8. Jalan-Jalan, yuk? (3)

1343 Words
Bab 8 : Jalan-Jalan, yuk? (3) ****** NADYA melipat bibirnya. "Aku punya trauma, Aldo...walau aku nggak tau itu bisa disebut trauma atau nggak." Aldo melebarkan matanya dan menatap Nadya dengan lekat, sementara Nadya menatap Aldo sembari tersenyum. Aldo kemudian bertanya pada Nadya dengan alis yang menyatu; cowok itu tampak penasaran dan khawatir. "Kamu trauma sama burger? Trauma kenapa, Nad?" "Ah..." Nadya menggaruk tengkuknya lagi. "Bukan apa-apa, sih, Aldo. Kamu jangan ketawa, ya?" Aldo terkekeh. Cowok itu pun tersenyum. "Nggak, Nad, nggak kok." Pipi Nadya sempat merona saat melihat Aldo yang sedang terkekeh seperti itu. Sungguh bersinar. Sungguh...menyejukkan hati. Akan tetapi, Nadya berusaha untuk kembali fokus. Nadya mulai menjelaskan, "Dulu, waktu aku sama keluarga pergi ke Palembang, kami naik travel. Terus waktu travelnya berhenti di sebuah tempat untuk istirahat—aku nggak inget itu di mana, entah itu di depan restoran atau di depan ruko—sopir travel-nya ngebagiin burger untuk penumpang travel. Kayaknya, burger itu baru dibeli. Nah, aku itu setengah sadar...soalnya aku lagi mabuk perjalanan waktu itu. Terus Mamaku ngasih burger itu ke aku. Ya aku makan satu gigitan, tapi ternyata bau daging dari burger itu bikin aku tambah mual. Alhasil, aku muntah-muntah terus di sepanjang perjalanan. Sampai sekarang, tiap aku makan roti isi daging, aku selalu muntah. Aku bahkan gak mau mencium bau roti isi daging lagi, terutama burger." Aldo tercengang. Cowok itu menatap Nadya, lalu akhirnya cowok itu membuka pintu masuk KFC karena Nadya menyelesaikan kalimatnya tepat ketika mereka sampai di depan pintu masuk. Aldo menggandeng Nadya masuk; cowok itu memilih tempat duduk di ujung, tepatnya di dekat jendela. Begitu Nadya duduk, Aldo memegang punggung tangan Nadya sembari tersenyum manis. Cowok itu memilih untuk tidak duduk terlebih dahulu. Nadya kaget, cewek itu lantas menatap Aldo dengan mata bulatnya. Aldo lalu berkata, "Nad, kamu itu lucu, ya. Mudah traumaan gitu." Ada sebuah jenaka yang tersirat di kedua mata Aldo. "tapi aku tau banget rasanya muntah itu gimana. Jadi, aku nggak bakal ngetawain kamu. Aku bakal pesenin kamu kentang goreng sama es krim. Kamu suka es krim, 'kan? Kamu sering beli di sekolah. Em...aku pesen ayamnya banyak, deh, supaya kamu bisa ikut makan ayamnya." Aldo lalu meremas punggung tangan Nadya. Nadya tercengang. Cewek itu menatap Aldo dengan mata yang berbinar karena tak menyangka. Aldo benar-benar baik hati, terutama...Aldo... Aldo tahu bahwa Nadya suka beli es krim saat di sekolah. Apa Aldo memperhatikan Nadya selama ini? Tidak mungkin, 'kan? Jadi...mengapa... Saat Aldo tersenyum manis dan mengacak rambut Nadya, Nadya balas tersenyum tulus pada Aldo. Rona di pipi Nadya tak mau hilang. Wajahnya benar-benar memerah. Begitu Aldo pergi untuk memesan makanan pun...Nadya memperhatikan punggung Aldo dengan tatapan yang penuh arti. Nadya sadar bahwa...dia jatuh cinta. ****** Nadya duduk di boncengan Aldo saat mereka menonton konser di belakang mall itu. Konser mini dari band lokal yang diadakan di belakang mall itu tampak begitu ramai. Mall itu berada di tepi jalan sehingga orang-orang yang ada di trotoar pun tampak berusaha masuk untuk menonton konser itu. Karena motor Aldo diparkir di tempat parkir belakang mall, terutama tempat parkir itu tak jauh dari area konser, maka Aldo mengajak Nadya menonton sembari duduk di motor. Banyak juga orang yang memilih jalan yang sama, soalnya tak semua orang suka berdiri berdesak-desakan, apalagi jika banyak orang yang berteriak dan melompat-lompat. Lagu yang dinyanyikan oleh vokalis band itu mengalun indah di telinga Nadya; kebetulan saat ini band itu sedang menyanyikan lagu ballad. Rupanya band lokal ini punya banyak lagu yang bagus meski kebanyakan lagu mereka yang dinyanyikan sejak tadi bergenre pop-rock. Aku berteriak dan menyapamu, akankah kau mendengarkan salamku, Sayang? Aku merasa seperti jatuh ke jurang yang dalam, tetapi aku merasa bahagia. Tahukah kau apa yang terjadi padaku? Aku terlalu mencintaimu. Biarkan cintaku mengalir padamu seiring berjalannya waktu, Sayang. Nadya meneguk ludah. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat mendengarkan lirik itu. Tidak ada percakapan yang terjadi antara ia dengan Aldo. Saat ini yang terdengar hanyalah suara berisik penonton, suara keras dari alat musik, dan nyanyian dari vokalis band. Nadya diam dan terus memperhatikan band itu. Ia tak mau melihat Aldo karena tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Jantung Nadya berdebar; Nadya merasakan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia hanya bertanya-tanya, apakah begini rasanya menyukai seseorang? Ia sadar bahwa ia menyukai Aldo. Sesimpel itu. Nadya benar-benar gugup, tetapi ia tak mau momen ini berakhir begitu saja. Menyukai seseorang itu kok...rumit, ya. Ternyata benar kata orang, cinta itu rumit dan membingungkan. Cinta itu susah dimengerti. Yang jelas, saat kau merasakannya, semuanya akan terasa indah. Kau jadi agak berubah, seperti bukan dirimu yang biasanya. Bagaimana jika Aldo mengetahui perasaan Nadya? Apa yang akan terjadi jika Aldo tahu? Nadya yakin Aldo itu...tidak mencintai Nadya. Nadya sendiri bingung dengan kata-kata Aldo dua hari yang lalu meskipun kata-kata itu terdengar sangat manis. Nadya merasa ada sebuah pergerakan di sampingnya. Duduk menyamping membuat jarak di antara mereka mudah terhapus jika salah satu dari mereka ada yang bergerak. Sekarang...jarak itu dihapus oleh Aldo. Nadya belum memiliki keberanian untuk menatap Aldo meskipun ia bisa merasakan bahwa Aldo tengah menatapnya dengan intens. Degupan jantung Nadya terdengar semakin mengganggu. Nadya bahkan takut kalau-kalau Aldo bisa mendengarnya meski mereka sedang berada di tempat yang berisik seperti ini. "Nad?" panggil Aldo pelan. Akhirnya, Nadya berusaha untuk menoleh, menatap Aldo, dan menyahut, "Iya, Aldo?" Aldo tersenyum manis. Senyumannya merekah di antara cahaya lampu yang ada di area halaman belakang mall itu. Kedua mata Aldo tampak melengkung seolah ikut tersenyum. Setelah itu, mata Aldo terbuka kembali; iris mata berwarna hitam milik Aldo tampak begitu jernih. Nadya terpana hingga beberapa detik lamanya. Cewek itu terpana dengan senyuman Aldo yang membuat ketampanan cowok itu jadi bertambah sepuluh kali lipat. Senyuman itu bukan senyuman palsu. Bukan senyuman yang dipaksa. Senyum Aldo itu... Selalu tulus... Nadya ingin terus melihat senyuman itu. Nadya jadi benar-benar ingin Aldo terus bahagia agar bisa tersenyum seperti itu selamanya. Nadya tadi bahkan ingin menghentikan waktu meski ia tahu itu mustahil. Tak lama kemudian, waktu benar-benar seakan terhenti. Hanya dikarenakan oleh satu hal yang tak pernah Nadya duga. Satu hal yang berhasil membuat mata Nadya membulat penuh. Satu hal yang manis, yaitu saat Aldo menarik pinggang Nadya dan memeluk Nadya, lalu memberikan satu kecupan manis di kening cewek itu. Bibir Aldo…terasa basah. Bibir itu menempel di kening Nadya. Napas Nadya tertahan. Jantungnya bagai berhenti berdegup. Beberapa saat kemudian, ketika wajah Aldo menjauh secara perlahan...saat itu jugalah degupan jantung Nadya menggila. Pipi Nadya memerah sampai ke telinga. Nadya yakin Aldo bisa melihatnya—di bawah cahaya lampu yang menerangi malam di belakang mall itu—meski Nadya menunduk dan tak mau menatap Aldo. Nadya juga malu karena mungkin saja yang tadi itu dilihat oleh orang banyak. Nadya hanya bisa berdoa semoga tidak ada orang yang melihat mereka. Wajah Nadya memanas bukan main. Aldo... Aldo menciumnya! Kedua tangan Aldo masih ada di pinggang Nadya. Napas Aldo bahkan masih menerpa wajah Nadya. Itu artinya wajah Aldo masih dekat dengan wajah Nadya. Setelah itu, Aldo sekali lagi membuat Nadya menahan napasnya tatkala tiba-tiba cowok itu merunduk untuk mencari wajah Nadya dan meraih dagu Nadya agar mata mereka bertemu. Saat mata mereka bertemu, Aldo bisa melihat betapa merahnya pipi Nadya. Aldo tersenyum sejenak, lalu cowok itu menatap Nadya dengan intens lagi. "Tadi itu...nggak ada yang ngeliat kok, Nad," ujar Aldo lembut. Nadya spontan kembali menunduk. Wajahnya semakin memerah. Aldo melebarkan matanya, merasa takjub. Nadya ini...lucu banget. Akan tetapi, tanpa Aldo sangka, Nadya tiba-tiba mendongak untuk menatapnya. Cewek itu menggigit bibirnya dan matanya menatap Aldo dengan rasa ingin tahu. Dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus itu, Nadya pun meneguk ludahnya, lalu bertanya kepada Aldo: "Aldo, em...kemaren kamu udah ngasih tau alasan kamu jadiin aku sebagai pacar kamu. Tapi...aku masih kurang ngerti, Aldo... Aku nggak tau maksudnya. Kalo boleh, bisa nggak kamu kasih tau aku dengan lebih jelas? Aku—duh... Aku...bingung." Mendengar pertanyaan dari Nadya, Aldo jadi semakin mendekatkan wajahnya. Senyuman di wajah cowok itu muncul lagi, tetapi kali ini senyumannya itu adalah senyuman tipis yang penuh arti. Tatapannya terasa begitu dalam. Aldo kemudian memiringkan kepalanya. "Apa kamu tau kalo aku sering merhatiin kamu?" []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD