bc

Takdir Istri Yang Dicampakkan

book_age18+
1.0K
FOLLOW
10.7K
READ
billionaire
confident
heir/heiress
bxg
like
intro-logo
Blurb

Vena justru diusir dari rumahnya setelah mengetahui sang suami selingkuh dengan wanita lain karena tiga tahun menikah belum juga punya anak. Dalam keadaan sedih dan putus asa dia meninggalkan rumahnya. Lalu Vena yang sebelum menikah dengan Raka adalah penyanyi dengan jutaan penggemar, memutuskan kembali membangun karirnya lagi. Vena ingin membalas dendam pada suami dan ibu mertuanya yang tidak pernah tahu dirinya dulu adalah seorang penyanyi terkenal. Dia ingin membuat dua orang itu menyesal karena telah mencampakkan dirinya. Vena kemudian bertemu dengan pria tampan kaya raya, seorang CEO stasiun TV Buana Persada, Adam Natapraja dan mencoba menarik perhatiannya. Namun itu tidak semudah yang dia bayangkan. Perjalanan karir dan cinta Vena tidak berjalan mulus. Banyak rintangan dan ujian yang menghalanginya sampai di puncak karir lagi. Bagaimanakah kisah Vena selanjutnya? Berhasilkah usahanya ingin membuat Raka dan ibu mertuanya menyesal karena telah mencampakkan dirinya?

chap-preview
Free preview
1. Malam Menyedihkan
Malam ini sangat gelap, segelap hidup Vena saat ini. Hujan juga turun dengan deras, sederas air mata yang mengalir dan tak kunjung berhenti dari kedua matanya. Pandangannya kabur terhalang air mata dan air hujan. Dengan menyeret koper kecil dan baju basah kuyup dia berjalan pelan di tepi jalan komplek sekitar rumahnya. Sudah lama dia memanggil taksi. Namun tidak ada yang datang. Sementara tadi dia terpaksa memilih segera angkat kaki dari rumah karena sudah tidak tahan mendengar ucapan kasar dan buruk oleh mertua yang telah mengusirnya. Vena tak menduga hidupnya akan seperti ini. Impian indahnya menjalani rumah tangga sederhana namun penuh cinta ternyata hanya tinggal impian saja ketika dia mengetahui Raka berselingkuh dengan teman masa kuliahnya dulu. Tadi dengan mata kepala sendiri dia melihat Raka tidur bersama dengan Cindy di rumahnya. Setelah mendapat informasi dari Yeti, Vena segera memanggil taksi dan menuju ke rumah wanita itu. Dan benar saja, di sana dia mendapati suaminya sedang memadu kasih di ranjang bersama Cindy. Tidak ada pembelaan atau rasa bersalah yang ditunjukkan Raka padanya. Suaminya tanpa merasa berdosa mengakui bahwa dia sudah lama menjalin hubungan dengan Cindy. Bahkan tanpa perasaan Raka mengatakan bila Cindy sewaktu-waktu hamil dia akan bertanggung jawab dengan menikahinya secara sah. “Tidak bisa, Mas. Aku tidak setuju. Kamu tidak boleh melakukan ini padaku. Kamu harus ingat, Mas, jodoh rezeki dan maut, Allah yang mengatur. Ini adalah ujian untuk rumah tangga kita. Sama saja dengan rezeki. Bila belum waktu Allah memberikan pada kita, sekeras apapun usaha yang kita lakukan, kita tidak akan mendapatkannya. Mungkin saat ini Allah belum berkenan memberikan kita anak karena kita belum sanggup merawatnya. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kalau kita bersabar dan terus berusaha, aku yakin suatu hari nanti kita akan diberi keturunan,” jelas Vena, tadi di rumah Cindy, tepatnya di kamar wanita itu. Kedua tangannya mengguncang-guncang tubuh Raka yang masih hanya mengenakan bawahan pendek saja dengan air mata bercucuran. “Halaaah... Tidak usah ceramah kamu.” Raka mengibaskan tangan Vena dengan kasar. “Dengarkan aku, Vena! Aku tidak butuh persetujuanmu. Aku juga tidak peduli penolakanmu. Kalau kamu tidak setuju, kamu bisa pergi dari kehidupanku sekarang juga!” ucap Raka sembari menuding keluar pintu. Hati Vena hancur berkeping-keping mendengar ucapan itu. Air matanya semakin deras membasahi pipi. “Aku tidak percaya kamu tega mengatakan ini, Mas, setelah semua yang aku lakukan padamu selama ini. Aku sudah mengabdikan hidupku untukmu sepenuhnya. Tapi ternyata inilah balasannya.” Raka tersenyum sinis menatap Vena. “Hampir setiap wanita di dunia ini telah melakukan apa yang kamu lakukan. Memang itulah kewajiban wanita pada suaminya. Pengabdian apa yang sedang kamu bicarakan, hah?” Raka membentaknya dengan suara keras dan mata membelalak lebar. Vena tak sanggup lagi untuk membalasnya. Dengan perasaan hancur dia meninggalkan tempat itu. Di dalam taksi, dalam perjalanan menuju rumah, Vena masih saja menangis. Ingatannya kembali pada tiga tahun lalu saat dia pertama kali bertemu dengan Raka Nugraha. Pemuda tampan, ramah penuh semangat nan sederhana yang memikat hatinya. Waktu itu Vena datang ke kota ini untuk berlibur saja. Dia ingin menghilangkan jejak sejenak dari dunia hiburan yang telah membesarkannya. Vena ingin menyendiri untuk mengurangi kelelahan setelah bekerja dan mengurangi kesedihan setelah papanya meninggal. Satu-satunya keluarga yang masih dia punya di dunia ini. Orang yang paling berjasa dalam mengembangkan bakatnya dan membantu membesarkan karirnya. Tak disangka suatu hari di sebuah kafe, dia bertemu dan berkenalan dengan Raka yang tak lain adalah pemilik kafe itu. Raka memanggilnya karena melihat dompetnya terjatuh di dalam kafe, saat Vena akan pulang. Keduanya berkenalan dan keesokan harinya, Vena kembali ke kafe itu. Vena dan Raka menjadi dekat. Keduanya saling bertukar pengalaman dan cerita kehidupan masing yang sama-sama dibesarkan oleh orang tua tunggal. Vena dibesarkan oleh papanya sedangkan Raka dibesarkan oleh ibunya. Karena satu pengalaman itulah keduanya menjadi dekat. Satu-satunya yang Vena tidak ceritakan pada Raka tentang hidupnya adalah statusnya yang merupakan seorang penyanyi ternama di negeri ini. Raka hanya tahu, bila dirinya anak sebatang kara di dunia ini, yang baru saja ditinggal papanya dan punya harta yang cukup banyak untuk masa depannya. Raka tidak mengenalinya karena selama ini dia selalu tampil dengan full make up, gaun seksi dan menggunakan wig setiap menyanyi. Sedangkan selama di kota ini Vena tampil sangat sederhana nyaris tanpa make up seperti dulu sebelum menjadi artis terkenal. Raka mungkin tahu nama penyanyi Vena Aurora tapi dia pasti tidak menyangka bila Vena Calista adalah orang sama. Vena merasa nyaman dengan kehidupan barunya di kota kecil ini. Apalagi setelah jatuh cinta dengan Raka. Dia jadi berat meninggalkan kota ini. Vena akhirnya mengambil keputusan besar yang mengejutkan jagat hiburan negeri ini. Dia memutuskan untuk berhenti dari dunia tarik suara dan ingin menjadi orang biasa saja. Meski ditentang banyak pihak, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Vena tetap pada pendiriannya meninggalkan karir menyanyi lalu memutuskan menikah dengan Raka. Awal pernikahan hingga setahun lamanya dilalui dengan sangat indah. Setiap hari Vena menjalankan tugasnya menjadi istri yang sehari-hari selalu berada di tempat tidur, di dapur dan di mesin cuci. Walau mantan penyanyi ternama, dia merasa senang dan ikhlas menjalaninya. Setelah pulang kerja dari kafe atau bila tidak sibuk, Vena dan Raka menghabiskan waktu berdua dengan jalan-jalan di dalam kota atau di luar kota. Bahkan Vena pernah beberapa kali mengajak Raka berlibur ke luar negeri. Dengan uangnya Vena memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, kebutuhan Raka, dan kebutuhan ibunya. Selain itu Vena senang menghadiahi Raka dengan barang mewah. Mobil, motor, jam tangan dan rumah mewah yang mereka tempati sekarang adalah pemberian Vena. Sebagai istri Vena tidak pernah hitung-hitungan apalagi menuntut. Karena sejak awal dia tahu penghasilan dari kafe kecil milik Raka tidak seberapa. Uangnya adalah uang suaminya juga. Demi cinta apapun dia berikan untuk Raka dan ibunya. Tahun kedua pernikahan suasana mulai berubah menjadi cemas. Vena tidak kunjung hamil padahal banyak cara yang sudah mereka tempuh. Sikap dan perhatian Raka mulai berubah. Hubungan mereka naik-turun. Kadang panas kadang dingin. Banyak hal yang dilakukan Vena di rumah itu selalu saja salah di mata Raka dan ibunya. Menginjak tahun ketiga pernikahan. Raka berubah total. Selain sering marah tanpa alasan dia malas bekerja di kafe. Dia banyak minta modal dalam jumlah cukup besar untuk usaha ini dan itu namun tidak pernah ada hasilnya. Kalau Vena tanyakan ke mana modalnya, Raka menjadi marah-marah dan malah menyalahkan Vena. Vena menjadi curiga. Karena Raka semakin jarang pulang dengan alasan pekerjaan di luar. Selain itu dia pernah menemukan noda lipstik di baju suaminya itu. Tapi bila ditanya Raka tentu saja mengelak. Tadi dia mendapatkan informasi yang sangat jelas dari Yeti, salah satu karyawan di kafe yang selama ini Vena percaya untuk mengawasi gerak-gerik suaminya itu bila Raka sedang berada di rumah Cindy. Setelah mendapatkan infomasi itu, Vena segera memanggil taksi lalu menuju ke alamat rumah Cindy. Tiba di rumah, Vena melihat ingin segera mengadukan kejadian ini pada ibu mertuanya. Namun dia sangat terkejut saat ada koper dan beberapa tas miliknya sudah menumpuk di teras dekat pintu rumahnya. Di samping barang-barang itu ibu mertuanya sedang duduk di kursi. Seperti saat ini, situasi tadi hujan sudah turun sangat deras. Begitu keluar dari taksi dia berlarian naik ke teras. “Ada apa ini, Bu? Mengapa tas dan sepatu saya ada di luar semua? Dan koper ini juga, mengapa ada di sini?” Vena menatap ibu mertuanya yang menatapnya dingin dan penuh keangkuhan. Dia yakin Raka sudah memberitahu ibunya setelah kejadian tadi. “Barang-barang ini, memang sudah saatnya keluar dari rumah ini. Sekarang kamu sudah tahu ‘kan Raka memiliki hubungan dengan Cindy. Jadi, seperti barang-barangmu itu, lebih baik kamu juga keluar dari sini sekarang juga,” ucap ibu Raka, dengan tatapan dingin. Vena sangat terkejut menatap wanita enam puluhan tahun yang sehari-hari senang mengenakan perhiasan dari emas lengkap. Tak disangka wanita di hadapannya itu sudah tahu hubungan suaminya dan Cindy. Setiap hari dia melayaninya seperti pembantu. Tapi apa balasannya. Ibu mertuanya itu justru mendukung anaknya yang salah. Dengan cepat dia segera bersimpuh. “Jangan lakukan ini, Bu. Mengapa Ibu malah mengusirku? Raka yang salah. Raka yang telah berselingkuh dan mengkhianati saya. Seharusnya Ibu nasehati dia agar sadar dan meninggalkan wanita itu,” ucap Vena, sangat kecewa dengan sikap wanita yang selama ini kerap ketus dan bersikap kasar padanya namun masih saja dia hormati itu. “Maafkan Ibu, Vena. Ibu tidak punya pilihan lain selain mendukung putra Ibu itu. Keputusannya sudah benar. Kalian sudah tiga tahun menikah tapi belum juga punya keturunan. Mungkin dia sudah lelah berharap padamu. Terimalah keputusan ini, Vena. Kamu tentu tidak ingin berbagi cinta dengan wanita lain bukan? Akhiri saja pernikahan kalian dan pergilah dari rumah ini,” usir wanita itu sekali lagi. “Tidak. Saya tidak akan pergi dari rumah ini,” tegas Vena, kemudian berdiri menatap ibu mertuanya dengan berani. “Sampai saat ini saya masih Istri sah Raka. Dan rumah ini adalah rumah saya. Saya yang membelinya. Jadi, saya akan tetap bertahan di rumah ini. Ibu atau pun Raka tidak bisa mengusir saya,” tegas Vena lagi, menepuk dadanya penuh amarah. “Kamu sudah lupa ya, Ven. Rumah ini kamu beli atas nama Raka sebagai hadiah ulang tahunnya. Kamu tidak punya hak atas rumah ini. Kedudukanmu hanya menumpang saja di rumah ini,” jelas ibu Raka, sinis. Vena memejamkan kedua mata sangat emosi. Rasanya sulit untuk berkata-kata lagi dan membalas ucapan wanita di hadapannya itu. Air matanya mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya. Tak pernah dia duga, Raka dan ibunya ternyata sama-sama manusia tak tahu terima kasih dan tak tahu malu. Semua pengorbanan dan pengabdian yang telah dia berikan sama sekali tidak ada artinya. “Byuurr.” Tiba-tiba Vena tersadar dari lamunannya. Saat sebuah mobil sedan lewat di sampingnya melalui aspal berlubang yang tergenang air dan menyiram tubuhnya. “Hei, sialan, kamu!” teriak Vena menatap mobil yang sudah melesat cukup jauh di depannya. Namun seolah mendengar teriakannya, dia lihat tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam itu berhenti. Dan, beberapa detik kemudian berjalan mundur ke arahnya di tengah jalanan yang sepi itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
202.7K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Siap, Mas Bos!

read
10.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
187.9K
bc

My Secret Little Wife

read
90.6K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
13.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook