Di Klinik

2217 Words
Rama dan Diana tergopoh-gopoh berlari menuju sumber suara yang berteriak meminta tolong dari dalam rumah Bu Rike. Awalnya mereka ragu untuk memasuki rumah itu. Namun suara gaduh dari dalam terdengar sangat mengkhawatirkan. Hingga tak selang beberapa detik seorang pria berusia sekitar 40 tahunan berbadan gempal sedang menyeret Bu Rike hingga ke teras. Diana terkesiap melihat pemandangan mengerikan itu. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebam dan ada darah mengalir di ujung bibirnya. “Astaga Bu Rike!” Spontan Diana menghampiri Bu Rike dan berniat membantunya. Sayangnya pria besar itu justru mendorong Diana hingga jatuh terduduk. “Aduh!” Tak tinggal diam melihat dua tetangga perempuannya dibuat tak berdaya oleh pria itu, Rama mencengkeram kerahnya dan menariknya mundur. Namun sebuah bogem mentah justru mendarat tepat di hidungnya. Rama lalu balas menendangnya dengan kekuatan penuh hingga pria itu terpental cukup jauh, menabrak beberapa pot keramik milik Bu Rike hingga hancur berantakan. Diana bergegas mendekap Bu Rike dan membawanya ke sudut teras, menjauh dari perkelahian kedua pria itu. “Bu Rike enggak apa-apa?” tanya Diana khawatir sambil mengecek seluruh badan wanita itu. “Enggak mbak, ini udah biasa, bisa diobati kok,” ujar Bu Rike, seolah ia memang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun tak dapat dipungkiri, mata Bu Rike yang sembab membuat Diana ikut merasa sedih. Ia tahu hati tetangganya itu sedang ketakutan karena mendapatkan perlakuan tak menyenangkan pagi ini. “Mbak, bawa hape kan? Cepet telepon sekuriti,” pinta Bu Rike dengan suaranya yang bergetar. “Iya bu, sebentar saya teleponkan.” Diana bergegas menelefon sekuriti penjaga kompleks mereka. “Halo? Pak, cepet ke rumah Bu Rike sekarang! Ada yang berantem di sini!” Jerit Diana panik. “Siapa lo ikut campur urusan gue?” Teriak pria itu, bangkit lalu berjalan dengan penuh amarah menghampiri Rama. Rasa ngeri seketika menghampiri Diana, melihat pria besar itu membawa sebuah botol kaca yang ia pegang sejak tadi. Tampaknya ia berniat hendak memukul Rama menggunakan botol itu. “Saya tetangganya,” ujar Rama berusaha tenang namun tetap berdiri siaga dengan tangan siap menangkis segala serangan yang akan ia terima kalau-kalau pria itu tiba-tiba menyerangnya lagi. “Alah! Banyak omong lo!” Pria itu berjalan cepat sambil mengayunkan botol di tangannya sebelum akhirnya dua orang sekuriti datang menahannya. Diana akhirnya bisa bernafas lega mengetahui bahwa tidak akan ada kepala yang terluka karena hantaman botol kaca itu. Setidaknya cukup hidung Rama saja yang menjadi korban. “Siapa kalian?” tanya pria itu pada kedua sekuriti yang menjegalnya. Beruntung kedua sekuriti itu datang tepat pada waktunya. Pria itu terlihat sedang mabuk namun entah mengapa ia mampu menyeret Bu Rike bahkan menyerang Rama. Dengan terhuyung-huyung dia bersikeras melepaskan badannya namun tak berhasil. “Ayo ikut ke kantor!” Bentak salah satu sekuriti berambut cepak yang biasa dipanggil Pak Roni. “Ah enggak mau!” bantah pria itu. “Kok bisa kecolongan ada orang asing masuk pak?” tanya Rama. “Saya kira dia suaminya Bu Rike,” jawab sekuriti yang satunya. Sepertinya dia orang baru dan belum tahu siapa saja kerabat para penghuni kompleks yang sering bertamu. “Emang gue suaminya,” jawab pria itu dengan bersungut-sungut. “Mantan! Jangan mengada-ada kamu,” bantah Bu Rike tegas dibalik suaranya yang masih bergetar. Sontak saja membuat Diana terkejut, mengetahui bahwa orang ini adalah mantan suami Bu Rike. Entah kenapa hari ini banyak fakta mengejutkan yang ia dapatkan sejak pagi tadi. “Kalau begitu kami permisi dulu pak, bu,” ujar Pak Roni lalu menarik pria itu dengan paksa meninggalkan rumah Bu Rike. “Iya pak, jangan sampai kecolongan lagi ya,” pinta Rama. “Lepasin!” Pria itu berusaha melepaskan dirinya dari pegangan kedua sekuriti itu namun kalah kuat sehingga ia tak berdaya dan terpaksa berjalan mengikuti mereka. “Bu Rike ada yang luka?” tanya Rama segera sambil memperhatikan wajah lebam Bu Rike dengan khawatir. “Enggak kok ini cuma memar sama luka biasa, bisa diobati,” ujarnya mencoba menenangkan Rama yang terlihat khawatir. “Mbak Diana gimana, ada yang luka?” “Enggak mas, aku baik-baik aja,” ucap Diana. “Mas, kayaknya yang harus ke klinik itu kamu, hidungnya berdarah loh.” Bu Rike menunjuk hidung Rama yang bengkak dan mengeluarkan darah. “Iya mas ayo kuantar pakai mobilku.” Diana khawatir. “Duh iya ya, agak perih ini hidung,” keluh Rama sambil memegang hidungnya yang bengkak itu lalu mendongakkan kepalanya untuk menahan darah agar tidak keluar terlalu banyak. “Bu Rike ikut juga yuk, takut ada luka serius,” bujuk Diana tetap khawatir pada kesehatan tetangganya. “Ya udah kita sama-sama aja ke klinik mbak.” “Tunggu ya saya keluarin mobil dulu.” Diana pun bergegas mengeluarkan mobilnya lalu membawa Bu Rike dan Rama menuju klinik yang lokasinya tak jauh dari kompleks. “Bu Rike gimana ceritanya sih kok bisa sampai kayak gini?” tanya Diana sambil fokus pada jalanan namun masih penasaran dengan yang sebenarnya terjadi antara dua mantan suami istri itu. “Biasalah suami saya kan gagal move on jadi dia balik lagi ke saya,” terang Bu Rike sambil cekikikan di kursi tengah. Diana memutar kedua bola matanya, tak menyangka akan mendengar jawaban yang tidak serius dari Bu Rike. “Bu liat deh Diana sampe manyun loh dibecandain gitu sama Bu Rike,” ledek Rama sambil menahan tawanya. “Ye siapa juga yang manyun? Orang nanya serius juga, malah dijawab becanda.” Diana masih sewot. Ia bahkan tak peduli dengan ledekan Rama. “Itu bibir bisa dikucir kali Bu.” Rama masih belum puas meledek Diana. “Haha... Mbak Diana ini lucu ya kalau ngambek.” “Ya udah bu, kalau emang enggak mau cerita juga enggak apa-apa,” ujar Diana akhirnya mengalah. Ia paham mungkin Bu Rike memang tak ingin bercerita. Namun tiba-tiba Bu Rike terdiam beberapa detik lalu menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan nanar. Seolah ia sedang menatap masa lalunya kembali. Diana memperhatikan tingkah laku Bu Rike yang berubah drastis melalu kaca spion tengah. Wanita itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara. “Semenjak mantan saya bangkrut dia jadi temperamen kaya tadi. Saya selalu jadi samsaknya kalau lagi kumat. Menurutnya kesuksesan saya dalam bisnis butik saya itu telah melukai martabatnya sebagai kepala rumah tangga, jadi dia membenci fakta bahwa sayalah tulang punggung keluarga yang menggantikan dirinya. Dia mau saya juga bangkrut dan miskin kayak dia makanya setiap hari selalu nyiksa dan mintain uang saya.” “Bu Rike kok waktu itu bisa tahan diperlakukan tidak baik seperti itu?” Tanya Diana tak habis pikir. “Awalnya saya berusaha menerima perlakuannya mbak, karena saya menghormati beliau dan mencoba memahami lukanya. Tapi lama kelamaan saya enggak tahan juga dan akhirnya menggugat cerai beliau.” “Lalu anak-anak ikut siapa Bu?” timpal Rama. “Anak-anak saya sudah gede-gede kan mas. Jadi mereka bebas mau tinggal sama siapa. Tapi karena mereka juga udah pintar cari uang sendiri jadi mereka memilih tinggal sendiri-sendiri,” jawab Bu Rike mulai tenang. “Jadi mantan ibu tadi datang ke rumah mau apa bu?” Diana masih penasaran. “Biasalah minta uang. Apa lagi?” “Enggak tahu malu ya, udah pisah masih ngerepotin aja tuh orang tua,” seru Diana kesal mendengar penjelasan Bu Rike. “Kalau dia kalah judi suka minta uang ke saya. Biasanya saya kasih karena kasihan. Tapi tadi saya sengaja nolak, eh enggak taunya malah ngamuk kaya gitu.” “Bu, lain kali kalau dia datang lagi panggil sekuriti aja ya,” ucap Diana khawatir. “Biasanya juga Pak Roni tau kok kalau dia datang pasti enggak akan dibukain portalnya. Mungkin yang jaga sekuriti baru jadinya kecolongan deh,” ucap Bu Rike. Mendengar cerita dari Bu Rike membuat Diana semakin yakin untuk tidak menikah. Ia tak ingin mendapatkan suami yang temperamen seperti mantan tetangganya itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Setibanya di klinik Diana buru-buru mencari dokter jaga untuk meminta pertolongan. “Dokter tolong ini ada yang luka habis dipukul sama orang gila,” ujar Diana pada seorang dokter jaga yang bertugas di UGD. “Orang gila mbak? Mari mas sini tiduran dulu saya periksanya,” ucap dokter itu mempersilakan Rama berbaring di salah satu tempat tidur UGD. “Sama tolong ibu ini dicek juga ya dok soalnya orang gila yang tadi juga habis mukulin ibu ini.” “Ya ampun orang gilanya berbahaya sekali ya mbak. Mari bu sekalian baring di sebelah masnya biar dicek sekalian.” Rama menuruti saja ucapan dokter itu dan berbaring di tempat tidur. Ia tak bisa menahan senyumnya saat melihat Diana sangat serius meminta pertolongan pada dokter itu. Meski cuek ternyata ia memiliki sifat yang sangat peduli pada orang lain. Bahkan Bu Rike yang tampak jelas tak disukainya pun tetap ditolong olehnya. “Saya tunggu di luar saja ya dok.” “Silakan mbak.” “Didi,” panggil Rama sebelum Diana melangkah keluar. “Siapa Didi mas?” tanya Bu Rike bingung mendengar Rama menyebut nama yang asing di telinganya. “Itu Diana bu, saya kan sekarang manggilnya Didi.” “Wah nama kesayangan ya mas?” Goda Bu Rike pada Diana. “Kenapa mas manggil?” tanya Diana cuek. “Tolong telefon si Manda pakai hapeku ya, bilang aja aku enggak bisa ikut dinner nanti malam,” terangnya sambil menyerahkan ponselnya. “Dinner? Oke deh mas.” Perempuan itu pun keluar dan memutuskan untuk menunggu mereka berdua di ruang tunggu. Ia masih memegang ponsel hitam milik Rama. Sebuah ponsel keluaran terbaru. “Update juga cowok ini kalau masalah gadget,” ujar Diana sambil memandangi ponsel itu. Lalu ia memutuskan untuk menghubungi Manda. Hanya sekali usap layar ponselnya sudah terbuka. Ternyata Rama bukan tipe yang senang menggunakan kata sandi di ponselnya. “Menarik,” batin Diana. Segera ia mencari nama Manda di dalam kontaknya. Tanpa pikir panjang Diana kemudian menekan tombol panggilan. “Halo beb kenapa?” ujar suara di seberang telefon. “Ini Diana Manda.” “Loh Diana, kok hapenya Rama sama kamu.” “Oh gini Manda, hari ini ada kejadian di kompleks kami. Jadi katanya Rama enggak bisa dinner malam ini. Dia nyuruh saya yang nelefon kamu.” “Emang kejadian apa sih sampe Rama minta cancel dinner malam ini?” suara Manda terdengar kecewa namun khawatir. “Tadi salah satu tetangga kami ada yang dipukuli sama laki-laki enggak jelas datangnya dari mana, terus dilerai sama Rama. Malah dia yang kena tonjok. Makanya sekarang dia lagi diperiksa di UGD,” terang Diana. “Astaga! UGD mana Diana?” “UGD deket kompleks kok, kalau mau jenguk pas udah balik aja Manda. Kayaknya sih enggak akan lama di sini.” “Oke deh, tolong kabari Rama malam ini cancel aja dinner-nya enggak apa-apa, aku bakal datang ke rumahnya sebagai gantinya.” “Malam ini? Oke.” “Makasih ya Diana sebelumnya. Maaf sudah ngerepotin kamu.” “Sama-sama Manda, santai aja.” Mengetahui Manda akan datang menjenguk Rama malam, ada rasa penasaran terbesit di pikiran Diana. Dinner apa yang sebenarnya mereka maksud? Tapi ia buru-buru menepis pertanyaan tak masuk akal dari pikirannya. Ia bergegas kembali ke dalam untuk melihat keadaan kedua tetangganya itu. “Gimana dok?” tanya Diana saat memasuki UGD. Tampak hidung Rama sudah di perban dan ada beberapa bagian di wajah Bu Rike yang ditempel plester luka. “Sudah diobati mbak, paling bengkaknya hilang 4-5 hari lagi. Dibuat istirahat aja ya. Nanti resepnya silakan ditebus di apotek,” jelas dokter itu. “Kalau Bu Rike bagaimana dok?” “Sudah diobati juga. Luka memarnya bakal berangsur menghilang dalam 4-5 hari juga.” “Obatnya juga ditebus di apotek?” “Benar mbak.” “Ya udah, makasih banyak ya dok.” “Baik, saya permisi dulu.” “Mas Rama sama Bu Rike tunggu di sini biar saya urus administrasinya dulu sama nebus obatnya di depan.” “Saya temeni aja Di.” Tiba-tiba Rama bangkit, menawarkan dirinya. “Istirahat aja mas,” tolak Diana. “Yang luka kan hidung bukan kaki, jadi aku masih bisa jalan kok,” elaknya. “Udah sana kalian jalan-jalan aja berdua biar makin so sweet,” goda Bu Rike lagi. Diana tetap cuek dan tidak menanggapi candaan Bu Rike kali ini. “Bu Rike enggak apa-apa saya tinggal di sini?” tanya Rama, mencoba memastikan. “Santai aja mas, saya mau rebahan dulu sebentar, badan masih kerasa sakit semua.” “Yaudah bu, saya tinggal dulu sama Mas Rama,” ujar Diana. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kasir untuk menyelesaikan urusan administrasi Rama dan Bu Rike. “Ini mas hapenya,” ujar Diana, menyerahkan ponsel Rama. “Oh udah ditelefon Mandanya?” “Udah. Katanya nanti malam dia mau jenguk kamu di rumah.” “Duh.” Rama menepuk keningnya. “Kenapa mas?” Diana menghentikan langkahnya, penasaran. “Tadi dia panik enggak?” tanya Rama. “Lumayan panik sih kayaknya.” “Nah biasanya si Manda kalau panik suka heboh.” “Heboh bagaimana?” Diana makin penasaran. “Tau-tau datang suka bawa banyak oleh-oleh.” “Emang sering begitu? Kan enak tuh banyak makanan. ” “Iya enggak apa-apa juga sih, tapi enggak enak aja. Apa lagi kalau dia tahu aku habis luka-luka begini.” “Perhatian ya dia,” puji Diana sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. “Emang anaknya kelewat baik sih, makanya banyak yang suka sama dia.” “Termasuk kamu juga suka sama dia?” “Haha... cemburu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD