Rian dan Salma yang sudah selesai makan pun memutuskan untuk pulang dengan motor matic Rian. Pria itu sengaja mengantar Salma ke kontrakannya walaupun jaraknya lumayan jauh.
"Mau mampir dulu nggak, Mas?" tawar Salma.
"Nggak deh. Ini sudah malam, aku pulang dulu, nggak enak juga dilihat oleh yang lainnya," ujar Rian. Salma tinggal di sebuah kontrakan yang cukup dekat dengan tetangga lainnya.
"Ya sudah, deh. Jika memang kamu nggak mau mampir nggak papa, hati-hati di jalan ya?" ucap Salma membuat Rian pun mengangguk dan kembali ingin menyalakan motornya. Namun, Salma tiba-tiba menarik lengan kemeja Rian, membuat Rian yang tadinya ingin kembali menghidupkan motornya mengurungkan niat.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mas, kamu punya uang, gak?" ucap Salma dengan suara dibuat selembut mungkin.
"Uang? Untuk apa?"
"Kita kan gajian masih seminggu lagi, Mas. Kemarin ibu tiba-tiba sakit dan meminta uang untuk biaya di rumah sakit, makanya aku kirimkan uang terakhirku. Aku panik sampai lupa jika bulan ini aku belum bayar kontrakan, jika besok aku tak membayar mungkin aku akan diusir keluar dari sini, Mas. Aku tak tahu harus tinggal dimana."
"Loh, masa yang punya kontrak setegas itu sama kamu? Hanya nunggak sebulan langsung diusir, aku saja kadang nunggak kok sampai 2 bulan nggak masalah."
"Iya, Mas. Tadi aku ingin membayar tunggakan tiga bulan terakhir, tapi ternyata kosmetikku habis semua. Jadi, aku beli kosmetik dulu.” Salma selalu bisa membujuk Rian untuk mengeluarkan uangnya.
"Memangnya berapa yang kamu butuhkan?"
"Satu juta setengah saja kok, Mas. Nanti aku akan usahakan untuk menambah kekurangannya, aku janji setelah gaji aku akan kembalikan uang kamu."
Rian langsung mengeluarkan ponsel dan saat itu juga mentransfer uang Rp 1.500.000 ke rekening Salma.
Mata Salma berbinar senang saat melihat transferan dari Rian sudah masuk ke rekeningnya.
“Makasih ya, Mas.” Sebuah kecupan mendarat di bibir Rian sebagai tanda terima kasihnya.
“Apa hanya sebuah kecupan?”
“Nanti aku berikan lebih dari kecupan Mas, nggak enak di sini banyak yang lihat,” ucap Salma dengan nada genitnya.
“Oke, Sayang.”
Salma pun melambaikan tangan saat Rian mulai melajukan motornya meninggalkan Salma yang kini tersenyum penuh makna, dimana uang itu sebenarnya bukan untuk membayar kontrakan, tapi untuk membeli keperluan lainnya dan ke salon. Sudah lama ia tak perawatan, ia juga tak pernah mengirimkan uang pada ibunya, ibunya di kampung baik-baik saja, ia hanya menggunakan alasan itu agar Rian mau memberinya uang. Ia yakin jika pria itu tak akan menagihnya walaupun mereka sudah gajian nanti.
Sesampainya di rumah, Rian melihat semua lampu sudah mati, berarti istrinya itu sudah tidur. Rian pun berjalan masuk menuju ke kamarnya. Namun. tiba-tiba ia menginjak sesuatu dan hampir saja terjatuh.
"Sial," umpatnya kemudian ia pun mencoba mencari saklar lampu.
"Dasar wanita pemalas," umpatnya saat melihat rumah begitu berantakan, mainan Dira ada di mana-mana, begitupun bekas makanan Vio masih ada di meja makan.
Dengan kemarahan tertahan, Rian pun berjalan kamarnya. Begitu ia membuka pintu kamar, Rian melihat istrinya tertidur sambil duduk dengan kedua anaknya yang terlihat tertidur pulas. Rian langsung melangkah dan menarik rambut Mentari, membuat Mentari yang baru saja tidur terkejut dengan rasa sakit yang ia rasakan.
“Mas, sakit,” keluhnya.
“Ikut kamu!” Rian terus menarik rambut Mentari keluar kamar mereka.
Sebisa mungkin Mentari tak mengeluarkan suara, agar tak mengganggu anaknya. Vio yang sejak tadi rewel baru saja tertidur.
"Dasar istri sialan! Bisa banget kamu bersantai di sini, sementara aku seharian keluar bekerja dan baru pulang semalam ini demi menghidupi kalian semua!" ucap Rian dengan nada pelan. Namun, dengan penuh penekanan dan emosi di setiap nadanya. Ia juga dengan kuat menggenggam erat rambut Mentari, membuat Mentari meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat rambutnya yang dijambak oleh suaminya.
"Mas, Vio baru saja tertidur. Seharian badannya demam, jadi aku terus mengurusnya," ucap Mentari membela diri. Namun, ucapannya itu tak membuat Rian melepaskan cakram tangannya
Mentari yang merasakan sakit, hanya pasrah dan mengikuti kemana tarikan rambutnya itu membawanya.
Rian langsung menekan ujung dagu Mentari dengan satu tangan tanpa melepaskan cengkraman tangannya di rambut Mentari.
"Lihat sana! Apakah pemandangan itu enak dipandang? Hah! Aku bahkan kesulitan melangkah karena rumah yang sangat berantakan. Aku yang sudah membayar rumah ini tiap bulannya agar kita tak kehujanan, tak kepanasan. Agar kita memiliki tempat tinggal, tak bisakah kamu menjaganya agar tetap bersih. Aku tak pernah meminta uang darimu sepeserpun untuk membantu membayar kontrakan ini, cukup kamu buat rumah ini bersih saja kamu tak sanggup," ucap Rian masih dengan penuh menekan dan dengan emosi tertahannya.
Rian kembali menarik Mentari menuju ke meja makan.
"Lihat makanan ini, kamu pikir semua itu tak ada harganya, Ha! Tak bisakah kamu memasak sesuai dengan yang di dibutuhkan saja, kamu bisa memasak sesuai dengan yang bisa kita habiskan. Kamu pikir mencari uang untuk membeli semua ini gampang! Jangan seenaknya saja kamu membelanjakan uang tanpa memikirkan betapa susahnya aku mencari semua itu!" ucapnya saat melihat makanan yang ada di meja makan masih tersisa banyak.
"Mas, kamu kan belum makan, aku juga menunggumu pulang dan aku juga belum makan. Semua makanan ini akan habis untuk kita berdua. Baru Dira dan Vio yang sudah makan, Mas," ucap Mentari sambil meringis kesakitan. Kini bukan lagi rambutnya yang menjadi sasaran Rian tetapi lengannya.
"Aku sudah makan, kamu mau aku sakit perut jika harus kembali makan lagi. Kamu pikir aku rakus seperti kamu! Tak punya otak, kamu kan bisa menghubungiku sebelum memasak menu makan malam, tanyakan apakah aku mau makan di rumah atau di luar. Jika aku makan di luar kamu tak usah memasak makan malam, kalian semua bisa makan makanan tadi siang kan. Kamu itu harus hemat. Punya otak itu dipakai, pengeluaran kita semakin banyak. Dira sudah sekolah, Vio juga semakin besar, kamu pikir semua itu tak butuh biaya?"
"Iya, Mas. Maaf, aku salah, lain kali aku akan menelpon dulu sebelum memasak makan malam untuk kita," ucap Mentari yang memilih untuk mengalah, padahal jika biasanya ia menelpon untuk menanyakan hal tersebut, ia pun akan mendapatkan amarah dari suaminya. Rian akan memarahinya saat pulang karena telah mengganggu waktu kerjanya dan memintanya untuk tak menelponnya lagi.
"Sekarang kamu bersihkan rumah ini, aku tak mau rumah berantakan saat aku bangun besok. Aku ngantuk mau istirahat, aku seharian bekerja di luar, capek. Gunakan tenagamu itu untuk membersihkan rumah, jangan hanya ongkang-ongkang kaki saja seharian dirumah," ucap Rian kemudian ia pun berlalu meninggalkan Mentari yang hanya bisa mengusap pergelangannya yang masih terasa sakit.
Mentari mengambil air minum untuk mengisi perutnya yang terasa kosong. Ia menutup kembali makanan yang tadi sudah dibuka oleh suaminya dan mulai membereskan semua mainan-mainan anaknya. Setelahnya ia masuk ke kamar dan melihat suaminya itu sudah mandi dan berbaring di samping Dira. Ia melihat pakaian kotor suaminya tergeletak di keranjang pakaian kotor, ia pun dengan cepat mengambil pakaian itu dan segera mencucinya. Mentari tak mau jika sampai hanya karena kemeja, suaminya itu kembali memarahinya.
Saat mulai mencuci, Mentari mengendus pakaian tersebut, "Parfum siapa ini? Ini bukan parfum mas Rian," gumamnya saat mencoba memastikan aroma parfum yang ada pada baju suaminya. Mentari mencoba memperhatikan baju suaminya dan melihat ada noda lipstik di bagian belakang. Apakah tadi suaminya membonceng seseorang dan noda itu tak sengaja menempel di sana? Pikirnya dengan polosnya.
"Ah! Mungkin hanya teman kantor yang numpang ikut pulang," pikir Mentari menepis prasangka buruknya. Mentari pun melanjutkan mencuci pakaian tersebut, setelah semuanya selesai barulah ia menghampiri meja makan, ia mulai menyantap makanan yang terhidang di sana.
Mentari memakan sebagian yang sudah tak bisa disimpan lagi sampai besok. Adapun sebagian yang masih bisa dihangatkan dan bisa dimakan keesokan harinya ia masukkan ke dalam kulkas. Ia melakukan itu untuk menghemat pengeluaran bulanannya.
****
Pagi hari Rian tak lagi marah-marah saat melihat rumah bersih dan sarapan pun sudah siap di atas meja, pakaian yang ia inginkan sudah tersedia. Begitu pun Dira yang sudah memakai seragam sekolahnya dan sudah makan, sedangkan Vio. Si kecil masih tertidur pulas di kamar.
"Mas. Apakah bisa pagi ini kamu yang mengantar Dira? Vio masih tidur, semalam dia rewel. Aku Tak tega membangunkannya, Mas. Dia baru saja tertidur pulas," ucap Mentari, di mana semalam setelah ia membersihkan semua rumah dan setelah makan, Vio kembali menangis dan akhirnya ia pun tak tidur semalaman demi mengurus sang anak. Ia tak mau jika suaminya bangun dan memarahinya karena terganggu akan suara tangis anak mereka.
"Ya sudah, baiklah. Aku yang mengantar Dira," ucap Rian sambil memakai sepatunya.
“Mas, kemarin ibu juga memintaku untuk membantunya menyiapkan makanan karena dirumah ibu ada arisan, Vio sedang sakit aku sepertinya tak bisa pergi ke rumah ibu. Bisakah mas memberitahu ibu jika aku tak bisa datang?”
“Baiklah,” jawab Rian singkat, di mana semalam ia sebenarnya juga mendengar Vio yang rewel dan bisa merasakan suhu tubuh anaknya pagi tadi masih hangat.
"Mas …,” panggilan Mentari lagi.
“Apalagi sih?”
“Ini, uang belanjaku sudah habis. Apa boleh aku minta uang bulanannya sekarang," ucap Mentari dengan ragu-ragu.
"Apa? Sudah habis? Kamu kemana kan semua uang yang aku berikan untuk bulan ini? Kamu kan sudah tahu jika aku gajian seminggu lagi, tak bisakah kamu menghemat pengeluaranmu sampai aku gajian?"
"Iya, Mas. Aku sudah berusaha menghemat uang yang Mas berikan, tapi kemarin aku membawa Vio ke klinik, Mas. Badannya sangat panas, jadi uang untuk satu minggu ini aku pakai untuk membayar obatnya."
"Kamu itu punya otak nggak sih? Sudah tahu biaya di klinik itu mahal, mengapa kamu tak membawanya ke rumah sakit saja."
"Jarak dari rumah sakit kan jauh, Mas. Kemarin aku panik, aku hanya melarikan Vio ke klinik yang ada di depan," jawab Mentari, dimana klinik tempat Mentari membawa Vio hanya keluar dari lorong tempat di mana rumah kontrakan mereka berada, menyeberang jalan mereka pun sampai. Sedangkan untuk ke rumah sakit jaraknya mungkin sekitar 30 menit, itu pun mereka harus memakai angkutan umum.
"Banyak alasan kamu. Kamu itu tak bekerja, mana tahu sulitnya mencari uang. Kamu itu taunya hanya menghamburkan uang saja. Belajarlah berhemat, kamu pikir mencari uang itu mudah? Sudah, makan yang ada saja. Aku sedang buru-buru," ucapnya yang langsung mengambil tas Dira dan menggenggam tangan putrinya itu, keduanya pun berjalan keluar sementara Mentari hanya menatap kepergian suaminya. Mentari merogoh sakunya dan melihat hanya tersisa uang 10.000 di sana, bagaimana mungkin uang 10.000 itu cukup untuk satu minggu kedepan.