“Selamat datang di Indomarket, selamat berbelanja,” ucap kasir salah satu mini market yang kini Devan sambangi.
Lelaki itu hanya tersenyum ramah menanggapi sapaan dari pegawai mini market. Devan segera menuju tempat kasir di mana aneka coklat dipajang di sana. Mungkin itu adalah salah satu tekhnik marketing mereka untuk menarik minat pembeli coklat dan permen yang sangat disukai anak-anak.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya kasir mini market tersenyum ramah seperti biasanya.
“Tidak,” jawab Devan dengan wajah tanpa ekspresi.
Kedua kasir mini market saling bertatapan, mereka menghendikkan bahunya pertanda bahwa mereka bingung dengan kedatangan Devan ke sana.
“Bapak mau beli apa? Biar kami bantu,” ucap salah satu di antara mereka masih mencoba tersenyum ramah kepada Devan.
Devan menjawabnya dengan gelengan kepala. “Saya tidak butuh bantuan, Mbak. Saya hanya mau beli saja,” sahut Devan menatap kasir mini market itu dengan keningnya mengkerut.
Sepertinya lelaki itu sudah mulai menampakkan sifat tengilnya yang sangat mengesalkan.
“Iya silahkan, Bapak mau beli apa?” tanya kasir mini market itu sekali lagi.
“Saya mau beli coklat ini,” tunjuk Devan pada jejeran coklat bermerk chankyqueen, coklat kesukaan Azahra.
Devan menatap kedua kasir mini market. “Katanya mau bantu saya? Kenapa nggak diambilkan?” tanya Devan memicingkan matanya.
Beberapa pembeli di belakang Devan mati-matian menahan tawa mereka agar tidak meledak. Devan memang sangat mengesalkan, lelaki itu mengeluarkan sikap bebalnya tanpa melihat tempat maupun situasi. Untung saja dia tampan dan loyal. Beruntunglah kau Devan!
“Iya saya ambilkan, Bapak. Berapa yang Bapak butuhkan?” ujar kasir mini market itu bertanya dengan senyuman yang bisa Devan tebak jika itu adalah senyum kepalsuan.
“Saya mau beli empat, eh enam deh,” jawab Devan kepada kasir mini market yang melayani dirinya.
“Ada tambahan lagi, Pak?”
Devan menggeleng. “Tidak ada, segera total saja,” ucap Devan sambari mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang yang akan dia gunakan sebagai alat pembayaran kali ini.
“Totalnya dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah, Pak.”
Devan menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu kepada kasir mini market. Kasir itu menyerahkan coklat yang telah Devan beli bersamaan dengan struck pembayaran.
“Ini belanjaannya, semoga senang berbelanja di Indomarket,” ucap kasir itu sambari menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
Bukannya langsung pergi, Devan malah mengeluarkan dua coklat yang ada di dalam plastik. Lelaki itu mengulurkan dua bungkus coklat kepada kasir mini market di sana.
“Ini buat kalian berdua, penambah mood biar makin semangat bekerjanya,” ucap Devan mengedipkan matanya sebelum lelaki itu meninggalkan mini market tersebut.
Devan terkekeh geli merutuki kekonyolannya, lagi pula kenapa Devan harus kesal dengan tatapan wajah kedua kasir itu yang nampaknya menatap dirinya dengan kesal. Bukankah sudah menjadi kewajiban mereka untuk melayani pelanggan mereka dengan baik dan juga ikhlas?
Melupakan soal kekonyolannya, Devan segera melajukan mobilnya untuk menemui Azahra. Wanita itu mungkin telah menunggunya di restaurant cepat saji yang ada di depan kantor tempatnya bekerja. Jalanan Kota Semarang cukup macet pada jam makan siang seperti ini. Suara klakson saling bersautan tidak terelakkan lagi. Entah apa yang merasuki pikiran mereka hingga meminta didahulukan.
“Seharusnya orang-orang seperti mereka buat jalan khusus saja, jalan menuju alam baka maksudnya,” kekeh Devan memutar alunan lagu di dalam mobilnya.
Cuaca panas Kota Semarang membuat Devan menyalakan pendingin ruangan dengan suhu paling minus. Padahal seharusnya ini sudah memasuki musim penghujan, tapi sama sekali belum pernah turun hujan di kota itu. Bahkan beberapa tempat mengalami kekeringan, termasuk juga rumah Devan yang sering sekali mati air PAMnya. Tidak ayal itu menjadi pekerjaan tambahan bagi Devan, sebagai penunggu air PAM menyala di malam hari, mengisi semua bak yang ada di rumahnya hingga penuh.
Hadeuhhh, merepotkan saja.
Satu tikungan lagi, akhirnya lelaki itu telah sampai di restaurant cepat saji tempatnya janjian dengan Azahra. Devan segera keluar dari mobilnya setelah memarkirkannya sesuai intruksi dari tukang parkir di sana. Lelaki itu celingukan, mencari sosok Azahra yang seharian ini sangat dia rindukan.
Lebay sekali, padahal baru empat jam mereka tidak bertemu.
“Itu dia,” gumam Devan merekahkan senyumannya ketika melihat sosok Azahra duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Devan berdiri.
Dengan senyuman mengembang, Devan menghampiri Azahra.
“Untuk wanitaku tercinta,” ucap Devan menyodorkan empat bungkus coklat kesukaan Azahra di depan wanita itu.
Azahra berbinar bahagia, bukan karena Devan membawakan coklat untuk dirinya. Tapi, karena lelaki itu selalu memiliki kejutan kecil untuk membuat Azahra bahagia. Hanya dengan bunga dan coklat saja mampu membuat hati Azahra gembira. Apalagi Devan membawa seluruh keluarganya dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat. Tentu saja Azahra akan semakin bahagia.
“Maaf karena menungguku terlalu lama,” ucap Devan duduk di depan Azahra.
“Tidak masalah, aku yakin kamu lama karena membelikanku coklat ini, kan?” tanya Azahra dengan senyuman khas dirinya.
Devan menggeleng. “Tapi aku tidak hanya membelikan coklat untukmu saja, ada dua wanita lain yang aku belikan coklat yang sama untukmu,” jelas Devan tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.
Mata Azahra memicing tajam. “Kamu membelikan dua wanita lain coklat yang sama?” tanya Azahra dengan matanya menyipit. Wanita itu meletakkan empat bungkus coklat yang Devan belikan di atas meja.
Kekehan keluar dari mulut Devan, lelaki itu suka sekali menggoda kekasihnya. Bagaimana jika Azahra benar-benar cemburu dan marah besar kepada dirinya?
“Dengarkan aku dulu, Sayangku,” pinta Devan sambari meraih jemari Azahra.
Dengan kasar Azahra menghempaskan tangan Devan. Rupanya Azahra mulai marah dengan Devan yang suka seenaknya sendiri.
“Azahra, kamu tidak beneran marah dengan Mas kan?” tanya Devan dengan mulutnya menganga tidak percaya.
“Bodo amat,” jawab Azahra memalingkan wajahnya kesal.
“Mas Devan hanya bercanda, Sayang. Tadi Mas memang beliin coklat untuk dua wanita lain, dia kasir Indomarket yang terlihat judes saat melayani Mas. Katamu, coklat kan membuat mood seseorang membaik,” jelas Devan meraih jemari Azahra.
Azahra menatap Devan dengan matanya menyipit curiga. “Mana ada beliin coklat buat kasir Indomarket, Mas Devan pasti mencari-cari alasan biar Zahra tidak marah. Benar begitu?”
Devan menggeleng. “Sumpah Sayangku, kalau kamu tidak percaya ayo kita ke Indomarket yang tadi mas kunjungi,” jawab Devan menjelaskan.
Tahu bakal salah paham begitu, Devan tidak akan memberitahu Azahra jika dirinya memberikan coklat kepada dua kasir Indomarket. Tapi, Devan kan memang lelaki yang suka jujur dan tidak pernah menutupi hal sekecil apapun kepada Azahra.
“Mas tidak bohong kan?” tanya Azahra masih dilingkupi dengan kecurigaan.
“Tidak bohong, asli, original,” ucap Devan dengan tatapan serius.
Melihat keseriusan di mata Devan, Azahra mengangguk pertanda bahwa wanita itu mempercayai apa yang Devan jelaskan kepada dirinya.
“Mbak Azahra?”
Mereka berdua menoleh, dua rekan kerja Azahra menyapa wanita itu dengan senyuman merekah.
“Nita, Vela,” panggil Azahra antusias.
“Mbak boleh kita duduk bareng di sini? Kami tidak mendapatkan tempat duduk,” ucap Nita kepada Azahra.
“Tentu saja boleh,” jawab Azahra dengan senyuman bahagia.
Devan berdiri, lelaki itu pindah tempat duduk di samping Azahra, membiarkan rekan kerja Azahra duduk di depan mereka.
“Ini calon suami Mbak Zahra yang kemaren di depan kantor itu ya?” tanya Vela mengingat-ingat wajah Devan yang nampak tidak asing di matanya.
Azahra mengangguk, begitu juga dengan Devan.
“Iya, dia -”
“Saya Devan, calon suami Azaha. Bagaimana, kami terlihat sangat cocok dan serasi bukan?” tanya Devan dengan percaya dirinya di depan rekan kerja Azahra.
Nita dan Vela mengangguk, menyetujui ucapan yang keluar dari mulut Devan.
“Iya, kalian ini sangat serasi dan cocok. Mbak Azahra dan Mas Devan seperti couple goals anak jaman now,” jawab Nita dengan antusias.
Devan dan Azahra terkekeh mendengar ucapan dari Nita. “Couple goals dari mana? Lah wong kita suka berantem,” jawab Azahra terkekeh. (Lah wong = Orang)
“Tapi serius loh, Mbak. Kalian katanya mau menikah dalam waktu dekat ini ya?”
“Akhir pekan ini keluarga Mas Devan datang ke rumah. Kalau pernikahannya sih kita sebagai orang jawa kan harus nunggu hitungan hari yang tepat,” jawab Azahra menjelaskan.
“Benar juga sih Mbak, mau tidak percaya tradisi dan adat istiadat tapi kan sudah turun temurun. Lebih baik mengikutinya saja, daripada ada kejadian buruk di masa depan. Ibarat pepatah, lebih baik sedia payung sebelum hujan,” ucap Vela memberikan argumennya.
“Semoga tali gunemnya berjalan lancar ya, Mbak.” (Tali gunem = kesepakatan kedua belah pihak mempelai).
“Terimakasih atas doanya, ayo kalian makan jangan ngobrol terus,” ucap Devan mengingatkan tujuan mereka datang ke restaurant itu.
Mereka tertawa ringan, membicarakan tradisi-tradisi Jawa yang tidak bisa mereka lupakan begitu saja. Nguri-nguri budaya Jawa.
“Sepertinya coklatnya enak tuh, Mbak,” ucap Vela memberikan kode kepada Azahra.
“Kamu ini kayak ponsel saja main kode-kodean, langsung saja bilang. Mbak, minta coklatnya dong,” sahut Nita tanpa sungkan.
Azahra malah terkekeh mendengar ucapan Vela dan Nita yang menurutnya sangat lucu dan blak-blakan. Azahra memberikan mereka masing-masing satu bungkus coklat.
“Untung saja Mas Devan orangnya baik, tadi dia sudah memberikan coklat sama dua wanita lain. Jadi tidak masalah rasanya kalau coklat ini aku berikan untuk dua wanita lain juga. Benar kan, Mas?”
“HM.”
Ketiga wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Devan yang nampak pasrah begitu saja dengan ucapan dari Azahra.
-
-
-
Love You Boss (Tersedia versi cetak dan ebook di Play St*re)
Cecilia Fanyandra Corlyn atau sering dipanggil Sisil, keturunan keluarga Corlyn yang digadang-gadang akan meneruskan kerajaan bisnis Corlyn Company.
Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai pada akhirnya terjadi pergantian CEO di tempatnya bekerja. CEO baru yang tak lain adalah putra pemilik Dirga Company, Adinata Dirga Pratama.
Naas, saat Sisil tahu dirinya hamil, begitupun kenyataan pahit yang harus dia terima bahwa dia hanya menjadi taruhan lelaki itu dan teman-temannya.
"Aku harus meninggalkan Indonesia, menyembunyikan diriku dan kehamilanku. Aku harus bersembunyi dari ayah anakku, dan memberinya pelajaran atas apa yang dia lakukan." ucap Cecilia Fanyandra Corlyn.
Bagaimana kehidupan Nata setelah kepergian Sisil yang tidak bisa lelaki itu temukan keberadaannya karena pengaruh Keluarga Corlyn?
Belum lagi kehadiran Darwin Jaxon, lelaki yang menemani Sisil disaat terburuk wanita itu. Siapakah yang nantinya akan menjadi pemilik hati Cecilia Fanyandra Corlyn?