“Tahu nggak? Kemarin aku ketemu sama Dinda.” Bagas mengucapkan kalimatnya dengan bangga sambil melahap utuh baksonya ke dalam mulutnya sehingga pipinya menggembung. Sesekali ia membuka mulutnya karena rasa panas dari bakso yang dilahapnya membuatnya kewalahan juga, ditambah lagi dengan rasa pedas di mulutnya membuat rasa panas itu semakin kuat dan membuatnya tidak tahan untuk meneguk air minumnya hingga habis.
Bayu mengerutkan keningnya menatap Bagas yang masih meneguk air minumnya dengan tergesa-gesa seolah-olah ia tidak pernah minum air selama beberapa hari. “Dinda siapa?” tanyanya karena merasa asing namun juga sedikit familiar dengan nama itu, tapi ia tidak ingat pernah mendengarnya di mana dan kapan. Ia sibuk menerka-nerka namun tidak bisa menemukan titik terangnya.
Angga menatap Bagas dengan tatapan peringatan agar pemuda itu tidak mengatakan apa pun tentang identitas Dinda yang merupakan kekasihnya. Ia bahkan tidak tahu di mana sahabatnya itu bertemu dengan Dinda yang merupakan siswi dari sekolah lain yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah mereka. Kebetulan mereka bertetangga dan sering bertemu yang akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.
Bagas yang mendapatkan tatapan peringatan dari Angga sama sekali tidak menghiraukan pemuda manis itu, ia malah menatap Bayu yang terlihat menunggu penjelasannya dengan tidak sabaran. “Itu loh, pacarnya Angga,” jawabnya santai bahkan setelah Angga mengancamnya dengan gelas kaca bekas minumnya yang sudah kosong. Alih-alih merasa takut, ia malah tertawa melihat wajah memerah sahabatnya yang memang terkenal pendiam itu.
“Woah, yang benar?” Vina yang duduk di meja sebelah bersama Anggi dan Alvin ternyata diam-diam menguping pembicaraan mereka. Gadis itu menarik kursinya agar lebih mendekat dengan meja Bayu, Adit, Angga, Bagas dan Danu. Ia sudah siap mendengarkan cerita tentang pacar Angga yang mereka semua tidak tahu bagaimana rupa dan kepribadiannya. “Bagaimana? Cantik nggak orangnya?”
Bagas dengan semangat menunjukkan dua jempolnya yang membuat Vina, Adit dan Danu merasa heboh seketika. “Cantik pake banget. Gila lah pokoknya,” serunya bersemangat seolah-olah sedang memuji pacarnya sendiri, padahal itu adalah pacar Angga yang baru ia lihat sekali.
“Emang kamu lihat di mana?” Danu bertanya di sela-sela kunyahannya pada nasi goreng spesial miliknya yang level pedasnya di atas maksimal. Meskipun sedang mendengarkan cerita Bagas, namun ia tentu tidak bisa mengabaikan makanannya begitu saja yang hanya akan membuatnya menyesal karena tidak menikmatinya selagi masih panas yang tentu saja membuat rasanya berkurang karena dinikmati saat dingin dan keras.
“Di warung samping rumahku. Waktu itu aku disuruh ayahku beli lauk di warung karena ibu lagi nggak masak gara-gara sakit, terus aku lihat dia di sana lagi makan sama temannya.” Bagas tampak berpikir, menelusuri ulang ingatannya tentang kejadian kemarin di mana ia bertemu gadis cantik bernama Dinda itu.
“Kok kamu bisa tahu itu Dinda pacarnya Angga? Kita semua ‘kan nggak pernah lihat fotonya.” Ucapan Bayu serta merta membuat para sahabatnya menoleh padanya dan mulai berpikir ulang tentang ucapannya yang ada benarnya juga. Mereka semua kembali memusatkan perhatian pada Bagas dan lagi-lagi mengabaikan keberadaan Angga di sana, mungkin karena kepribadiannya yang pendiam dan jaranag bicara itu membuat hawa keberadaannya sulit disadari oleh para sahabatnya yang semuanya gila.
“Betul kata Bayu. Tahu dari mana kamu kalau itu Dinda pacarnya Angga? Bisa saja ‘kan itu Dinda yang lain.” Vina menopang dagunya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mencomot bakso tahu milik Bagas yang memang duduk di sampingnya. Begitu seriusnya ia ingin mendengarkan cerita Bagas sehingga ia lupa dengan baksonya sendiri yang ada di mejanya.
Bagas yang tahu kalau baksonya dicuri menepuk punggung tangan Vina dengan mata melotot. “Jangan curi makanan punya orang, Na. Nggak baik,” tegurnya dengan nada omelan yang sama seperti ibunya saat sedang menasehatinya yang suka mencuri makanan adik perempuannya yang masih berada di Sekolah Dasar. Karena kesibukan kedua orang tuanya membuatnya baru mempunyai seorang adik saat memasuki Sekolah Menengah Pertama.
Vina menampilkan wajah cemberutnya yang khas saat merajuk dan bersikap manja secara bersamaan. “Dasar pelit, minta satu aja nggak boleh.” Ia berdecih kesal sambil berbalik pada Angga di sampingnya dan mencomot kerupuk nasi goreng milik pemuda itu yang masih ada banyak, karena memang pemuda manis itu memiliki kebiasaan yang tidak bisa memakan nasi goreng bersamaan dengan kerupuk goreng yang membuatnya selalu menyisakannya untuk dinikmati di akhir, namun akhirnya hanya akan ia buang karena sudah kekenyangan duluan. Jadi melihat Vina mengambil kerupuknya ia tidak keberatan dan malah mendekatkan piringnya pada gadis cantik itu.
Bagas melirik mangkuk bakso milik Vina yang menganggur di meja sebelah. “Ini bukan masalah pelit, Na. Tapi bakso kamu masih utuh tidak tersentuh.” Ia tidak habis pikir dengan sikap gadis cantik itu yang jelas-jelas punya makanan sendiri tapi malah meminta makanan orang lain seperti tidak mampu untuk kebutuhan perutnya sendiri.
Vina melirik mangkuk baksonya yang mulai mendingin. Ia tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi. “Tapi rumput tetangga lebih hijau, Gas.” Ia kembali mencomot kerupuk milik Angga yang memang hanya tersisa satu itu. “Lagipula kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Iya, nih, masa kita dibiarkan menggantung begini, sih?” Adit bersungut dengan wajah kesal. Mie ayamnya sudah habis tak bersisa dan ia sudah menunggu kelanjutan cerita dari Bagas yang tak kunjung datang, namun pemuda itu malah sibuk beradu argument bersama Vina yang entah kapan akan berakhir.
“Sudahlah, kenapa kalian kepo begitu, sih? Lagipula Bagas juga palingan salah orang.” Angga yang tidak mau jika pembahasan tentang pacarnya kembali dibahas berusaha membuat semua sahabatnya berhenti mengorek informasi lebih dalam, lagipula ia yakin bahwa orang yang ditemui Bagas itu bukanlah pacarnya melainkan orang lain. Karena jarak antara rumah Dinda dan rumah Bagas cukup jauh, ditambah lagi ia yakin Dinda tidak pernah keluar rumah kemarin karena mereka asyik teleponan sejak pulang dari sekolah sampai beberapa jam kemudian.
“Aku nggak mungkin salah orang.” Bagas meletakkan sendoknya di dalam mangkuk baksonya yang sudah tersisa kuahnya saja. “Temannya jelas-jelas panggil namanya dan namanya itu Dinda.” Tatapan matanya menampakkan kesungguhan saat menyelesaikan kalimatnya demi membuat para sahabatnya itu yakin dan percaya dengan pernyataannya.
“Sudah dipastikan kalau itu bukan Dindanya Angga.” Danu menyilangkan kedua tangannya di d**a dengan wajah ragu menatap pada Bagas. Ia sudah tahu bagaimana sikap sahabatnya yang satu itu selalu melebih-lebihkan sesuatu yang belum tentu ia ketahui kebenarannya dan tentu saja selalu berujung pada rumor tak berdasar yang membuat mereka kecewa.
“Jangan dipercaya, guys. Dinda kemarin nggak keluar rumah, kok. Jadi yang dilihat Bagas itu Dinda yang lain.” Angga berusaha meluruskan karena ia merasa jengah juga melihat para sahabatnya beradu argument sementara ia tahu kebenarannya. Ia berdiri dari duduknya karena kebetulan ia juga sudah menyelesaikan makanannya. “Sudah lah, aku kembali ke kelas dulu,” ujarnya berjalan keluar dari kantin sendirian dengan tatapan para sahabatnya yang mengiringi langkahnya.
Vina menatap Bagas dengan tatapan menuduh. “Kamu, sih. Angga jadi ngambek ‘kan,” ujarnya dengan niat untuk membuat pemuda itu merasa bersalah, namun malah wajah bingung yang ia dapatkan sehingga membuatnya kecewa karena niatnya buruknya tidak berjalan dengan mulus.
Bagas menunjukkan wajah tidak bersalahnya. “Lah, tadi itu dia lagi ngambek? Kupikir cuma lagi kebelet aja.”
*****
Vina keluar dari toilet sambil mengeringkan kedua tangannya di rok abu-abunya yang membuat roknya itu basah seketika. Padahal di dalam toilet sekolah sudah tersedia tisu yang jelas-jelas untuk para siswa gunakan mengeringkan tangan mereka setelah menggunakan toilet dan mencuci tangan. Namun ia begitu malah untuk melakukan pekerjaan yang menyusahkan baginya itu dan lebih memilih langkah singkat dengan mengeringkannya di roknya yang ia tidak peduli akan dimarahi oleh ibunya jika melihat rok sekolahnya yang kotor akibat tangan jailnya.
Saat sedang melewati sebuah kelas yang memang kosong karena sudah tidak digunakan lagi di samping gudang yang memang selalu dilewati jika ingin mengakses toilet, matanya tak sengaja melirik masuk ke dalam melalui jendela kelas yang dengan mudah ia lakukan karena tinggi badannya yang memang di atas rata-rata siswi pada umumnya. Ia tak sengaja menangkap sosok pemuda yang sedang tidur di atas kursi yang ia susun sejajar demi bisa menampung tubuh panjangnya.
Merasa jam istirahat masih lama berakhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke dalam kelas yang berdebu karena tidak digunakan itu. Bahkan pintunya saja berderit saat ia mendorongnya untuk terbuka. Ia meringis pelan menyadari suara pintu yang keras dan bisa membangunkan Keenan yang sedang tertidur pulas di depannya. Ia tentu tidak ingin mengganggu tidur pemuda itu dan mambangunkannya, karena ia yakin Keenan memilih kelas kosong yang memang jarang dikunjungi oleh siapa pun itu agar tidak ada yang mengganggunya, meskipun saat ini dirinyalah pengganggu yang dihindari oleh Keenan.
Setelah berhasil menutup kembali pintu berkarat itu dengan aman dan tidak adanya tanda-tanda bahwa Keenan akan bangun karenanya. Ia mengelus dadanya dengan perasaan lega sambil berjalan berjinjit mendekati kursi yang ditempati Keenan untuk tidur. Ia mengangkat meja yang menghalangi di depan pemuda itu kemudian berjongkok di hadapannya, menikmati wajah tampak Keenan yang damai saat tidur seperti itu. Ia tersenyum sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya menatap wajah Keenan yang mulai terusik di dalam tidurnya.
Keenan yang merasakan adanya tatapan tajam di depan wajahnya membuka matanya perlahan dan terkejut dengan kehadiran Vina di sana yang tidak ia sangka akan menemukannya di sana. Padahal ia sengaja memilih untuk menghindari atap sekolah hari ini karena ingin sendiri dan memilih kelas kosong tak terpakai, namun gadis itu tetap bisa menemukannya yang membuatnya ragu kalau saja gadis itu sudah menamkan mesin pelacak di tubuhnya sehingga bisa menemukannya di mana pun.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Keenan sambil bangun dari posisi tidurnya dan duduk sambil memegang kepalanya yang terasa pusing karena bangun dengan tiba-tiba. Tidurnya tadi begitu nyenyak sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan gadis itu di sana.
Vina tersenyum, setidaknya ia tidak menerima pertanyaan dengan nada ketus dari pemuda itu. Ia berdiri dari jongkoknya yang membuat kakinya kesemutan dan pegal kemudian duduk di samping kanan Keenan yang masih memegangi kepalanya. “Aku baru pulang dari toilet dan nggak sengaja lihat kamu di sini.” Matanya mengamati raut wajah Keenan yang lumayan lebih cerah dibandingkan kemarin yang masih terlihat pucat. “Kamu masih nggak enak badan?” tanyanya dengan wajah khawatir.
Keenan menggeleng. “Sudah lebih mendingan dari kemarin.” Jika dibandingkan dengan kemarin, keadaannya memang sudah lebih baik hari ini dan tentunya terasa lebih ringan untuk bergerak, lagipula ia juga sudah meminum obat yang dibelinya di apotek dekat rumahnya kemarin. Namun kedua tangannya yang masih memijat pelipisnya dengan pelan cukup menunjukkan bahwa ia masih belum baik-baik saja di mata Vina.
“Terus kenapa dengan kepalamu?” Vina tidak menyerah untuk bertanya karena melihat Keenan yang masih belum berhenti memegangi kepalanya, ia benar- benar khawatir dengan pemuda itu terlebih lagi saat ia tidak menemukannya di kantin tadi untuk mengisi perut. Padahal biasanya pemuda itu tidak pernah absen untuk menuntaskan rasa laparnya di kantin setiap ke sekolah.
Keenan menyadari gerakan tubuhnya yang ternyata menimbulkan kekhawatiran bagi gadis cantik di sampingnya. “Oh ini.” Ia melepaskan tangannya yang sejak tadi menempel di pelipisnya tanpa ia sadari. “Aku cuma merasa sedikit pusing karena bangun tiba-tiba tadi. Bukan apa-apa, kok,” jelasnya tidak ingin membuat gadis di sampingnya khawatir, entah kenapa ia tiba-tiba perduli dengan gadis itu yang biasanya selalu ia anggap pengganggu.
Vina masih terus memperhatikan wajah Keenan yang kini menatap lurus ke depan seolah-olah ada yang menarik untuk ia lihat di sana, padahal hanya ada papan tulis yang kotor dan berdebu akibat sudah tidak pernah dipakai lagi dan kini malah beralih menjadi gudang cadangan. “Kamu sudah makan? Tadi aku tidak melihatmu di kantin sama sekali.”
Keenan menoleh pada gadis di sampingnya yang memberikan perhatian tulus untuknya, perhatian yang jelas-jelas tidak pernah ia harapkan didapatkannya di sekolah ini mengingat prestasinya yang buruk. Bahkan teman sekelasnya saja tidak ada yang mau berbicara dengannya, hanya ketua kelas saja yang biasa mengajaknya bicara itu pun karena kebutuhan sekolah, seperti misalnya meminta buku tugasnya atau mengabarkan bahwa salah satu guru memanggilnya untuk ke ruangan mereka. “Belum,” jawabnya setelah jeda cukup lama.
Vina yang mendengar jawaban tidak terduga pemuda itu tidak bisa diam saja. “Kenapa belum? Aku pesankan makanan sekarang.” Ia sudah berdiri dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari sana saat Keenan menangkap tangannya, berusaha menahannya agar tetap di sana dan tidak pergi kemana-mana.
“Nggak usah, aku memang sengaja nggak ke kantin hari ini karena bawa bekal dari rumah. Mamahku memang sengaja membuatnya untukku agar tidak jajan sembarangan karena masih belum sembuh dari demam batuk.”
“Terus mana bekalnya?” Vina mendudukkan kembali tubuhnya di samping Keenan, bekas tangan pemuda itu di pergelangan tangannya tadi menyisakan desiran aneh di tubuhnya dan ia berusaha menyembunyikannya dengan bertanya kembali pada pemuda itu yang sebenarnya juga cukup membuatnya penasaran.
Keenan tersenyum, entah kenapa selama dua hari ini ia jadi bisa tersenyum dengan leluasa di hadapan gadis yang sempat ia benci sepenuh hati itu. Mungkin karena hanya Vina satu-satunya yang bisa memberikan perhatian dengan tulus padanya di sekolah selain ibunya di rumah, makanya ia bisa membuka hati untuk gadis cantik itu yang setelah ia kenali tidak lah seburuk yang ia pikirkan. “Di kelas, aku akan memakannya setelah kembali nanti.”
*****