Kesialan Rian

1455 Words
Malam hari, Mentari dan anak-anaknya makan malam bersama. Mentari kembali menggunakan uang sisa penjualan emasnya itu untuk membeli makanan enak untuk mereka. Membeli ayam goreng untuk anaknya. “Asyik, kita makan ayam goreng!” Seru Dira saat Mentari membuka bungkus ayam goreng yang baru saja ia beli. “Alhamdulillah, ibu punya sedikit uang jadi bisa beli ayam untuk Dira dan adik.” Mentari memberikan bagian paha pada Dira dan Vio juga bagian ayam lainnya untuk dirinya sendiri. Ia sengaja membeli ayam dengan porsi yang cukup untuk mereka bertiga. Mentari membeli untuk mereka tanpa membeli makanan untuk suaminya, jika biasanya ia pasti lebih mementingkan jatah untuk suaminya dari pada dirinya. Tidak untuk kali ini, kini ia memakan semua hingga ia kenyang. Karena yang ia tahu suaminya itu tak pulang bukan karena untuk bekerja, tapi mengajak seorang wanita untuk makan malam. Pasti mereka makan makanan yang lebih enak dari yang ia dan anak-anak makan saat ini. Mentari menikmati ayam goreng miliknya tanpa memikirkan suaminya. “Wah … enak sekali ya kamu. Suamimu bekerja hingga lembur dan kamu enak-enakan makan enak di sini. Pantas saja Rian suka mengeluh jika kamu tak pandai mengatur keuangan.” Mayang menghampiri menantunya itu dengan wajah sangarnya seperti biasa. Sebelum sampai ia menelpon Rian dan putranya itu mengatakan jika ia sedang lembur. “Ibu?” Mentari yang masih makan sendiri setelah anaknya selesai makan terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya. “Iya, ini ibu. Enak ya kamu makan dan suamimu lembur di kantor. Entah ia sudah makan atau belum.” Mentari hanya diam mendengar ucapan ibu mertuanya itu yang memang selalu pedas. “Menantu kurang, berani ya sekarang kamu membantah ibu! Hah?!” “Maksud ibu apa?” Plak …. Mayang bukannya menjawab pertanyaan Mentari, Ia malah melayangkan tamparannya di pipi menantunya itu dan menatap Mentari dengan d**a yang kembang kempis menahan amarahnya. Mentari hanya terdiam dan memegang pipinya yang terasa panas akibat samparan Ibu mertuanya. “Jika kamu memang tak mau membantu ibu, kamu tinggal bilang saja. Jangan mengatakan Iya dan ternyata kamu tak datang. Kamu hampir saja membuat ibu malu di depan teman-teman ibu, untung saja ibu bisa memesan catering dan bisa datang tepat waktu.” “Ibu, aku sudah bilang pada Mas Rian untuk mengatakan kepada ibu jika aku tak bisa datang. Hari itu ….” Mentari baru ingin mengatakan alasannya tak datang karena Vio hari itu sedang sakit. “Diam kamu! Jangan kamu melemparkan kesalahanmu itu kepada putraku, Kamu kan punya ponsel mengapa tak mau nelpon ibu langsung jika memang kamu tak bisa datang. Kamu pikir karena memberikan dua orang anak pada Rian kamu bisa bertindak seenaknya, jika Rian tak bersikeras mempertahankanmu ibu sudah lama mencarikan wanita lain untuknya, yang sudah pasti jauh lebih baik darimu.” “Maaf, Bu. Lain kali Mentari akan menelpon Ibu langsung.” “Sudahlah, ibu mau pulang salah Ibu berharap padamu. Heran Ibu Rian masih tahan dengan wanita sepertimu,” ucap Mayang kemudian Ia pun berlalu pergi setelah menyapa kedua cucunya. Mayang dan suaminya kebetulan lewat dan ingin singgah menyapa cucunya, mereka juga membawa mainan untuk keduanya kemudian segera pergi. Mentari hanya duduk lemas sambil memegang pipinya, buka hanya dari suaminya. Ia juga selalu mendapat perlakuan itu dari ibu mertuanya. Setelah membersihkan semua dan memastikan tak ada jejak jika mereka membeli makanan dari luar, Mentari mengajak anak-anak untuk tidur bersamanya di kamar. Ia jijik jika harus tidur bersama suaminya, entah apa yang telah suaminya lakukan dengan wanita selingkuhannya. Mentari yang tengah tertidur pulas terkejut saat mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya, ia tak bergerak dan hanya mendengarkan suara ketukan itu saja dan diikuti oleh suara teriakan tertahan dari suaminya. "Mentari, buka pintunya! Beraninya kamu mengunci pintu kamar sebelum aku masuk!" ucapnya, walau terdengar nada kemarahan dari ucapan suaminya Mentari tak ada niat untuk membuka pintunya. Rian menahan emosi, jika saja anak-anak tak ada di kamar itu bersama Mentari, ia pasti sudah mendobrak pintunya dan menghajar istrinya itu. Semarah apapun dia pada Mentari, Rian adalah seorang ayah. Ada rasa sayang yang begitu besar untuk anak-anaknya. Ponsel yang ada di samping Mentari terus bergetar, Mentari menoleh dan melihat jika itu adalah panggilan suaminya, selama ini Mentari memang tak pernah mengaktifkan nada dering ponselnya di malam hari. “Maaf, Mas. Untuk malam ini sebaiknya kamu tidur di luar saja. Aku tak yakin bisa menghadapimu saat ini, kamu sudah keterlaluan.” "Mentari, buka pintunya!" ucap Rian lagi sambil mencoba memutar gagang pintu. Mentari masih bergeming di tempatnya, ia membekap mulutnya dengan bantal agar Rian tak mendengar isakannya. Rasa sakit kembali menyerang saat mengingat jika suaminya itu memiliki hubungan dengan wanita lain di luar sana. Ia terlalu polos, selama ini yang selalu berpikir jika rumah tangga mereka baik-baik saja, sikap kasar suaminya itu hanya karena suaminya lelah seharian bekerja di kantor. Nafkah yang selalu kurang itu juga karena memang suaminya hanya mendapatkan rezeki sebanyak itu saja, ia tak pernah menyangka jika suaminya menyisihkan uang itu untuk kebahagiaan sendiri, untuk wanita lain. Rian yang lelah pun memutuskan untuk mandi di kamar mandi belakang, ia memakai baju yang diambilnya dari keranjang yang belum dilipat oleh sang istri. "Dasar wanita sialan kamu Mentari! Apa saja yang kamu lakukan sehari di rumah, melipat baju saja kami tak bisa. Kamu memang pantas diduakan," gerutunya saat berusaha mencari baju yang ingin dipakai di tumpukan baju lainnya, ia sengaja menghambur-hamburkan baju itu karena kesal. Biarlah nanti istrinya lah yang kembali merapikan semua itu. Setelah mendapat baju, ia pun menghampiri meja makan, ia lagi-lagi membanting tudung saji saat melihat tak ada makanan di atas meja makan. "Sialan kamu, Mentari! Dasar istri sialan, tak tahu diri! Aku sudah memberimu uang setiap bulannya secara cuma-cuma, tapi kamu membuat makanan saja tak mampu. Dosa apa yang aku perbuat sehingga mendapatkan istri seperti kamu," gerutunya semakin kesal, ia duduk depan TV dan hanya mengambil air dari kulkas saja, ia menyalakan tv sambil terus menggerutu memaki istrinya karena perutnya terasa lapar. Melupakan jika dia sendirilah yang mengatakan pada Mentari siang tadi tak usah memasak untuknya. Rian menghela napas panjang saat mengingat bagaimana di restoran tadi Salma makan dengan begitu lahap, tadinya ia berpikir jika mereka hanya makan berdua membuat ia pun memilih restoran mahal. Namun, dasar tak tahu diri, Salma memesan banyak menu dan mengundang beberapa tamannya. Tadinya Rian berpikir jika mereka akan memakan semua itu bersama-sama. Jadi, dia tak memesan menu tambahan lagi untuk dirinya sendiri, tetapi begitu menu itu datang dan Rian ingin mengambil makanan tersebut, Salma langsung melarangnya dan mengatakan jika itu adalah pesanannya, jika dia juga mau makan bisa pesan sendiri. "Memangnya kamu bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanya Rian melihat makanan yang hampir memenuhi meja mereka. Saat ini mereka masih berdua saja. "Siapa bilang aku sendiri," ucap Salma kemudian memanggil dua temannya yang baru datang. Rian mengepalkan tangan saat melihat ketiganya makan dengan lahap, sementara dirinya merasa lapar. Ia kembali ingin memesan menu untuk dirinya sendiri, tetapi saat melihat uang yang ada di dompetnya. Uang itu hanya pas untuk membayar makanan yang dipesan Salma saja, membuat ia pun hanya bisa menelan saliva saat perutnya meminta untuk diisi. Hanya bisa mencium aroma lezat dari makanan yang masuk ke dalam mulut Salma dan teman-temannya. Makanan lezat yang ada di depannya hanya bisa dipandangnya, padahal semua itu dibeli dengan uangnya. Rian tak berani mengambil makanan itu lagi, takut jika sampai Salma menegurnya di depan teman-temannya, hal itu pasti sangat memalukan. Betapa bodohnya dia, dia kelaparan sedangkan uangnya malam itu habis untuk membeli makanan enak untuk Salma dan teman-temannya. Semua uang yang ia keluarkan malam itu bahkan setara dengan uang belanja yang biasa diberikan pada istrinya untuk makan mereka selama sebulan, mau menyesal dan marah, semua sudah terjadi. "Lihat saja, Salma. Kamu harus memberi padaku sesuatu yang berharga yang kamu miliki, kamu harus membayar atas makan malam kita malam ini dengan memuaskanku," gumamnya dengan seringnya di wajahnya, kemudian Rian memutuskan untuk mencari makan di luaran saja. Walau ia baru pulang dari restoran mewah. Namun, kini perutnya diisi dengan makanan warteg di pinggir jalan yang harganya Rp10.000, karena sisa uang yang ada di dompetnya hanya Rp10.000 saja. Rian berencana meminjam uang kepada ibunya besok, agar ia bisa memiliki uang sampai ia gajian beberapa hari lagi. ***** Sementara itu, Abian yang tak bisa tidur memutuskan untuk kembali ke restoran yang tadi. Restoran di mana ia melihat seseorang yang mirip dengan Mentari yang ia kenal, wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya saat mereka duduk di bangku SMP. Mereka harus terpisah karena Abian harus melanjutkan sekolahnya di luar kota, di kota yang berbeda dengan sekolah tempat Mentari melanjutkan SMA-nya. Setelah lulus SMA, Abian kembali melanjutkan pendidikannya ke luar negeri untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Walau jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, Abian yang tak bisa tidur terus mengitari area sekitaran restoran itu dengan mobil mewahnya, berharap bisa kembali bertemu dengan sosok yang mirip Mentari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD