Kecurigaan Mentari

1304 Words
Mentari menghampiri meja makan, melihat masih ada sisa makanan di sana, walau sedikit. Namun, itu cukup untuk mengganjal perutnya. Pagi tadi ia memang hanya membuat sarapan untuk 2 porsi saja, untuk suaminya dan juga Dira. Bukannya ia tak mau membuat 3 porsi untuk dirinya sendiri, tetapi bahan yang ada hanya cukup untuk 2 porsi. Bersyukur tadi Dira menyisakan makanan untuknya, sedangkan nasi goreng yang ada di piring suaminya tak tersisa sedikitpun. Sementara makanan untuk Vio, sudah disiapkannya. Hari ini ia sengaja membuat bubur ayam kesukaan putranya, kemarin saat pulang dari klinik ia membeli sepotong ayam untuk Vio dan beberapa sayuran segar. Kasihan anaknya itu, ia masih harus mendapatkan makanan yang bergizi, tetapi karena ketidakberdayaannya membuat ia hanya membeli beberapa makanan sehari-hari saja. Setelah ia makan, ia pun membereskan rumah yang tak terlalu berantakan, setelahnya ia menghampiri sang putra yang baru saja bangun, mengganti bajunya agar lebih segar dan membawanya keluar untuk sarapan. Setelah Vio sarapan ia pun memberikan obat untuk putranya itu. Mentari sangat bersyukur, sejak subuh suhu tubuh putranya sudah normal dan tak pernah demam lagi, sejak subuh setelah ia meminumkan obat anaknya bisa tidur pulas hingga jam sudah menunjukkan pukul 10.00 barulah ia bangun. "Kita jemput kak Dira dulu, ya, Dek?" ucapnya pada putra bungsunya itu. Dengan berjalan dan menggunakan payung, Mentari menjemput si sulung. Jarak dari rumah ke sekolahan tak begitu jauh, membuat ia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sesampainya di sekolah, Mentari bisa melihat jika Dira sudah melambaikan tangan, anaknya itu sedang menunggu bersama dengan ibu guru. "Terima kasih ya, Bu. Sudah menemani anak saya, maaf saya karena terlambat." "Iya, Bu. Nggak apa-apa, tadi Dira mengatakan jika adiknya sedang sakit. Jadi, ibunya terlambat untuk menjemput," ucap ibu guru tersebut saat Mentari menggenggam tangan Dira. "Ya sudah, Bu. Kami pulang dulu, sekali lagi terima kasih," ucap Mentari membuat ibu guru itu pun mengangguk, mereka lagi-lagi berjalan kaki pulang ke rumah walau sesekali Dira mengeluh cepek. Sebisa mungkin Mentari menyemangati putrinya agar tetap berjalan. "Bu, aku haus," keluh Dira di mana botol air minumnya sudah habis. "Ini tadi ibu bawain minum," ucap Mentari memberikan botol air yang ada di kantongnya, botol air yang berukuran kecil yang memang sengaja dibawanya saat menjemput Dira. Anak itu pun mengambil minuman yang diberikan oleh ibunya dan segera meminumnya walaupun matanya tertuju pada minuman dingin yang mereka lewati. Mentari bukannya tak tahu apa yang diinginkan oleh anaknya, tetapi ia saat ini sedang tak memegang uang. Uang yang ada di rumah juga tersisa Rp 10.000, uang itu bisa mereka pakai untuk makan siang nanti. Mentari hanya berharap saat makan malam suaminya datang dan membawa makanan untuk mereka, atau setidaknya memberikan uang belanja untuknya. "Ini untuk Ibu juga," ucapnya memberikan sisa minumannya pada sang ibu, membuat Mentari pun mengambil air minum itu dan terlebih dahulu memberikan kepada Vio yang juga terlihat kehausan, kemudian meminum sisanya. Mentari cukup kerepotan karena menggendong Vio sambil memegang payung juga menggenggam tangan Dira. Mereka melewati jalan raya yang cukup padat akan kendaraan. Sesampainya di rumah, anak itu pun meminta makan. "Ini tadi ibu masak bubur ayam untuk ade, apa Dira mau?" "Iya, Bu. Mau," ucapnya membuat Mentari pun menyuapi kedua anaknya itu secara bergantian, sedangkan ia sendiri sesekali hanya menyuapi dirinya sendiri untuk pengganjal saja. Agar tak kelaparan, ia memperbanyak minum air putih. Setelah kedua anaknya itu didudukkan di depan TV, Mentari pun menghampiri dapur, ia memeriksa bahan-bahan yang ada. “Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Tak ada yang bisa dimasak.” Mentari hanya bisa mengelus dadanya, semua benar-benar habis, hanya ada beras itupun hanya tersisa untuk beberapa hari saja. Tak ada untuk lauk. Uangnya tersisa Rp 10.000. Ia juga tak mau menghabiskan uang tersebut takut jika ada keperluan mendesak. "Mas Rian gajian seminggu lagi, bagaimana ini? Apa yang aku lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan anak-anak selama seminggu ini dan jika aku tak memasak mungkin mas Rian akan kembali marah padaku," gumamnya sambil memutar otak hingga tangannya meraba telinganya. Ia baru mengingat jika ia masih punya satu perhiasan lagi, anting yang dibelinya sebelum mereka menikah. Mentari pernah memiliki satu perhiasan lain yaitu cincin kawin, tetapi cincin itu harus dijual saat suaminya membutuhkan uang. "Sebaiknya aku jual saja, nanti sisa uangnya bisa aku simpan untuk berjaga-jaga," gumamnya berbinar senang. Beban yang sejak tadi terus dipikirkannya hingga kepalanya terasa sakit, kini menghilang sudah. Ia kemudian dengan segera menghampiri anak-anaknya. "Dira, ibu titip Vio dulu, ya? Ibu ingin membeli buah untuk kalian, nanti ibu akan minta bu Romlah untuk menjaga kalian. Ibu pergi dulu ya, Nak," ucap Mentari membujuk Dira. "Iya, Bu. Aku mau buah apel ya sama pisang," ucap anak itu membuat Mentari pun mengangguk. Ia segera keluar dan menghampiri Bu Romlah tetangganya. "Bu, aku ingin keluar sebentar. Aku titip anak-anak, ya? Nggak lama kok, Bu. Aku hanya ingin membeli buah," ucap Mentari. "Iya, pergilah. Kebetulan aku juga sedang tak melakukan apa-apa," ucap bu Romlah. Jarak dari toko emas dengan rumah mereka cukup jauh, membuat Dira yang tadinya ingin menyimpan uang Rp 10.000 sisa uang belanja bulanannya memutuskan menggunakan uang itu untuk naik kendaraan umum, setelah menjual anting yang dimilikinya pasti akan ada uang pegangan lagi. "Apa nggak bisa ditambah sedikit, Mas? Ini masih sangat bagus, nggak ada rusaknya," ucap Mentari saat melakukan transaksi jual beli anting yang dimilikinya. Berat anting itu masing-masing 1 gram dan masih lengkap dengan surat-suratnya. "Baiklah, aku tambah 100 lagi, ya? Ini penawaran terakhir dan sudah tinggi, kami tak bisa menaikkannya lagi, Bu," ucap pemilik toko tersebut. "Iya, Mas. Terima kasih," ucap Mentari merasa lega, kini dia memiliki uang Rp 2.000.000 lebih, dia akan menyimpan uang itu, tak akan diperlihatkannya pada suaminya, karena jika suaminya melihatnya sudah dipastikan dia akan mengambil uang itu, uang itu akan dijadikan pegangan dan berjaga-jaga jika ia membutuhkan sesuatu begitupun dengan anak-anaknya saat suaminya tak mau memberikan uang. Sama seperti saat Vio sakit, ia sudah meminta uang tambahan untuk membawa anak mereka itu ke rumah sakit, tetapi suaminya hanya memintanya untuk membeli obat warung saja. Alhasil demam Vio semakin tinggi dan akhirnya mau tak mau ia membawanya ke klinik karena sangat panik waktu itu. Sesuai dengan janjinya pada Dira, Mentari pun menghampiri penjual buah dan membeli 1 kilo buah apel dan 1 sisir pisang, ia tak mau terlalu banyak membeli buah takut jika sampai suaminya kembali protes dan mengetahuinya. Pasti suaminya akan banyak bertanya. Suaminya akan mengatakan jika dia boros dalam membelanjakan uang. Padahal ia sudah bersusah payah untuk mengirit pengeluarannya selama ini, bahkan terkadang ia sampai kelaparan karena membiarkan suami dan anaknya makan lebih dulu. Mentari hanya akan memakan sisa saja untuk menghemat pengeluaran. Kata boros membuat hatinya terluka, bagaimana tidak, ia sudah berusaha untuk menghemat, tetapi tetap saja uang itu tak pernah cukup. Karena memang suaminya tak pernah memberikan uang lebih dari satu juta. "Itu kan mas Rian," gumam Mentari saat melihat suaminya di seberang jalan, duduk di sebuah restoran bersama dengan seorang wanita. "Mungkin itu teman kerjanya," gumam Mentari. Namun, rasa penasaran membuatnya melangkah ke arah restoran tersebut, ia sengaja menutupi wajahnya dengan masker yang digunakannya kemudian duduk di samping meja tempat suaminya berada, ia sengaja memesan satu minuman agar tak diusir dari restoran tersebut. Sejak 5 bulan yang lalu sebenarnya Mentari merasa curiga saat suaminya jarang pulang ke rumah dan juga jika pulang selalu ada aroma wanita di bajunya, bukan hanya itu. Selama 5 bulan terakhir suaminya yang memang sering marah kini semakin menjadi-jadi, begitupun uang belanja yang sudah 5 bulan ini tak seperti biasanya. Setiap bulannya uang bulanannya semakin sedikit saja, padahal pengeluaran mereka semakin banyak. Anak mereka sudah besar dan mulai banyak keperluannya, juga keduanya kini mulai banyak meminta ini itu. Semua itu tentu saja memerlukan uang. Dengan jarak sedekat itu, kini Mentari yakin jika pria itu memanglah suaminya. Akan tetapi, ia masih ingin tahu siapa wanita itu. Apakah hanya teman kerja atau lebih dari sekedar teman kerja suaminya. Mentari terus menajamkan pendengarannya untuk mendengar obrolan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD