Razzor menatap kedua bola mata Luna dan menyapu setiap sisi wajah wanita itu dengan pandangannya. Kedua netranya seperti enggan untuk berkedip. Ia seperti melihat masa lalu tapi juga melihat masa sekarang secara bersamaan. Perlahan, Razzor menegakkan tubuh Luna. "Dari mana asalmu?!" "Desa Bunut, Tuan," jawab Luna menurunkan kembali penutup wajahnya. Ia berharap monster di depannya itu mulai mendekati umpannya. Luna berpura-pura merapikan hijab di kepalanya, merasakan belati kecilnya masih bertengger kuat. Jiwanya sudah siap. "Bagaimana bisa ada luka cakar di wajahmu?" selidik Razzor dengan suara berat. Luna cukup terkejut. Rupanya Razzor mampu membedakan luka cakaran dan luka belati. Padahal ia sempat melihat di cermin, luka itu menganga lebar. Kuku-kuku Stella benar-benar sangat t

