Kuburan Mahal Untuk Selly

1137 Words
Rian terdongak. Seraya membenarkan rambutnya yang mulai gondrong sampai bawah telinga. “Rian jangan terpancing emosinya. Jangan karena Robby bakar seragam kamu, terus kamu jadi mau balas dendam,” lirih Pak Surip khawatir. Rian mendengarkan dengan seksama. Satu yang ia tahu. Jadi, lagi-lagi Robby yang cari ulah. Kali ini Rian tak akan memberikan maaf untuk Robby. “Iyah enggak, Pak,” balasnya bohong. Rian bahkan memasang wajah tenang. Menjadi keahliannya menyimpan perasaannya yang sebenarnya dan tidak menunjukkan di mimik wajahnya semenjak ia di tuding sebagai pembunuh. “Nah gitu bagus itu Rian. Banyak yang mau bikin kamu marah, tapi kamu harus bisa jaga emosi kamu.” “Iyah, Pak. Ian gak bakal ikut tawuran lagi kok.” “Orang yang bisa jaga emosi bukan berarti lemah, Ian. Justru ia orang yang paling kuat,” urai Pak Surip semakin bangga dengan Rian. Rian mengangguk seraya tersenyum tipis. ‘Tapi aku belum bisa jadi orang kuat itu. Kalau aku terus diemin, anak itu bakalan terus buat masalah. Jadi lebih baik aku menuntaskannya sekarang juga.’ bathinnya. Kejadian pembakaran seragam seolah juga membakar d**a Rian. Ini terlalu keterlaluan untuk ia maklumi. Robby itu pengecut. Menjailinya hanya di belakang, seharusnya sebagai lelaki sejati ia bisa menghadapi Rian langsung Bukan dengan terus menyerang mentalnya. “Rian," teriak Ibas memanggil Rian Rian menoleh “Ada Ibas, Pak.” “Ya udah kamu masuk sana, belajar yang bener sama temen-temen kamu,” titah Pak Surip. “Iyah, Pak. Rian mau masuk dulu,ya.” Rian keluar dari post satpam untuk berkumpul dengan Ibas. “Dika dan Zero kemana?” tanyanya sambil membenarkan tasnya yang tercangklong di bahu kiri. “Belum dateng,” jawab Ibas seraya memindai sekitar. Memastikan apa benar gak ada kedua temannya itu. Tatapannya bertemu dengan tatapan Selly. “Astaga. Subhanallah,” cicit Selly lalu menutup mulutnya. “Kenapa, Sel?” Manda sampai heran kenapa Selly tiba-tiba nyebut gitu. “Itu lo gak liat ada Jungkook!” seru Selly ketika melihat Ibas. Tangannya dengan gemas mencubit tangan Manda. “Iiihh, ” Manda membalas memukul punggung Selly. Selly langsung mendorong motor Manda sampai parkiran yang tinggal dua meter lagi dari tempat mereka diri. Mana Manda gak mau turun dari bocengan lagi. berat tahu. “Siapa sih?” Manda jadi ikut penasaran dan mencoba melihat arah pandang Selly. Tapi ramainya anak murid yang berlalu lalang masuk sekolah membuat Manda gak bisa liat Ibas. “Jungkook,Man. Jungkook!” “Jongkok." Ulang Manda dengan mimik tidak tahu apa-apa. Selly bergerutu “Helleh." “Man, lo kalau punya duit seribu mending lo hibahin beli cotton bud deh. Masa Jungkook gue di bilang jongkok,” sungut Selly. “Oh, Jungkook. Yah tapi mana mungkin dia’kan ada di Korea selatan,” ucap Manda. Yang ngaco tuh Selly. “Ini Jungkook versi kearifan lokal,” sahut Selly sambil memarkirkan motor Manda. Manda jadi semakin penasaran siapa sih yang di maksud Selly. Kok kemarin dia gak melihat kalau ada yang bening. Apa karena Manda terlalu serius sampai matanya seakan tertutup? Manda meletakkan helmnya di pegangan stir. “Mana ada sih yang cakep? Kalau ada juga pasti udah di rebutin sama cewek-cewek." “Ibas. Ahk, Ibas, Rian!” kayak kata Manda. Rian dan Ibas lagi di rebutin cewek-cewek. “Hehe, sabar-sabar!” sahut Ibas. kegirangan dikerebungin cewek. Sedang Rian terlihat malas dan justru mau menghindar. “Rian, bantu gue dong! Ini ceweknya banyak banget.” Kalau Ibas hitung sekitar sepuluh orang lebih cewek dari luar sekolah. Dan dia gak kuat gandeng semuanya. “Lo ajalah." “Yee, lo mah. Tapi tadi gue liat ada yang baru di parkiran. Kayaknya boleh juga,” cicit Ibas penasaran. Yang Ibas maksud adalah Selly. “Haaah!” Rian menghembuskan nafasnya “Ini aja pada belum ketangan'in udah cari lagi,” gerutunya. “Namanya juga usaha, Rian." Bela Ibas. "Usaha!" kutip Rian jengah. Sambil berusaha keluar dari kerumunan cewek-cewek itu. “Haah, Minggr gue mau jalan.” “Eh Rian, tunggu!” Baik Rian dan Ibas keluar dari perkumpulan para gadis. “Nah itu," seru Selly ketika menangkap sosok Ibas yang mereka cari. “Itu,” pekik Manda. Yee, yang itu mah sudah Manda tempeleng malah kepalanya kemarin. Dipikir-pikir ganteng memang. Tapi less ahlak buat apa. Kalau less sugar Manda dukung. Sama-sama bisa bikin kurus Manda sih, cuma beda caranya. Kemudian Rian lewat dari peredaran mata Selly. “Eh," cewek itu beku. Ia seakan melihat mahluk halus sangking terpananya dengan Rian. “Kenapa lagi?” “Man, sumpah Man. Gue gak kuat, gue mau pingsan, nih!” Selly tiduran di bahu manda. Soal Andi yang tak kunjung terima cinta Selly sampai sekarang, kata Selly terserah lo deh, gue udah punya cowok lain yang gue taksir. Ini mungkin jawaban dari Tuhan kenapa Andi gak peka-peka sama kode-kodean Selly Kalau sampai Selly dan Andi jadian waktu itu. Bisa-bisa Selly stress antara kepengen selingkuh atau memilih setia. “Bangun gak, Sel. Lo berat,” cicit Manda seraya menggoyangkan bahu Selly. “Iiih, ceritanya gue lagi pingsan Man! Eh bukan ding. Bukan cuma pingsan gue mungkin sudah mati sampai bisa lihat cowok sesempurna itu.” Selly kembali rebahan di bahu Manda. Rasanya Manda mau lempar Selly. Cuma saja dia sayang sama Selly. “Man guekan udah metong. Kalo lo mau kuburin gue di Sandiego hills aja,ya. Gue minta kavling yang paling depan. Inget Man, ini mandat!” Mati aja masih nyusahin. Pakai minta kavling di Sandiego hills lagi. Kalau gitu mending gak usah mati dulu. Kerja dulu yang bener baru deh gajinya dipakai buat beli kavling tanah 2,5x1,5 mtr itu. Itung-itung Investasi. “Itu mah sama aja lo ngajak gue mati bareng,” sungut Manda. "Diri gak?” tekannya. Bersamaan dengan Zero dan Dika lewat. “Bu Manda,” tegur Zero ramah. “Hem." Tapi Manda jutek. Ia cuma berdehem. “Man.., Man lo kenal?” Kenapa Manda kenal cowok-cowok ganteng tapi gak info Selly sih, Uuhhh, Selly rasanya jadi nyesel gak ngajar disini. “Itu Ibas sama Rian,” ucap Dika, sambil menghampiri Rian dan Ibas. "Gue mau kalian dengerin gue," titah Rian serius. "Nanti sebelum masuk gue mau ke belakang sekolah dulu, ada yang perlu gue beresin sama Robby.” “Beresin apa, Ian. Jadi betul dia yang udah bakar baju lo?” selidik Dika geram. “Hemm. Tapi biar ini jadi urusan gue sama dia, lo pada gak usah ikut campur,” balas Rian. "Gue udah undang dia untuk duel bareng. Gak ada yang boleh tau hal ini selain kita berempat. Lo pada coba alihin perhatian guru. Oke." perintah Rian lagi.. Baik Zero, Ibas dan Dika mengangguk. 'Lagi ngapain tuh mereka. Kok aku punya firasat gak enak sih?' lirih Manda dalam hati sambil terus memperhatikan pemuda-pemuda itu. Tentunya gadis itu tidak begitu saja percaya, lagi apa mungkin mereka bisik-bisik membahas pelajaran. Bahkan disaat waktu belajar saja mereka keluar? Ini gak salah lagi. Pasti ada yang mau mereka kerjakan, analisis Manda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD