap bukunya saat ini benar-benar membuatnya terhibur. Mungkin di sekolah mereka ini hanya Vina satu-satunya yang menganggap pelajaran Matematika, Kimia dan Fisika sebagai pelajaran yang menakutkan.
“Kamu ada-ada saja deh, Na. Kimia itu pelajaran yang menyenangkan.” Anggi geleng-geleng kepala melihat tingkah Vina yang memang terkadang lucu namun bisa juga menakutkan jika sudah dalam mode gilanya. Ia menyelesaikan soal terakhir yang terlihat mudah dikerjakan olehnya kemudian menutup bukunya dengan perasaan lega karena satu tugasnya di hari ini sudah selesai.
“Apanya yang menyenangkan? Bikin gila iya.” Matanya mengikuti gerakan Anggi yang sedang membereskan buku-bukunya dan kini berdiri di hadapannya. “Mau kemana?” tanyanya bingung. Padahal ia baru saja mengambil posisi yang nyaman duduk sambil menopang dagu tapi gadis manis itu malah beranjak dari duduknya.
“Ke kantin. Kamu nggak lapar? Alvin dan yang lainnya juga mungkin masih di sana sekarang.” Anggi memperhatikan jam yang melingkar di pergelengan tangannya. “Kebetulan masih ada sekitar dua puluh menit sebelum jam istirahat selesai.” Matanya kemudian memandangi raut wajah Vina yang tampak tidak bersemangat dengan ajakannya, padahal biasanya kalau soal makanan gadis cantik itu akan langsung antusias bagaiamanapun kondisi hatinya saat itu.
Vina menguap lebar dengan wajah kurang bersemangat, memperlihatkan wajahnya yang benar-benar mengantuk dan ingin tidur saat ini. Melihat wajah Anggi yang tampak kecewa melihat responnya membuatnya tertawa seketika. “Aku bercanda.” Ia berdiri dan merangkul lengan gadis itu. “Ayo, kalau soal makanan aku nggak boleh melewatkannya sehari saja. Aku ke sini juga tadi mau ngajakin kamu ke kantin, kok.” Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Anggi mengangguk dengan wajah antusias, ia baru sadar bahwa perutnya sudah meronta-ronta minta diisi sejak tadi namun malah fokus pada tugas Kimianya dan mengabaikan rasa laparnya yang sudah besar. “Ayo. Sebelum makanan di kantin habis.”
*****
Vina memandangi foto Keenan yang terpampang jelas di layar ponselnya, foto yang ia simpan beberapa hari yang lalu saat tidak sengaja menemukan akun media sosial Keenan saat sedang asyik berselancar. Ia perhatikan pemuda tampan itu tampak sedang tersenyum memandangi kamera, seolah-olah orang yang ada di balik kamera itu adalah orang yang berharga dan sangat ia sayangi. Ia baru menyadari bahwa ternyata pemuda itu bisa tersenyum lepas tanpa kerutan di wajahnya dengan ekspresi marah. Selama mereka kenal Vina sama sekali tidak pernah melihat wajah senyum pemuda itu melainkan hanya wajah kesalnya yang tentunya ditujukan untuknya.
Ia mengeratkan pelukannya pada boneka beruang seukuran tubuh miliknya dan mendaratkan dagunya di kepala bonekanya. Sejujurnya ia merasa iri dengan sosok di balik kamera yang bisa membuat Keenan tersenyum lepas tanpa ada beban sama sekali. Ia sempat berpikir bahwa sosok di balik kamera itu mungkin adalah seorang perempuan yang parahnya lagi adalah pacarnya, namun ia berusaha menepisnya karena selama ini ia lihat pemuda itu tidak pernah sibuk dengan ponselnya apalagi terlihat menelepon dengan seseorang. Ia bahkan berpikir bahwa pemuda itu tidak memiliki ponsel sama sekali karena memang ia tidak pernah melihatnya memegang ponsel.
“Ya ampun, sudah gelap begini bukannya nyalain lampu malah asyik-asyikan main hp.” Shafira yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar anak gadisnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kamar anaknya itu gelap dan hanya ada cahaya sore yang masuk melalui jendela kamar. Ia segera menyalakan lampu yang membuat anak bungsunya itu mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya terang yang tiba-tiba masuk ke retinanya.
Shafira berkacak pinggang saat tiba di samping ranjang anaknya yang tak bergeming dari posisinya. Ia mendecak kesal, bertanya-tanya dalam hatinya apakah ia juga mempunyai sifat malas seperti putrinya itu atau tidak, namun yang ia ingat ia adalah tipe anak yang rajin dan disiplin waktu sehingga ia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa sifat suaminya lah yang menurun pada anak gadisnya itu. “Sudah mandi belum? Ini sudah mau Maghrib, loh.”
Vina kembali mengeratkan pelukannya pada boneka beruangnya dan berbaring menyamping. “Belum, ada Alvin di kamar mandi,” sahutnya malas dengan suara pelan. Jika sudah berada pada posisi santai seperti ini ia jadi begitu malas untuk bergerak lagi. handuk yang ia ambil untuk dipakai mandi tadi ia biarkan di lantai kamarnya begitu saja saat mengetahui ada orang yang sedang menggunakan kamar mandi. Niat awalnya sebenarnya ia hanya ingin bermain ponsel sebentar sambil menunggu kakak kembarnya keluar dari kamar mandi, namun nyatanya ponselnya itu lebih menarik ketimbang harus membersihkan diri.
“Alvin sudah keluar dari satu jam yang lalu.” Shafira tidak bisa menahan dirinya mengomel melihat sikap malas anak perempuannya yang mengalahkan rasa malas suaminya dulu semasa masih bujang. “Bahkan papah kamu juga sudah selesai mandi.” Matanya melirik pada suaminya yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya yang basah di sofa. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Vina yang masih enggan untuk bergerak sedikit pun dari posisinya. “Cepat mandi sana, habis itu bantu mamah masak.” Menyelesaikan kalimatnya ia segera keluar dari kamar anaknya tanpa menutup pintunya kembali.
Vina yang melihat pintu kamarnya terbuka lebar mendecak kesal. Ia bangun dengan wajah cemberut karena tidak suka jika ada yang masuk ke dalam kamarnya dan tidak menutup pintunya kembali, terlebih lagi posisi kamarnya berhadapan dengan ruang tamu yang membuat siapa pun yang sedang menonton televisi di sana bisa dengan leluasa melihat masuk ke dalam kamarnya. Meskipun yang bisa melihatnya hanya keluarganya namun nyatanya ia tetap akan merasa risih.
“Ihh, mamah kalau masuk ke kamarku tutup pintunya kembali, dong,” ocehnya dengan raut wajah kesal sambil menutup kembali pintu kamarnya, namun meskipun pintu itu sudah menutup dengan rapat ia tetap bisa mendengar suara lantang ibunya di dapur. Ia bahkan yakin, mungkin di ruangan kedap suara pun suara ibunya masih akan tetap bisa terdengar karena suaranya yang besar.
“Nggak usah banyak protes, sana cepat mandi dan bantu mamah!”
Vina semakin cemberut apalagi saat ia mendengar suara tawa tertahan Alvin yang kamarnya berada persis di samping kamarnya, meskipun terhalangi dinding namun ia cukup bisa mendengar suara pemuda itu yang sedang tertawa karena penderitaannya. Ia hanya mengomel tanpa suara sebelum mengambil kembali handuknya yang ia lempar sembarangan di lantai sebelum beranjak menuju kamar mandi di sebelah dapur yang tentu saja kembali mendapatkan teguran dari ibunya yang seperti tidak puas mengomelinya.
*****
“Hari Minggu begini enaknya ngapain, ya?” Vina mengeluarkan pertanyaannya sambil mulutnya tak berhenti mengunyah pisang goreng dengan toping cokelat yang benar-benar menggugah selera, ia tadi sempat membantu ibunya untuk menggoreng pisang meskipun kebanyakan ia hanya menganggu dan membuat pisangnya gosong sehingga ibunya mengusirnya dari dapur. Namun begitu ia tetap menganggap bahwa dirinya cukup berjasa dalam proses pembuatan pisang goreng yang enak itu.
Alvin menoleh pada adik kembarnya yang kembali mengambil sepotong pisang goreng dan menggigitnya hingga menyisakan setengah. “Ya di rumah aja, makan pisang goreng buatan mamah seperti ini sambil menikmati waktu bersantai sudah cukup buatku.” Ia kembali menggigit pisang goreng di tangannya dan menikmati acara televisi di depannya.
Danar yang sedang duduk di sofa tunggal di sebelah kanan keduanya tampak sedang menyeruput kopi pahit yang menjadi kesukaannya, apalagi jika itu adalah buatan istrinya yang paling ia sayangi. Ia mengambil remot televisi dan memindahkannya ke siaran berita yang membuat anak kembarnya segera memandanginya dengan tatapan protes.
“Kenapa dikasih pindah, sih pah? Vina ‘kan lagi nonton.” Vina mengunyah pisang gorengnya dengan wajah kesal masih sambil menatap ayahnya yang tampak tidak terganggu dengan seruan protesnya. Ayahnya itu memang paling suka mengganggu ketenangan mereka berdua saat ingin menikmati waktu bersantai di rumah, padahal jarang-jarang mereka menggunakan televisi seperti saat ini berbeda dengan ayahnya yang bisa menikmatinya setiap hari tanpa gangguan.
Danar hanya menatap sekilas pada kedua anak kembarnya yang masih memusatkan perhatian padanya, raut wajahnya tampak sama sekali tidak merasa bersalah pada dua bersaudara itu. Alisnya bertaut. “Nonton kok acara kartun? Kayak masih anak kecil saja. Bagusnya itu nonton berita supaya bisa tahu sama kejadian-kejadian yang ada di luar sana. Ada banyak informasi yang bisa didapat, bukan acara anak-anak yang hanya membodohi saja.”
“Siapa bilang kartun cuma untuk anak-anak?” Vina cemberut, mau bagaimana pun ia tidak bisa melawan ayahnya. “Banyak pelajaran yang bisa diambil dari serial kartun kok, pah. Bukan cuma hiburan semata.” Ia melirik Alvin meminta pertolongan untuk ikut membujuk ayahnya yang terlihat tidak terpengaruh dengan ucapannya barusan, namun pemuda tampan itu malah menggeleng karena ia sudah tahu pasti hasil akhirnya akan bagaimana. “Ah, nggak asyik.” Vina menyilangkan kedua tangannya di dadanya sambil menatap layar televisi di hadapannya, seolah-olah benda segi empat itu akan memindahkan siarannya sendiri karena takut dengan tatapan tajamnya.
“Ada apa, sih pagi-pagi sudah cemberut begitu, malu sama ayam tetangga.” Shafira datang dari dapur sambil membawa satu piring pisang goreng yang masih mengepulkan asap, bisa ditebak bahwa pisang itu baru saja ia angkat dari minyak penggorengan. Ia mengambil posisi duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan suaminya sambil mengambil sepotong pisang goreng yang masih panas dan menatap layar terlevisi yang sedang menyiarkan berita tentang kejadian bencana alam di kota lain.
“Papah tuh, mah. Orang lagi asyik nonton malah siarannya dipindah ke acara berita.” Vina mengadu pada ibunya dengan harapan bahwa ibunya itu akan membelanya, namun yang ada ia malah mendapat tatapan aneh dari ibunya. Sebenarnya Vina cukup sadar bahwa kecil kemungkinan ia akan mendapat pembelaan dari ibunya apalagi jika menyangkut tentang ayahnya.
“Loh, apa yang salah dengan menonton berita?” Shafira mengerutkan keningnya melihat wajah anak gadisnya yang semakin kusut. Ia melirik Alvin yang hanya mengangkat bahu dan menggeleng sebagai tanda bahwa ia tidak ikut campur dengan masalah itu. “Justru lebih bagus ‘kan? Tuh lihat, kita jadi bisa tahu ada orang-orang yang kehilangan rumah dan butuh bantuan. Dan tentu saja kita jadi bisa membantu mereka yang sedang kesusahan itu.”
“Benar tuh, mah. Tapi sayangnya anak kita tidak tahu betapa pentingnya acara berita itu.” Danar melirik anak gadisnya yang hanya bisa cemberut tanpa bisa mengatakan apa pun, mengaku kalah tanpa harus mengungkapkan kekalahannya.
“Aku tidak ikutan, ya. Aku tim netral.” Alvin mengangkat tangannya dengan wajah yang terlihat sangat menyebalkan di mata Vina saat ini, ia tadi memang sempat ingin protes pada ayahnya namun ia sadar bahwa perkataan orang tuanya itu benar adanya. Lagipula sebagai anak ia bisa apa? Sebagai seorang kakak ia harus memberikan contoh yang baik pada adiknya meskipun harus berkhianat.
Vina mencubit pinggang Alvin dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, matanya fokus menatap tayangan berita yang saat ini sedang menayangkan tentang seorang maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah dan akhirnya tertangkap. Ia tak bergeming saat Alvin menyenggol lengannya dan berusaha tetap mengabaikannya, ia benar-benar kesal karena tidak ada satu pun yang mau membelanya. Terlebih lagi Alvin malah melemparkan semua kesalahan padanya dan berpura-pura lugu. Jika saja tidak ada ayah dan ibunya di sana saat itu, sudah dipastikan Alvin akan menerima amukannya yang dahsyat saat itu juga.
*****