Bab 7

1167 Words
Di belakang pintu kamar mandi, Devan menggigit ujung jarinya, meremas tangannya yang kini bergetar tanpa sebab saking malunya. Apa yang harus dia katakana di depan keluarga Azahra? Lagi pula, kenapa juga perutnya harus minta ‘setor’ di waktu yang sangat-sangat tidak tepat. Bisa malu Devan bertatap muka dengan keluarga Azahra. “Bagaimana ini?” gumam Devan dengan cemas. Lelaki itu menatap pintu dengan pandangan menimang. Jika dirinya tidak keluar sekarang, maka Devan akan kehilangan kesempatan untuk mengutarakan niatnya. Tidak-tidak, Devan harus menunjukkan kejantanannya di depan keluarga Azahra. Lebih tepatnya kesungguhan, biarlah kejantanannya hanya Azahra yang akan merasakannya nanti. Ck, lupakan perihal kejantanan! Devan memutar knop pintu dengan perlahan, lelaki itu menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. “Beginikah rasanya mau melamar anak gadis orang? Aku tidak akan mengulanginya lagi, cukup sekali saja dalam hidupku,” ucap Devan berkeluh kesah kepada dirinya sendiri. Suara tawa yang berasal dari ruang tamu membuat Devan menyerngitkan keningnya, tampaknya kedua belah keluarga sudah sangat akrab. Jadi, dia, dan Azahra tidak perlu lagi untuk mengakrabkan keluarga mereka satu sama lain. “Itu, Kak Devan,” kata David menunjuk Devan yang kini menampakkan batang hidungnya di depan semua orang setelah aksi buang air besarnya. “Sudah lega, Nang?” goda Eyang Sumi tidak mampu menahan rasa geli yang menyergap dirinya. Eyang Sumi langsung teringat akan suaminya, dulu ketika keluarga Kakung Rahmat datang ke rumahnya, Kakung Rahmat sampai salah menyebut nama ibunya sebagai namanya. Lucu sekali ketika mengingat masa lalu mereka saat itu. Berpacaran di sawah, bermesraan di depan obor lampu sumbu. Kenangan-kenangan masa lalu Eyang Sumi, dan Kakung Rahmat memang patut untuk mereka ceritakan kepada anak cucu mereka. “Sudah, Yangti,” jawab Devan sambari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Devan kembali duduk di depan Azahra, mereka saling menatap beberapa detik, disusul dengan senyuman yang keluar dari mulut Azahra. Wanita itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tatkala melihat wajah Devan yang kini bersemu merah. “Bisa kita lanjutkan tentang apa yang ingin Nak Devan bicarakan kepada kami?” tanya Agus mengintrupsi. Devan mengangguk. “Bisa, Om. Sebentar, saya atur napas dulu, gerogi,” ucap Devan jujur membuat semua orang kini menertawakan kepolosan Devan. “Jangan lupa bernapas, Mas,” kekeh Azahra menggoda Devan. “Aku sampai lupa bernapas karena semua oksigen ada di kamu,” jawab Devan, masih bisa melontarkan gombalan kepada Azahra. Imam menggelengkan kepalanya, entah dari mana sikap dan kelakuan Devan itu didapatkan. Rasanya, dia dan sang istri tidak memiliki sikap tengil dan usil seperti Devan. “Huhh … begini, Om, dan Tante. Niat saya datang ke mari itu, mau minta minum,” ucap Devan tanpa sadar. Tentu saja jawaban kocak Devan mengundang gelak tawa semua orang yang mendengar ucapannya. Menyadari kebodohannya, Devan mengigit bibirnya yang terkadang suka membuatnya malu dengan spontan. Seusai ini, Devan akan mengajari mulutnya untuk bisa menjaga dan menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata bodoh seperti barusan. “Bukan-bukan, maksud Devan, mau meminta izin kepada Om Agus dan Tante Ai untuk mempersunting Azahra, pujaan hati Devan.” Agus dan Aisyah mengulum senyumnya. Terkadang, kepolosan Devan mampu mencairkan suasana tegang yang terjadi di sekitarnya. “Apa yang bisa kamu berikan untuk putriku, Nak Devan?” tanya Agus melontarkan pertanyaannya selaku ayah dari Azahra. “Papa.” Azahra memanggil ayahnya, wanita itu merasa tidak enak dengan pertanyaan ayahnya yang seakan meremehkan Devan dan keluarganya. “Untuk materi, saya akan mengupayakan Azahra tidak akan kekurangan suatu apapun, Om. Tapi, untuk masalah cinta dan kebahagiaan, saya yakin seratus persen bahwa saya mampu memberikannya kepada Azahra,” jawab Devan tanpa berpikir lagi. Itu bukan alibi, ataupun sebuah alasan yang Devan berikan agar orang tua Azahra mau memberikannya restu. Semua yang keluar dari mulut Devan adalah kebenarannya, Devan akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk membahagiakan Azahra. “Apa kamu bersedia menjadikan Azahra wanita satu-satunya dalam hidupmu?” tanya Aisyah tiba-tiba. Semua mata kini menatap ibu dari satu anak itu, entah mengapa pertanyaan itu nampaknya mengganggu pikiran Aisyah sejak mendengar keluarga Devan akan datang untuk meminta izin menikahi Azahra, putrinya. Bukan tanpa alasan atau asal-muasal, maraknya berita pelakor dan perselingkuhan di zaman sekarang. Aisyah tidak akan rela, jika suatu hari nanti anaknya akan mengalami kepahitan hidup seperti itu. Azahra hanya akan menjadi wanita satu-satunya dalam perjalanan biduk rumah tangganya dengan Devan. “Saya bersedia, Tante,” jawab Devan dengan penuh keyakinan. “Kalau begitu, kamu telah mendapatkan lampu hijau dari kami. Asal, perhitungan weton kalian cocok,” ucap Eyang Sumi menengahi. Perhitungan weton bagi orang Jawa adalah hal yang sangat penting dan utama. Bukannya musrik atau takabur, tapi bagi mereka itu adalah tradisi yang harus mereka junjung tinggi dan lestarikan. “Weton Devan jatuh pada Minggu Wage, Eyang,” ucap Siska memberitahu weton kelahiran dari putra sulungnya. Kakung Rahmat nampak terdiam, beliau mulai menghitung weton Devan dan Azahra menurut perhitungan Jawa. “Si Nduk Aahra itu Selasa Kliwon, sebelas. Sedangkan Devan, Minggu Wage itu sembilan,” ucap Kakung Rahmat. “Apa itu artinya, Kung?” tanya Imam penasaran, jujur saja keluarga mereka jarang yang masih menggunakan perhitungan Jawa seperti itu. Namun keluarga mereka juga tidak antipati dengan adat tradisi orang Jawa yang masih dipegang teguh oleh keluarga Azahra. “Artinya, hitungannya lebih besar Nduk Zahra. Devan bakalan kalah kalau debat, cek-cok dengan Azahra nanti,” kekeh Kakung Rahmat. “Bukan nanti, Kung. Dari kemaren-kemaren Devan juga sudah kalah kalau debat sama Zahra,” sahut Devan sambari melirik Azahra yang kini menekuk wajahnya sebal. Kakung Rahmat mulai menghitung lagi. “Masya Allah, dari hasil perjumlahan weton kalian, sangat baik. Kalian berada di perhitungan Ratu,” jelas Kakung Rahmat dengan senyuman bahagia yang terpancar di matanya. “Ratu? Artinya nopo niku Kung?” tanya Siska ingin tahu. “Jumlah perhitungan 20 itu jatuhnya Ratu. Ratu itu jaya, disegani, dihormati, lan dadi panutan, yang terpenting jodoh. Azahra dan Devan itu Insyaallah jodoh. Kalaupun mereka menikah nanti, pasti akan jaya, disegani banyak orang, dan membuat banyak orang iri akan keharmonisan mereka,” jelas Kakung Rahmat mengartikan perhitungan weton Azahra dan Devan. Kebahagiaan tentu saja menyelimuti hati keduanya, baik Azahra maupun Devan kini tersenyum sumringah mendengarkan penjelasan dari Kakung Rahmat yang menjadi lampu hijau untuk penikahan mereka. “Lalu, kapan hari baik untuk kita menikah, Kung?” tanya Devan dengan tidak sabar. “Semua hari itu baik, ada hari ada rejeki ibaratnya, Nang. Tapi, ada bulan yang harus dihindari untuk mengadakan pernikahan. Suro itu tidak baik untuk menikah, jadi kalian menikah sebelum satu Suro, yo?” Orang tua Azahra dan orang tua Devan mengangguk, menyetujui saran yang Kakung Rahmat berikan kepada mereka. “Ada hari baik, di antara hari baik lainnya, satu bulan lagi, 25 Agustus 2019,” ucap Kakung Rahmat. “Oke deal, Devan setuju, Kung. Kita akan menikah tanggal 25 Agustus 2019, Zahra,” ucap Devan langsung memeluk Azahra dengan penuh semangat. “Loh, kok main peluk-pelukan. Kalian belum sah,” ucap Eyang Sumi memperingatkan. Azahra melepaskan pelukan dari Devan. “Mas, enggak enak dilihat yang lain,” bisik Azahra. Devan tersenyum lebar, detik selanjutnya lelaki itu memeluk Agus dengan sangat erat. “Kalau anaknya nggak boleh, bapaknya boleh kan?” kata Devan membuat semua orang terkekeh geli. Devan menepuk pelan punggung calon mertuanya. “Calon Papa Mertua, terimakasih sudah memproduksi bidadariku,” beo Devan rancau. Bisa-bisanya lelaki itu mengucapkan kata memproduksi di depan calon mertuanya? Dia pikir Azahra itu barang? Semoga saja keluarga Azahra betah dengan kelakuan Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD