Cheesecake

1261 Words
Setelah kejadian pemukulan yang terjadi di rumah Bu Rike, semua kembali pada aktivitas di rumahnya masing-masing. Tak ada komunikasi yang terjadi setelah itu. Diana pun pergi ke kafe seperti biasa. Pelaku pemukulan itu pun sudah dibiarkan pulang. Bu Rike memilih untuk memaafkan mantannya dan tak melanjutkannya ke ranah hukum. Tentu saja keamanan kompleks jadi lebih diperketat semenjak kejadian itu. Saat ini pukul 9 malam, dan Diana sudah kembali ke rumahnya setelah selesai dengan urusannya di kafe. Setelah mandi air hangat ia berencana untuk kembali ke tempat tidur kesayangannya dan melanjutkan bacaan novelnya yang sempat tertunda sebelum tidur. Secangkir earl grey milk tea hangat tak lupa ia siapkan untuk menemani me time-nya kali ini. Tiba-tiba perempuan itu teringat bahwa Manda berencana akan datang menjenguk Rama malam ini. Apakah ia sudah datang atau belum. Tapi ia buru-buru mengalihkan pikirannya dan segera lompat ke kasur empuknya lalu mulai membaca novelnya. Tak selang berapa lama terdengar suara mobil berhenti. Spontan Diana bangkit dan mengintip dari balik tirai jendelanya. Ternyata sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di rumah Rama. Tampak Manda keluar dari mobil itu menggunakan dress cantik berwarna hitam sangat elegan lengkap dengan riasannya. Sepertinya mereka memang seharusnya berkencan malam ini. Diana berfikir bahwa Manda telah mengganti lokasi kencan mereka menjadi dinner di rumah Rama. Seolah tak ada jarak di antara mereka, Manda langsung masuk ke dalam membawa sebuah bungkusan berwarna kuning muda. Tak ingin terlalu memikirkannya, Diana memutuskan untuk kembali pada novelnya lagi. Sayangnya mood-nya untuk membaca sudah hilang. Ia memutuskan untuk tidur saja dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Belum sempat ia terlelap tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sambil terpejam Diana meraih ponselnya dari meja nakas. Matanya seketika terbuka lebar setelah membaca pesan yang baru saja masuk. "Di, ini Rama. Di save ya. Aku dapat nomormu dari Bu Rike. Besok makan siang aku jemput ya. Aku mau traktir kamu sebagai ucapan terima kasih udah nganterin aku ke klinik tadi pagi." Bukannya senang karena ia akan mendapat traktiran, Diana justru bingung kenapa Rama malah sibuk mengiriminya chat? Sedangkan lelaki itu sedang berkencan degan Manda saat ini. Ternyata Rama tak sebaik yang ia kira. Buru-buru ia membalas chat dari Rama. "Makasih mas, tapi enggak usah aja." Tak selang beberapa detik, tiba-tiba Rama meneleponnya. Tanpa pikir panjang Diana segera me-reject panggilan itu. "Kok di-reject Di? Aku ganggu kamu ya?" Segera ia sisipkan ponselnya di bawah bantal agar tak ada lagi notifikasi yang mengganggunya. Meski sedikit bete, Diana mencoba untuk memejamkan matanya kembali. TING TONG! Mata Diana langsung terbuka lagi mendengar suara bel rumahnya berbunyi. “Siapa sih yang bertamu malem-malem gini?” gerutunya namun tetap bangkit dari tidur dan beranjak berjalan ke bawah untuk membuka pintu. Dengan enggan ia membuka pintu rumahnya dan alangkah terkejutnya ia mendapati Rama sedang tersenyum di hadapannya. “Loh mas, kok di sini?” tanya Diana ketus. “Harusnya di mana emangnya?” Rama balik bertanya. “Bukannya lagi sama Manda ya?” “Udah pulang dia.” Lelaki itu maju selangkah hingga berdiri tepat membelakangi pintu rumah Diana, membuat perempuan itu ikut melangkah mundur. “Kok cepet?” kening Diana berkerut heran. “Emang harusnya lama?” tanya Rama tak kalah herannya. Diana bersedekap “Enggak sih, terus ada apa mas malem-malem ke sini?” “Jangan jutek gitu Di, ini loh aku bawain cheesecake,” ujar Rama, menyodorkan sebuah box yang berbungkus sama seperti yang dibawa Manda tadi. “Loh itu bukannya yang dibawa sama Manda tadi?” “Kok tau Di? Kamu ngintip ya tadi?” ledek Rama sambil memamerkan senyuman manisnya. Namun kali ini Diana sedang tak ingin terpesona olehnya. “Ih enggak, Cuma tadi kepo aja. Kirain ada tamu buat aku, ternyata si Manda yang datang.” “Yang bener ah?” Rama masih tak menyerah meledek tetangganya itu. “Pulang aja sana mas, udah malem. Aku mau tidur,” pinta Diana serius. “Makan cheesecake dulu yuk. Nih enak loh.” Rama masih tak menyerah. “Udah malem mas, aku udah enggak makan kalau jam segini,” terang Diana meski sebenarnya ia sangat menyukai cheesecake namun kali ini ia harus menolak permintaan Rama. Lelaki itu ngeloyor begitu saja, masuk ke dapur untuk mengambil piring. Kemudian memotong cheesecake yang ia bawa lalu menatanya di atas piring kecil di meja makan. “Loh mas kok main masuk aja,” protes Diana sambil mengikuti lelaki itu ke dalam Rumah. “Sini duduk temenin aku makan.” Rama seolah tak peduli dengan ucapan Diana. “Mas aku kan udah bilang, aku enggak makan kalau udah jam segini.” “Sepotong kue enggak akan bikin kamu gemuk loh Di. Sini makan.” “Enggak mau mas.” “Cicipin dulu deh.” Rama menyodorkan sesendok cheesecake yang baru saja ia potong untuk Diana. “Enggak mau.” “Aku suapi ya.” “Enggak.” Sekeras apa pun Diana menolak, Rama tetap tak peduli. Tangannya dengan cepat menyuapi perempuan keras kepala itu meski hanya sedikit yang masuk. “Gimana? Enak kan?” tanya Rama. Meski kesal karena Rama menyuapinya dengan paksaan, Diana mau tak mau harus menelan apa yang sudah masuk di mulutnya. Ia menjilati sisa-sisa krim yang ada di bibirnya. Cake ini lebih lembut dari yang ia jual di kafe. Rasanya sangat premium. Perempuan itu hampir saja bertanya di mana Manda membelinya, namun ia tak ingin tetangga resek yang ada di hadapannya semakin meledeknya. “Gara-gara kamu aku jadi harus sikat gigi lagi kan mas,” gerutunya. “Sikat gigi itu enggak lama kan.” Diana terpaksa diam tak membalas ucapan Rama kali ini. Hari sudah malam dan ia tak ingin menghabiskan energinya untuk berdebat dengan Rama. “Ya udah buruan dimakan biar aku bisa cepet tidur mas.” “Siap bos.” Rama kembali memakan cake yang ada di hadapannya dengan perlahan. “Gimana hidungnya? Masih sakit mas?” tanya Diana, berusaha mengalihkan perhatiannya dari cheesecake itu meskipun dia ingin sekali memakannya. “Masih sedikit sakit, tapi udah agak mendingan.” “Kata dokter harus kontrol lagi?” “Aku lupa,” ucap Rama, terkekeh. “Hal penting kaya gitu kok dilupain mas?” protes Diana sambil mengambilkan Rama segelas air dari dispenser. “Kemarin aku cuma fokus ngeliatin kamu Di.” Sontak Diana jadi terdiam setelah mendengar ucapan Rama barusan. “Ngapain ngeliatin aku?” tanyanya kemudian. “Habis kamu perhatian banget sama aku, sama Bu Rike juga,” jelas Rama. Diana berusaha tak tersenyum meski sebenarnya ia merasa senang telah dipuji oleh Rama. Entah mengapa pujian itu terasa menyenangkan didengar dari mulutnya. “Padahal kayaknya kamu tuh orangnya cuek tapi ternyat peduli dengan sesama ya,” sambung Rama. Ia mengambil gelas air putih yang disajikan oleh Diana lalu meneguknya hingga habis. “Masa tetangga lagi luka aku diemin aja mas.” “Bener juga. Tapi kok perhatian kamu beda ya Di.” “Beda gimana mas?” “Pokoknya aku bisa lihat ketulusan dari kamu.” Diana segera memalingkan wajahnya sebelum Rama melihat wajahnya yang memerah. “Udah selesai kan makannya mas? Aku mau istirahat nih,” ujar Diana. “Iya aku udah selesai kok. Makasih ya udah ditemenin makan.” Diana mengangguk mengiyakan. “Ini cake nya kamu simpen aja di kulkas. Aku enggak terlalu doyan sama kue. Aku ke sini Cuma mau ketemu kamu aja kok, bukan mau makan.” “Hah?” “Maaf ya udah bikin piring kamu kotor.” Diana masih tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Untuk apa Rama repot-repot datang ke rumahnya sambil berpura-pura ingin minta ditemani makan cheesecake hanya untuk melihat dirinya sedangkan ia tak suka cake. “Aku pulang dulu ya Didi. Tidur yang nyenyak. Assalamualaikum.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD