Vina tersenyum menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Seragam putih abunya yang baru saja ia setrika tadi malam dan disemprot dengan pewangi terlihat pas dan di tubuhnya, terutama aroma wewangian yang menempel di seragamnya membuat kesegaran tersendiri baginya di pagi hari yang cerah ini. Rambutnya yang panjangnya melewati bahunya ia ikat kuncir kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang indah.
Setelah puas mengagumi dirinya sendiri melalui pantulan cermin, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam ranselnya dan keluar dari kamarnya menuju dapur di mana ayah, ibunya beserta Alvin sudah duduk manis di sana menikmati sarapan pagi mereka. Matanya berbinar cerah melihat nasi goreng, ayam goreng dan nugget goreng yang tampak memenuhi meja makan, ditambah lagi ada beberapa lapis roti tawar yang sudah dipanggang oleh ibunya yang memang selalu ada untuk memenuhi sarapan paginya.
“Pagi, mah, pah.” Ia segera duduk di kursi kosong yang memang menjadi kursinya setiap saat ingin menikmati makan di rumahnya. Tanpa menunggu tanggapan dari kedua orang tuanya ia segera melahap nasi gorengnya yang memang sudah disediakan di piring yang tentunya masih panas sehingga.
Alvin memperhatikan adik kembarnya dengan kening berkerut, ia merasa ada yang aneh dengan penampilan gadis cantik itu pagi ini dengan seragam yang rapi dan wangi, ditambah lagi ia juga bangun lebih awal hari ini tanpa harus dibangunkan lebih dulu. Saat ia ingin membangunkan adiknya itu pagi ini ia tidak menemukannya di kasurnya seperti biasa melainkan sudah melakukan ritual mandi paginya di kamar mandi, padahal dirinya sendiri belum mandi. Benar-benar rekor yang baru ia pecahkan selama hidupnya.
“Tumben anak mamah bangun pagi-pagi dan udah rapi?”
Ucapan ibunya mewakili pertanyaan yang ingin diucapkan oleh Alvin, ia juga heran dengan sikap adik kembarnya itu yang selalu bangun terlambat dan berangkat ke sekolah dengan keadaan penampilan yang berantakan, mengalahkan dirinya yang seorang laki-laki yang bahkan bisa lebih rapi darinya yang seorang perempuan. “Benar, mah. Hari ini juga dia dandan tidak seperti biasanya.”
Mendengar ucapan istri dan anak laki-lakinya, Danar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengangkat wajahnya dan menatap putri bungsunya yang memang tampak berbeda pagi itu. Ia memperhatikan penampilan Vina dari atas ke bawah dengan alis bertaut. “Loh, anak gadis papah ternyata bisa cantik juga.”
Vina yang mendapat perhatian seperti itu untuk pertama kalinya hanya bisa tersenyum malu-malu yang malah membuat Alvin ingin muntah melihatnya. “Ah, mamah sama papah bisa aja. Vina ‘kan udah cantik dari dulu,” ujarnya menyantap nasi gorengnya dengan gaya yang anggun serta tak lupa tangan kirinya menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinganya dengan gaya seperti seorang wanita anggun.
“Hueekk.” Alvin yang tidak tahan melihat tingkah menggelikan adik kembarnya menunjukkan ekspresi seolah-olah sedang muntah yang segera saja mendapatkan tendangan maut di kakinya dan tentu saja pelakunya adalah Vina yang duduk di hadapannya yang malah memperlihatkan ekspresi tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.
*****
Adit menggosok-gosok kedua matanya sambil memandangi Vina yang sudah duduk manis di kursinya. Sejak kemunculannya di dalam kelas ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Vina yang tampak sangat berbeda dari biasanya. “Vina?” tanyanya dengan kening berkerut. “Kok kamu cantik, sih?” lanjutnya yang mendapatkan pukulan sayang di belakang kepalanya oleh Bayu yang memang berangkat bersamanya ke sekolah karena rumah mereka yang memang berdekatan.
“Nggak usah menggombal di pagi hari,” tegur Bayu sembari berjalan menuju kursinya. Ia letakkan ransel hitamnya di atas meja dan memandangi Vina yang masih memperlihatkan senyumnya. Ia hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu yang benar-benar sedang dimabuk asmara sehingga rela mengubah penampilannya yang tomboy menjadi feminine. Ia jelas tahu perubahan gadis itu karena sosok Keenan yang belakangan menjadi prioritas gadis cantik itu beberapa minggu ini.
Adit masih berdiri di depan meja Vina. Ia mengusap belakang kepalanya dengan wajah kesal menatap Bayu yang santai saja duduk di kursinya seolah tidak pernah melakukan tindak k*******n padanya. Ia sampai berpikir bakalan gegar otak karena terus-terusan mendapatkan pukulan di kepalanya oleh pemuda itu. “Siapa yang menggombal di pagi hari, sih? Kan aku cuma nanya.” Matanya kemudian beralih pada Vina yang hanya tertawa melihatnya. “Tapi aku serius, Na. Kamu kok tumben-tumbennya dandan kayak gini?”
“Nggak usah heran, Dit. Kayak nggak tahu Vina aja.” Alvin memutar matanya bosan melihat reaksi pemuda di depannya yang malah tampak berlebihan di matanya. Konsentrasinya membaca buku jadi terganggu sejak kemunculan pemuda kurus itu yang tak henti-hentinya berdiri di depan mejanya dan Vina hanya untuk memandangi wajah adik kembarnya yang memang ia akui lebih cantik dan menarik dengan penampilan rapi seperti hari ini namun tentu saja ia enggan untuk mengakuinya yang hanya akan membuat adiknya itu semakin besar kepala mendengar pujiannya.
“Iya, kayak kamu nggak tahu aku aja.” Vina yang sejak tadi diam saja menyelipkan rambutnya yang tak bisa ikut terikat dengan rambutnya yang lain ke belakang telinganya. “Aku ‘kan memang selalu cantik setiap hari.” Ia menopang dagunya dengan tangan kirinya dan menatap Adit dengan kedua matanya yang ia kedip-kedipkan secara genit di hadapan Adit yang bukannya terkesan malah menatap ngeri padanya.
Adit memeluk tubuhnya sendiri yang tiba-tiba merinding seolah-olah sedang melihat sosok menyeramkan di hadapannya. “Sorry, Na. Tapi kayaknya kamu butuh ke psikiater, deh.” Setelah menyelesaikan kalimatnya ia segera beranjak untuk duduk di kursinya di mana Bayu sudah tertawa keras sebagai reaski atas kalimatnya barusan.
Alvin juga tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Adit yang benar-benar tepat sasaran, ia berusaha keras menahan tawanya sambil menutupi wajahnya dengan buku motivasi yang tengah dibacanya saat itu. Namun usahanya itu tentu tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat bahunya yang bergetar.
Vina yang mendapatkan ucapan tak terduga dari Adit tak bisa menahan wajah kesalnya, padahal baru saja ia dipuji tapi sedetik kemudian dijatuhkan. “Adit s****n,” serunya kesal apalagi melihat Bayu yang tertawa keras di depannya tanpa berusaha untuk menahannya sedikit pun. Matanya kemudian beralih pada Alvin yang duduk di sampingnya dengan menutupi wajahnya. Ia dengan jelas bisa mendengar suara tawa kakak kembarnya itu meskipun susah payah ia sembunyikan. Ia menarik buku yang dipegang Alvin agar menjauh dari wajah pemuda tampan itu. “Berhenti ketawa,”
*****
Vina sudah tidak sabar ingin segera berlari keluar dari dalam kelas saat mendengar bunyi bell yang menandakan waktunya istirahat sudah dimulai. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja beberapa kali dengan mata yang tak pernah lepas dari wajah Pak Rudi yang masih berusaha menjelaskan soal di papan tulisnya. “Ayo cepat selesaikan,” gumamnya dengan kaki yang menyentak-nyentak lantai tidak sabaran.
Alvin yang merasa terganggu dengan sikap adik kembarnya di sampingnya mendongak dari buku tulisnya dan menatap wajah Vina yang berguman tanpa suara menatap lurus pada punggung Pak Rudi yang tampak tak terganggu dengan suara bell yang sudah dibunyikan sejak beberapa detik yang lalu. “Bisa diam tidak? Mejanya jadi goyang gara-gara kamu,” bisiknya pada Vina yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan peringatannya.
Vina mendecak kesal. Kesabarannya mulai hilang saat melihat Pak Rudi yang tampak asyik dengan penjelasannya di depan kelas tanpa ingin membubarkan kelas seperti yang seharusnya. “Aku mana bisa tenang kalau Pak Rudi belum keluar juga. Lihat.” Ia menunjuk jam yang menempel di dinding atas papan tulis dengan dagunya. “Ini sudah waktunya istirahat. Apa Pak Rudi sengaja ingin membuat kita semua kelaparan?” bisiknya tepat di telinga kakaknya agar suaranya yang besar tidak terdengar oleh Pak Rudi mengingat posisi meja mereka yang memang berada di barisan paling depan.
Pak Rudi yang tidak sengaja berbalik dan melihat Vina yang berbisik di telinga Alvin memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot akibat minyak di wajahnya. “Vina, kamu sedang apa? Kenapa berbisik-bisik seperti itu?” Matanya menatap tajam pada siswi perempuan di depannya yang kembali duduk menghadap ke depan dan memusatkan perhatian padanya.
Vina menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan wajah canggung karena kini menjadi pusat perhatian seisi kelas. “Anu, Pak.” Ia melirik singkat ke luar kelas di mana beberapa siswa-siswi dari kelas lain sudah berjalan dengan santainya menuju kantin, raut wajah mereka yang memandang masuk ke dalam kelas mereka seolah-olah mengejek mereka semua karena tidak bisa leluasa menuju kantin seperti mereka.. Ia memberikan cengirannya yang lebar. “Sekarang sudah waktunya istirahat.”
Pak Rudi menatap jam dinding di kelas dan baru menyadari bell yang sudah berbunyi. “Oh, astaga sudah waktunya istirahat, ya. Ya sudah, salin soal yang bapak tulis di papan tulis sebelum kalian keluar dan jadikan sebagai pekerjaan rumah, ya.” Pak Rudi segera menuju mejanya dan membereskan buku-bukunya sebelum akhirnya keluar dari kelas.
Vina menghela napas dengan lega melihat Pak Rudi yang akhirnya keluar juga, beruntung guru cerewet itu tidak marah dan mengomel-ngomel padanya gara-gara diingatkan soal jam istrirahat yang biasanya akan ia balas dengan mengatakan bahwa belajar lebih penting daripada keluyuran tidak jelas di luar kelas. Padahal waktu mengajar sudah ada porsinya masing-masing dan waktu istirahat adalah kebijakan dari sekolah untuk mengistirahatkan mereka dengan cara bersenang-senang dan mengisi perut yang lapar sebelum akhirnya bertempur lagi di dalam kelas.
“Aku pergi dulu,” serunya sebelum berlari keluar kelas meninggalkan buku dan puplennya yang masih berantakan di atas meja yang tentu saja ia serahkan semuanya pada kakak kembarnya untuk merapikannya seperti biasanya. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama dari ini setelah Pak Rudi mengambil waktu istirahat mereka sepuluh menit yang lalu.
Alvin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adik kembarnya yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya meninggalkan barang-barangnya tanpa dirapikan terlebih dahulu, beruntung ia begitu sayang dengan adiknya itu sehingga ia tetap mau menjadi pembantu tanpa bayaran.
*****
Vina membuang napasnya perlahan dan berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah akibat menapaki tangga yang jumlahnya lumayan banyak dan panjang hanya untuk menuju atap sekolah yang selama dua hari belum pernah ia kunjungi lagi akibat ketidak hadiran Keenan di sekolah karena sakit. Ia merapikan penampilannya kembali sebelum akhirnya membuka pintu di depannya yang langsung menghubungkannya dengan pemandangan atap sekolah yang sepi dan damai.
Bibirnya melengkung ke atas kala retinanya menangkap sosok pemuda yang sedang berdiri membelakanginya di depan pagar. Akhirnya setelah dua hari absen ia bisa melihat wajah pemuda itu lagi, itu juga yang menjadi alasan mengapa ia sampai rela bangun pagi dan dandan hari ini demi bertemu sang pujaan hati yang akhirnya masuk sekolah kembali.
Ia melangkah mendekat dan berdehem singkat untuk menarik perhatian pemuda di depannya yang tentu saja tak bergeming dari posisinya. Keenan bisa tahu siapa yang datang tanpa harus menoleh sedikit pun untuk melihatnya.
Saat sudah berjalan semakin dekat dengan Keenan, Vina bisa mencium bau tembakau dan asap yang menyebar di sekitar pemuda itu. senyumnya menghilang digantikan wajah bingungnya. Saat berdiri tepat di samping pemuda itu ia bisa lihat dengan jelas bahwa ia sedang merokok dengan santainya tanpa rasa takut sedikit pun ketahuan olehnya. Ia memandangi lekat wajah Keenan yang tampak tidak terganggu sedikit pun oleh kehadirannya. “Kamu merokok?”
Keenan menghisap ujung rokok yang ia selipkan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya sebelum menghembuskannya ke udara yang menyebebkan gadis cantik di sampingnya batuk karena menghirup asap beracun yang ia buang mencemari udara. “Kenapa? Nggak suka?” tanyanya tanpa menoleh sedikit pun, ia hanya sibuk memperhatikan beberapa siswa yang berlalu lalang di lapangan sekolah atau yang sedang bermain di sana.
Vina berusaha mengusir asap yang berkerumun di sekitar wajahnya dan sesekali terbatuk. “Bukan begitu, ini pertama kalinya aku lihat kamu merokok. Jadi kupikir kamu tidak menyentuh benda itu.” Matanya ikut memandangi lapangan sekolah yang ramai dipenuhi oleh siswa-siswi lainnya. “Kamu nggak takut ketahuan sama mereka?” Pandangannya kembali pada Keenan yang masih menikmati racun di tangannya, seolah-olah menikmati kematian yang perlahan-lahan mendatanginya cepat atau lambat.
Keenan mengangkat bahunya acuh tak acuh dengan wajah datar. “Nggak, itu hak mereka kalau mau melaporkanku,” jawabnya santai. Sesekali ia terbatuk yang membuat Vina sadar bahwa suara pemuda itu juga lebih serak dari biasanya.
Vina bahkan hampir lupa bahwa pemuda itu baru saja sembuh dari sakit dan sekarang malah menikmati rokok yang sangat berbahaya bagi kesehatannya. Seketika ia ingat bahwa ia punya permen di saku roknya yang memang selalu ia sediakan di sana saat ia ingin mengemil dan menikmati permen yang manis-manis. Ia merogoh saku roknya dan mengeluarkan lollipop rasa s**u cokelat yang manis dan lumayan menyehatkan dibanding racun mematikan yang sedang dinikmati Keenan.
Ia menyerahnya lollipop tersebut di depan wajah Keenan yang langsung menatapnya dengan tatapan bingung. “Ini permen,” jelasnya tanpa diperintahkan. Ia hanya tidak tahan melihat raut wajah pemuda di hadapannya yang seolah-olah sedang ditawari racun olehnya. Ia menggoyangkan tangan kanannya yang mulai terasa pegal dibiarkan menggantung di udara.
Keenan memutar matanya kesal. “Aku tahu itu permen tapi buat apa?” Ia menolak untuk mengambil permen yang ditawarkan Vina untuknya karena ia rasa ia tidak butuh. Lagipula ia bukan tipe orang yang suka menikmati makanan yang manis-manis seperti itu yang baginya hanya dinikmati oleh anak-anak dan para perempuan yang memang suka menikmati makanan manis.
“Ya buat kamu lah, sebagai pengganti rokok yang tidak sehat itu.” Ia kembali menggoyangkan tangan kanannya yang memegang permen lollipop dengan wajah yang mendesak agar pemuda di depannya segera mengambilnya. Tangannya sudah pegal sejak tadi dan butuh istirahat namun tampaknya Keenan belum mau mengakhiri penderitaan tangannya saat ini.
“Nggak, aku nggak butuh, terima kasih.” Keenan menggeleng sembari kembali menatap lurus ke depan masih sambil menikmati rokok di tangannya dalam diam. Mengabaikan rauat wajah kesal gadis cantik di sampingnya. Karena sungguh ia hanya ingin menikmati waktu sendirian saat ini dan melampiaskan emosinya melalui rokok yang ia hisap gara-gara guru menyebalkan yang malah menuduhnya bolos dan mempermalukannya di hadapan teman sekelasnya yang lain.
Vina menghela napas melihat sikap keras kepala Keenan yang mengalahkan keras kepalanya sendiri. Ia membuka bungkus lollipop di tangannya dan kembali menyerahkannya pada Keenan. “Kamu baru aja sembuh ‘kan? Setidaknya menikmati permen ini lebih baik daripada rokok yang tidak sehat itu. Kamu masih batuk-batuk dan suaramu juga serak tidak seperti biasanya.” Ia meraih tangan kiri Keenan yang bebas dan meletakkan permen lollipop di atasnya. “Setidaknya untuk saat ini jangan merokok dulu, nanti kalau kamu sudah sehat sepenuhnya baru kamu bisa menikmati racun mematikan itu semau kamu.”
Keenan yang mendapat perhatian seperti itu terdiam cukup lama memandangi wajah Vina yang baru ia perhatikan ternyata lebih cantik dari dugaannya. Di ingatannya gadis itu hanya pengganggu yang suka mengganggu ketenangannya namun diberi perhatian kecil seperti saat ini membuat hatinya luluh juga. Guru di kelasnya saja masih meragukannya yang izin tidak masuk karena sakit dan mengira bahwa ia hanya bolos, padahal ia jelas-jelas masih suka batuk selama jam pelajaran dan badannya juga masih terasa hangat akibat demam namun tetap memaksakan dirinya untuk masuk sekolah agar tidak dicurigai.
Melihat wajah Vina yang mendesaknya untuk memakan permen lollipop di tangannya membuatnya mau tidak mau memasukkan permen rasa s**u cokelat itu di mulutnya. Rasa manis dari s**u dan cokelat yang bercampur dengan sepurna langsung mengalahkan rasa manis pahit dari rokok yang sejak tadi ia nikmati. Ini pertama kalinya ia menikmati permen yang baginya hanya untuk anak kecil itu dan langsung mengagumi rasanya.
Melihat wajah Keenan yang tampak menikmati permen pemberiannya membuat Vina tersenyum namun sedikit ada rasa khawatiri di dadanya. Saat memegang tangan pemuda itu tadi ia bisa merasakan suhu tubuhnya yang lebih hangat dari suhu tubuh yang normal. “Mungkin sebaiknya rokokmu kamu buang dulu.” Matanya mengarah pada tangan kanan Keenan yang masih memegang batang rokok yang menyala dan menyebarkan asap. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia cukup terganggu dengan asap yang ditimbulkan benda itu, karena memang ini pertama kalinya ia berhadapan dengan oranag yang merokok. Beruntung ayah dan kakaknya tidak merokok begitu pun dengan sahabatnya yang lain, namun ia tentu tidak bisa menilai pemuda di hadapannya dengan buruk hanya semata-mata karena rokok meskipun ia tahu benda itu keramat di sekolah ditambah lagi usia Keenan yang masih muda untuk mengenali benda beracun itu.
Keenan menatap tangan kanannya dan baru menyadari bahwa ia masih memegang rokok di sana. Tak membuang waktu lama ia segera melemparnya ke lantai dan menginjaknya dengan sepatunya agar benda yang masih terbakar api tersebut mati dan tidak membahayakan siapa pun. Setelah memastikan sekali lagi bahwa rokoknya sudah mati dengan sempurna, ia kembali menatap Vina yang sejak tadi hanya diaam memperhatikannya. “Terima kasih,” ucapnya tulus atas permen yang ia terima.
Vina yang baru pertama kali mendapatkan ucapan terima kasih dari pemuda itu dengan nada tulus dan lembut tidak seperti biasanya yang selalu mendapatkan jawaban dengan nada ketus, merasakan kehangatan di dadanya. Ia terkesiap cukup lama sebelum akhirnya tersadar dan tersenyum. “Sama-sama.”
*****