Akhirnya masa orientasi selesai. Sudah saatnya hari ini Hana masuk sekolah sebagai siswa baru yang resmi, memakai seragam putih abu-abu. Rasanya menyenangkan, terlepas dari gangguan menyebalkan para panitia masa orientasi.
Hana masuk ke dalam kelasnya setelah upacara hari Senin pertamanya selesai. Di kelas, seluruh siswa sudah berkumpul. Ada yang gibah berjamaah, ada yang mabar, ada pula yang duduk-duduk sambil baca buku.
"Asique, komik baru?" Hana duduk di sisi Yudha yang sedang membaca komik sambil mengemut permen milkuri cokelat.
"Yoi." Yudha menjawab singkat.
"Entar gue pinjem, ya? Ya?"
"Beli lah, modal."
"Hilih, awas lo ya!"
Hana mencebikkan bibir dan duduk kesal seraya mengeluarkan sebuah buku. Bukan, bukan mau belajar. Lagian kan pelajaran belum dimulai? Biasanya hari Senin hanya perkenalan-perkenalan gitu, masih bebas. Hana mau iseng-iseng aja gambar-gambar seperti kebiasaannya.
Sampai sebuah suara menginterupsi Hana. Hana menoleh, menemukan Raka yang berdiri di sisi bangkunya.
"Kalian ada mau ikutan Osis atau organisasi lain gak?" tanyanya.
"Gue ikut dance, kayaknya. Kalau organisasi, nggak." Yudha menyahut, kemudian kembali membaca komik.
"Gue! Gue mau ikut Osis!" Hana mengangkat tangan antusias. Iya, Hana memutuskan buat ikutan Osis daripada padus. Takut audiens pada kabur kalau dia ikutan padus.
"Bagus. Udah isi formulir belum?" tanya Raka lagi. Hana mengangguk semangat, menarik perhatian Yudha dari komiknya.
"Seriusan lo mau ikutan Osis?" tanya Yudha mendelik.
"Serius," balas Hana, kemudian kembali menatap Raka setelah mengeluarkan formulir pendaftaran anggota Osis di dalam tasnya. Katanya hari Senin memang terakhir formulir dikumpulkan. "Lo mau ngumpulin formulir juga?" tanya Hana.
"Iya. Gue udah ngumpulin waktu hari Sabtu, dan disuruh ngumpulin formulir yang lainnya di kelas ini kalau mau ada yang ikutan."
"Eh. Gue ikut ya, ngumpulin formulirnya?"
"Boleh."
"Gue juga ikut!" Yudha tiba-tiba memekik.
"Ngapain? Lo kan gak ikutan ih?"
"Ngumpulin formulir ekskul dance gua mah."
Hana akhirnya hanya mendesah pelan dan membiarkan Yudha ikut.
Di kelas Hana lumayan banyak yang ikut Osis. Esa, Wikdan, Raka, Tony, Hana, Melisa, dan Nara. Sisanya ya paling-paling ikut ekskul lain.
Hana, Yudha, dan Raka sampai di depan sekre Osis. Lumayan banyak kakak kelas di sana, membuat Hana agak ragu untuk masuk. Beruntung, Raka memiliki nyali besar. Jadi Hana hanya mengikuti sambil sesekali tersenyum kecil ke arah kakak kelas yang melihatnya.
Hana nyari Kak Juno, tapi gak ada. Padahal niatnya ikut Raka ke sini supaya bisa lihat Juno.
Kecewa lagi.
***
Kelas masih sepi saat Juno masuk. Maklum, kelasnya memang rata-rata anak organisasi dan pada ikut ekskul. Hanya ada beberapa siswa yang tidak ikut ekskul yang tinggal di kelas. Sisanya mungkin sedang di sekre masing-masing.
Juno membuka lokernya dan mengambil jaket. Agak meriang sebenarnya, tapi Juno memaksakan berangkat sekolah. Sebagai Ketua Osis, ia dituntut untuk selalu sehat. Banyak urusan yang harus ia selesaikan. Sehari saja ambruk, ya sudah.
"Jun, Satya di sekre ya?" tanya Jaehoon, teman sekelasnya yang kebetulan sedang bersantai-santai ria karena tidak ada guru masuk.
"Iya kayaknya. Kenapa?"
"Gak ada, sih. Hehe." Jaehoon terkekeh, kemudian terhenti saat menatap Juno lekat-lekat dan baru sadar bahwa temannya tersebut berwajah pucat hari ini. "Lo sakit, ya?" tanyanya, tersirat nada khawatir di dalamnya.
"Nggak. Cuma kurang istirahat aja." Juno tersenyum singkat.
"Hati-hati, Bro. Badan jangan terlalu diporsir. Entar kalau drop susah."
Juno hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, kemudian memakai jaketnya dan berjalan keluar setelah berpamitan pada Jaehoon. Namanya juga Juno, keras kepala.
Di perjalanan menuju sekre, tak sengaja Juno menatap pemandangan di mana Yohan seperti biasa tengah menggoda Chacha dan Felix. Memang benar-benar anak satu itu, tidak ada kerjaan lain.
Baru saja Juno hendak menghampiri mereka, pening yang amat kuat menerkamnya. Rasanya penglihatan Juno mengabur, dunia terasa berputar-putar dengan gerakan cepat. Hampir saja Juno ambruk jika seseorang tidak menahan lengannya.
"Kak? Kak gak apa-apa?" Samar-samar Juno mendengar suara cempreng perempuan. Juno tidak menjawab, masih terfokus mengembalikan kesadarannya.
"Duduk dulu, Kak, ya ampun!"
Orang itu menuntun Juno untuk duduk di sisi koridor, mengusap-usap lengan Juno sementara Juno sendiri terus mengerjapkan matanya hingga penglihatannya bisa kembali normal.
"Kamu—" Juno memejamkan matanya sejenak saat menoleh ke arah orang yang menuntunnya.
"Hana, Kak!" Siswi itu menjawab segera dengan senyuman lebarnya.
Juno mengangguk kecil, dia ingat.
"Ah, ya. Makasih."
"Sama-sama, Kak. Mau aku anterin ke UKS atau pulang, Kak? Pucet banget loh itu!" ujar Hana khawatir.
Juno menggeleng pelan. Masih banyak urusan yang belum ia selesaikan, tidak bisa pulang begitu saja.
"Saya gak apa-apa. Kamu boleh pergi."
"Gak apa-apa gimana, Kak? Ampir ambruk loh tadi!"
"Sekarang udah gak apa-apa." Juno mengurut pangkal hidungnya yang mancung. Berharap dengan itu bisa mengurangi pening yang tiba-tiba menyerangnya barusan.
"Sok kuat ih. Sakit mah manusiawi, Kak," gumam Hana yang masih bisa didengar oleh Juno.
"Daripada bikin saya tambah pusing, mending kamu ke kelas deh." Juno menggeleng pelan. Juno tuh memang kalau lagi stress gini butuh sendirian. Kena senggol dikit langsung emosi.
"Eh? Aku mau nolongin loh ini, Kak—“
"Udah dibilang saya gak apa-apa!"
Hana diam. Juno juga, karena sadar nada bicaranya yang terlalu tinggi barusan.
"Gak usah bentak juga bisa kali, Kak. Niat aku lagian baik. Kalau gak suka ya maaf." Hana berdiri hendak berlalu tapi kembali berbalik dan menatap Juno berang. "Lain kali galaknya kurangin. Sayang kan dianugerahin wajah ganteng tapi galak. Nanti gak punya temen berabe, Kak!"
Buset. Juno cengo. Untuk pertama kalinya dimarahi adek kelas, mana depan banyak orang pula. Juno cuma bisa memejamkan matanya lirih seraya mendengar hentakkan kaki Hana yang berlalu pergi.
Dia. Bisa-bisanya dia...
***