“Mas, makasih loh traktirannya. Sering-sering aja traktir aku di akhir bulan seperti ini,” ucap Salma terkekeh kecil, karena sudah dua hari ini ia terus makan enak dan itu ditraktir oleh Rian. Pria yang berstatus sahabat, tetapi sangat loyal dan mesra.
Sebenarnya uangnya masih sangat cukup jika ingin membayar sendiri makanan yang dimakannya, tetapi untuk apa mengeluarkan uang jika ada seorang pria yang sangat baik yang ingin mentraktirnya makanan enak. Padahal Ia tak melakukan apapun pada pria itu, cukup memberikan pujian dengan kata-kata maka dengan mudahnya ia bisa menguras dompet teman prianya itu.
“Jika hanya sekedar makan, nggak papa lah. Uangku masih sangat cukup untuk kita berdua. Jadi, kamu bilang aja jika menginginkan sesuatu lagi. Aku akan dengan senang hati memberikannya.”
Bibir Salma tersenyum lebar mendengar ucapan dari Rian. Namun, tidak dengan Mentari. Wanita malang yang perutnya terasa lapar itu menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih yang menjalar di hatinya.
“Oh, ya. Malam nanti kamu ada acara nggak?” tanya Rian sambil memberikan lauk ke piring Salma. Saat ini mereka sedang makan siang bersama dengan menu terbaik di restoran itu sedangkan Mentari hanya memesan minuman.
“Malam, ya? Hmm … Nggak ada, kok. Emangnya kenapa? Kamu mau traktir aku lagi?”
“Iya. Bagaimana? Mau nggak? Aku pastikan kamu akan puas dengan makan malam kita kali ini. Aku punya rekomendasi restoran yang makanannya sangat enak, aku pernah makan disana dengan temanku. Ya … walaupun harganya sedikit menguras dompet, tapi ga masalah jika makan bersama kamu.”
“Kamu nggak papa boros di akhir bulan seperti ini? Kita kan belum gajian. Apa istri kamu nggak marah jika jatahnya aku pakai?” tanya Salma, posisi mereka hanyalah karyawan biasa dan Salma sangat tahu berapa gaji pria yang bersamanya itu. Walau Rian satu tingkat di atasnya. Namun, gajinya juga tak jauh beda, yang membuat setiap bulannya Rian mendapat gaji yang lebih banyak darinya karena pria itu rajin mengambil kerjaan sampingan di kantor. Ia terkadang mendapat uang tips dari beberapa petinggi yang puas akan pekerjaan sampingan yang selalu dikerjakannya, kecerdasan Rian membuat beberapa atasan mereka selalu memanggilnya ke ruangannya. Terkadang mereka memanggilnya untuk mengerjakan pekerjaan mereka di waktu luang Rian, bahkan terkadang pria itu akan lembur dan mendapatkan gaji yang lebih banyak dari yang lainnya.
Namun sayang, semua hasil kerja keras itu tak bisa dinikmati oleh anak dan istrinya. Berbeda dengan dirinya yang hanya sekedar bekerja agar bisa gajian setiap bulannya. Toh, gajinya juga untuk dirinya sendiri. Gaji pokoknya cukup untuk membayar sewa kontrakan dan biaya perawatannya, Salma masih belum memikirkan untuk menabung.
Salma tak mau membuang-buang tenaganya untuk bekerja, dan tak menikmati masa mudanya.
Rian bukanlah orang satu-satunya yang selalu mentraktirnya makan dan juga membayar uang kontrakan yang terkadang tak bisa dibayarnya, karena kebutuhan lain yang lebih diutamakan. Hanya dengan bermodalkan wajah cantik dan juga rayuan manjanya, para pria akan suka rela membuka dompet mereka dan mengeluarkan selembar demi selembar hasil kerja keras mereka untuk kesenangannya.
“Kamu tenang saja walau kita belum gajian, tapi aku masih mampu untuk membeli apapun yang kamu inginkan. Kamu tak usah memikirkan anak dan istriku, mereka sudah mendapatkan bagian dariku. Istriku saja yang sangat sulit mengatur keuangan, padahal setiap bulan aku sudah memberikannya uang. Enak sekali hidupnya hanya tinggal di rumah, tapi tiap bulan mendapatkan gaji. Berapapun yang aku berikan padanya tak akan cukup, dia itu sangatlah boros. Aku tak mau hasil kerja kerasku sia-sia di tangannya, jadi aku hanya memberikan sebagian dan sebagian untuk aku sendiri. Aku berhak bahagia dengan hasil kerja kerasku, kan?” ucap Rian dengan senyum membanggakan dirinya sendiri, membuat Salma hanya mengangguk.
Salma menyuapi Rian dengan makanan yang ada di piringnya, Rian juga melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berdua tertawa cekikikan membuat Mentari yang mendengar semua percakapan mereka dan melihat perlakuan manis suaminya pada wanita lain, hanya bisa mengepalkan tangannya.
Suaminya begitu gampangnya mengeluarkan uang untuk seorang wanita yang sama sekali tak ada hubungan dengannya, berbeda dengan dirinya dan juga dua anaknya. Ia bahkan mengirit uang bulanan yang diberikan suaminya dan memakan seadanya agar mereka tak kelaparan. Agar ia bisa menghidangkan makanan di meja makan.
Terkadang anak-anaknya menangis karena menginginkan makan di luaran sana, sesuatu yang tak bisa dibelinya sedangkan suaminya membuat wanita lain tertawa dengan makanan yang ia yakin harganya cukup mahal. Mungkin harga seporsi makan itu bisa untuk makan mereka bertiga di rumah. Anak-anak pasti senang saat makan makanan yang dimakan wanita itu. Hati Mentari teriris perih dengan kenyataan yang ada di harapnya ini.
Mentari hanya mengusap air matanya dan menahan diri untuk tak membuat keributan di restoran tersebut.
“Mas, kamu betah banget sih hidup dengan istri seperti dia, aku tak bisa membayangkan seperti apa istrimu saat di rumah. Setiap hari kamu terus saja mengeluh tentang ketidak becusan nya.”
“Bagaimana aku tak mengeluh jika dia itu tak pernah becus menjadi seorang istri dan ibu. Saat pulang ke rumah, aku hanya dibuat marah karena rumah yang kecil itu sangat berantakan, makin sumpek. Belum lagi penampilan yang membuat aku tak berselera untuk menyentuhnya. Masakannya juga sangat tak enak, selalu saja makanan yang sama setiap harinya. Itulah sebabnya aku juga selalu makan di luar, karena dia sangat jarang menyiapkan makanan yang enak. Makanan yang bisa disajikannya hanya tahu dan tempe dan ikan saja. Tak sekalipun ia membeli ayam atau daging dan memasaknya menjadi makanan yang enak. Ya, dia sangat pemalas. Jika saja kami belum memiliki anak, mungkin sudah sejak lama aku menceraikannya.”
“Ya ampun, Mas. Malang sekarang nasibmu mendapatkan istri seperti itu. Jika kamu tak bahagia, ceraikan saja dia. Jangan hanya masalah anak kamu mengorbankan kebahagiaan kamu.”
“Apa jika aku menceraikannya, kamu mau menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku?”
Salma tertawa. “Ya, nggak lah, Mas. Aku mana mau menjadi ibu dari anak-anakmu dan tinggal di rumah mengurus mereka. Menjadi ibu dari anak-anakku saja aku tak yakin bisa jika nanti aku punya anak. Makanya aku mencari suami yang memiliki banyak duit agar bisa menyewa jasa babysitter dan juga pembantu untuk mengurus rumah.”
“Jika kamu mau jadi istriku aku bisa memberikan apapun yang kamu mau.”
“Kamu cerai saja dulu dengan istrimu itu dan kita bisa menjalani hubungan ini lebih baik lagi, kita tak perlu menikah untuk bisa sama-sama.” Salma mengucapkan kalimatnya dengan sangat entengnya, mengucapkan kalimat cerai dan mengajak suami orang untuk hidup bersama tanpa adanya pernikahan.
“Jika sekarang belum bisa. Anak aku masih sangat kecil, aku juga menyayangi mereka. Sekarang aku masih membutuhkan istriku untuk merawat mereka, tunggu sebentar lagi. Lagi pula kita menjalin hubungan tanpa aku bercerai juga tak masalah, kamu mau kan jadi wanitaku?” ucap Rian juga tanpa beban.
Selama ini mereka memang dekat. Namun, tak ada hubungan yang mengikat mereka. Sehingga mereka masih memiliki batasan. Hubungan mereka selama ini hanya sebatas teman, tapi mesra.
“Apakah kamu mengajakku pacaran?” ucap Salma dengan ada manjanya.
“Jika kamu tak masalah berpacaran denganku yang sudah memiliki istri, tentu saja aku mau memiliki pacar secantik kamu.”
“Tapi pacaran dengan aku nggak gampang lho, Mas. Aku takut kamu tak mampu memberikan apa yang aku inginkan,” ucap Salma sambil memainkan rambutnya yang panjang. Menggulung-gulung rambut tersebut di jari telunjuknya hingga jari itu kini menjalar ke leher jenjangnya.
“Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan jika kamu juga memberikan apa yang aku inginkan. Bagaimana, Sayang?”
“Baiklah, Sayang,” ucap Salma dan kemudian keduanya pun saling tertawa, mengabaikan orang-orang yang melirik ke arah mereka termasuk Menteri yang sejak tadi menahan rasa sakit hatinya.
Hatinya benar-benar hancur mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mereka berdua, tanpa meminum sedikitpun jus yang telah dipesannya Mentari membayar dan segera pergi dari sana. Sudah cukup ia mendengar niat suaminya yang ingin selingkuh di belakangnya.
Mentari meninggalkan restoran itu sambil mengusap air mata yang terus saja menetes, walau selama ini Ia mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Mendapat cacian, hinaan siksaan fisik dan batin, tetapi tetap saja Rian adalah ayah dari anak-anaknya. Ada rasa cinta yang masih ada di lubuk hatinya setelah 6 tahun pernikahan mereka. Ia mencintai pria itu. Namun, kini rasa cinta itu kembali ditutupi dengan rasa sakit yang teramat dalam.
“Baiklah, Mas. Jika kamu sudah tak mau menganggapku sebagai seorang istri, aku tak akan memaksa. Aku tak akan mengemis kebahagiaan darimu, kamu tak perlu khawatir masalah anak-anak. Jika kamu takut aku tak mengurus anak-anak setelah kita bercerai kamu salah. Mereka adalah anak-anakku, anak-anak yang lahir dari rahimku dan akan menjadi milikku. Tanpa kamu minta pun, aku akan menjaga mereka dengan sangat baik.” Mentari yang terburu-buru keluar dari restoran itu tanpa sengaja menabrak seseorang.
“Maaf, maaf. Aku tak sengaja.” Mentari memungut beberapa barang-barang orang itu yang terjatuh karena ulahnya, yang tak hati-hati sehingga menabraknya.
“Mentari? Kamu Mentari, kan?”