Siang harinya Diana memutuskan untuk mendatangi Hilda. Ada yang ingin ia tanyakan pada kakak Rama. Sayangnya sudah cukup lama ia menunggu, batang hidungnya tak kunjung terlihat. Perempuan itu masih mondar-mandir menunggu di depan kamarnya sejak tadi. “Lagi ngapain teh kok mondar-mandir aja?” tanya Irma yang kebetulan lewat di depannya. “Eh Irma, kamu lihat Teh Hilda enggak?” “Oh Teh Hildanya udah pergi dari tadi teh,” jawab Irma sopan. “Pergi ke mana ya Irma?” “Biasanya kalau jam segini teh Hilda itu pergi ke restoran papanya, beliau disuruh ngurusin salah satu restoran papanya yang di Bandung,” jelasnya. “Oh gitu ya.” Diana mengangguk-angguk sambil menggaruk tengkuknya. “Ya udah teh kalau nggak ada yang diperluin lagi saya permisi ya,” ucap Irma, pamit. “Eh tunggu Irma.” Diana me

