BAB 22

1717 Words

“Nda masih ada satu kelas lagi. Akang nggak mau pulang?” tanya Amanda sambil memasukkan laptop dan alat tulisnya ke dalam ransel. “Pindah ruangan, Nda?” balasku. “Iya.” “Akang temenin lagi ya?” Ia berhenti sejenak. Menoleh. Menatapku. “Kalau Nda gugup pas presentasi, Akang tanggung jawab ya?” Aku tersenyum. “Kenapa harus gugup?” Amanda menghela napas lalu mendecak. “Nda mengambil hak untuk diam.” Tawaku pecah juga. “Bener sih,” sahutku. ‘Soalnya kamu tersangka utama maling kewarasan aku.’ “Apa yang bener?” tanyanya curiga. Aku hanya menaikturunkan bahu. “Habis itu masih ada kelas lain?” “Nggak ada, Akang.” “Janji lain?” Amanda mengernyit. “Kenapa memangnya?” “Batalin aja kalau ada.” “Kok gitu?” “Akang aja yang anterin Nda pulang.” Ia mengerjap. Sekali. Dua kali. Seolah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD