Emosi

1488 Words
Saat ini pukul 7 pagi dan Diana baru terbangun dari tidurnya. Setidaknya ia tidak bangun pukul 9 seperti tempo hari. Dengan terhuyung-huyung ia berjalan ke kamar mandi lalu memutar keran di wastafel dan membasuh wajahnya. Bukan wajah yang jelek, pikirnya. Wajah cantik dalam kondisi jelek. Mungkin ia tak secantik Manda yang selalu tampil menarik dengan apa pun yang ia kenakan. Tapi kecantikannya mungkin terbantu oleh perawatan seharga jutaan rupiah. Tak seperti perempuan Jakarta pada umumnya, Diana tidak terlalu sering pergi ke klinik kecantikan. Hanya sesekali, itu pun jika mood-nya datang. Selesai mandi Diana iseng mengintip melalui tirai kamarnya, melihat apakah Rama sudah berangkat atau belum. Dengan dalih untuk membuka tirai kamarnya karena sudah siang. Tapi mobilnya ternyata sudah tidak ada, mungkin ia sudah berangkat pagi sekali. Sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, ia bergegas menyelesaikan rutinitas paginya. Masih ada waktu sebelum ia berangkat ke kafe. Sebelum berangkat ia teringat tentang cheesecake semalam. Ada sedikit rasa penasaran dengan apa yang dikatakan Rama tentang ia hanya berpura-pura ingin mengajaknya makan cheesecake. Untuk apa dua berpura-pura? Kemudian ia membuka kulkas untuk mengeluarkan sisa cheesecake pemberian tetangganya itu. “Bawa ke kafe aja kali ya. Mungkin anak-anak mau,” batinnya. Dengan langkah siap menghadapi hari, Diana membawa cheesecake itu bersamanya menuju kafe. Sesampainya di kafe seperti biasa ia langsung menuju spot favoritnya. “Pagi Kak Dian,” sapa Aldo seperti biasa. “Pagi Do,” sahut Diana. “Bawa apa tuh kak?” Aldo menengok penasaran dengan box yang dibawa bosnya. “Nih ada cheesecake dikasih sama Mas Rama semalem,” jawab Diana, menyodorkan box cheesecake pada Aldo. “Wah gerak cepat ya Mas Rama.” “Cepat-cepat emangnya mau kemana?” “Ke hatimu kak,” ledek Aldo sambil tertawa puas. “Tuh kan mulai deh ngeledek.” Diana sewot. “Ampun kak. Hehe.” “Wih apa tuh kak,” ujar Ane yang tiba-tiba muncul sambil membawa tongkat pel. “Sama makanan aja cepet lu,” seru Aldo. “Apa Aldo sewot aja.” “Makan aja tuh cheesecake-nya,” ujar Diana sebelum mereka berdebat tidak ada habisnya. Dengan sigap Aldo memotong cake yang ada di tangannya menjadi 2 potong menggunakan pisau plastik yang sudah tersedia di dalam box itu lalu memberikannya satu pada Ane. Mereka pun kemudian melahap potongan cake itu. “Enak banget kak. Beli di mana ini?” ucap Ane kagum dengan kelezatan cake yang ia makan barusan. “Iya enak banget, lebih enak dari punya kita loh. Soft banget, terus enggak bikin enek,” timpal Aldo dengan mulut penuh. “Nanti deh gue tanyain belinya di mana.” “Kak Dian enggak mau?” tanya Aldo, melihat bosnya hanya memandangi mereka memakan cheesecake itu. “Buat kalian aja,” jawabnya kemudian meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk. “Tumben kak, bukannya cheesecake itu kesukaan kakak,” tanya Ane heran melihat bosnya tak seperti biasanya tidak antusias dengan sebuah cheesecake. “Lagi enggak mau aja,” jawab Diana singkat. “Lagi diet kak?” tebak Aldo asal. Meski ia tahu bosnya itu tak pernah mempermasalahkan berat badan karena memang ia tipe perempuan yang susah gemuk. “Emang lagi enggak mau.” Aldo dan Ane saling tatap, bingung melihat sikap bosnya yang sedikit berbeda. Tiba-tiba notifikasi ponsel Diana berbunyi. Segera ia mengeluarkannya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. “Didi, siang ini jadi ya aku jemput.” Diana berdecak kesal. Rupanya Rama masih tak menyerah untuk mengajaknya makan siang. Harus bagai mana lagi ia menolaknya. Kemudian Ia segera memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas tanpa membalasnya, berusaha tak memedulikan perihal Rama lagi. “Maya mana? Sakit lagi perutnya?” tanyanya, mengalihkan perhatiannya. “Lagi ngitungin stok kak,” jawab Ane. “Ya udah sana bawa cakenya, jangan makan di sini,” pinta Diana. “Ok siap kak,” ujar Aldo. “Jangan lupa Maya dibagi.” “Hehehe, kalau enggak khilaf kak,” timpal Ane. “Ye celamitan lu,” sembur Aldo. “Apaan sih?” “Udah sana dibawa cake-nya.” “Iya kak iya,” ujar Ane cekikikan lalu kembali ke tempatnya sambil membawa box itu bersama Aldo. Tak lama setelah semuanya siap, kafe pun segera dibuka. Diana duduk di tempat favoritnya seperti biasa. Para karyawan kesayangannya juga sudah berdiri di spot masing-masing menanti pelanggan yang datang. “Hai Diana,” sebuah suara yang tak asing menyapa. Si cantik datang. Diana yang tengah sibuk menikmati sarapan soto ayam di mejanya terpaksa harus menghentikan aktivitasnya. Perempuan itu memang tak sarapan sebelum berangkat, jadi ia meminta Aldo untuk membelikannya soto ayam di warung soto yang tak jauh dari kafenya. “Hai Manda,” jawabnya, tersenyum. “Pagi Di,” sapa Rama menyusul Manda. “Pagi mas,” jawab Diana, berusaha tak terlihat sebal dengan lelaki itu. “Makasih loh udah nolongin Rama kemarin,” ucap Manda kemudian duduk di hadapan Diana yang kemudian disusul Rama duduk di sebelahnya. Ada rasa tak enak sebenarnya berada di antara mereka berdua. Entah perasaan apa itu yang pasti Diana merasa kurang nyaman duduk di hadapan mereka. Ia menegakkan duduknya lalu sedikit bersandar agar tak terlalu dekat dengan mereka. “Enggak masalah kok, udah kewajibanku sebagai tetangganya buat nolongin kan,” jawabnya. “Jangan gelut lagi ah beb. Untung Cuma idung aja yang lecet, sayang tau itu aset. Kamu kalau enggak ada idung enggak genteng,” omel Manda pada Rama dengan nada khasnya yang lembut. Mengomel pun tetap lembut dan cantik. Itulah Manda. “Jadi aku ganteng?” goda Rama. “Enggak kalau sekarang sih, idungnya lagi ringsek begitu,” jawab Manda. “Eh kalian ke sini mau meeting lagi?” Tanya Diana berusaha memotong pembicaraan yang tampak tak menyenangkan itu. “Iya Di. Tadi uda reservasi ke karyawan kamu lewat telepon,” jawab Rama. “Iya silakan, udah disiapin ruangannya,” jawab Diana, mempersilakan kedua tamunya itu memasuki ruang VIP yang berada di dekat meja Diana duduk. “Kak Manda dan Mas Rama ya?Mari kak silakan masuk,” ujar Maya yang akhirnya datang menyambut mereka. “Duluan ya Diana.” Manda bangkit dan berjalan menuju VIP room. “Masuk dulu Di,” ucap Rama, menyusul Manda. “Silakan,” jawab Diana singkat. Hari ini Diana lupa membawa novelnya sehingga mau tak mau dia harus menghabiskan waktu di mejanya dengan ponselnya. Sayangnya bermain dengan ponselnya tak dapat membunuh rasa bosannya. Soto yang dibelikan Aldo pun sudah habis. Tak mungkin ia makan lagi. Perutnya suda penuh. Sesekali ia melihat ke arah VIP room dari mejanya. Ruangan itu memiliki jendela lebar sehingga siapa saja bebas melihat ke dalam begitu pun sebaliknya. Tampak Manda sedang menerangkan sesuatu pada kliennya dan Rama terkadang membantunya. Mereka terlihat seperti partner kerja yang serasi. Cantik dan tampan. Kali ini pandangan Diana hanya tertuju pada Rama. Lelaki itu sangat fokus dengan para kliennya. Tak sekali pun ia menoleh padanya. Melihat posisi duduk Rama yang memang menghadap ke jendela. Tentu akan sangat mudah untuk teralihkan pada Manda. Bahkan melirik sekali pun tidak. Sangat profesional. Meeting tidak berlangsung lama. Kurang dari satu jam mereka telah keluar dari VIP room. Para klien mereka pun sudah lebih dulu pulang. “Diana aku duluan ya ada urusan di kantor,” ucap Manda saat keluar dari VIP room. “Iya Manda, thanks ya,” jawab Diana. “Aku nyusul ya Manda.” “Iya beb, jangan lama-lama.” Perempuan itu pun pergi meninggalkan kafe. “Hai,” sapa Rama, duduk di hadapan Diana. “Iya mas ada apa?” Diana tampak to the point. “Jutek banget sih?” godanya. “Enggak jutek, ini loh biasa aja,” ujar Diana masih berusaha tersenyum meski ia sangat tak ingin. “Nanti siang jadi ya?” “Enggak mau,” tolaknya singkat. “Kenapa Di? Aku ada salah apa?” Dahinya berkerut mendengar jawaban Diana masih tak berubah. “Enggak ada salah kok.” “Kalau gitu mau kan makan siang bareng aku?” Rama masih bersikeras. “Mas kalau aku udah bilang enggak mau sekali, jangan ngajak terus dong.” Kali ini Diana sedikit meninggikan suaranya, membuat beberapa pelanggan yang berada di sekitarnya menoleh. Rama terdiam melihat reaksi Diana yang begitu tak terduga. “Kita tuh enggak sedekat itu loh mas,” lanjut Diana, menegaskan. “Tapi Di...” “Jadi jangan maksa aku.” Suara Diana terdengar lebih tinggi dari sebelumnya. Para karyawannya bahkan ikut menoleh padahal kafe sedang ramai namun suara Diana tetap yang paling santer. “Aku enggak maksa Di,” ujar Rama kecut. Suaranya terdengar parau. “Harusnya kamu paham kalau aku Cuma read chatmu bahkan sampe reject telepon dari kamu artinya aku enggak bersedia diajak.” “Ok, aku ngerti Di. Maafin aku ya, aku yang belum paham tentang kamu malah bikin kamu bete.” Diana menghela nafas, mengatur emosinya agar tak meledak-ledak. Setidaknya lelaki itu paham atas kesalahannya dan meminta maaf. “Ya udah mas kalau enggak ada kepentingan mending balik aja ke kantor, aku mau bantuin anak-anak. Bentar lagi jam rame kafe.” “Ok, aku pamit ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD