“Maaf, permisi.” Mentari berlari meninggalkan restoran tersebut, ia tak tahan lagi dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Mentari tunggu!” Panggil Abian ingin mengejar Mentari, tetapi langkahnya terhenti saat mengingat ia sedang ada janji.
“Ada apa, Pak? Bapak mengenal wanita tadi?” tanya Indra, asistennya.
“Entahlah, aku seperti mengenalnya. Apa aku salah orang, ya?” Abian kembali menoleh dan melihat wanita yang mirip dengan orang yang pernah ia kenal itu berlari menjauhi. Apa itu orang yang sama atau memang hanya mirip saja.
“Pak Mahesa sudah menunggu, sebaiknya kita temui beliau.”
“Iya, ayo.”
Abian melangkah masuk dan menemui kliennya, sedangkan Rian yang tadi mendengar nama Mentari di sebut seseorang menoleh dan mencari sosok istrinya.
“Ada apa, Mas?” tanya Salma.
“Nggak apa-apa, makanlah.”
Mentari berjalan kaki menyusuri trotoar jalan, ia yang tadinya datang ke toko emas dengan menggunakan angkot kini tanpa sadar terus berjalan dengan tatapan kosong, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ucapan suaminya yang akan menceraikannya jika ia sudah tak membutuhkannya lagi, jika anak-anaknya sudah besar dan tak membutuhkan dirinya lagi untuk menjaga mereka.
Apakah di mata suaminya selama ini ia sama sekali tak ada artinya? Apakah selama ini suaminya hanya menganggapnya seorang pembantu dan babysitter. Apakah saat anak-anak sudah tak tergantung lagi padanya, dia akan memisahkan mereka.
Tidak, Mentari tak akan membiarkan hal itu terjadi. Mentari menggeleng menepis semua praduga yang mampu membuat dadanya semakin sesak.
Mentari terima jika suaminya menyakitinya, menyiksa fisiknya, menghinanya. Menganggapnya wanita boros, bau, kucel, tak ada otak, ia menerima segala itu. Namun, tidak untuk perselingkuhan yang dilakukan suaminya.
Disaat ia dan anak-anak makan seadanya bahkan terkadang ia kelaparan, suaminya dengan santainya menawarkan wanita lain makan yang diinginkannya. Hebat sekali suaminya itu.
Mentari terus berjalan hingga ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari Bu Romlah.
"Ya ampun, ini aku sudah sangat lama meninggalkan anak-anak," gumam Mentari tersadar dari lamunannya, kemudian ia pun dengan cepat mengangkat panggilan dari tetangganya itu.
"Mentari, kamu nggak papa kan di jalan? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Romlah yang terdengar cemas dari nada bicaranya.
"Iya, Bu. Aku nggak papa, maaf aku perginya lama, ini aku sedang berjalan pulang kok, Bu. Tolong jangan tinggalkan anak-anak dulu."
"Oh ya sudah, kamu santai saja. Aku menelpon karena berpikir terjadi sesuatu padamu di jalan, jika memang kamu baik-baik saja kamu tak usah buru-buru pulang, anak-anak masih anteng kok bermain," jawab Romlah dibalik telepon membuat Mentari pun menghela napas lega.
"Makasih ya, Bu. Aku pulang sekarang, kok," ucap Mentari kemudian mengakhiri panggilannya, ia pun mencoba mencari angkutan umum jika berjalan akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Ia tak mau jika sampai merepotkan orang lain untuk menjaga anak-anaknya.
Mata Mentari tertuju pada toko kue, anaknya pernah merengek ingin makan kue dari toko itu, tetapi saat itu ia tak memiliki uang lebih. Mentari melihat dompet lusuhnya yang kini terisi beberapa lembar uang merah, ia pun berjalan menyeberang jalan dan langsung menuju ke toko itu.
Saat Mentari membuka pintu toko, ia langsung disambut dengan ramah oleh si pemilik toko.
"Mari, Bu. Silahkan," ucapnya mempersilahkan Mentari masuk dan memilih kue yang ada di etalase.
Mentari melihat-lihat kuenya sambil membayangkan wajah anaknya, anak-anaknya sangat suka kue dengan rasa strawberry, membuat pilihannya tertuju pada sebuah kue dengan toping irisan full buah strawberry, terlihat begitu enak.
Mentari melihat harga yang tertera di depan kue tersebut, harganya Rp 200. 000 Mentari menggigit bibir bawahnya, uang itu bisa digunakan untuk membeli makan enak untuk anak-anak beberapa hari kedepan.
"Tidak, jika mas Rian bisa membelikan wanita itu makanan yang mahal, aku juga bisa membelikan anak-anakku makanan yang mahal," gumamnya kemudian tanpa ragu mengeluarkan uang dari dompet dan memutuskan membeli kue tersebut.
Mentari pun menuju ke kasir dan mengambil antrian, seseorang yang berada di depan antriannya membayar 5 kue yang ada di antrian belakangnya. Kebetulan ada 5 orang yang mengantri termasuk Mentari.
"Kue-kue kalian semua telah aku bayarkan," ucap wanita paruh baya yang menggunakan dress yang terlihat begitu mewah.
"Wah terima kasih ya, Bu. Semoga rezekinya lancar," ucap seorang ibu yang mengantri di depan Mentari.
"Iya, sama-sama. Senang bertemu kalian, aku pamit dulu," ucap wanita tersebut kemudian langsung melenggang pergi, Mentari terbengong di tempatnya saat 4 orang ibu lainnya yang juga tadinya mengantri bersamanya kini langsung pergi tanpa membayar kue yang mereka tenteng.
"Maaf, Mbak. Apa kue ini juga sudah dibayarkan?" tanya Mentari pada karyawan toko yang menjaga meja kasir, tak mau jika ia salah paham dan membawa kue itu tanpa dibayar.
"Iya, itu ibu Ratu. Beliau pemilik toko kue ini, jika beliau mengatakan ingin membayar kue-kue kalian berarti beliau sudah membayarnya dan ibu bisa membawa pulang kuenya," ucap kasir tersebut dengan ramah.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Mbak," ucap Mentari merasa senang, ia pun kembali memasukkan uang yang sudah disiapkannya tadi, uang 200 nya tetap aman, uang itu begitu berharga bagi orang seperti Mentari.
Mentari pun dengan cepat keluar dari toko dan menghentikan angkutan umum. Dengan senyum di wajahnya, Mentari melihat kue yang ada di pangkuannya, rasa sedih akan suaminya tadi kini berganti dengan rasa haru menatap kue yang ada di pangkuannya, mereka sangat jarang makan makanan yang enak, ia yakin anak-anaknya pasti merasa bahagia saat memakan kue yang dibelinya.
Mentari menatap ponselnya, ia pun mencoba menekan nomor sang suami.
"Halo, Mas. Kamu di mana?" tanyanya begitu Rian mengangkat panggilannya.
"Dasar wanita bodoh! Ini jam kantor, tentu saja aku di kantor," jawab Rian dengan ketusnya.
"Maaf, Mas. Aku hanya ingin tanya, apakah kamu akan makan malam di rumah atau makan diluar, takutnya jika aku memasak makanan untukmu makanannya hanya akan mubazir, aku kan harus berhemat."
"Hari ini aku ingin lembur, kita memerlukan banyak uang untuk anak-anak, tak usah memasak aku akan makan di luar," ucap Rian kemudian mematikan panggilannya membuat Mentari pun hanya menghela napas sambil mengusap air matanya. Ia tersenyum getir membayangkan saat ini suaminya sedang bermesraan dengan wanita di restoran tadi, suaminya begitu lembut pada wanita itu sedangkan dengan dirinya ia begitu kasar.
"Silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Mas. Sekarang aku sudah tahu jika memang rumah tangga kita tak bisa dipertahankan lagi," gumam Mentari kemudian ia pun beranjak turun dari angkot begitu ia sudah sampai di kediamannya.
Benar dugaannya, begitu ia memperlihatkan kue itu kepada anak-anaknya, mereka pun berseru gembira.
Mentari, Romlah dan kedua anaknya makan bersama-sama kue strawberry tersebut.
“Ibu, kuenya rasanya sangat enak. Ibu sudah punya uang, ya. Jadi, bisa beli kue ini?” tanya si sulung.
“Alhamdulillah, ayo dimakan. Kue ini khusus ibu beli untuk anak-anak ibu yang pintar.”
Mentari memasukkan sisa kue strawberry itu ke dalam kulkas, tak lupa ia sengaja memasukkannya ke dalam wadah yang memiliki tutup dan berwarna sedikit gelap sehingga tak nampak apa isi di dalamnya, ia sengaja melakukan hal itu takut jika sampai suaminya mengetahui jika ia membeli kue mahal, pasti akan banyak pertanyaan yang dilayangkan oleh suaminya, begitupun dengan buah-buahan yang ia beli tadi. Mentari sengaja memotong-motongnya hingga menjadi irisan kecil, memasukkannya ke dalam wadah dan menyimpannya di belakang tumpukan sayur.
Bukannya ia pelit pada suaminya, masih ada rasa sakit hati saat suaminya itu dengan santainya makan makanan yang enak dengan wanita lain, bahkan yang paling membuatnya sakit hati suaminya itu menceritakan kejelekannya di depan wanita lain, menjadikannya bahan omongan mereka. Mengatakan jika ia boros dalam membelanjakan uang bulanan, padahal suaminya itu tak pernah memberikan uang yang cukup untuk mereka. Tak jarang ia mengambil kerjaan sekedar cuci gosok untuk menambah uang belanja.
Jika dulu Mentari selalu memikirkan perut suaminya dan juga perut anak-anaknya daripada perutnya sendiri, kini Mentari tak lagi melakukan hal itu. Baginya saat ini anak-anaknya adalah segalanya, ia tak akan peduli lagi apakah suaminya itu berangkat kerja dengan perut kenyang dan tidur dengan perut kenyang.
“Abian kamu kenapa?” tanya Ratu pada putranya.
“Ga apa, Bu. Aku hanya sedang memikirkan seseorang yang sudah lama tak aku temui. Tadi aku tak sengaja berpapasan dengannya, tapi aku tak yakin apakah itu dia atau bukan. Kami terakhir bertemu saat masih duduk di bangku SMP, setelah lulus kamu tak pernah bertemu lagi.”
“Nanti juga kalian akan bertemu kembali, kamu kan akan tinggal di kota ini mulai sekarang. Jika kamu bertemu di kota ini, pasti dia juga tinggal di kota ini,” ucap Ratu.
Mereka baru pindah dari luar kota ke kota tersebut, di mana dulunya Abian hanya bolak-balik dari kota itu ke kota asalnya. Namun, karena sekarang bisnisnya sudah semakin maju membuat Ia memutuskan untuk pindah ke kota itu dan membawa ibunya yang juga memiliki cabang toko kue di kota itu.