Manda, cewek bar-bar

1146 Words
“Ngamuk! Kayak gimana, Pak mak-Maksudnya?” selidik Manda gagap. “Iyah gitu ketemu orang baru suka di Hoaamm,” sahut Pak Surip agak lebay. Doi emang suka nakut-nakutin anak gadis gitu. Mana muka Manda minta banget diusilin lagi. Alis tebal cewek itu menyerit. 'Ini hantu atau harimau. Kok Hoaamm, Apa jangan-jangan siluman harimau?’ Ngeri Manda dalam hati. “Eggh, Manda balik ajah deh, Pak!” putusnya. “Ehh. Jangan.” Larang Pak Surip. “Penjaganya ganteng loh. Kasep pisan!” lanjutnya sambil mengancungkan kedua jempol. ‘Ganteng kalau udah koit buat apaan?!’ suara hati Manda. “Ya udah Pak. Manda masuk,ya takut terlambat.” Akhir Manda menyerah. “Iyah, Neng,” sahut Pak Surip. Manda menuntun motor matik-nya. Sedang di kepalanya masih terpasang helm bogo berwarna coklat muda. Manda berusaha mengamati sekitar. Pada bawah kakinya ada tulisan parkir para karyawan. Dan sisi sebelahnya terdapat tulisan parkir umum yang di peruntukkan untuk para murid. Manda tersenyum mengejek “Si Bapak bercanda. Ini mah sama aja digabung.” Protesnya merasa kedua tempat itu gak ada bedanya. Akhirnya Manda memutuskan menaruh motor kesayangannya dibagian parkir umum sebab hanya ada satu tempat yang kosong di sana. Di samping motor besar bermesin 250 cc berwarna hitam. Ia juga gak tau kenapa motor yang lain dempet-dempetan kalau tempat ini masih lega. Tapi Manda gak mau terlalu peduli, mungkin space parkirnya baru saja di tinggal dan dia beruntung datang diwaktu yang tepat. Manda membuka helm bogonya. Membebaskan rambutnya yang hari ini tergerai indah soalnya Manda sempat keramasan tadi pagi. Ia mulai melangkah dengan penuh percaya diri. Berjalan menyusuri koridor sekolah. Sewaktu matanya melihat papan nama. Manda terpaku “Lapangan Basket” ejanya pelan. Glleek..! Suara-suara sumbang Pak Surip seakan berputar kembali dalam memorinya. Cewek itu melirik ke belakang. Shitt! Betul-betul gak ada orang, sepi. Manda merasa telah menyalahi amanat yang telah di berikan untuk jangan menginjakkan kakinya di sana. Manda bahkan menggantung kakinya, tapi nyatanya ia tidak beranjak kemanapun. Bulu kuduknya merinding, suasana semeriak semakin kental terasa. “Kembali lo, kembali!” teriak Rian saat itu. Manda merasa lututnya lemas seolah tak bertulang. Suara itu di tujukan untuk'nyakah? Tapi kenapa apa salah dia. Dia bahkan baru saja datang kenapa diminta kembali. Ooh, Manda tahu apa si penunggu minta supaya Manda balik ke kost dan gak jadi mengajarnya. Kalau itu yang di mau sorry to say, Manda tak akan pernah gentar. “Kembali Dinda. Lo gak bisa lakuin itu!” Rian memang akan sering histeris saat ia merasa terpojok. Manda menutup mata serta menutup telinganya dalam bayangannya akan ada satu mahluk yang lewat bergentayangan di atasnya. Namun, walau begitu ia masih bisa mendengar isi jeritan Rian. Tunggu. Samar-samar ia mendengar seseorang itu menyebutkan nama wanita. Apa ini hantu patah hati. pikirnya. Dengan segala keberanian yang tersisa. Manda berusaha berani melangkah. Sekarang ia tahu kenapa banyak orang yang terus melanjutkan nonton film horror padahal sejak awal sudah merasa takut. Itu karena manusia lebih bisa menghalau rasa takutnya di bandingkan menahan rasa penasaran. Kreeett..! Manda mendorong pelan pintu yang memang sejak awal terbuka itu. Keadaan di dalam sedikit gelap hanya ada cahaya matahari yang merayap malu-malu dari ventilasi udara yang ada di atas ruang. Ia melihat siluet seorang anak laki-laki sedang memandang ke depan arah ring basket. Rasa ke-ingin tahu-annya membuat Manda masuk lebih dalam, Meski di lihat dari belakang. Tapi Manda yakin yang berdiri di depan adalah sosok pemuda yang gagah. Bisa dilihat dari bahunya yang lebar. Tanpa sengaja sepatunya menjatuhkan kaleng kosong hingga bergulir sampai bawah. Manda menutup matanya seraya mengigit bibir bawahnya. Seolah menyesali keteledorannya itu. Sosok itu berbalik menatap Manda dengan nyalang. Tapi Manda tidak bisa melihat Rian dengan jelas. Sorot mentari yang fokus ke titik Rian berdiri malah menyulitkan si gadis untuk menerka. Jantungnya berdetak kencang kali ini bukan hanya takut, tetapi samar ia merasa tatapan sosok itu terlihat begitu sedih. Manda merasa hatinya sakit, tapi entah untuk apa. Mungkin karna sejak kecil ia tidak akan tega sewaktu melihat orang terdekatnya bersedih. “Siapa itu?” teriak Rian. Manda kesiap, ia belum siap. Ia hanya bisa mengenggaman erat tas jinjing yang ia bawa. “Gue tanya siapa lo? Berani,ya masuk!” ketus Rian mencoba menghampiri Manda. Pemuda itu berjalan ke arah Manda. Takk, Ttaakk, Ttaakkk...! Setiap langkahnya semakin menciutkan perasaan Manda. "Lo anak baru?!" tanya Rian dengan suara tenornya. Menandakan jika pemuda itu baru saja memasuki tahun-tahun awal kedewasaan. Manda membuka mata, 'Jadi orang? Cowok ini manusia,'kan. Masih hidupkan. Bukan hantu?!' Berbagai pertanyaan terlintas. "Eeh, gue nanya lo. Malah lo ngliatin gue. Gak sopan!" gerutu Rian. Karena tempat yang gelap membuat Rian gak bisa lihat kalau Manda pakai rok span warna hitam bukan abu-abu. "Eeh! Tadi yang teriak itu kamu?!" selidik Manda. Rian ibaratkan pasien pertama buat Manda menganalisis apa sih masalah anak muda kayak Rian gini. "Awas kalau sampai bocor ke yang lain!" ancam Rian. Berniat kembali ke tengah lapangan. Manda yang gak terima di ancam langsung menarik kaos cowok itu "iihh, ngapain sih lo?" gerutu Rian, sambil menghempaskan tangan Manda "Kamu yang gak sopan!" sungut gadis itu sambil tolak pinggang. "Mending lo keluar deh, sebelum gue yang tarik lo buat keluar! Ehh, tunggu, tunggu sebelum itu mending lo ambil bola-bola itu terus taruh di ranjang!" suruh Rian enteng. Manda mendekat tangannya pengen banget toyol kepala Rian. Sampai Manda di belakang Rian, saat tangannya mau jalan ke tempurung kepala Rian, tuh cowok malah berbalik bikin Manda gak sengaja colok mata Rian. "Aduh!" pekik Rian sembari memegang matanya. "Yang bener aja lo?! Masa mata gue di culi'k tangan lo sih. Sakit tau," sungut Rian masih pegang matanya. mengucek-ngucek area itu. Spontan "Eeh, jangan di kucek!" larang Manda. Dia cuma tau kalau mata sakit gak boleh di kucek. Yang ada makin parah. "Aahkk!" geram Rian gak mau tau dan gak mau urus larangan Manda. Cowok itu menghadap miring lanjut merem melek mencoba menormalkan penglihatannya. "Kesini gak!" Manda ngotot narik bahu Rian. Dia mau lihat sejauh apa sih sakit,yah. Apa mata Rian beneran memerah gitu. "Jangan sentuh gue. Cewek bar-bar!" larang Rian. 'Tau gitu aku colok dua-duanya! Ciiaallan!' dalam hati Manda. "Sabar Manda. Sabar!" gerutunya sendiri. Rian yang denger cewek itu sebutin namanya makin geram 'Kenapa sih gue harus berurusan sama cewek yang namanya Manda, Dinda. Se-kualat apa sih hidup gue! Perasaan gue paling nakal juga bolos pelajaran' runtuknya dalam hati. "Gini Kakak pemain basket. Aku gak ada maksud lukain mata Kakak. Tadi aku cuma mau noyol kepala Kakak aja dikit" jujur Manda memperagakan lewat tangannya. "Ddiiih. Sama aja!" gerutu Rian heran. "Tapikan gak separah kayak sekarang" sela Manda. "Kata lo. Kalau setelah lo noyol kepala gue terus gue jatoh. Geger otak mau lo tanggung jawab!" Manda mengepal tangannya. Sedang matanya melirik Rian sangat malas 'Emang punya otak sampai bisa mengalami geger otak. Lagian gak bisa gitu tahan supaya gak jatoh banget' analisisnya.Percuma otot lengannya yang samar tertutupi buliran keringat menetes perlahan kalau baru di toyol cewek saja sudah jatuh. Iyah,'kan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD