Sepanjang perjalanan menuju Sembalun, aku tak benar-benar bisa tenang. Bukan karena jalanan yang gelap, berkabut, dan berkelok terasa menakutkan. Namun justru karena motor yang dikendarai Kang Iyal terlalu stabil. Aku merasa terlalu aman berada di dekatnya. Tanganku masih sembunyi di saku jaketnya. Ransel yang dipakainya menjadi pembatas di antara tubuh kami. Isinya tak banyak, tak seperti ranselku, sampai-sampai aku berpikir ia benar-benar hanya akan mengantarkanku sampai Sembalun, bukan untuk hiking mencapai summit. Ada satu rangkaian lain yang membuatku gugup. Aku tak menggigil lagi. Dan beberapa menit lalu ia berhenti sampai di pinggir jalan hanya untuk memikirkan cara agar aku tak membeku. Sungguh kikuk. Tapi entah kenapa, sekaligus manis sekali. Lampu-lampu kecil di Sembalun akh

