“Hai, Nda.” Suaranya mengalun tenang. Senyumnya melengkung begitu manis. Sorot matanya seperti anak kecil yang begitu senang saat melihat orang favoritnya. Sementara aku… nyaris gila! Aku benar-benar berharap bumi terbuka dan menelanku bulat-bulat. Kalau bisa, sekarang juga. Kalau nggak bisa sekarang, lima detik lagi juga nggak masalah. Asal jangan aku yang berdiri di sini, menatap wajah Kang Iyal dari jarak sedekat ini, dengan salah satu tangannya masih menahan pinggangku agar aku tak jatuh karena menabraknya seperti orang tol0l. “I-iya…” gumamku, kacau. “Hai, Kang.” Senyumnya melebar. Dan aku ingin sekali berteriak agar ia berhenti semanis ini. ‘Jangan khilaf, Amanda!’ Tanganku naik ke lengannya, bukan untuk membalas rengkuhannya, namun untuk meraih keseimbangan. Begitu aku be

