Persiapan untuk datang ke rumah Azahra telah keluarga Devan siapkan dengan matang-matang. Mereka sudah meminta beberapa sanak keluarga untuk membuatkan jajanan tradisional serta membawa pisang sebagai syarat untuk datang ke rumah calon mempelai wanita. Berita bahwa keluarga Devan akan bertandang ke rumah Azahra sudah didengar oleh ayah dari Azahra.
Begitu juga dengan keluarga Devan yang mempersiapkan kedatangan mereka ke rumah Azahra, keluarga Azahra juga mempersiapkan untuk menjamu tamu penting mereka. Keluarga Azahra sudah membuatkan makanan dan juga minuman untuk menyambut Devan dan keluarganya.
Azahra menatap tubuhnya di pantulan kaca hias, wanita itu kini memakai setelan gamis couple dengan kemeja milik Devan. Azahra memandang penampilannya berkali-kali, ini adalah permintaan dari Devan, katanya lelaki itu ingin melihat Azahra memakai hijab pada acara pertemuan keluarga mereka.
“Masya Allah, kamu cantik sekali, Nduk,” ucap Aisyah, melenggang masuk ke dalam kamar putrinya.
Mendengar suara ibunya, Azahra menoleh ke belakang, menatap ibunya yang kini tersenyum ke arah dirinya.
“Apa Azahra sudah cantik?” tanya Azahra meminta pendapat dari ibunya.
“Tentu saja sudah, Devan akan terhipnotis melihat bidadari tak bersayap seperti dirimu. Azahra sangat cantik, setiap hari juga begitu,” jelas Aisyah tersenyum lembuta.
Azahra memeluk lengan ibunya dengan penuh perasaan. “Mama, kenapa d**a Azahra bergemuruh seperti tidak tenang? Apakah seperti ini rasanya jika keluarga kekasih kita akan datang?” tanya Azahra mengutarakan perasaan di dalam hatinya.
Aisyah terkekeh renyah, tangannya menyentuh kedua tangan Azahra.
“Dengar, kamu tidak perlu merasa cemas atau tidak tenang. Semua pasti berjalan dengan baik-baik saja,” jawab Aisyah menangkan putrinya yang kini tengah dilanda kecemasan.
Tangan Azahra menyentuh dadanya, merasakan degup jantung yang sejak berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya. Azahra meremas ujung gamis yang dia pakai, menatap kembali penampilannya sebelum keluarga Devan datang.
Iring-iringan mobil yang berhenti di depan rumahnya membuat wanita itu melebarkan matanya. Entah kenapa d**a Azahra semakin berdegup tidak karuan rasanya.
“Ayo, kita sambut kedatangan Devan dan keluarganya,” ajak Aisyah menggandeng tangan Azahra keluar dari kamar wanita itu.
Eyang kakung dan eyang putri Azahra yang dari Pati juga turut datang ke sana, mereka sengaja datang ketika ayah Azahra mengabari jika keluarga kekasih Azahra akan datang untuk mengutarkan niat mereka mempersunting Azahra.
“Cantik sekali kamu, Nduk Ra,” ucap Yangti Sumi ketika melihat Azahra keluar dari kamar.
“Yangti bisa saja,” jawab Azahra tersenyum.
Ayah Azahra sudah berdiri di depan pintu bersama Kakung Rahmat untuk menyambut kedatangan keluarga Devan.
“Selamat datang, Mas,” ucap Agus merangkul Imam dengan erat.
“Senang akhirnya keluarga kami bisa datang ke sini,” jawab Imam dengan kekehannya.
Siska dan David datang belakangan dengan beberapa keranjang bawaan berisi makanan dan berbagai perlengkapan wanita seperti kain dan mukena. Devan juga turut membantu ibu dan adiknya untuk membawa beberapa keranjang yang tersisa di bagasi mobil.
“Bantuin, bocah,” ucap Devan menyenggol lengan adiknya.
David mendengus kesal, bukankah yang punya acara adalah kakaknya, kenapa juga dia diajak untuk datang ke rumah calon kakak iparnya segala.
Mereka meletakkan keranjang bingkisan itu di ruang tamu keluarga Azahra. Karpet besar sudah digelar dengan penuh makanan serta buah-buahan.
“Mari, silahkan duduk,” ucap Aisyah mempersilahkan mereka untuk duduk.
“Nduk Zahra, minumannya dibawa keluar,” panggil Eyang Sumi memanggil Azahra yang diperintahkan olehnya mengecek minuman di dapur.
“Nggeh Yangti,” sahut Azahra dari arah dapur.
Devan celingukan mencari sosok wanitanya, lelaki itu nampak tidak sabar untuk melihat wajah ayu Azahra memakai gamis yang sama dengan dirinya. Azahra mungkin sangat cantik, Devan sampai tidak sabar untuk melihatnya.
“Kamu pasti nunggu Azahra, benar kan?” tanya Kakung Rahmat menggoda Devan yang nampak menanti kedatangan wanitanya.
Sebenarnya Azahra akan diajak untuk menyambut kedatangan Devan dan keluarganya, tapi Eyang Sumi meminta Azahra menunggu lebih dulu sampai salah satu dari mereka memanggil Azahra. Tidak lama kemudian, Azahra datang dengan membawa nampan berisi gelas kaca dan juga satu morong plastik.
“Sini, Mas bantu,” ucap Devan dengan cekatan mengambil nampan itu dari tangan Azahra.
Lelaki itu tersenyum melihat Azahra, beberapa detik mereka saling bertatapan dan tersenyum malu-malu. Kedua belah pihak keluarga ikut tersenyum geli melihat wajah tersipu mereka berdua.
“Awas, nanti tumpah,” goda Imam.
“Apanya yang tumpah, Pah? Minumannya atau liur Kak Devan?” tanya David dengan sengaja menggoda kakaknya.
Semua orang tertawa mendengar gurauan dari David, anak itu memang suka sekali menggoda kakaknya. Tidak jarang, keduanya bertengkar untuk hal-hal kecil seperti kakak adik pada umumnya. Siska sampai bingung dan juga sudah malas mendengar pertengkaran antara kakak dan adik itu.
Devan meletakkan nampan di karpet, disusul Azahra yang duduk di samping Eyang Sumi dan mamanya, Aisyah. Devan menatap Azahra dengan penuh kekaguman. Masya Allah, Devan sampai tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari keindahan dunia yang telah Allah ciptakan untuknya. Devan selalu berharap, semoga wanita sebaik dan juga setulus Azahra disatukan dengan lelaki yang penuh kekurangan seperti dirinya.
“Sepertinya kita tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi untuk menikahkan mereka, lihat keduanya sudah sangat serasi,” ucap Agus dengan tatapan menggoda anak tunggalnya.
Wajah Azahra tersipu malu, Agus memang sering kali menggoda Azahra perihal pernikahan. Bagi Agus, waktu begitu cepat beranjak, bahkan ayah satu anak itu tidak menyadari jika putrinya sudah cukup umur untuk menikah. Sebagai seorang ayah, tentu saja Agus sangat selektif perihal teman dekat Azahra selama ini. Dan Devan, telah membuktikan kepada orang tua Azahra jika lelaki itu benar-benar mencintai anak mereka.
Tidak alasan untuk Agus maupun Aisyah melarang hubungan Azahra dan Devan. Selain karena keluarga Devan yang memang sudah terkenal baik, sikap dan perilaku Devan juga patut untuk mereka acungi jempol. Kepribadian yang baik, sopan, bertanggung jawab, juga sholeh, itu paket complete yang mungkin 80% ada pada diri Devan.
“Itulah maksud kedatangan kami ke mari, Devan ingin mengutarakan niatnya mempersunting Azahra di depan kalian,” jelas Imam dengen kekehannya.
Jujur saja, Devan sangat gugup kali ini. Padahal dirinya sudah berkali-kali bertatap muka dengan keluarga Azahra. Lelaki itu juga sering mampir ke rumah Azahra dan berbincang dengan Agus maupun Aisyah. Tapi, kenapa hari ini begitu berbeda? Suasana terasa sangat mendebarkan d**a lelaki itu.
“Jadi, niat saya ke mari dengan kedua orang tua saya, sekaligus bocah nakal ini, saya ingin mengutarakan niat baik saya di depan Om Agus dan Tante Ai,” ucap Devan dengan kegugupan luar biasa yang melanda dirinya.
Devan mengambil napas panjang, lelaki itu menyeka keringat yang ada di keningnya. Tiba-tiba perutnya sangat mulas.
‘Aduh, kenapa ini perut nggak bisa diajak kompromi,’ batin Devan merutuki kebodohan perutnya.
“Iya Devan, memangnya niat baik apa sampai memboyong satu keluarga datang ke rumah kami?” Tanya Kakung Rahmat.
Devan kembali menyeka keringat di dahinya, kali ini bukan karena gugup atau merasa cemas. Ini karena rasa mulas yang mulai menyergap dirinya tanpa permisi. Bisa malu dirinya jika harus izin ke kamar mandi sebelum mengutarakan niatnya.
“Saya … saya ingin meminta izin kepada Om, dan Tante.”
“Izin seperti apa itu Devan? Izin tidak masuk sekolah?” kekeh Imam mencoba mencairkan suasana.
“Saya, ingin meminta izin ke toilet sebentar. Perut saya mulas,” lanjut Devan memegangi perutnya yang kini berteriak untuk segera mengeluarkan isinya.
Azahra terkekeh melihat ekspresi wajah Devan yang kini merah padam. Lelaki itu segera berlari menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari orang tua Azahra.
“Devan memang seperti itu kalau panik, dulu waktu masih sekolah dasar dia sempat pup di celana karena disuruh mengerjakan soal yang gurunya berikan,” ucap Siska menceritakan masa kecil Devan yang masih dia kenang sampai sekarang.
Mendengar ucapan Siska, Aisyah juga menceritakan masa kecil Azahra.
“Kalau begitu mereka sangat cocok, Azahra juga pernah ngompol di kelas dulu pas kelas empat SD, Mbak. Lucu sekali mereka itu,” jelas Aisyah membuat mata Azahra melebar sempurna.
Runtuh sudah citra Azahra di depan calon mertuanya.