“Anak dalam kandunganku ini, anakmu, Mas. Aku tidak bohong! Aku belum mengenal pria itu, sebelumnya. Tidak masalah jika kamu tidak ingin membesarkan anak ini bersama-sama. Cukup aku saja yang besarkan dia. Tapi, biarkan dia mengenalmu bila nanti dia lahir. Biarkan dia tahu ayah kandungnya. Dia anak yang selama ini kita nantikan. Aku mohon jangan abaikan anak kita, Mas!” rengek Vena dengan air mata berderai. “Dengar Vena! Sekali tidak tetap tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah akui anak itu sebagai anakku! Sudah! Jangan pernah hubungi aku lagi untuk membahas masalah ini. Urusan kita tinggal menyelesaikan perceraian saja. Tidak ada yang lain! Setelah itu, selesailah hubungan kita,” tegas Raka, setelah itu menutup panggilan Vena. Untuk beberapa saat Vena berdiri lesu di tepi jalan

