7. Jalan-Jalan, yuk? (2)

1095 Words
Bab 7 : Jalan-Jalan, yuk? (2) ****** MAMA Nadya kontan tercengang. Wanita itu tak mampu berkata apa-apa. Nadya itu tak pernah berpacaran, tetapi sekarang anak sulungnya itu tiba-tiba mendapatkan seorang kekasih yang mampu menarik hati kedua orangtuanya dalam hitungan detik seperti ini. "Nama kamu siapa? Kamu boleh ngenalin diri kamu ke Om dan Tante. Om pengen tau tentang pacar pertama Nadya ini," ujar papa Nadya, kemudian pria paruh baya itu menatap Nadya. Nadya terperanjat, ia menatap papanya sembari salah tingkah. "Nga—ngapa, Pa?!" tanya Nadya dengan gugup. "Sejak kapan kamu bisa pacaran?" tanya Reynald, papa Nadya, dengan tatapan menyelidik. "Masih bau kencur, masih sering berantem sama Adek, udah pacaran aja sekarang, ya?" Pipi Nadya kontan merona bukan main. Mengapa harus diungkit di depan Aldo, sih... "Papa nih," ujar Nadya. "Yaya jarang kok berantem ama Adek." "Heleh, kamu ini dibilangin malah nggak mau ngaku," ujar papa Nadya. Pria paruh baya itu lalu kembali menatap Aldo. Ternyata Aldo sedari tadi tersenyum manis saat memperhatikan perdebatan antara Nadya dan papanya. Cowok itu juga sibuk memperhatikan Nadya yang terus tersipu. Tanpa Nadya sadari, Aldo adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang benar-benar merasa lega karena mengetahui bahwa Nadya belum pernah berpacaran sebelumnya. Plus, Aldo kini tahu bahwa ternyata Nadya sering berkelahi dengan adiknya. Sesungguhnya, hal itu sangat menggemaskan. "Ya udah, kenalin diri kamu, ya. Om pengen denger. Bentar aja, abis itu kalian boleh pergi jalan-jalan," ujar papa Nadya pada Aldo. Nadya terperanjat. "Eh?! Papa bolehin, Pa?" Papanya mengangguk. "Iya, boleh. Asal jangan pulang malam. Ganti baju kamu sana, biar pacar kamu ngenalin dirinya ke Papa." Nadya meneguk ludahnya, lalu mengangguk meskipun sedikit ragu. Cewek itu menatap Aldo sejenak, melipat bibirnya, lalu ikut tersenyum saat Aldo tersenyum manis padanya. Selagi berdiri dan berbalik, Nadya meneguk ludahnya. Ia gugup memikirkan bagaimana nanti saat ia jalan-jalan dengan Aldo. "Nama saya Aldo, Om," ujar Aldo begitu Nadya menghilang di balik lorong. "Aldo Gabriel Nugraha. Saya satu sekolah dan satu kelas dengan Nadya. Saya tinggal di Menteng sama keluarga saya. Saya udah kenal Nadya dari kelas satu." "Ooh, sekelas toh... Kamu ikut ekskul apa aja?" tanya mama Nadya dengan penasaran. Wajah wanita itu terlihat berseri-seri saat rasa penasarannya kepada Aldo memuncak. Aldo tersenyum. "Saya ikut OSIS, basket, futsal, sama voli. Sebenarnya, saya ikut semua ekskul yang menjurus ke kegiatan olahraga, Tante, tapi saya nggak begitu aktif berhubung saya sibuk di OSIS." "Sibuk di OSIS? Kamu Ketua OSIS, ya?" tebak papa Nadya dengan alis terangkat. "Iya, Om. Saya juga jadi kapten di tim basket sekolah, Om. Kalau di futsal...agak sulit untuk ikut jadwal latihannya yang hampir tiap hari, padahal saya hobi main futsal." "Sama, dong. Om juga suka main futsal, hahaha!" Papa Nadya tiba-tiba tertawa. Aldo dan Elin ikut tertawa. Dalam sekejap, Aldo mampu menyingkirkan sedikit rasa takut yang papa Nadya rasakan. Ketakutan tersendiri bagi seorang ayah terhadap anak gadisnya. Namun, kini Papa Nadya merasa bahwa Nadya mampu memilih laki-laki dengan tepat untuk dijadikan sebagai seorang kekasih. Reynald tersenyum. Pria paruh baya itu kemudian menatap Aldo dan berkata, "Om sebenernya kaget. Nadya nggak pernah pacaran sebelumnya...dan Om kira dia bakalan terlalu polos untuk memilih. Tapi ternyata dia nggak ngecewain Om sama sekali. Entah ngapa Om ngerasa kalo kamu bisa menjaga dia di sekolah. Sering-sering liat Nadya, ya, Aldo? Dia itu agak males belajar juga, tuh." Aldo terkekeh, kemudian cowok itu mengangguk sopan. Sebenarnya, menurut Aldo Nadya itu tidak malas. Akan tetapi, mungkin saja Nadya agak sulit disuruh belajar ketika di rumah. Aldo jadi pengin melihat wajah Nadya sekarang juga karena hal itu terdengar sangat menggemaskan. Cowok itu lalu menatap papa Nadya dengan mata jernihnya yang terlihat sangat indah. "Iya, Om. Saya bakal jaga Nadya." ****** Nadya menatap Aldo yang menggenggam tangannya begitu mereka masuk ke dalam mall. Suasana mall yang ramai itu sebenarnya enggan Nadya lihat, tetapi berjalan bersama Aldo membuatnya bisa melupakan semua itu. Nadya juga tahu bahwa banyak sekali tatapan yang tertuju kepada Aldo. Nadya sudah biasa dengan bisik-bisik kekaguman yang selalu orang-orang berikan kepada Aldo yang memiliki paras tampan, apalagi Aldo itu adalah bule blasteran. Nadya hanya bisa melihat ke sekeliling—entah apa yang ia lihat—melihat orang yang lalu lalang, melihat barisan toko…meskipun kenyataannya jantungnya berdebar-debar. Ia melihat orang-orang hanya untuk meredakan jantungnya yang berdebar-debar. Debaran itu terasa begitu aneh. Ini salah karena ia terlalu cepat terpaut pada Aldo yang masih kurang jelas mengapa bisa memilihnya sebagai kekasih. Ini salah, tetapi ia tak bisa menahan perasaan itu. Perasaan itu...muncul dengan sendirinya. Setidaknya Nadya paham bahwa ia sepertinya suka dengan Aldo meskipun kenyataannya ia tak punya pengalaman berpacaran. Novel romantis yang sering ia baca ternyata lumayan bisa menjadi petunjuknya. "Nad, kita makan, yuk?" ajak Aldo tiba-tiba. Nadya kontan mendongak untuk menatap Aldo. Mata cewek itu sedikit membulat. "Umm...tadi aku udah makan, Aldo. Hehe. Kamu belum makan, ya?" tanya Nadya. Genggaman tangan Aldo terasa semakin erat. "Udah, sih. Tapi aku laper lagi," ujar Aldo sembari tersenyum geli. Kontan Nadya tertawa. Aldo berhasil membuat debaran jantungnya sedikit mereda akibat rasa canggung yang sudah menghilang. Nadya menoleh kepada Aldo lagi, lalu mata bulat cewek itu berkedip beberapa kali. "Kamu mudah laper, ya?" "Hmm... Sebenarnya, sih…iya, Nad. Aku bahkan kadang-kadang makan lebih dari lima kali sehari," ujar Aldo. "Kalau kamu?" "Aku?" ujar Nadya. "Um… Aku, sih...makannya nggak tentu. Kalau laper juga bisa berkali-kali. Hehe." Entah sejak kapan...bicara dengan Aldo bisa senyaman ini. Entah mengapa, hal sesederhana ini mampu menimbulkan kebahagiaan di hati Nadya, kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan. Mereka mulai mencoba untuk mengetahui satu sama lain. Ini seperti baru saling mengenal setelah berhubungan sebagai sepasang kekasih. Rasanya seperti menikah dengan teman tanpa ada perasaan sebelumnya. Perasaan tumbuh justru setelah berkomitmen. Perasaan tumbuh setelah selalu menjalani hari-hari bersama. Aldo tersenyum, lalu cowok itu mengacak rambut Nadya sejenak. Nadya kontan tersipu, kemudian Aldo mencubit kecil hidung Nadya. "Makan di KFC aja, yuk. Kalo kamu nggak laper, aku pesenin kamu makanan yang ringan aja. Kamu suka burger nggak?" "Nggak, aku...kurang suka, Aldo," ujar Nadya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aldo melebarkan matanya. "Kenapa? Enak, lho, Nad," ujar Aldo. Mereka masih bergandengan tangan. Nadya menggeleng pelan. Cewek itu tertawa hambar dan berusaha untuk menatap Aldo, tetapi entah mengapa rasanya sekarang berlama-lama menatap Aldo itu adalah hal yang sulit. Nadya jadi heran sendiri. Mengapa ia merasa bahwa kini…menatap mata Aldo adalah hal yang sangat sulit dan langsung membuat jantungnya berdegup kencang? Seolah menatap mata Aldo itu sama seperti menatap dunianya Aldo. Tempat di mana ia akan tersesat jauh di dalam diri Aldo. Tempat yang akan membuat hatinya melayang ke langit layaknya sehelai mahkota bunga yang tertiup angin. Ini pasti karena kata-kata Aldo dua hari yang lalu. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD