Keesokan paginya, Diana terbangun karena suhu kamarnya yang begitu dingin. Ia sampai meringkuk di bawah selimut, tak tahan. Tangannya meraba meja nakas, mencari remote AC yang tergeletak di sana dan menekan tombol off. Dengan terhuyung-huyung ia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya. “Sial!” gerutunya saat air dingin yang keluar dari keran. Dengan sisa kesadarannya ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Masih terlalu pagi baginya untuk bangun karena badannya masih terasa letih. Tapi tak ada alasan untuk tidur lagi. Ia sudah lebih dulu pamit untuk istirahat selepas makan malam yang tak menyenangkan itu. Setelah mengeringkan wajahnya yang basah dengan handuk ia memutuskan untuk keluar kamar. Sepi. Tak ada siapa pun yang terlihat di rumah besar itu. Ia bingung ha

